Dengan Tante Arab


Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru disana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta. Tinggalah aku disana mengurus semua perijinan sendirian saja.
Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemana-mana relatif mudah. Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputar-putar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.

Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadang-kadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.

Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena surat-surat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.
Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.
Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.
Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya.
Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku.
” Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya,” katanya.
Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.
“Anis, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini,” kata security itu.
“Aku mau ke karaoke dulu,” balas wanita tadi. Ternyata namanya Anis. Anis berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.
Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.
“Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata security tadi kepadaku.
Aku berjalan dan duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku, “Boleh berkenalan ? Namaku Jokaw”.
“Anis,” jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.
Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.
“Sendirian saja nona atau …,” kataku mengawali pembicaraan.
“Panggil saja namaku, A…N…I…S, Anis,” katanya.
kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.
Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.
Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.
Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, “Mau apa kamu, Jokaw ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.
“Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.
Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.
“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.
“Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.
Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.
Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.
Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.
Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.
Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.
Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, “Sllruup..”. Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.
Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.
Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih “Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang..”.
Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.
Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.
“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.
Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.
Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.
Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.
Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.
15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.
“Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.
Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.
Semenit kemudian..
“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Anis memekik.
Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.
“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”
Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.
“Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga..”.
Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan dipenisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.
“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.
“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.
Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!
“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”
“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.
Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.
Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.
“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku.
“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng.
Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.
Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.
“Hmmhh..,” ia bergumam.
“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.
Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.
“I want more, honey!” kataku.
kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.
Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.
Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.
“Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.
Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.
“Jokaw.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.
Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.
Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.
Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri.
Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.
Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.
Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.
“Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!”
Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.
Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.
Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.
Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.
Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.
Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.
Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.
kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.
“Ouhh.. Anis,” desahku setengah berteriak.
Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.
Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.
Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.
Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya.
kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.
“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.
“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu”.
Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.
“Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.
Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.
Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.
Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.
Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.
Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi.
kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.
Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.
Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.
Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.
Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.
Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.
“Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!”
“Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!”
Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.
Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.
Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Jokaw.
Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.
Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.
“Terima kasih Pak,” katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.
“Kapan kesini lagi, Pak? kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.
Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.
Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis.
»» Baca selengkapnya.....

SPG vs OM


Aku kerja disatu perusahaan farmasi, selama ini aku kerja sebagai meical detailer yang bertugas mempromosikan obat2 etikal (yang katanya kudu dibeli pake resep dokter) ke dokter2 dirumahsakit, klinik dan lembaga kesehatan laennya. Aku punya banyak kenalan dokter karen aku seneng becandain mereka kalo lagi detailing (mempromosikan obat). Kalo yang laennya, suka minta tolong susternya minta tanda tangan dokternya di kartu detailer tanpa ketemu dokter, ngerti sih nungguin dokter suka lama banget, aku lebi seneng ketemu langaung dokternya, makanya aku selalu tanya dokter biasanya praktek sampe jam brapa. Kalo belon terlalu malem ya aq dateng sekitar selesai praktek supaya bisa ngobrol ngalor ngidul. Kadang dokternya karena tau aku seneng ngajakin ngobrol, ngajak aku ngobrol di cafe yang ada di rumah sakit atau deket rumah sakitnya supaya susternya bisa pulang tanpa harus nungguin dokternya pulang. Makanya suster2 seneng kalo aku datengnya menjelang selesai prakteknya si dokter karena artinya mereka cepet bisa pulang. selama ini si cuman ngobrol ja, gak da kelanjutannya apa2, padahal kalo dokternya keren, aku ngarep juga diajak kemana gitu, gak cuman ngobrol ke cafe. Minta duluan gak enak, takutnya kedengaran kantor bisa dipecat aku, detailing sembari nawarin diri he he...

Suatu waktu aku dipindah untuk membantu promosi vitamin tulang baru, karena targetnya bukan lagi dokter ya aku gak detailing ke dokter tapi lebi sebagai spg nerangin langsung ke konsumen di mal2. Aku juga merintis kerja sama dengan apotik supaya mereka mau nyetok produk ini, kantor mensponsori pemeriksaan orsetoporosis di situ, dimana kalo ada gejala osteoporosis aku bisalangsung menawarkan ke prospek. Proyekku berjalan lancar, banyak apotik sudah mau menjadi stokist vitamin ini. Kebetulan disatu apotik bekerja sama dengan satu laboratorium mengadakan paket murah pemeriksaan laboratorium untuk hal2 yang rutin seperti kolesterol dan sejenisnya. Aku ditawari untuk menyelenggarakan pemeriksaan osteoporosis juga untuk membantu penjualan vitamin tulang di apotik itu. Banyak juga yang dateng untuk pemeriksaan osteoporosis, maklumlah apotiknya terletak disatu komplex perumahan menengah ke atas sehingga warganya sudah sadar untuk memeriksakan kesehatan secara rutin. Buat warga yang terindikasi mulai terkena ostoporosis kubujuk untuk membeli vitamin tulang, kebetulan ada promosi dari kantor setiap membeli 3 botol mendapat gratis 1 botol. Botol vitamin untuk promosi aku bawa dari kantor sedangkan pembelian yang 3 botol dari stok apotik. Laris manis juga jualanku, sampe stok apotiknya abis, mereka langsung memesan lagi untuk mengisi stoknya. Aku call ke kantor supaya diurus pembelian apotik tersebut dan segera mengirimkannya.

Banyak warga yang inden vitamin itu karena mereka gak kebagian jatah. Salah satunya ada warga yang aku kenal baik, dia dokter di rumah sakit yang sering aku lakukan detailaing. "Dokter tinggal disini?" sapaku. "Iya, kalo gak di rumah sakit jangan panggil dokterlah". "Iya deh panggil om ya, biar akrab". "Bisa aja kamu Nes". "Om dah kena tu osteoporosis, tapi bisa mendokteri diri sendiri kan?" "Ya gak lah, vitamin kamu bagus gak, apa bedanya sama merek yang biasa aku pake (dia menyebutkan nama merknya)". Kebetulan mereka yang disebut si om tu merk pesaing terbesarku, dengan sigap aku menerangkan kelebihan vitaminku dibandingkan dengan vitamin merek yang disebut si om. Banyak warga yang gak kebagian vitamin ikut mendengarkan penjelasanku. "Bener nih", kata si om setelah selesai aku terangkan. "Mangnya Ines pernah dbohong ma om kalo di rumah sakit". "ya enggak sih". "Makanya om, borong dong vitaminnya, mumpung beli 3 dapet 1. Beli aja 2 set buat ibu sekalian, kalo belon osteoporosis bisa untuk pencegahan kak, cuma dosisnya separuh yang dah kena". "Ok deh, kamu kirim ke rumah ya". Karena si om pesen vitamin itu, warga laen yang belon kebagian dan tau kalo si om tu dokter pada rame2 ikut inden ke apotiknya. Si empunya apotik tersenyum lebar karena omzetnya dari vitaminku saja melonjak drastis. "Alamat rumah om dimana, nanti Ines ambil di kantor dulu ya, stok apotik abis. Om ada dirumah kan?" "Aku mo kluar, kan kamu mesti ambil ke kantor dulu kan". "Trus om ada dirumah jam brapa, ibu ada dirumah gak?" "Gak ada orang di rumah, ibu lagi kluar kota sama anak2. Ya udah jam 3an deh ya". "Siap om". "Kaya satpam aja pake siap segala, makasi ya".

Selesai acara di apotik, aku membereskan peralatanku, aku mencatat pesanan tambahan dari apotik, selain yang sudah aku orderkan ke kantor. Lumayan besar orderanku hari ini, belon bisa "ngapelin" si om lagi he he. Aku santai ja kembali ke kantor dengan sepeda motorku. aku menterahkan laporan order kekantor, atasanku seneng banget liat jumlahnya, "wah sukses besar ni promosinya ya Nes". "lumayan deh mas". aku manggil atasaku mas karena seumuran denganku tapi dia duluan kerja disitu. "Ini ada pesanan dokter, tadi ketemu di acara promosi. Dia pesan 6 botol". "Dah kamu kasi ekstra 1 lagi ja bonusnya". "Jadi dapet 3 ya mas". Atasanku membubuhkan persetujuannya pada form pesanan si om tadi. Aku langsung mengambilnya ke gudang dan keuangan membuatkan faktur penjualannya, maklum deh kalo promosi kaya gini slalu minta bayarannya cash. "Kamu anterin ke rumahnya ya Nes", kata atasanku lagi. "Iya mas". "Rumahnya dimana si". "deket tempat promosi tadi". "wah sekalian ja kamu anterin pesanan apotik tadi biar cepet bisa dikasi ke warga yang mesen, kan kamu skalian kesana kan". "Bole ja, skalian jalan kok". Segera pesanan apotik disiapkan, satu box besar, tapi masih terbawa dengan sepeda motor. aku kembali mengantarkan pesanan apotik, yang punya apotik heran liat aku anterin pesanannya. "Kok nganter ndiri Nes". Dia manggil aku nama karena dah kenal baik selama ini. "Iya pak, skalian mo anterin pesanan dokter tadi". "Makasi ya", katanya sambil menandatangani bukti pengiriman barang. Aku menanyakan alamat si om tadi, dia menerangkan arahnya. Karena dah deket jam 3 sore, aku segera menuju kesana mengikuti petunjuk arahan si empunya apotik. Rumahnya besar tapi sepi, aku mijit bel, cukup lama baru si om keluar, Dia cuma pake celana pendek.

"sori ya, cuma celana pendekan aja, abis sumuk si". "Gak apa kok om". Dia membukakan pintu pager dan aku memasukan sepeda motorku kedalem, parkir disebelah mobilnya. "Masuk yuk". Dia menyilakan aku masuk, langsung keruang keluarga. Rumahnya besar, nyaman buat aku. Heran juga kok dia ngerasa sumuk, padahal ada ac yang nyala diruang keluarga. "Kok sepi rumahnya om". "Kan aku dah bilang tadi, keluarga lagi kluar kota semuanya". "Dah lama ya om". "Udah juga si, nengok mertua sakit, katanya si dah parah". "Kok om gak nengok". "aku kan kudu kerja, aku nuggu kabar aja, kalo ada yang kritis baru aku brangkat". "Wah sepi dong om ditinggal lama gitu, pa gak gatel tuh". "Kok gatel, apanya?" dia tersenyum, aku sengaja mulai nyerempet2 ngomongnya. "Kalo lama gak dikluarin katanya bikin gatel2". "apanya yang gak dikluarin". "O ngerti Ines sekarang napa om ngerasa sumuk dan cuma pake celana pendek, dalam rangka mo ngeluarin ya. Tu tv nya stand by, lagi nonton ya om". "Tau aja si kamu". aku mengambil remote dan memijit pausenya, di tv langusng muncul tayangan seornag lelaki negro yang kontolnya gede panjang sedang diemut oleh abg amoy. "asik nih". aku terpaku melihat tayangan itu, apalagi ketika si negro mulai mendogi si amoy, suara ah uh bergema.

Dia kaget saat tiba-tiba aku duduk merapat dan mulai mengelus selangkangannya. "keras banget om, dah lama ya gak dikluarin". Tanganku menyusup kedalam celana pendeknya dan cdnya, menyerobot kontolnya dan mengeluarkannya. "Om gede banget, panjang lagi". "Mangnya kamu belon pernah liat yang sebesar ini, tu si negro punya juga gede banget kan". "Itu kan di film om, punya cowok Ines gak segede om punya". tangan kananku terus meremas halus kontolnya. kepalaku menuju ke arah kontolnya. Pelan-pelan aku mengecup, melumat dan menyedot kontolnya, pantatnya bergerak seirama sedotan mulutku, tangan kirinya berpindah-pindah antara toket kiri dan kananku yang lembut namun kenyal. "Kamu imut orangnya tapi toket kamu montok juga ya Nes". "Om suka kan". "Suka banget Nes, palagi emutan kamu nikmat banget deh, dah ahli rupanya". makin lama sedotanku semakin liar, aku terus melumat, menjilat dan menyedot kontolnya yang kian mengeras. Aku terus menyedot kontolnya, pinggangnya pun bergerak turun naik, mengikuti sedotanku. dia sepertinya merasakan desakan hebat dikontolnya, segera ditariknya kepalaku, dilumatnya bibirku. Jemariku kini mengambil alih tugas mulutku, mengocok kontolnya yang telah licin. "Nes, kekamar yuk". "Om dah gak tahan ya". "Iya nih, abis kamu nakal banget sih. Dah sering nyepongin kont0l ya Nes, nikmat banget deh sepongan kamu". "Mau kan Nes". "Siapa takut", jawabku. gak lama kemudian kami dah berada dikamarnya. "sayang", panggilnya. Aku hanya tersenyum. Sementara dia melepaskan celana pendeknya dan berbaring di ranjang hanya mengenakan CD. "Nes, kesini dong". kontolnya yang besar dan panjang masih ngaceng dengan kerasnya. Aku tersenyum melihat posenya yang menantang di ranjang. Aku duduk disebelahnya dan dia langsung mencium bibirku dengan penuh napsu. Aku membalas lumatannya juga. "Nes, aku dah napsu banget nih", katanya sambil menciumi leherku. "Sama, Ines juga napsu om". Dia mengusap2 punggungku dan mulai meremas2 toketku dari bajuku. Gak lama kemudian dia melepaskan baju dan celanaku.

Sepertinya dia gak mau menyia2kan waktu sedikitpun. Aku sih ok saja karena sejak tadi CDku dah basah membayangkan nikmatnya dientot si om. Braku gak lama kemudian juga terlepas. Ciumannya menjalar menyusuri leher dan belakang kupingku. Aku menggelinjang kegelian, "Geli om ". Aku makin menggeliat ketika lidahnya menyelusuri toketku dan turun di belahannya. Dia terus memainkan lidahnya di toketku tapi tidak sampai kepentilku. "om diisep pentilku dong", aku mendesah2. Dia terus saja menjilati daerah sekitar pentilku, tapi pentilku tidak disentuh. Kemudian ciumannya turun ke arah perutku sambil tangannya mengusap2 daerah nonokku, CDku sudah basah karena napsuku sudah berkobar2. "Nes, kamu udah napsu banget ya, sampe CD kamu basah begini", katanya sambil meneruskan usapan. Aku gak tahan lagi, kepalanya kutarik dan kudekatkan ke pentilku. "Diisep dong om ", rengekku. Dia segera mengisap pentilku sambil meremas toketku. "Terus om , diisep yang keras om, enak om akh", erangku. Dia mengemut pentilku bergantian, demikian pula toketku diremas bergantian. Sesekali dielus2nya itilku dari luar CDku. Dia bangkit, melepas CDnya. kontolnya yang besar dan panjang sudah ngaceng dengan kerasnya. "Kont0l om besar dan panjang ya om , keras banget lagi", kataku sambil menciumi kontolnya dan mengenyot kepalanya. Kepalanya kemudian kujilati dan jilatanku turun ke arah bijinya. Seluruh kontolnya kujilati. "Enak Nes terusin dong emutannya", katanya. Kemudian dia memutar tubuhnya sehingga posisinya menjadi 69.


CDku langsung dilepas, "Ni jembut lebat banget", katanya sambil mengelus2 jembutku yang sudahbasah karena lendir nonokku. Dia mulai menjilati nonokku. "Enak om, terus", aku mengerang keenakan, dan makin menggelinjang ketika lidahku menyentuh itilku. kontolnya kuemut dengan keras, kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kontolnya dimulutku. Akhirnya aku gak bisa bertahan lebih lama lagi, aku nyampe kerana itilku dikenyot2, "om , Ines nyampe om , aakh". kontolnya terus kukocok dengan cepat dan keras. "Din, aku mau ngecret juga Din", katanya terengah. Segera kepala kontolnya kuemut lagi dan kukenyot dengan keras, aku terusmengocok kontolnya sampai akhirnya dia ngecret dimulutku. Banyak banget pejunya nyembur sampe meleleh keluar dari bibirku. kontolnya terus kukenyot sampe denyutan ngecretnya hilang baru kulepas. Pejunya kutelannya tanpa rasa jijik, "Nes nikmat banget ya emutanmu, pastinya emutan nonokmu lebih nikmat lagi ya", katanya terengah. "Peju om banyak banget si ngecretnya, stok brapa lama neh. Untung gak jadi odol om". Dia hanya tertawa sambil berbaring disebelahku, dipeluknya badanku. Belum dientot saja dia sudah ngasih aku ke kenikmatan.


Setelah itu kami membersihkan diri di kamar mandi. Didalam kamar mandi pun kami saling membersihkan badan. kontolnya mengeras lagi ketika kukocok2 pelan2, aku jongkok didepannya dan mengemut kontolnya lagi, langsung saja kontolnya ngaceng dengan kerasnya. Kepalaku bergerak maju mundur memasuk keluarkan kontolnya dimulutku. Dia gak bisa menahan diri lagi, langsung dia duduk di toilet, aku dipangku berhadapan, sambil mengarahkan kontolnya ke nonokku. Segera kontolnya nancep dinonokku, terasa sekali nonokku melebar untuk menampung kontolnya yang dienjotkan pelan2 sehingga makin nancep di nonokku, "Enak om, ssh". Aku mengenjotkan badanku maju mundur supaya kontolnya bisa nancep dalem di nonokku, diapun mengenjotkan kontolnya juga sehingga terasalah gesekan kontolnya dinonokku. Nikmat banget rasanya. Sedang nikmat2nya, dia berhenti mengenjotkan kontolnya. Aku disuruhnya memutar badanku tanpa mencabut kontolnya dari nonokku. Aku disuruh nungging sambil berpegangan di wastafel. Mulailah dia mengenjotkan kontolnya dari belakang. Sambil mengenjot, toketku yang mengayun2 seirama enjotannya kuiremas2. "Akh om , nikmat banget om . kont0l om nancepnya dalem banget om, Sesek non0k Ines rasanya, gesekan kont0l om kerasa banget, enjot terus yang cepet om , Ines udah mau nyampe lagi", erangku. "Cepet banget Din", katanya. "Abis nikmat banget sih kont0l om, jadi Ines gak bisa nahan lagi", erangku. Dia makin cepat mengenjotkan kontolnya keluar masuk sampe akhirnya aku menggelinjang dengan hebat, "Akh om, Ines nyampe lagi, Ines lemes om ", erangku terengah2.

Bibirku langsung diciumnya dengan penuh napsu, lidahnya yang dijulurkan ke mulutku kuisep kuat2 juga. Dia melingkarkan tangannya di leherku dan langsung meremas2 toketku. Terasa kontolnya yang masih ngaceng menekan ke perutku. Dia terus saja meremas2 toketku, pentilku yang sudah mengeras langsung dijilati. Aku jadi menggelinjang kegelian. Jilatannya turun terus ke bawah, ke puserku dan terus menciumi daerah nonokku yang sudah basah. "Nes kamu sudah siap dientot lagi ya, udah basah begini", katanya. Dia membopongku sambil terus menciumi bibirku. Aku dibaringkan di ranjang, sambil terus menciumi seluruh tubuhku, napsunya makin berkobar2, berkali2 aku menggelinjang. Sambil mengulum bibirku, dia mengelus2 pinggulku, kemudian jarinya mulai mengilik nonokku dan akhirnya itilku yang menjadi sasaran. Aku mengangkangkan pahaku supaya dia mudah mengakses nonok dan itilku. Aku menggeliat2 saking napsunya. Jarinya makin cepet menggesek itilku, aku mengangkat2 pantatku karena sudah pengen banget dienjot, "Ayo dong om , Ines dientot, udah pengen banget kemasukan kont0l om lagi", rengekku.

Dia kemudian menelungkup diatasku, kontolnya diarahkan ke nonokku dan kepalanya mulai nancep di nonokku, "Akh, enak om , masukin semuanya om ", lenguhku. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk, makin lama makin cepat dan akhirnya dengan satu enjotan keras seluruh kontolnya nancep semuanya di nonokku, "Akh, enak om , masuk semuanya ya om, non0k Ines sampe sesek banget rasanya kesumpel kont0l om ". Dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk makin cepat dan keras. "Enak om, terus om, enjot yang cepet dong", rengekku terus. Setengah permainan dia mencabut kontolnya dari nonokku, "Kenapa dicabut om, belum nyampe", protesku. "Variasi dong", jawabnya sambil menjepitkan kontolnya yang keras banget di toketku. Aku menjepit kontolnya dengan toketku, dia bergerak maju mundur, menggesekkan kontolnya di toketku. Ketika dia memajukan kontolnya, kepalanya kuemut sebentar dan kemudian terlepas karena dia memundurkan lagi, terus seperti itu. "Enak Nes", erangnya.

Setelah puas menggesek kontolnya ditoketku, dia berubah posisi lagi. "Kamu sekarang diatas ya Nes", katanya sambil berbaring. Segera aku menaiki badannya dan menempatkan kontolnya yang ngaceng tegak di nonokku. Aku menurunkan nonokku pelan2 dan bles, kontolnya mulai ambles di nonokku, "Akh, enak banget om ", lenguhku. Aku menaik turunkan pantatnya dengan cepat sehingga kontolnyapun makin cepat terkocok2 didalem nonokku, nikmat banget rasanya. Dia pun melenguh, "Enak Nes, terus yang cepet". Aku merunduk dan mencium bibirnya, dia memeluk punggungku sambil gantian mengulum bibirku sambil meremes2 toketku yang berguncang2 seiring dengan naik turunnya badanku mengocok kontolnya. Pentilku diplintir2. Aku makin bernapsu mengocok kontolnya dengan nonokku. Dia memegang pinggulku sementara aku terus mengocok kontolnya. Kocokanku makin kencang, "om, Ines sudah mau nyampe nih", kataku terengah. Dia meraba itilku dan dikilik2, ini mempercepat proses aku nyampe, "Akh, om , Ines nyampe, akh nikmatnya", lenguhku dan aku ambruk menelungkup dibadannya. Dia mengeluarkan kontolnya dari nonokku, masih perkasa kontolnya. Kemudian kontolnya kuciumi dan kepalanya kuemut, kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kontolnya dalam mulutku. kontolnya terus kuemut sambil dikeluar masukkan di mulutku, batangnya kukocok2 dengan cepat. "Akh enak banget Nes", erangnya. Cukup lama aku mengemut kontolnya, rupanya karena sudah ngecret 2 kali, dia bisa bertahan lama sekali. kont0l kukeluarkan dari mulutku dan aku disuruh nungging dipinggir ranjang.

Dari belakang sambil berdiri dia mencolokkan kontolnya lagi kedalam nonokku, sekali enjot kontolnya sudah amblas semua ke nonokku, "Akh, enak banget om", erangku. Dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonokku, karena berdiri enjotannya menjadi lebih keras dan lebih cepat, nikmatnya gak terlukiskan dengan kata2. Dia meraba2 lubang pantatku, kemudian jarinya ditusuk2kan kepantatku. "om sakit", protesku. Dia berhenti menusuk2 pantatku, pinggulku dipegangi sambil mengenjotkan terus kontolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dia membungkuk dipunggungku supaya bisa meremes2 toketku yang berguncang2 seirama dengan sodokannya. Pentilku kembali diplintir2. "Enak om , terus enjotannya, Ines udah mau nyampe lagi om ", erangnya. "Cepet kok Nes, aku belum ngerasa apa2", katanya sambil terus mengenjot nonokku. Akhirnya aku tak bisa nahan lebih lama lagi, "om , Ines nyampe om , akh", aku tersungkur diranjang karena lemes, kontolnya tercabut dari nonokku, masih keras dan berlumuran lendirku. Dia tidak memberi kesempatan aku istirahat, aku ditelentangkan dan kont0l dimasukkan lagi ke nonokku, terus mulai dienjot lagi keluar masuk dengan cepat dan keras. "om , kuat amat sih kontolnya, Ines udah lemes om , abis udah 2 kali nyampe", lenguhku. Dia tidak memperdulikan lenguhanku, terus saja kont0l dienjotkan keluar masuk. Makin lama enjotannya makin cepet dan keras, aku sudah pasrah saja telentang keenakan. Toketku diremes2 sambil memlintir2 pentilku, akhirnya "Nes aku ngecret", dan pejunya menyembur dinonokku. Aku memeluk dan mengelus2 punggungnya. "om, nikmat banget ngent0t dengan om , istirahat dulu ya om , Ines udah lemes banget", dia mencabut kontolnya dan rebah disebelahku. Tak lama kemudian kami tertidur kelelahan.

Ketika terbangun, dah lewat magrib. Terasa lapar juga karena kerja keras kali ya. Om Roy ngajakin aku keluar cari makan. SEgera aku mandi dan mengenakan pakeanku lagi. "wah jadi gak ganti baju nih ya". "abis gak tau si kalo om mo ngajakin berebagi kenikmatan, kalo tau Ines bawa baju ganti. Lagian abis makan Ines kan mo pulang, om, besok kan kerja". "Kamu mau gak nemein aku semaleman Nes, nanti kita beli baju deh bguat kamu pake kerja besok. Kamu ngekos kan, jadi gak da yang nyariin kan?". "Om belon puas ya". "Masi au lagi Nes, non0k kamu nikmat banget empotannya, kamu blajar diaman si". "Ines ikutan senam bl om". "Gak heran empotan kamu brasa banget. Mau ya nemeni aku semaleman". Aku emnggangguk, dia mengajak aku ke mall untuk belanja pakean untuk aku kerja besok, baeknya ukuran badanku standard sehingga bisa mendapatkan pakean yang pas buat aku. Dia membayari semua belian pakeanku, luar dalem. Setelah itu baru kita cari makan. Dia pesen sate kambing dan beberapa makanan laen di food court mal itu. "wah mo all nite long nih". "Iya lah, mumpung ditemeni kamu". "ines mau kok om kapan2 nemeni om lagi, gak bisa dirumah kan bisa cek in hotel om". "iya ya, nanti deh kita cari kesempatannya. Kamu mo nasi pa lontong". "Kan dah ada lontong om, gede panjang dan keras banget lagi". Dia tertawa mendengar guyonan mesumku. Selesai makan dengan santai, kita kembali ke rumahnya.

Dia mengambilkan can soft drink dingin, dibukakan untukku. Aku meminumnya.
Dia memelukku. Aku diciumnya sambil segera meremas2 toketku kembali. Segera aku kutelanjangi, toketku diciumi dan pentilku diemut2, segera saja pentilku mengeras. Dia segera saja mengiliki2 itilku."om , kok napsu banget sih sama Ines", tanyanku. "Abis ngent0t sama kamu nikmat banget sih", jawabnya. "Ines kan juga dapet nikmatnya dipatil lagi sama kont0l om ", kataku. Kemudian dia melepas semua pakeannya. kontolnya sudah ngaceng dengan keras. Dia duduk di ubin di depanku, kakiku dikangkangkan. Badanku diseret sehingga aku setengah rebah di dipinggir sofa. Lidahnya mulai menggesek nonokku dari atas ke bawah. Itilku menjadi sasaran berikutnya, dijilat, dihisap, kadang digigit pelan, dijilati lagi, "om , enak banget om , terus om ", erangku. Dia terus menjilati itilku sampe aku nyampe. "Akh om , belum dientot Ines sudah nyampe, om lihai banget deh makan nonok Ines", kataku. Dia berdiri, aku ditarik supaya duduk. kontolnya tepat ada dimukaku, segera saja kugenggam dan kuemut kepalanya. Aku mulai mengeluar masukkan kontolnya sambil batangnya kukocok2 dengan cepat dan keras. Dia mengejotkan kontolnya pelan dimulutku seperti sedang mengentoti mulutku.

Beberapa saat kemudian, dia berbaring disofa, aku segera menaiki badannya dan menancapkan kontolnya di nonokku, kusentakkan badanku kebawah dengan keras sehingga sebentar saja kontolnya udah nancep semua di nonokku. Aku menaik turunkan pantatku dengan cepat sehingga kontolnya terkocok oleh nonokku dengan cepat juga, "Akh nikmat banget Nes", erangnya. Dia menahan badanku sehingga aku berhenti mengenjot. kont0l dikeluarkan dari nonokku, aku disuruh telungkup menungging di sofa dan kembali kont0l ditancapkan ke nonokku dari belakang. Bles, kontolnya langsung saja nancep semuanya ke nonokku, "Akh, nikmatnya,", kali ini aku yang menggerang. Dia langsung mengenjot nonokku dengan cepat dan keras. Terasa sekali kontolnya menggesek nonokku, kalo dienjotkan dengan keras terasa kontolnya nancep dalem sekali di nonokku. Makin cepat dienjot makin nikmat rasanya. Tiba2, "akh om , Ines nyampe, om " , aku meledak juga akhirnya. Dia terus saja mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat sampe akhirnya kembali dia ngecret, "Nes, aku ngecret, nikmat banget rasanya Nes", terasa kembali pejunya membanjiri nonokku. "om, Ines lemes banget om , baru sampe rumah udah dientot lagi. om gak ada matinya ya", kataku sambil tersenyum. "Ya udah kita mandi dan terus tidur", jawabnya sambil masuk ke kamar mandi. Aku berbaring saja di sofa sambil istirahat. Selesai mandi, dia keluar masih bertelanjang bulat. Giliranku mandi. Selesai mandi, dia sudah berbaring diranjang dikamarnya, aku berbaring disebelahnya. tak lama kemudian aku tertidur.

Ketika terbangun, dia gak ada diranjang. Aku bangun ke kamar mandi, pipis.muka kubasuh dengan air dingin. Seger sekali rasanya. Rupanya dia ada di pantri dilantai bawah sedang menyeduh kopi dan menghangatkan makanan di microwave. Aku duduk di meja makan. "Nes, kalo laper lagi, masih ada nasi goreng yang semalem aku beli sekalian. Dah aku angetin nih, kan mo kerja keras lagi. kita masih mau satu ronde lagi kan". Aku hanya tersenyum mendengar kata2nya, aku mengunyah nasi goreng yang dibelinya dengan tenang. Sehabis mengisi perut, dia langsung menarik tanganku kembali ke ranjang di kamar. Aku dipeluk, segera saja dia meremas2 toketku sambil mencium bibirku dengan gemasnya. Pentilku diplintir2nya pelan, napsuku segera saja berkobar, pentilku segera mengeras. Aku tidak tinggal diam, kontolnya yang sudah ngaceng keras sekali kukocok2. "Ines isep ya om ", kataku sambil mengubah posisi mendekati kontolnya. Kepala kontolnya kujilati kemudian pelan2 kumasukkan ke mulutku. kontolnya kukulum2, kukeluar masukkan di mulutku. "Enak Nes", erangnya. Kemudian dia menarik aku kembali kepelukannya. Bibirku kembali dilumat, aku membalas lumatannya, sementara dia terus saja meremas2 toketku. Tangannya kemudian mengarah kebawah, itilku menjadi sasaran berikutnya. "Akh om, enak", erangku. Dia menciumi leherku, terus kebawah mengemut pentilku bergantian, aku terus mengerang keenakan. Ciumannya terus mengarah kebawah, berhenti di puserku sehingga aku menggelinjang kegelian, "Geli om", kataku manja. Akhirnya sampailah ciumannya pada sasaran sesungguhnya, non0k dan itilku. Jilatannya segera menyerbu itilku. Aku sudah mengangkang selebar2nya supaya dia mudah menjilati itilku. Dia meletakkan bantal dibawah pinggulku. "Buat apa om, kan kont0l om panjang. Gak usah diganjel masuknya juga dalem banget", tanyaku. Dia tidak menjawab, terus saja menjilati itilku yang makin terexpose karena ganjelan bantal itu. Aku jadi tau kenapa dia mengganjal pantatku dengan bantal, supaya dia mudah menjilati itilku. Jilatannya berubah menjadi emutan, itilku diemut2nya pelan. Aku menjadi makin blingsatan. "Akh om , Ines udah pengen dientot, om .Masukin dong kont0l om ", erangku.

Dia menghentikan emutannya, aku dinaikinya dan mengarahkan kontolnya ke nonokku. Dia menggosok2kan kepala kontolnya di nonokku yang sudah basah banget, "Ayo dong om , tancepin aja semuanya", erangku gak sabar. Aku makin menggelinjang karena gosokan kontolnya itu. Pelan2 dimasukkannya kontolnya ke nonokku. Dia menekan kontolnya masuk sedikit2 demi sedikit. Karena ganjalan bantal, kontolnya jadi lebih mudah nancep. "Akh, ssh, enak banget om , tancepin aja semuanya sekaligus sampe mentok", kataku. Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk pelan sehingga sedikit demi sedikit kontolnya nancep makin dalem aja. Enjotannya makin cepat dan dengan sekali hentak kontolnya ditancepkan semuanya ke nonokku, "Akh enak banget om", erangku. Dia terus saja mengenjotkan kontolnya dengan keras dan cepat, "Enak om, terus om, yang cepet, Ines udah mau nyampe om ", erangku terengah2. Tau aku udah mau nyampe, dia mempercepat enjotan kontolnya, setiap enjotan langsung menancapkan kontolnya dalam2 dinonokku. Pantatku menggeliat2 tidak teratur saking nikmatnya. Akhirnya aku sampe juga. Kakiku segera membelit kakinya, aku memeluk punggungnya, "om, Ines nyampe, akh, ssh, enak banget om ", jeritku keenakan. Dia terus saja mengenjotkan kontolnya keluar masuk setelah aku meletakkan kakiku diatas ranjang lagi, rasa nikmat membuatku terkapar, napasku tersengal2. Dia tidak peduli dengan kondisiku, tetap saja kontolnya dienjotkan dengan cepat dan keras. Sebentar kemudian napsuku sudah bangkit lagi, aku mulai menggeliat2kan pantatku.

Nes ganti posisi yuk", katanya sambil mencabut kontolnya dari nonokku. Aku disuruhnya menungging dipinggir ranjang. Dia berdiri dibelakangku dan menancapkan kontolnya dinonokku. Sekali sodok, kontolnya sudah nancep sampe pangkalnya. Sambil berdiri dia mengenjot nonokku. kontolnya bergerak keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras. Enjotannya lebih terasa keras karena dia berdiri sehingga tenaga enjotannya menjadi lebih besar. "Akh om , enak banget, enjotan kon tol om terasa banget keluar masuk non0k Ines, terus om , ssh", erangku. Dia mempercepat enjotan kontolnya, "Nes, aku udah mau ngecret Nes", katanya. "Iya om , Ines udah mau nyampe lagi, barengan ya om ", jawabku. Dia mengenjotkan kontolnya dalem2 dengan keras, "Nes, aku ngecret, akh, ssh", erangnya. Terasa semburan pejunya di nonokku sehingga akupun nyampe lagi untuk kesekian kalinya. "om, Ines juga nyampe om, akh nikmat banget om ," jeritku. Dia menelungkup diatas punggungku sehingga aku rebah keranjang. kontolnya tercabut dari nonokku. Dia berguling dan berbaring disebelahku yang masih nelungkup. "om , nikmat banget deh enjotannya kalo om ngenjotnya sambil berdiri", kataku. Dia hanya tersenyum. Dia bangun ke kamar mandi, pipis. Kembali ke ruangan dia mengambil air dingin di lemari es, diminum habis segelas, dia mengisinya lagi dan diberikan kepadaku yang masih terkapar kelelahan. "Hebat om ya, kuat banget ngent0tnya", kataku. "Kamu juga hebat Nes, napsu kamu cepet sekali berkobar, kayanya kamu gak puas2 ya makan kontolku". "Mana bisa puas om , kan gak tiap hari non0k Ines keiisi kont0l om , mumpung ada kesempatan ya dituntasin aja". "Enak Nes, empotan non0k kamu kerasa banget, lihai kamu ya Nes". Berakhirlah sudah malam penuh kenikmatan dengan si om. "om , kapan Ines dientot lagi". "Nanti kalo ada kesempatan lagi ya sayang". Aku segera bebersih, mengenakan pakean yang dia belikan semalem, "Makasi buat segalanya ya om". Dia menandatangani faktur pembelian, dan menyerahkan uang cash untuk pembayaran vitamin tulang. dia mengecup bibirku dengan mesra sebelum aku meninggalkan rumahnya.
»» Baca selengkapnya.....

Dengan Ibu Mertua

Aku seorang laki-laki biasa, hobiku berolah raga, tinggi tubuhku 178 cm
dengan bobot tubuh 78 kg. Aku mempunyai fisik yang ideal untuk seorang
pria, tinggi, tegap, padat dan atletis. Tidak heran kalau banyak wanita
yang menggoda dan mengajakku tidur karena sex appeal-ku ini. Empat tahun
yang lalu saya menikah dan menetap di rumah mertuaku. Hari-hari berlalu
kami lewati tanpa adanya halangan walaupun sampai saat ini kami memang
belum dianugerahi seorang anak pendamping hidup kita berdua. Kehidupan
berkeluarga kami sangat baik, tanpa kekurangan apapun baik itu sifatnya
materi maupun kehidupan seks kami. Tetapi memang nasib keluarga kami
yang masih belum diberikan seorang momongan.

Di rumah itu kami tinggal bertiga, aku dengan istriku dan Ibu dari
istriku. Sering aku pulang lebih dulu dari istriku, karena aku pulang
naik kereta sedangkan istriku pulang naik kendaraan umum. Jadi sering
pula aku berdua di rumah dengan mertuaku sampai dengan istriku pulang.
Mertuaku berumur sekitar kurang lebih 45 tahun, tetapi dia mampu merawat
tubuhnya dengan baik, aktif dengan kegiatan sosial dan rutin berolahraga
bersama teman-temannya yang lain. Sering kulihat Ibu mertuaku pakai baju
tidur tipis dan tanpa BH. Melihat bentuk tubuhnya yang masih lumayan
dengan kulitnya yang putih, sering membuatku seperti kehilangan akal sehat.

Pernah suatu hari selesai Ibu mertua mandi, telepon berdering. Lalu dia
pun keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan sehelai handuk yang
dililitkan ke tubuhnya. Aku yang sedang berolahraga angkat beban di
luar, juga bermaksud mengangkatnya. Sesampainya aku di dekat telepon,
ternyata kulihat Ibu mertuaku sudah mengangkatnya. Saat itulah aku
melihat pemandangan yang menggiurkan. Dari belakang kulihat bentuk
pangkal pahanya sampai ke bawah kakinya yang begitu bersih tanpa ada
bekas goresan sedikitpun. Aku tertegun dan menelan ludah, terangsang
melihat kaki Ibu mertuaku. Dalam hati berpikir "Kok, sudah tua begini
masih mulus aja ya..?"

Aku terhentak dari lamunanku begitu Ibu mertuaku menaruh gagang telepon.
Lalu aku bergegas kembali ke luar, meneruskan olahragaku yang tertunda.
Beberapa menit setelahnya aku hentikan olahragaku, masuk ke kamar, ambil
handuk dan mandi. Saat aku hendak ke kamar mandi, kembali aku melihat
pemandangan yang menggairahkan. Melalui celah pintu kamarnya yang tak
tertutup, kuintip ke dalam, kulihat bagian belakang Ibu mertuaku yang
bugil karena handuknya sudah dilepas dari tubuhnya. Serta merta burungku
mulai bangkit, dan gairahku memuncak. Segera kutenangkan pikiranku yang
mulai kotor karena pemandangan itu.

Selesai mandi aku membuat kopi dan langsung duduk di depan TV nonton
acara yang lumayan untuk ditonton. Tidak lama Ibu mertuaku menyusul
ikutan nonton sambil mengobrol denganku.

"Bagaimana kerjaanmu, baik-baik saja?" tanya Ibu mertuaku.

"Baik, Bu. Lho Ibu sendiri gimana?" tanyaku kembali. Kami mengobrol
sampai istriku datang dan ikut bergabung mengobrol dengan kami berdua.
Besok malamnya, sekitar jam 11.30 malam aku keluar kamar untuk minum.
Kulihat TV di ruang keluarga masih menyala. Saat itu terlihat Ibu
mertuaku ternyata sudah tertidur di depan TV. Ketika aku hendak
mematikan televisi, tidak sengaja aku melihat ke arah rok Ibu mertuaku.
Rok Ibu mertuaku tersibak sampai celana dalamnya kelihatan sedikit.
Kulihat kakinya masih begitu mulus, iseng kuintip roknya dan terlihatlah
gumpalan daging kemaluan yang ditutupi celana dalamnya. Ingin sekali
rasanya kupegang dan kuremas gumpalan daging memek Ibu mertuaku itu,
tetapi buru-buru aku ke dapur ambil minum lalu membawa ke kamar. Sebelum
masuk kamar sambil berjalan pelan kulirik Ibu mertuaku sekali lagi dan
burungku langsung ikut bereaksi pelan.

Aku masuk kamar dan coba mengusir pikiranku yang mulai kerasukan ini.
Esoknya aku telat bangun, dan kulihat istriku sudah tidak ada. Langsung
aku bergegas ke kamar mandi. Selesai mandi sambil mengeringkan rambut
yang basah, aku berjalan pelan dan tanpa sengaja kulihat Ibu mertuaku
berganti baju di kamarnya tanpa menutup pintu kamar. Aku kembali
tertegun dan terangsang menatap keseluruhan bentuk tubuh Ibu mertuaku.
Cuma sebentar aku masuk kamar, berganti pakaian kerja dan segera berangkat.

Hari ini aku pulang cepat, di kantorpun tidak ada lagi kerjaan yang aku
harus kerjakan. Saat pulang aku tidak melihat Ibu mertuaku, tampaknya
dia berada di kamarnya karena pintunya tertutup. Sampai di rumah aku
langsung berganti pakaian dengan kaus olahraga, dan mulai melakukan
olahraga rutin yang biasa aku lakukan tiap pulang kerja. Sedang
asyik-asyiknya aku melatih otot-otot dada dan lenganku, tiba-tiba
kudengar suara teriakan. Itu adalah suara teriakan Ibu mertuaku.
Kusudahi latihanku, dan aku segera bergegas menuju suara teriakan yang
berasal dari kamar Ibu mertuaku. Langsung tanpa pikir panjang kubuka
pintu kamar. Kulihat Ibu mertuaku berdiri di atas kasur sambil teriak

"Awas tikusnya keluar..!" tandas Ibu mertuaku.

"Tikus? Ada tikus di sini Bu?" tanyaku menegaskan.

"Iya...ada tikus, tolong carikan!" katanya panik.

Aku pun mulai mencari tikus itu.

"Lho.. kok pintunya di buka terus? Nanti tikusnya susah ditangkap!"
tandas Ibu mertuaku.

Sambil kututup pintu kamar, kubilang "Mana.. mana tikusnya..?"

"Coba kamu lihat di bawah kasur atau di sudut sana.." kata Ibu mertuaku
sambil menunjuk meja riasnya. Kuangkat seprei kasur dekat meja rias.
Memang ada seekor tikus kecil di situ yang tiba-tiba mencuit dan
melompat ke arahku. Aku kaget dan spontan lompat ke atas kasur.

Ibu mertuaku tertawa kecil melihat tingkahku dan mengatakan "Kamu takut
juga ya?" Sambil menggerutu pelan kembali kucari tikus kecil itu,
sesekali mataku nakal melirik ke arah kaki Ibu mertuaku yang roknya
terangkat itu.

Saat sedang mencari tikus itu, tiba-tiba Ibu mertuaku kembali teriak dan
melompat ke arahku, ternyata tikusnya ada di atas kasur. Ibu mertuaku
mendekapku dari belakang, entah disengaja atau tidak, namun kurasakan
payudaranya menempel di punggungku, terasa hangat dan kenyal-kenyal.
Kuambil kertas dan kutangkap tikus yang sudah mulai kecapaian itu terus
kubuang keluar.

"Udah dibuang keluar belum?" jelas Ibu mertuaku.

"Udah, Bu." Jawabku dari luar kamar.

"Kamu periksa lagi, mungkin masih ada yang lain... soalnya Ibu dengar
suara tikusnya ada dua" tegas Ibu mertuaku.

"Walah, tikus maen pake ajak temen segala!" gumamku.

Aku kembali masuk ke kamar dan mengendus-endus di mana temennya itu
tikus seperti yang dibilang Ibu mertuaku. Ibu mertuaku duduk di atas
kasur sedangkan aku sibuk mencari. Begitu aku mencari di bawah kasur
sepertinya tanganku ada yang meraba-raba di atas kasur. Aku kaget dan
kusentakkan tanganku, ternyata tangan Ibu mertuaku yang merabanya. Aku
pikir temennya tikus tadi. Ibu mertuaku tersenyum penuh misteri dan
kembali meraba tanganku. Aku memandang aneh kejadian itu, tetapi
kubiarkan dia merabanya terus.

"Gak ada tikus lagi, Bu..!" kataku setelah berkali-kali mencari. Tidak
ada sahutan. Lalu tanpa berkata apa pun Ibu mertuaku beranjak dari kasur
dan langsung memelukku. Aku kaget dan mulai panas dingin. Dalam hati aku
berkata "Kenapa nih orang?"

Rambutku dibelai, diusap seperti usapan seorang ibu pada anaknya.
Dipeluknya aku erat-erat seperti takut kehilangan.

"Ibu kenapa?" tanyaku.

"Ah.. nggak! Ibu cuma mau membelai kamu" jawabnya sambil tersenyum genit.

"Udah ya.. Bu, belai-belainya..!" kataku.

"Kenapa, kamu nggak suka dibelai sama Ibu" rajuk Ibu mertuaku.

"Bukan nggak suka, Bu. Cumakan..." alasanku lagi.

"Cuma apa... ayo.. cuma apa..!?" potong Ibu mertuaku. Aku diam saja,
dalam hati biar sajalah tidak ada ruginya kok dibelai sama dia. Siapa
juga lelaki yang tidak mau diraba dan diusap-usap sama wanita seksi
seperti dia?

Sambil membelaiku, kulihat pancaran birahi tersiar dari matanya. Aku
merasa maklum, dengan kaos olahraga tipis yang melekat di tubuhku,
tampilan otot-otot kekar di baliknya pasti terlihat dengan jelas. Hal
itu ditopang dengan keringatku yang membekas di kaos itu. Pasti terlihat
sangat menggairahkan bagi wanita mana saja yang melihatnya. Kuperhatikan
Ibu mertuaku masih terus membelaiku. Belaiannya lalu berpindah, dari
rambut terus turun ke leher sambil diciumnya perlahan. Aku merinding
menahan geli, sementara tangan halusnya bergerilya menyusuri tubuhku.
Kaos olahragaku diangkat dan dibukanya, bukit dadaku diusap dengan
sesekali digigiti. Pentil dadaku dipegang, diusap dan dicium. Kudengar
nafas Ibu mertuaku semakin tidak beraturan. Dituntunnya aku ke atas
ranjang, mulailah pikiranku melanglang buana. Dalam hati aku berpikir
"Jangan-jangan Ibu mertuaku lagi kesepian dan minta disayang-sayang ama
laki-laki".

Aku bersikap pasif, tidak membalas tindakan mesra Ibu mertuaku itu. Aku
berbaring di atas ranjang dengan posisi terlentang. Ibu mertuaku masih
terus mengusap-usap dadaku yang lalu turun ke bagian perutku. Dicium,
dijilati, dan terus dielusnya dada dan perutku. Aku menggelinjang geli
dan berkata pelan berkata "Bu, sudah ya..."

Dia diam saja, sementara tangan kanannya mulai masuk ke dalam celanaku.
Aku mengeluh pelan. Kurasakan tangan kanannya meraba-raba dan sedikit
meremas-remas burungku dari luar celana dalamku. Merasakan hal itu,
burungku pun mulai mengeras dan membesar. Sambil terus meremas dan
meraba burungku yang sudah tegang, tangan kirinya berusaha untuk
menurunkan celana pendekku. Aku pun beringsut membantunya untuk
menurunkan celana pendekku. Tidak lama celanaku sudah lepas berikut
celana dalamku.

Burungku pun sudah berdiri kencang, terus memanjang dan membesar seiring
dengan rabaan dan remasan tangan Ibu mertuaku di batangnya.

"Besar sekali burungmu, Do, panjang pula...!" puji Ibu mertuaku sambil
menoleh kepadaku dan tersenyum mesum. Mulut Ibu mertuaku pun mulai
beraksi di burungku. Kepala burungku diciumnya, sambil tangan kirinya
memijit bijiku. Aku mengeluh, mengerang, dan mendesis nikmat, merasakan
gerakan erotis yang dibuat Ibu mertuaku.

"Ah, ah.. hhmmh... teruss.." itu saja yang keluar dari mulutku. Ibu
mertuaku terus melanjutkan permainan birahinya dengan mengulum burungku.
Aku benar-benar terbuai dengan kelembutan yang diberikan Ibu mertuaku
kepadaku. Kupegang kepala Ibu mertuaku yang bergerak naik turun.
Bibirnya benar-benar lembut, gerakan kulumannya begitu pelan dan
teratur. Aku merasa seperti disayang, dicintai dengan gerakan mesra Ibu
mertuaku.

Setelah dikulum sekitar 15 menit lebih, aku mulai tidak tahan. "Ah, Bu..
aku nggak tahan lagi Bu.." erang nikmatku.

"Hhmm.. mmh, heh.." suara Ibu mertuaku menjawabku. Gerakan kepala Ibu
mertuaku masih pelan dan teratur. Aku semakin menggelinjang dibuatnya.
Tubuhku menekuk, meliuk dan bergetar-getar menahan gejolak yang tak
tahan kurasakan. Tak lama tubuhku mengejang keras. Kurasakan nikmat yang
luar biasa, seiring dengan menyemburnya spermaku ke mulut Ibu mertuaku.

"Aggghhh...oohhh...akkuuu keeluuaarrr...Buu..."
"Crroootttt... cccrrrroootttt... ccrrrooottttt..."

Kulihat Ibu mertuaku masih bergerak pelan, bibirnya masih menelan kepala
burungku dengan kedua tangannya yang berlepotan sperma, memegang batang
burungku. Dia melihatku dengan tatapan sayunya dan kemudian kembali
menciumi burungku, geli yang kurasakan sampai ke ubun-ubun kepala.

"Banyak banget kamu keluarnya, Do..!" tandas Ibu mertuaku sambil menatap
mataku.

Aku terdiam lemas sambil melihat Ibu mertuaku datang menghampiriku dan
memelukku dengan mesra. Aku balas pelukannya dan kucium dahinya. Kubantu
dia membersihkan mulutnya yang masih penuh spremaku dengan menggunakan
kaos olahragaku tadi. Aku duduk di ranjang, telanjang bulat dan
berkeringat, menghirup minuman yang entah kapan sudah tersedia di meja
riasnya. Sedang Ibu mertuaku, tiduran dekat dengan burungku.

"Kenapa jadi begini, Bu..?" tanyaku sambil tersenyum.

"Ibu cuma pengen aja kok.." balas Ibu mertuaku genit. Diusap-usapnya
dengan mesra batang burungku, sambil tersenyum khas wanita nakal.

Aku belai rambutnya dan kuelus-elus pahanya sambil berkata "Ibu mau
juga?" godaku sambil tersenyum. Dia menggangguk pelan, kusudahi minumku
dan lalu kucium bibir Ibu mertuaku.
Dia balas ciumanku dengan mesra, aku melihat tipe Ibu mertuaku bukanlah
tipe wanita yang haus akan seks, melainkan dia haus akan kasih sayang.
Berhubungan intim pun sepertinya senang yang pelan-pelan bukannya
seperti seekor serigala di musim kawin. Aku ikut pola permainan Ibu
mertuaku, pelan-pelan kucium dia mulai dari bibirnya terus ke bagian
leher dan belakang kupingnya, dari situ aku ciumi terus ke arah dadanya.
Kubantu dia membukakan pakaiannya, kulepas semua pakaiannya. Kali ini
aku benar-benar melihat semuanya. Kulitnya masih mulus, tak seperti
kulit wanita seumurannya. Payudaranya masih kencang dan kenyal, perutnya
rata dan singset, pinggang dan pinggulnya tampak montok, paha, betis dan
kakinya kencang karena sering aerobik dan jogging dengan teman-teman
arisannya.

Kuraba dan kuusap semua tubuhnya dari pangkal paha sampai ke
payudaranya. Aku kembali ciumi dia dengan pelan dan beraturan. Kunikmati
dengan pelan seluruh bentuk tubuhnya dengan mencium, menjilat, dan
membelai setiap senti bagian tubuhnya. Payudaranya kupegang, kuremas
pelan dan lembut, kucium dan kugigiti putingnya. Kudengar desahan nikmat
dan nafasnya yang tidak beraturan. Puas beraksi di dada aku terus
menyusuri bagian perutnya, kujilati perutnya yang indah itu, serta
memainkan ujung lidahku di atasnya dengan putaran lembut yang membuat
dia sedikit berkejang-kejang. Tangannya terus meremas dan menjambak
rambutku, sementara lidahku melata pelan ke arah memeknya.

Sampai akhirnya bibirku mencium daerah berbulu miliknya, tercium aroma
memeknya yang harum lalu kujilati bibir memeknya. "Oucchh.. terus
sayang, kamu lembut sekali.. tee.. teruss.." kudengar suara erotisnya pelan.
Kumainkan ujung lidahku menyusuri dinding memeknya, kadang masuk kadang
menjilat membuat dia seperti berada di awang-awang. Kujilati klitorisnya
dan semua yang ada di daerah kemaluannya. Kusedoti cairan yang membanjir
dari memeknya. Kulakukan ini terus menerus, dan kudengar desahan
erotiknya yang semakin keras. Beberapa menit kemudian, ketika dia mulai
di ambang orgasmenya tiba-tiba dengan tak sabar ditariknya kepalaku dan
dia kembali melumat bibirku dengan panas. Dia membalikkan tubuhku dan
mulai bergerak merayap ke atas tubuhku. Dipegangnya kembali burungku
yang sudah kembali siap menyerang. Lalu diarahkannya burungku yang sudah
siap tempur itu ke lobang memeknya...

Setelah beberapa kali dicoba, "Blesshhh..." masuk sudah seluruh batang
burungkuku tertelan memek ibu mertuaku. Diangkat dan digoyang pantatnya.
Dia memutar-mutar pinggulnya, berusaha untuk mendapatkan kenikmatan dari
batangku seperti yang dia mau.

"Ah.. uh, nikmat banget ya..!" kata Ibu mertuaku. Dengan gerakan seperti
itu tak lepas kuremas payudaranya dengan mesra.

"Aahhh...uuhh...bessarr...banggett...punnyaa...muuhh...Do ohh!" gerakan
naik turunnya makin cepat.

"Ohh...nikmaattt...ahhh...uhhh...dahsyaaatt..." desah Ibu mertuaku terus
naik turun menikmati pompaan burungku. Dicakarnya dengan gemas otot-otot
kekar di dada dan di perutku....
"Ohhh...aahhh...miiliikk...Ibu...juggaa...ennakk" erangku penuh nikmat
sambil tak lepas kuremas-remas payudaranya.
"Sempiitt...ohhhh...terusshh...jepiitt buruuunggkuu...ohhh...Buuhhh..."
erangku berlanjut merasakan hisapan memeknya pada burungku. Memek Ibu
mertuaku memang masih nikmat kurasakan. Walau sudah berumur, rasanya
tidak kalah dengan memek para perempuan lain yang pernah kutiduri
sebelumnya. Tampaknya Ibu mertuaku sangat pintar menjaga kemaluannya itu.

Setelah cukup lama naik-turun keluar-masuk, Ibu mertuaku mulai
menunjukkan tanda-tanda.

"Aduh, Ibu nggak tahan lagi sayang..." kata Ibu mertuaku. Aku mencoba
membantunya mendapatkan kepuasan yang mungkin belum pernah dia alami
sebelumnya. Gerakannya semakin cepat dari sebelumnya, dan tak lama dia
berhenti sambil menarik tanganku agar aku bangkit. Diarahkannya wajahku
ke arah payudaranya sambil berujar;
"Ayyooo Ddoohhh... hisap dan susui toketku..." Kupenuhi permintaannya
dengan senang hati. Kuhisap, kujilat dan kugigit gemas payudaranya yang
bagus itu. Ibu mertuaku mengerang-erang merasakan nikmatnya perbuatanku
itu....

"Aaaahhh... aahhh... aaahhh... pintaarrsss kamuuhhh Sayanngghhh..."

Kurangkul tubuhnya lembut dan terus menggoyangkan batang burungku yang
masih di dalam dengan keras dan bertenaga. Hingga akhirnya...

"Ahh.. ah.. ahhss.." desah nikmat Ibu mertuaku. Keluarlah cairan
kewanitaannya membasahi burungku yang masih terbenam di liang memeknya.

"Ahhss...ohhhh...nikmaattnya burungmu...Ddoohh!" desahnya lagi sambil
tubuhnya yang mengkilat karena keringatnya itu berkejat-kejat, menerima
gelombang kenikmatan yang datang menderanya. Kami sama ambruk ke
ranjang. Kupeluk dia sambil kuciumi bibirnya dan kuelus-elus punggung
mulusnya. Dia terdiam dalam dekapanku. Kubiarkan dia menikmati sisa-sisa
orgasmenya.
Setelah kurasa dia sudah cukup beristirahat, kugoda dia lagi

"Enak ya.. Bu... Mau lagi..?" Dia menoleh dan tersenyum sambil
telunjuknya mencoel ujung hidungku.

"Kenapa? Kamu juga mau lagi?" canda Ibu mertuaku.

Tanpa banyak cerita kumulai lagi gerakan-gerakan panas, kuangkat Ibu
mertuaku dan aku menidurkannya sambil mencium bibirnya kembali. Untuk
sesaat kami saling berciuman dengan panas, saling tukar lidah dan ludah.
Tangan-tanganku dan Ibu mertuaku bergerak nakal, tetapi tetap dengan
gerakan yang lembut menggerayangi tubuh pasangannya. Kami juga tak lepas
berciuman dalam posisi ini. Kemudian kembali kumasukkan burungku ke
memeknya. Hanya sebentar aku bermain dalam posisi itu, lalu kutuntun dia
untuk bermain di posisi yang lain.
Kuajak dia berdiri di samping ranjangnya. Awalnya dia bingung dengan
posisi baru ini. Tetapi untuk menutupi kebingungannya kuciumi tengkuk
lehernya dan kujilati kupingnya. Kuputar tubuhnya untuk membelakangiku,
kurangkul dia dari belakang. Tangan kanannya memegang batang burungku
sambil mengocoknya pelan, sementara kedua tanganku memainkan
payudaranya. Kemudian kuangkat kaki kanannya dan kupegangi kakinya.
Sepertinya dia mulai mengerti bagaimana aku akan bermain. Tangan
kanannya menuntun burungku ke arah memeknya, pelan dan pasti kumasukkan
batang burungku dan masuk dengan lembut... "Bleeeppp..." Ibu mertuaku
melenguh dan mendesah nikmat, kutarik dan kudorong pelan burungku,
sambil mengikuti gerakan pantat yang diputar-putar Ibu mertuaku.
Luar biasa nikmat kurasakan pengaruhnya pada burungku. Kutambah
kecepatan gerakanku pelan-pelan, masuk-keluar, masuk-keluar, semakin
lama semakin cepat. Kupegang erat-erat kaki kanannya agar tidak jatuh,
kudekap Ibu mertuaku dengan tangan kiriku, sambil kumainkan payudara
kirinya. Sesekali kuciumi tengkuk lehernya.

"Ah.. ah.. Dod.. Dodo, kammuu..!" desahan erotis Ibu mertuaku mulai
keras terdengar.

Cukup lama kupompa memeknya, kurasakan tubuh Ibu mertuaku bergetar.

"Ibu mau keluar lagi.. Do..." jeritnya. Mendengar kata-katanya, semakin
kutambah kecepatan sodokan batangku dan...

"Acchh...aaahhh...ooochhh" keluarlah cairan ejakulasi dari memek Ibu
mertuaku, turun membasahi tangan dan pahaku. Ibu mertuaku
berteriak-teriak erotis dalam pelukanku. Tubuhnya berkejat-kejat liar,
bergetar lemas dan langsung jatuh ke kasur.
Sesampainya di kasur kubalik tubuhnya dan kucium balik bibirnya. Kembali
kumasukkan burungku ke memeknya. Dia balas memelukku dan menjepit
pinggang rampingku dengan kedua kakinya. Kuayun pantatku naik turun
tambah cepat membuat Ibu mertuaku semakin meringkih kegelian.

"Ayo Do, kamu lama banget sih.. Ibu geli banget nih.." kata Ibu mertuaku.

"Dikit lagi, Bu..!" sahutku. Ibu mertuaku membantuku keluar dengan
menambah gerakan erotisnya. Pantatnya berputar-putar mengimbangi
pompaanku. Bermenit-menit kukocok kemaluannya, aku mulai merasakan
tanda-tanda. Kurasakan kenikmatan itu datang tak lama lagi. Tubuhku
bergetar dan menegang, sementara Ibu mertuaku memutar-mutar pantatnya
dengan cepat. Akhirnya...

"Crrootttt... cccrrrrooottttt... ccrrroootttttt...."

Kuhamburkan seluruh spermaku dalam-dalam ke memeknya. Ada sekitar 7 kali
semburan pejuhku ke dalam memeknya.

"Ahhcckk.. ahhk.. aduhh.. nikmatnya" kataku. Ibu mertuaku meresponnya
dengan memelukku dengan erat.

"Waduh banyak juga kayaknya kamu keluarkan pejuhmu untuk Ibu..." kata
Ibu mertuaku sambil tersenyum.

Kucabut burungku yang sudah kembali ciut ukurannya dari jepitan
memeknya, lalu berbaring di sampingnya. Aku terkulai lemas di sisi ibu
mertuaku. Kemudian Ibu mertuaku mendekatiku dan merebahkan kepalanya di
dadaku. Tangan halusnya membelai-belai perut sixpackku lalu bergerak
turun untuk meremasi batang burungku. Dia mainkan sisa cairan di ujung
batangku. Aku sedikit kegelian begitu tangan Ibu mertuaku mengusap-usap
kepala burungku yang sudah kembali menciut.Sesaat kami saling bercanda
sambil berciuman mesra. Setelah puas, kucium bibir Ibu mertuaku lembut,
kemudian pamit keluar kamar untuk mandi. Tak lama ibu mertuaku ikut
menyusulku mandi.

Begitu istriku pulang, kami bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi.
Kami bertiga asyik mengobrol dan bercanda-canda. Namun saat kami
berpandangan, dapat kulihat sorot matanya menatapku yang seakan-akan
ingin mengulanginya kembali bersamaku.
Semenjak hari itu aku sering mengingat kejadian itu. Bayangan Ibu
mertuaku yang mendesah-desah nikmat merasakan pompaan burungku ini
sering menghiasi mimpi-mimpiku. Saat aku sedang menyetubuhi istrikupun,
tetap saja ingatanku melayang ke situ. Kadang kalau aku tak sengaja
menatap cermin meja rias istriku, terbayang peristiwa nikmat di hari
yang indah itu. Bayangan aku dan Ibu mertuaku yang sedang asyik bergelut
menimba gairah birahi.

Kami saling mencabik, bergelut liar, dan mengerang-erang penuh
kenikmatan. Kalau sudah begitu, burungku akan bangun-tegak membesar
memanjang-menuntut untuk dipuaskan kesenangan biologisnya. Akhirnya
terpaksalah aku beronani untuk meredam kehausan seksual burung
kesayanganku ini.
Sudah empat hari ini Ibu mertuaku pergi dengan teman-temannya dalam
acara koperasi Ibu-Ibu di daerah itu. Otomatis aku hanya bisa bertemu
dengannya malam saja. Hingga sampai suatu hari. Saat itu Kamis jam 05.00
sore aku sudah ada di rumah, kulihat rumah sepi seperti biasanya.

Sesampainya di rumah aku bergegas untuk mandi, karena aku sudah mampir
dulu di sebuah gym tadi. Sebelum masuk ke kamar tidurku kulihat di kamar
mandi ada orang yang mandi. Aku bertanya "Siapa di dalam?"

"Ibu! Kamu sudah pulang Do.." balas Ibu mertuaku.

"O, iya. Kapan sampainya Bu?" tanyaku lagi sambil masuk kamar.
"Baru setengah jam sampai!" jawab Ibu mertuaku.
Kuganti pakaianku dengan pakaian rumah, celana pendek dan kaos oblong.
Aku berjalan ke dapur hendak mengambil handukku untuk mandi. Begitu
handuk sudah kuambil aku bermaksud kembali lagi ke kamar, mau ambil
pakaian kotor sekaligus ingin mengecek HPku sebelum mandi. Saat lewat
kamar mandi, kulihat Ibu mertuaku keluar dari kamar mandi dengan hanya
menggunakan handuk yang dililitkan ke tubuhnya. Aku menunduk mencoba
untuk tidak melihatnya, tetapi dia tampak sengaja menubrukku.

"Kamu mau mandi ya?" tanya Ibu mertuaku kepadaku.

"Iya, emang kenapa Bu"? tanyaku. Mataku langsung saja tertumbuk pada
payudaranya yang putih dan montok itu. Ingin rasanya kujilati dan
kususui sepuasnya sampai dia keluar... aku menelan ludahku membayangkan itu.
Dia langsung peluk aku dan cium pipi kananku, sambil berbisik dia
berkata genit "Mau Ibu mandiin nggak?!"

"Eh, Ibu. Emang bayi pake dimandiin segala" candaku.

"Ayo sini.. biar bersih mandinya.." jawab Ibu mertuaku sambil mengerling
nakal dan menarikku masuk ke kamar mandi.

Sampai di kamar mandi aku taruh handukku sedangkan Ibu mertuaku membantu
melepaskan kausku. Sekarang aku telanjang bulat, dan langsung mengguyur
tubuhku dengan air. Ibu mertuaku melepaskan handuknya dan kitapun
telanjang bulat bersama. Matanya bersinar-sinar memandangi tubuh
telanjangku, seakan-akan dia ingin menelan habis diriku.

Melihat tubuhnya yang telanjang, aku spontan menelan ludahku. Burungku
mulai naik pelan-pelan melihat suasana merangsang seperti itu. "Eh,
belum diapa-apain sudah berdiri?" kata Ibu mertua menggodaku dengan
mencubit pelan batang burungku. Aku mengisut malu-malu diperlakukan
seperti itu. Kuambil sabun dan kugosok tubuhku dengan sabun mandi.
Kita bercerita-cerita tentang hal-hal yang kita lakukan beberapa hari
ini. Si Ibu bercerita tentang teman-temannya, sedangkan aku bercerita
tentang pekerjaan, aktivitas olahraga, dan lingkungan kantorku. Ibu
mertuaku terus menyabuni aku dengan lembut, sepertinya dia ingin membuat
pengalaman mandiku kali ini istimewa.

Sambil terus bercerita, Ibu mertuaku tetap menyabuniku sampai ke
pelosok-pelosok tubuhku. Kadang sambil menyabuni, tangannya nakal
bergerilya di tubuhku. Dicakarinya bukit dadaku. Burungku yang sudah
tegang, dipegangnya dan disabuninya dengan lembut.
Selesai disabun aku guyur kembali tubuhku dan sesudah itu
mengeringkannya dengan handuk. Begitu mau pakai celana, Ibu mertuaku
melarang dengan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum nakal. Kami
lilitkan handuk di tubuh masing-masing. Setelah itu ditariknya diriku ke
kamarnya.

Sesampainya di sana, didorongnya dadaku ke atas kasurnya. Dia sendiri
langsung mengunci pintu kamarnya. Aku tersenyum melihatnya seperti itu.
Dia dekati aku, lalu dia lepaskan handuk di tubuhku dan tubuhnya.
Burungku memang sudah hampir total berdiri. Dia langsung bergerak ke
arah burungku dan mulai mengulum burungku. Pelan tapi pasti kurasakan
batang burungku yang sudah berdiri, tambah mengeras, memanjang, dan
membesar seiring kulumannya di burungku. Gairahku pun turut memuncak.
Kupegangi kepalanya yang naik turun sambil mendesah-desah nikmat. Mataku
merem melek merasakan kulumannya itu.
Cuma sebentar dia ciumi burungku, sekitar 10 menitan, langsung dia
menaikiku kembali. Dia arahkan burungku ke memeknya.
"Sleeppp...slleepp...sslleepp..." tiga kali tusukan, masuk sudah seluruh
burungku terbenam dalam memeknya. Dalam hati aku berpikir kalau Ibu
mertuaku memang sudah rindu sekali ingin melakukannya lagi denganku. Dia
angkat dan dia turunkan pantatnya dengan gerakan yang stabil. Aku pegang
dan remas-remas payudaranya membuat dia seperti terbang ke awang-awang
kenikmatan.
Tak lama kuubah posisi bercintaku. Aku bangkit, kudekap dia sambil terus
memompa burungku dalam-dalam ke memeknya, bibir dan tanganku
bermain-main di payudaranya. Desahan nikmatnya tambah keras dan goyangan
pantatnya tambah liar merasakan rambahan mulut dan tanganku di
payudaranya. Dan efeknya, putaran pantatnya membuatku seperti gila,
matanya merem melek keenakan, dan aku jadi tambah bersemangat untuk
menyodok memeknya.
Menit-menit berlalu, gerakannya semakin cepat dan dia bersuara pelan
"Oh... oh... ahcch..." tibalah dia ke puncak kenikmatannya. Dan tak lama
kemudian tubuhnya menegang kencang dan dia jatuhkan diri ke pelukanku
yang sudah kembali berbaring. Kupeluk dia erat-erat sambil mengatakan

"Waduh.. enak banget ya?"

"He-eh, enak" balasnya.

"Emang ngeliat siapa di sana sampai begini?" godaku.

"Ah, nggak ngeliat siapa-siapa, cuma kangen aja..." bisik mesranya ke
telingaku. Kali ini aku kembali bergerak, kuciumi dia terlebih dahulu
sambil kuremasi payudaranya. Kubuat dia mendesah geli dengan rabaan
tanganku di punggung dan pinggulnya, dan kubangkitkan gairahnya kembali.

Kutidurkan dia, lalu kunikmati kembali sekujur tubuhnya senti demi
senti, mulai dari payudara hingga ke pangkal pahanya. Sampai di daerah
memeknya, kujilati dinding memeknya sambil memainkan lobang memeknya
dengan tanganku. Kujilati klitorisnya, kusedoti cairan memeknya yang
mulai membanjir, dan kutusukkan memeknya dengan jari-jariku.

Ibu mertuaku mendesis-desis seperti kepedasan dan mengeluh nikmat karena
gerakanku itu. Terkadang dia membuka dan merapatkan pahanya yang indah
untuk mendekap wajahku, seakan-akan dia ingin agar kepalaku masuk ke
lobang memeknya. Sekitar 10 menit kumainkan kemaluannya, Ibu mertuaku
mulai tidak sabar.

"Ayo ah.. kamu ngebuat Ibu gila nanti..." kata Ibu mertuaku.

Aku beranjak bangun dan menindihnya sambil mengarahkan burungku masuk ke
dalam memeknya. Kugesek-gesekkan dahulu kepala burungku di kelentitnya,
lalu pelan mulai kumasukkan burungku ke lobang memeknya.

Sleppp...sleppp... Pelan-pelan aku goyangkan burungku, kadang kutekan
pelan dengan irama-irama lembut. Tak lama masuk sudah burungku ke dalam
dan Ibu mertuaku mendesis seperti ular cobra. Kugoyang pantatku,
kunaikkan dan kutekan kembali burungku masuk ke dalam memeknya.

Aku terus bergerak monoton dengan ciuman-ciuman mesra ke arah bibir Ibu
mertuaku. Sambil kuciumi mulutnya, kumainkan kembali payudaranya. Kuraba
dan kuremas payudaranya dengan lembut. Sesekali kumainkan juga
kelentitnya. Ibu mertuaku hanya mengeluarkan desahan-desahan nikmat
dengan matanya yang merem melek.

Kulihat dia begitu nikmat merasakan pompaan burungku di dalam memeknya.
Dia jepit pinggangku erat dengan kedua kakinya untuk membantuku menekan
batang burungku, yang sejak tadi masih aktif mengocok lobang memeknya.
Kedua tangannya memainkan rambut dan puting dadaku, sementara aku asyik
menjilati lehernya. Cukup lama kami bermain, gerakan Ibu mertuaku
bertambah liar.

"Aku nggak kuat, Do.." desah ibu mertuaku. Tak lama kemudiannya,
tubuhnya mulai kejang-kejang. Rupanya dia sudah mendekati puncaknya.

"Ahhh...ohhh...Dohh...aku keluarrrr..." erang nikmat Ibu mertuaku.

Pelukannya mengetat, dijambaknya rambutku yang membasah karena
keringatku dengan tangan kanannya, dan dicakarnya punggungku dengan
tangan kirinya. Dibenamkan wajahnya di dada bidangku. Digigitinya
putingku, dan dihisapnya lembut. Lalu kurasakan batangku tersiram cairan
memeknya yang meleleh karena orgasmenya yang kedua. Aku hentikan
pompaanku di memeknya, kuberikan kesempatan dia untuk istirahat sejenak
setelah keluar tadi.

Setelahnya kuminta dia berganti posisi. Kali ini aku memintanya untuk
menungging. Aku ingin menggaulinya dengan gaya doggie style. Ibu
mertuaku tersenyum mendengar permintaanku.

"Ohh...Puasin Ibu Doh...!"

"Iya buh!" jawabku parau. Begitu dia menungging, kusaksikan pemandangan
yang luar biasa dari posisi ini. Pantat Ibu mertuaku yang begitu bulat
dan montok, begitu terawat berkat ketekunannya berolahraga dan minum
vitamin, lobang kemaluannya yang begitu menggoda, dengan rambut
kemaluannya yang terpotong rapi. Glekk... kutelan ludahku melihat
pemandangan indah itu.

Kujilati sebentar daerah kemaluan dan lobang anusnya itu. Kujilat dan
kusedot-sedot memeknya dari belakang. Kumainkan juga lobang anusnya
dengan lidah dan jari-jari tanganku secara bergantian. Ibu mertuaku
mendesah-desah nikmat merasakan kenakalan tangan dan mulutku itu.

"Ayyyoohhh...Ddohhh...Cepetannn masukiiinnn burungmuhh ituhhh..." Ibu
mertuaku memohon dengan nada memelas. Sebenarnya aku masih ingin bermain
di daerah miliknya, tapi khawatir istriku akan pulang sebelum perbuatan
mesum kami ini selesai. Kuposisikan burungku ke arah memeknya.
Kumasukkan perlahan demi perlahan burungku ke dalam miliknya.
Sleeppp...sleep...bleeppp...masuk sudah seluruh burungku tertelan
memeknya, dan mulai kupompa dia.

Tak lama kurasakan memeknya mulai membasah, seiring dengan semakin
cepatnya pompaan burungku di memeknya. Desah dan rintih penuh kenikmatan
mulai terdengar kembali dari mulut kami berdua, seiring dengan
meningkatnya intensitas persetubuhan itu. Keringat deras mulai
bercucuran di sekujur tubuhku, dan beberapa di antaranya berjatuhan di
tubuh Ibu mertuaku, yang juga sudah licin oleh keringatnya sendiri.

"Dohh...ohhh...ahhh....ennaakkk...terusss..." desah nikmat Ibu mertuaku
merasakan pompaan burungku yang semakin cepat dan liar di memeknya.
Kuremas-remas payudaranya dari belakang. Kumainkan juga lobang anusnya
dengan jari tengahku.

"Ohhh...aahhh...asshh...beginihh...Buhhh...?" tanyaku sambil terus
memompa, sesekali menghujam-hujamkan burungku hingga melesak jauh ke
dalam memeknya.

"Oohh...ahhh...Iyaahhhh...kaya...gituuhhh..." balas Ibu mertuaku, penuh
kenikmatan. Aku semakin menambah kecepatan gerakanku apalagi setelah Ibu
mertuaku memintaku untuk keluar berbarengan, aku menggeliat menambah
erotis gerakanku. Hampir sejam sudah kami bergelut, bermandi keringat,
lalu...

"Acchh.. sshh.. ahhh.. ohhh" desah Ibu mertuaku sambil menjepit
erat-erat burungku dalam memeknya. Keluar sudah cairannya membanjiri
burungku. Semenit kemudian ketika aku hampir keluar, kutekan dalam-dalam
burungku ke dalam memeknya. Dengan jeritan yang keras, kuhamburkan
spermaku keluar dan masuk ke dalam memek Ibu mertuaku.

"Crrroooottttt... ccrrrrooottttt.... Cccrrrrrooottttt...."

"Ahhcckk.. ahhk.. aduhh.. oohh...nikmatnya" desahku. Aku benar-benar
puas dibuat Ibu mertuaku, sepertinya spermaku benar-benar banyak keluar,
membasahi lobang dan dinding memek Ibu mertuaku. Untuk sesaat kami masih
mempertahankan posisi seperti ini, sambil merasakan sisa-sisa nikmatnya
orgasme. Aku terus memegang erat pinggulnya erat-erat sambil sesekali
menekan burungku dalam-dalam, memastikan tak ada spermaku yang tersisa
di kepala burungku. Lalu kutarik burungku dari dalam memeknya.

Kuperhatikan spermaku dan cairan birahinya, meluap keluar dari lobang
memeknya saat kutarik burungku dari sana.

"Mungkin nggak ketampung makanya tumpah" komenku dalam hati.

Ibu mertuaku langsung berbalik posisi dan berbaring disusul aku
kemudian. Dia langsung merebahkan kepalanya di dadaku sambil memeluk
diriku mesra. Tangannya membelai-belai dadaku dan puting-putingnya.
Sesaat kami masih saling bercanda, sambil berciuman mesra, dan meremas
anggota seksual pasangannya. Sesudahnya aku beranjak bangkit, pamit ke
kamar mandi lalu mandi lagi.Kubersihkan sekujur tubuhku dari sisa-sisa
keringat dan sperma di burungku. Ibu mertuaku pun menyusul mandi tak
lama kemudian.

Setelah peristiwa nikmat yang kedua di hari itu, hubunganku dengan Ibu
mertuaku menjadi tambah mesra saja. 'Kuhajar' dia di mana saja, di kamar
mandi, kamarnya, kamarku, dapur, dan di ruang tamu kalau suasananya
mendukung. Kadang kalau lagi nafsu-nafsunya dia sering mengajakku
bercinta secara kilat di mana saja dia mau. Sebenarnya aku berusaha
menghindar untuk berkencan lagi dengannya, tetapi kita hanyalah manusia
biasa yang terlalu mudah tergoda dengan hal itu.
Aku selalu terangsang dengan kemolekan tubuh, kemampuan oral, dan
jepitan memeknya. Sebaliknya dia tergila-gila dengan tubuh atletis,
ukuran burung, dan keperkasaanku di atas ranjang. Hubungan mesum kami
terus berlanjut selama enam bulan ke depan, hingga akhirnya dia
memutuskan pindah dari rumahku. Ibu mertuaku pindah ke rumah anaknya
yang sulung, aku tahu maksudnya. Tetapi istriku tidak menerimanya dan
berperasangka negatif bahwa dia tidak mampu menjaga ibunya yang satu itu.
»» Baca selengkapnya.....