Your friend novi puspitasari has invited you to join Multiply

silahkan bergabung di multiply ya..
di tunggu



novi's friends and family




Recent updates from novi's network

bozsgenk

Invite New to Your Network: andika

by andika, your novi's friend
joined 7 days ago
cutenovi

Invite New to Your Network: novi

by novi puspitasari
joined 8 days ago
Stop e-mails, view our privacy policy, or report abuse: click here
Copyright © 2004-2011 Multiply, Inc. 6001 Park of Commerce, Boca Raton, FL 33487, USA




»» Baca selengkapnya.....

Multiply -- Sign Up

Check out my Multiply site

I set up a Multiply site with my pictures, videos and blog and I want
to add you as my friend so you can see it. First, you need to join
Multiply! Once you join, you can also create your own site and share
anything you want, with anyone you want.

Here's the link:
http://multiply.com/si/zf+DeHLdwNFicj+9Jz9y3A

silahkan bergabung di multiply ya..
di tunggu

Thanks,
novi

Stop e-mails, view our privacy policy, or report abuse:
http://multiply.com/bl/zf+DeHLdwNFicj+9Jz9y3A
We haven't added your email address to any lists, nor will we share it
with anyone at any time.
Copyright 2011 Multiply
6001 Park of Commerce Blvd, Boca Raton, FL

»» Baca selengkapnya.....

True Story of Dezy

Pengalamanku kali ini berawal dari hari ulang tahunku yang ke 23. Kebetulan ulang tahunku kali ini pas jatuh pada hari Minggu, maka aku melewatkannya di rumah saja bersama anakku satu-satunya yang baru berusia 5 tahun. Sempat juga aku teringat pada mantan suamiku, karena tahun lalu kami masih merayakan ulang tahunku bersama. Kami baru bercerai beberapa bulan yang lalu.

Sore-sore, ada SMS masuk. Jantungku langsung bergemuruh ketika membaca pengirimnya: Tomi, salah satu selingkuhanku yang sekarang bekerja dan berdomisili di Semarang. Aku senang sekali karena ternyata dia masih ingat ulang tahunku. Tomi memang termasuk laki-laki yang romantis, dia selalu memperhatikan hal-hal kecil yang dapat membuat hatiku senang. Usianya lebih muda 2-3 tahun dibanding aku, belum berumah tangga, tapi pengalaman sex-nya lumayan.

Yang lebih membuat aku girang luar biasa, ternyata Tomi ada di Jakarta. Dia bilang melalui SMS, dia sengaja datang untuk merayakan ulang tahunku.

“Aku selalu kangen sama kamu,” tulisnya. “Aku juga,” balasku. “Kamu kangen apanya?” “Kangen jepitannya!” ”Jepitan yang mana? Yang atas apa yang bawah?” “Dua-duanya!”

Aku selalu berdesir-desir kalau menerima SMS seperti itu dari Tomi. Bukan apa-apa, obrolan seperti itu selalu mengingatkan aku pada petulangan-petualangan sex yang pernah kami lakukan. Tomi termasuk pandai bermain cinta, itu sebabnya hubungan kami termasuk langgeng, sudah berjalan hampir 4 tahun. Dengan cowok-cowok lain aku lebih suka untuk tidak menjalin hubungan berlama-lama.

Singkat cerita, kami janji bertemu di sebuah hotel yang dulu termasuk sering kami pakai untuk rendezvous. Aku datang lebih dahulu, langsung cek in, lalu menunggu Tomi di dalam kamar. Aku SMS Tomi untuk memberitahu nomor kamar.

“Aku masih di jalan,” balas Tomi. “Macet, padahal udah ngaceng nihhh…” “Ya udah, dielus-elus aja dulu, sementara nunggu jepitan nikmat.” “Aku gak sabaran nih, udah dari kemaren ngebayangin ML sama kamu.” “Aku jadi ngebayangin punyamu, lagi ngaceng, keras, gede. Pasti sedap tuh diisep.” “Emang cuma mau ngisep?” “Aku sih cuma mau ngisep, tapi gak tau deh pepekku!” ”Uuuuh, jadi makin ngaceng nih, tau?! Awassss yaaa!” “pepekku juga mulai basah tau, Yang?!” “Tolong rabain pepek kamu untukku.” “Gak usah diajarin, dari tadi juga udah kuraba-raba!” Kami terus ber-SMS ria sementara Tomi dalam perjalanan menuju hotel. Pintu kamar sengaja tidak kukunci supaya Tomi dapat langsung masuk. Aku rebahan di ranjang dengan gelisah. Kirim-kiriman SMS seperti itu membuat aku terangsang hebat. pepekku benar-benar basah, buah dadaku mengeras, tidak sabar ingin cepat-cepat mereguk nikmat bersama Tomi.

Untungnya Tomi muncul tidak lama kemudian. Karena sudah kuberitahu bahwa pintu kamar tidak kukunci, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Aku sedikit terkejut, tapi senang sekali. Tanpa beranjak dari ranjang, kukembangkan kedua tanganku untuk menyambut Tomi dengan pelukan.

Tomi mengunci pintu, lalu langsung membuka celana panjang berikut celana dalamnya. Aku tertawa melihat batang kontolnya nampak sudah mengacung tegak. Lucu, sekaligus menggairahkan. Sementara Tomi membuka pakaiannya dengan terburu-buru, aku juga bergegas membuka kaos ketat dan rok mini yang kukenakan. Tomi memandang tubuhku yang hanya tinggal ber-bh dan celana dalam dengan rupa amat bernafsu.

Tanpa ba-bi-bu, dia langsung menerkam aku di ranjang. Kami langsung bergumul, berciuman bibir dengan panas bergelora. Kedua tangan Tomi liar meremas-remas apapun pada tubuhku. Celana dalamku diturunkannya dengan tergesa-gesa.

“Aku gak tahan, Yang…, kita langsung ngentot yaaa…. Ngobrolnya nanti aja, oke?”

Nafasnya sudah ngos-ngosan, aku hafal betul bagaimana Tomi kalau sudah diamuk birahi. Tentu saja aku tidak keberatan untuk langsung bersetubuh seperti permintaan Tomi, karena aku juga sudah amat sangat bergairah sedari tadi.

Kubuka pahaku memberi jalan. Tomi mencumbu sepasang payudaraku sambil mengarahkan rudalnya pada pepekku. Terasa kepalanya yang besar menyeruak mulut pepekku yang basah. Nikmat sekali. Kuresapi nikmatnya terobosan batang kontol Tomi pada liang pepekku sambil memejamkan mata. Sleseeeeeppp….. blessss…!

“Ooooh…., enak banget, Sayaaang…,” rintihku. “Aku kangen kontol kamuuu….” “Aku juga kangen banget, Sayaaang…. Aku kangen ngentot sama kamuuu…” “Sekarang entot aku…, entot aku, Sayaaang….”

Tomi semakin bernafsu, gerakannya jadi semakin brutal dan agak kasar. Justru itu yang aku suka. Batang kontolnya yang luar biasa keras terasa memenuhi liang pepekku, menyentak-nyentak hingga ke ujung lorong kenikmatan milikku.

“Aaaakkkhhh…, asyiiiikkk, Saaayyy…., yahhh…, teken yang kenceng…, yahhh… gitu dooong…, uuuuggghhh…”

Dia menyentak-nyentaik batang kontolnya lagi, semakin keras, semakin cepat dan bertenaga. Aku semakin lepas kontrol, jeritanku makin menjadi-jadi akibat dilanda nikmat yang luar biasa. “Aaaarrgghh…., gilaaa…! Kontolmu sedap banget, Sayaaang… Entot pepekku, Sayaaang…, yah…, yaaahh, gituuuuuhh…, aaarggghhhh…., yang keras, yang kerassss…., ooohhhh, kontol kamu sedap, Sayaaang!”

Aku memang termasuk type perempuan yang “heboh” bila sedang bersetubuh. Semakin nikmat persetubuhan yang kurasakan, rintihan dan eranganku pasti akan semakin keras dan jorok. Dulu aku malu dengan perilaku sex-ku yang satu itu, karena takut dinilai perempuan murahan yang maniak, tapi lama-kelamaan aku justru menikmatinya. Kenyataannya banyak laki-laki yang justru menyukai erotisme seperti itu, karena mereka jadi merasa sangat perkasa dan semakin bergairah karena merasa berhasil membuat aku keenakan.

Tomi semakin kuat menggecak-gecak batang kontolnya di dalam pepekku, seiring dengan semakin kuatnya rintihan dan eranganku. Kurasakan klimaksku sudah sangat dekat. Kuangkat-angkat pinggulku setiap kali Tomi menggecak, sehingga batang kontolnya yang besar dan keras itu menghunjam-hunjam semakin dalam. Nikmat luar biasa.

Kami terus bersetubuh, berganti-ganti posisi. Terakhir, ketika orgasmeku telah semakin dekat, Tomi membalikkan tubuhku hingga membelakanginya. Aku segera mengerti. Lekas-lekas aku menungging di atas ranjang dengan kedua tangan berpegangan pada pinggiran jendela kamar. Lalu kembali Tomi menggenjotku dari belakang. Aku berusaha mengimbangi dengan menggerak-gerakkan pinggul. Setiap dia menekan, kudorong pantatku ke belakang, demikian pula sebaliknya. Kudengar nafas Tomi kian memburu, diselingi suara lenguhannya setiap kali dia menggecak batang kontolnya kuat-kuat.

Akhirnya aku melolong lebih dahulu. Aku orgasme!

“Ooooooooorrggghhhhh……!!! Toooommmm, aku keluaaaarrr….!!!!”

Tomi semakin bersemangat, digecak-gecaknya kontolnya semakin kuat dan cepat. Tubuhku terguncang-guncang semakin hebat. Sementara Pepekku berkedut-kedut saat aku mencapai klimaks, kugoyang-goyangkan pinggulku maju-mundur dengan cepat dan kuat untuk mengimbangi gerakan Tomi. Aku tahu pasti, sebentar lagi dia pun akan mencapai puncak kenikmatannya.

“Oh, ah, uuughhh..!!! pepek kamu enak, Sayang…., aku hampir keluar, aku hampir keluar, adduuhhhh…., enak sekalih, enak sekali pepek kamuhhhh…., oooorrrgghhh.., aaarrgghhh…., uuuuggghhh…., aaaaaaaarrrgghhhhh……..!!!”

Tomi menyemprotkan spermanya banyak sekali. Terus kugoyang-goyang pinggulku agar dia lebih merasa nikmat. Dia melenguh-lenguh sambil meremasi buah dadaku yang bergelantung, sementara air maninya menyemprot-nyemprot di dalam pepekku.

Setelah itu Tomi menghempaskan nafasnya yang berat. Dipeluknya tubuhku. Kami lalu bercium-ciuman sambil berangkulan di ranjang.

“Kamu apa kabar selama ini, Sayang?” tanya Tomi sambil membelai-belai keningku yang berkeringat. Bayangkan, setelah bersetubuh demikian panas, dia baru sempat menanyakan kabarku. Aku tersenyum.

“Baik,” jawabku. “Kamu sih, sombong, mentang-mentang udah jadi boss!” “Aku selalu kangen sama kamu, tau?!” “Aku juga, soalnya kamu yang paling hebat!” “Hebat apanya?” Aku tersenyum, kugenggam batang kontol Tomi sebagai jawaban. Tomi mengikik, dan kontolnya otomatis bergerak membesar kembali.

“Tuh kan, baru dibilang paling hebat, dia langsung bangun lagi!” aku menggoda sambil mengelus-elus batang kontol Tomi yang kian mengeras. Kuangkat pahaku, menyilangi paha Tomi, lalu kugesek-gesekkan ujung kontolnya ke belahan pepekku. Tomi menyeringai. Tubuhku dipeluknya lebih erat, lalu kami berciuman bibir. Hangat, tandas, dan lama…

Selanjutnya kami memulai permainan ronde kedua. Seperti biasa, Tomi memang kuat dan tahan lama. Entah berapa lama kami bersetubuh untuk yang kedua kali malam itu, yang jelas akhirnya kami mencapai orgasme dalam waktu bersamaan. Setelah itu kembali beristirahat. Buang air, mencuci tubuh di kamar mandi, pesan makan malam, ngobrol-ngobrol, lalu bercumbu lagi.

Pagi-pagi aku pulang, ganti baju dan langsung berangkat lagi ke kantor. Sebetulnya aku capek sekali setelah mendaki puncak nikmat berkali-kali sepanjang malam, tapi hari itu boss ada meeting di kantor, jadi tidak mungkin aku membolos (aku bekerja sebagai sekretaris direksi). Lagipula, kenikmatan berkali-kali yang diberikan Tomi, justru membuat pikiranku menjadi cerah dan semangat menjadi tinggi.

Sebelum berpisah, Tomi mohon maaf karena tidak bisa menemui aku lagi karena banyak hal yang harus dikerjakannya. Dia lalu meminta aku mengantarnya ke bandara bila nanti dia kembali ke Semarang. Aku setuju saja.

Kamis sore, Tomi menjemput aku di kantor untuk mengantarnya ke bandara seperti yang sudah kami sepakati tempo hari. Tapi dia tidak sendiri, melainkan ditemani seorang cowok ganteng. Aku diperkenalkan dengan cowok itu yang ternyata sahabat Tomi sejak mereka masih sama-sama remaja. Namanya Irvan, usianya nampak sedikit lebih muda dibanding Tomi.

Ketika berkenalan, aku sempat mencuri pandang ke arah bokongnya. Lumayan gede. “Kalo neken, kayaknya nikmat nih,” pikirku langsung ngeres. Pada saat yang sama, aku melihat sekilas dia melirik ke arah dadaku. Saat itu aku mengenakan blazer dan daleman tanktop yang telah kubuka 2 buah kancingnya sejak dari kantor, sehingga belahan dadaku yang penuh nampak terlihat jelas. Darahku kontan berdesir lebih cepat menyadari Irvan tertarik pada buah dadaku yang berukuran 36C.

Tomi duduk di kursi belakang bersamaku, sementara Irvan sendirian di depan menjadi “sopir”. Kami langsung tancap gas, masuk tol menuju bandara.

Di perjalanan, kami ngobrol-ngobrol biasa pada mulanya. Cerita macam-macam, diselingi tawa dan gurauan. Irvan sesekali nimbrung. Sekitar sepuluh menit sejak berangkat dari kantor, Tomi merapatkan duduknya. Sambil ngobrol, Tomi mulai menggerayangi aku, pahaku dielus-elus, jarinya nakal menekan-nekan belahan pepekku. Aku bilang, “Eeeh, jangan dong, Yang, gak enak sama Irvan….” Tapi Tomi tahu, aku tidak sungguh-sungguh menolak perlakuannya itu. Buktinya aku membiarkan jemarinya menelusup ke balik celana dalamku, bahkan pahaku mengangkang memberi jalan. Sesungguhnya aku hanya takut tidak dapat mengendalikan diri, padahal tempat dan situasi tidak terlalu kondusif untuk suatu persetubuhan.

Entah bagaimana, tahu-tahu Irvan berkata, “Santai aja, aku ngerti kok…” Aku melihat dia mengerling nakal kepadaku dari kaca spion. Nafsuku jadi semakin bangkit. Masabodo’ ah, pikirku. Maka, aku diam saja menikmati rabaan-rabaan Tomi pada selangkanganku.

“Ssssssshhhhh……, geli tau, Yang?!!” desisku sambil mengangkangkan kaki lebih lebar. Tomi jadi makin bersemangat. Celana dalamku diturunkannya cepat-cepat sembari menciumi batang pahaku.

“Buka blazer kamu, Sayaaang…!” katanya memberi instruksi, sementara dia sendiri sibuk membuka kait rok mini yang kukenakan. Aku benar-benar tidak peduli lagi pada Irvan, langsung saja kuturuti permintaan Tomi untuk membuka blazer.

“Buka semua deh, Yaaang…,” Tomi merayu sambil bergerak hendak menciumi kedua pahaku kembali. Rokku sudah dicampakkannya, sehingga bagian bawah tubuhku sudah telanjang. Aku tinggal mengenakan tanktop dan bh sekarang.

“Kamu gila, tau gak sih?!” aku mendesis menikmati jilatan lidah Tomi pada pahaku, lalu kuturuti permintaannya. Kubuka tanktop dengan agak tergesa. Ketika aku membuka bh, kulihat Irvan memperhatikan dari kaca spion. Cuek aja, ah, batinku dengan penuh nafsu.

Sambil menjilat-jilat pangkal pahaku, sebelah tangan Tomi mulai meremas-remas sepasang payudaraku yang telanjang. Aku mengerang. Tomi lalu mengangkangkan pahaku lebih lebar, lidahnya merayap menuju pepekku yang merekah basah. Aku mengerang lebih kuat ketika kurasakan ujung lidahnya menjilat-jilat belahan Pepekku. Selanjutnya aku semakin lupa diri. Tomi memang sudah hafal betul bagaimana membuat birahiku cepat bangkit. Pepekku dicumbu dan dilumatnya habis-habisan. Diobok-obok dengan jari, dihisap, dikenyot. Aku benar-benar tidak kuat menahan diri untuk menjerit-jerit.

“Sayaaang…, oooohhh…, yessss..!! Terus isep….oooouuwww!!! Ooohhh…., aduuh, gilaaa…, enak banget, Sayaaang…, aaahhh…, ooouuwwww… aaarrggghhh…, terus, Sayaaang…, aaahhh…, ooooookkkhhh…”

Aku membuka pahaku lebih lebar lagi sambil menekan-nekan kepala Tomi agar tambah masuk ke Pepekku yang terasa megap-megap keenakan. Aku benar-benar lupa diri, tak ada lagi rasa malu ataupun sungkan. Sempat kulirik Irvan, nampak mukanya agak tegang, namun itu justru menambah gairahku. Aku malah mengerang, merintih, dan menjerit semakin menjadi-jadi.

“Nikmaaat, oooh…, iseep teruusss…, oh, oh, oh, aaah, ooohhh…, teruuusss, isep itilku, kacangkuu…., yaaah, kenyot terus, Sayaaang…, yaaah.., kenyooot…, sedaaaap…”

Entah bagaimana, tiba-tiba ada hasrat aneh di dalam dadaku untuk membakar birahi Irvan yang aku tahu sudah tidak sepenuhnya berkonsentrasi ke jalan. Semakin kusadari betapa dia tertarik dengan apa yang tengah kulakukan bersama Tomi, semakin aku bernafsu untuk menggoda kelelakiannya.

Aku melihat Irvan agak menurunkan kaca spion, sehingga dia pasti bisa jelas melihat tubuhku di kaca itu. Rupanya sengaja dia mau menonton. Tahu begitu, birahiku semakin menggebu-gebu. Kuremas-remas sendiri kedua payudaraku yang telanjang sambil terus merintih dan mengerang. Kulihat Irvan ternganga, mulutnya membentuk ucapan “ugh”. Ingin rasanya aku meremas batang kontolnya yang aku tahu pasti sudah semakin tegang dan keras menyaksikan pertunjukan sex gratis dari kaca spion. Berpikir begitu, birahiku jadi semakin tinggi, apalagi Tomi terus mencumbui Pepekku. Rintihan-rintihan nikmat keluar begitu saja dari mulutku, liar tak terkendali.

“Ooooh, isep, Sayaaang…, terussss…, kerjain pepekku……Aduuuh, gilaaa…, sedap, nikmat, ah, uhhhh, pepekku basah banget…, lap dulu dong, Sayaaang…”

Kuangkat kepala Tomi dari selangkanganku. Tomi bangkit, tapi bukan untuk melap seperti permintaanku, melainkan justru membuka semua celananya, kontolnya telanjang, mengacung tegak, keras seperti tongkat kayu.

“Oooh.., aku isep kontolmu ya Sayang.., aku kenyot ya?”

Tomi melenguh ketika aku mengurut kontolnya yang keras menggairahkan, lalu katanya, “Aku nggak tahan, Sayang…, aku mau fuck kamu.., aku pengen ngentot disini!”

Sambil berkata begitu, tubuhku didorongnya agak kasar sampai aku rebahan di jok. Kunaikkan sebelah kakiku tinggi-tinggi ke sandaran jok, sementara yang sebelah lagi menjuntai ke bawah. Tomi semakin lupa diri menyaksikan posisiku yang mengangkang.

“Kita ngentot ya, Sayang?” bisiknya dengan suara agak serak sambil menciumi buah dadaku yang montok. “Aku masukin kontolku yaaa…., aku nggak tahan…, aku kangen sama pepek kamu…”

“Aaaakkhhh.., sedaaap…., yesss…, ooohhh, kontol kamu udah masuk, Sayaang… Yaaahhhh, teken terus sampe mentok.., teruuussss…”

Tomi mendorong batang kontolnya yang besar dan keras itu hingga terasa mentok di dasar Pepekku. Kuangkat pinggulku tinggi-tinggi, menyambut sodokan Tomi yang semakin kuat. Tomi mengenyoti puting susuku sembari menggecak-gecak kontolnya yang perkasa di liang Pepekku. Kami semakin lupa diri, sama sekali tidak peduli lagi pada Irvan.

“Uuuuuggghhh…, ooooohhhhh…, aaaarrrggghhhhh…,” kami teriak-teriak berbarengan, menyalurkan nikmat yang tak terkira.

“Sayaaang, entot aku, Yaaang…, ahhh, kontolmu sedaaap, ooohhh…, pepekku enak banget nih dientot kamu… Ohhh, kita fuck terus, Sayang, yaaahhh…, gesek terusss, tekeeeennn, goyang, puter, auh, entot terus pepekku, Sayaaang…., entot terussss..”

Aku terus menjerit-jerit, seperti biasa bila tengah didera nikmat bersetubuh. Entah berapa menit Tomi menghantam Pepekku dengan kontolnya yang perkasa, tahu-tahu kurasakan badanku agak panas dan semakin ringan. Goyanganku jadi semakin cepat, liar tak terkendali. Orgasmeku sudah dekat.

“Yaaang, aku mau keluaaaar…!” otomatis aku mengerang semakin kuat. “Keluaaaar!!! Aku mau keluaaar……!!! Oooooohh, fuck me terussss!! Entoootttt…., ngeweeeee… entoooot…, ngeweee aaaaaaarghhhh….”

Aku orgasme. Tubuhku serasa melayang tinggi sekali. Nikmat luar biasa.

“Oh my God, oh my God, ngentot nikmaaat, ngentot sedaaap, aku suka kontol kamu, Sayaaang…, aku suka ngentot sama kamu….. Oooooooookkkhhhh,” aku melolong sejadi-jadinya, sementara Tomi mengocok kontolnya semakin kuat dan cepat. Terasa batang kontolnya menghunjam-hunjam di dalam liang Pepekku yang telah banjir oleh cairan orgasme. Beberapa saat kemudian….,

“Oh, ah, oh, aku juga mau keluar…, enak banget, ahhh, enak ngentot sama kamu, ohhh, aku suka ngentotin kamu…, aku mau keluar, aku mau keluar, yah, oh, aaaahhh, uuuugghhh, aaaaaaarrrggghhh….”

Setelah itu yang terdengar hanya suara desah. Sejenak aku melupakan Irvan, sama sekali tak terpikirkan olehku bagaimana kira-kira reaksinya mengetahui ada orang bersetubuh di jok belakang, sementara dia sedang menyopir sendirian di depan. Tomi lebih-lebih tidak peduli. Dia asyik memeluk tubuh bugilku, sambil mengatur nafasnya yang memburu.

Agak lama kami membisu dalam sisa-sisa kenikmatan seperti itu, sampai tiba-tiba terdengar suara Irvan.

“Ehm, udah mau nyampe nih, rapi-rapi, deh!” katanya nenyadarkan aku dan Tomi. Kami bangun, merapikan pakaian masing-masing dengan agak tergesa. Sekilas aku lihat kaca spion sudah pada posisi semula.

“Sorry ya, coy, kita lupa diri,” kata Tomi basa-basi. Aku pura-pura tidak memperhatikan, sibuk mengenakan kembali celana dalamku, tapi sesungguhnya aku melirik pada Irvan yang mesem-mesem penuh arti.

Sementara berpakaian, aku pikir lebih baik aku tidak mengenakan bh lagi. Kancing tanktop kembali kubiarkan terbuka 2 buah. Gila memang, saat itu di otakku sudah terbayang bagaimana indahnya sebentar lagi aku tinggal berdua saja dengan cowok seganteng Irvan.

Ketika tiba di bandara, Tomi meminta Irvan untuk langsung saja mengantarkan aku pulang. Katanya, “Kamu tidur aja di jok belakang, nanti dibangunin Irvan kalo udah sampe rumah.” Dia lalu menerangkan alamat rumahku kepada Irvan.

Begitu mobil berangkat meninggalkan bandara, aku langsung pindah ke jok depan.

“Biarin aja di belakang, kan kamu mau tidur?!” Irvan berbasa-basi. Aku tersenyum sambil merapikan posisi dudukku. Kuturun-turunkan rok mini yang kukenakan guna menutup paha mulusku yang tersingkap, tapi sebenarnya gerakan itu justru kusengaja untuk memancing perhatian Irvan. Kulihat matanya mengerling pada pahaku, berarti pancinganku mengena.

“Mas, tadi sorry ya, kamu jadi gak konsen ke jalan,” kataku kemudian. “Si Tomi emang suka gila, kadang-kadang…, gak bisa nahan kalo lagi pengen…”

Beberapa saat Irvan tidak menjawab, lalu tiba-tiba dia berkata dengan suara yang agak tercekat. Nampaknya dia masih sangat dipengaruhi birahi. “Mbak tau gak, aku baru kali ini lihat orang ML langsung dengan mata kepalaku sendiri.” “Aku juga baru sekali ini ditonton begitu, Mas! Tau gak sih, sebenernya aku malu banget…, tapi gimana dong?! Sex emang gitu kan, kadang-kadang bikin kita lupa diri…!” “Iya sih, gak apa-apa kok, aku ngerti…, tapi bukannya tadi mbak tambah bergairah karena tau aku ‘ngintip? Bukannya mbak malah sengaja manas-manasin aku?”

Duh, malu banget…. “Kok tau sih?” akhirnya kucetuskan saja keherananku. Kepalang basah, aku bertanya begitu sambil mencubit mesra lengan Irvan. Dia tersenyum sambil terus memandang ke arah jalan.

“Jangan manggil ‘mbak’ ah, gak enak…,” kataku kemudian sambil menatap wajah Irvan dari samping. Keren banget, batinku. “Kamu juga jangan panggil ‘mas’ dong yaaa…,” jawab Irvan, sambil meletakkan tangan kirinya di atas pahaku. Aku langsung terdiam seribu basa, jantungku kontan bergemuruh. Nekad juga nih orang, pikirku. Sekilas Irvan mengerling ke arahku, lalu perlahan telapak tangannya mulai bergerak-gerak mengusapi paha mulusku yang tersingkap. Kurang ajar, tapi aku suka sekali.

Otomatis laju mobil kami jadi perlahan. Irvan mengambil lajur paling kiri supaya tidak mengganggu perjalanan mobil lain, mengingat kami masih berada di jalan tol.

Aku pura-pura tidak terpengaruh pada rabaan-rabaan Irvan, hanya saja mulutku seperti terkunci. Bulu-bulu romaku terasa meremang. Gila, baru diraba paha, birahiku sudah amat terangsang. Cowok ini pasti lihai, batinku penuh harap. Pahaku sesekali diremasnya dengan lembut, lalu tangannya merayap semakin naik. Karena tidak tahan, tahu-tahu kucubit lengannya. Dia tersenyum sedikit.

“Masih enak?” tanyanya setengah berbisik.

Aku tidak menjawab, tapi kepalaku mengangguk-angguk cepat. Irvan makin bersemangat, tangannya meraba pahaku kian tinggi, menelusup ke balik rok. Aku menggigit bibir seraya menggeser dudukku lebih mendekat.

Lalu terasa jari-jarinya telah menyentuh selangkanganku. Darahku kian berdesir-desir. Nafsu sex-ku memang besar, birahiku cepat sekali naik, padahal tadi aku baru saja mencapai orgasme yang luar biasa bersama Tomi.

“Kamu bisa konsen?” tanyaku, suaraku mulai parau karena birahiku mulai tinggi. Irvan tidak menjawab, malah menelusupkan jarinya ke Pepekku. Otomatis pinggulku terangkat dan kedua pahaku merenggang. Terasa jari-jari Irvan menggesek-gesek lembut belahan Pepekku. Nikmat sekali.

“Masih enak ya?” bisik Irvan bersemangat, mungkin dia tahu aku demikian terangsang. “Bangeeettt…,” jawabku tanpa malu-malu lagi. Mulutku mulai mengeluarkan desis-desis kenikmatan. “Sssshhhhh…., aaaahhhh…, enak bangeeettt…. Kamu pinter…!!”

Sandaran jok kurebahkan sedikit supaya posisiku lebih nyaman. Cepat kuturunkan celana dalamku, kubuka sekalian, lalu aku duduk mengangkang. Sementara itu, tangan Irvan tak sedetikpun lepas dari selangkanganku.

Jari tengahnya terasa menyusup, menggelitik-gelitik clitorisku yang sudah sangat basah. Sesekali diremasnya gundukan Pepekku. Jari-jarinya bergerak lembut namun amat terampil. Nikmatnya tak terkatakan.

“Sssshhhh….., aaarrrgghhhh….., ssshhhh…., aaaaaarrrggghhhh…..,” aku terus mendesis-desis keenakan. Jari tengah Irvan mulai mengocok-ngocok, bergerak cepat maju-mundur di liang Pepekku yang licin oleh lendir. Dudukku jadi semakin melonjor dan mengangkang. Irvan memasukkan lagi satu jarinya, lalu masuk lagi yang ketiga tak lama kemudian. Aku mulai menjerit-jerit, nikmat sekali diobok-obok dengan tiga jari.

Aku mulai lupa diri akibat diamuk birahi. Seperti biasa, mulutku terus mendesis, mengerang, merintih, mengeluarkan kata-kata nikmat penuh nafsu. Karena semakin tidak tahan, tanganku begitu saja meraba selangkangan Irvan. Gila, tonjolannya besar sekali! Aku jadi semakin bernafsu. Cepat kutarik ritsleting celananya, dia membantu membuka gesper lalu mengeluarkan batang kontolnya.

“Aauwww! Punya kamu gede bangetttt…..” Irvan tampak blingsatan mendengar komentar spontanku. Sungguh aku tidak bohong, kontolnya memang luar biasa besar dan panjang. Aku tidak tahan, batang kontolnya kuremas-remas dengan gemas.

“Gedean mana sama Tomi?” tanya Irvan kemudian, sementara aku asyik mengelus-elus batang kontolnya yang menjadi semakin keras. “Dia gede, tapi kamu super gede!” Irvan tertawa mendengar jawabanku. “Isep ya?” tanyaku. Irvan mengangguk-angguk. Joknya lebih dimundurkan sedikit supaya memudahkan aku melakukan blow job.

Aku cengkeram penuh batang kontol Irvan, aku jilat ujungnya yang ternvata sudah keluar cairan bening. Kuangkat kepalaku sejenak sambil menatap Irvan yang harus membagi konsentrasinya ke jalan. “Kamu masih bisa nyetir kan? Hati-hati nabrak lho ya….”

Irvan tidak menjawab. Tangan kirinya menyusup, meremas buah dadaku yang terasa keras memuai akibat birahi. Aku jadi semakin tidak peduli apapun lagi, kumasukkan kepala kontol Irvan ke dalam mulutku. Aku hisap perlahan. Batang kontol itu berdenyut sedikit, membuat aku tambah bernafsu. Aku hisap lebih kuat ujungnya, lalu aku masukkan semua ke mulut sambil aku putar-putar. Irvan mulai merintih-rintih keenakan.

“Oooh…., ssshhh…, gilaaa.., sedap isepan kamu, aaarggh…, kenyot terus, Sayaaang…, yaaahhhh”

Aku kocok terus kontolnya, kadang pelan, lalu cepat, lalu kupelankan lagi, lalu cepat lagi, pelan lagi, cepat lagi. Begitu terus sambil aku hisap-hisap. Biji pelirnya aku usap-usap. Dia lebih mengangkang. Aku mengerti, kuturunkan mulutku, kukenyot-kenyot buah zakarnya.

“Aaah…, sssssshhhh…, uugh, enak bangeeet,” Irvan mengerang-erang sambil meremasi buah dada montokku.

“Aku gak tahan,” katanya lagi. “Aku mau ngewek sama kamu, mau ngentot sama pepek kamu….” Nafasnya ngos-ngosan, tangannya kembali merogoh-rogoh Pepekku.

“Iya, Sayang, aku juga pengen banget dientot kontol kamu,” aku menjawab dengan nafas yang tak kalah ngos-ngosan, sambil menciumi dan menjilat-jilat kepala kontol Irvan yang merah mengkilat.

“Aaah…, yuk, di mana ya?” “Mampir hotel aja…, cari yang deket-deket sini…”

Selanjutnya aku kembali sibuk menghisapi kontol Irvan, sementara dia setengah ngebut menuju arah Ancol. Tidak terlalu lama, kami tiba di sebuah hotel kecil yang cukup nyaman dan bersih. Begitu sampai di muka lobby, aku langsung turun, check in, lalu bergegas masuk kamar, sementara Irvan memarkirkan mobil.

Di kamar aku langsung membuka tanktop, dan melemparnya begitu saja di lantai. Lalu aku masuk kamar mandi untuk buang air kecil. Kubuka rokku, kugantung di pintu kamar mandi. Kini aku telanjang bulat karena celana dalam sudah kutanggalkan sejak di dalam mobil.

Keluar dari kamar mandi, Irvan persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun. “Body kamu bagus banget,” dia memuji sembari mengecup putting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.

“Toket kamu fantastis,” desisnya. “Aku udah nafsu kepingin ngenyot ini sejak aku liat dari kaca spion….” “Aku tau,” jawabku sembari meremas tonjolan kontolnya. Dengan bergegas, kutarik ritslitingnya, lalu kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang. Dibukanya sendiri kemejanya, sementara aku berlutut meraih batang kontolnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.

Agak lama aku mencumbu kontolnya, Irvan minta gantian, dia ingin mengerjai Pepekku. Tapi kataku, “Masukin aja yuk, aku udah pengen ngerasain kontol kamu!” Irvan tersenyum lebar. “Udah gak sabar ya?” godanya. “Iya, pengen dientot, kontolmu pasti enak…, gede, montok…!”

Irvan menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Irvan pintar sekali bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa Pepekku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kontol Irvan yang super besar.

Berbeda dengan Tomi, Irvan nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang kontolnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

“Udah, Sayaaaang…..,” rengekku memohon. “Please…., masukiiiinnn…”

Irvan menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Irvan, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap Pepekku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang Pepekku yang basah merekah.

“pepek kamu bagus, tebel, pasti enak ngentot sama kamu….,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Irvan, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Irvan semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu…, terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang Pepekku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya….!!!

Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kontol Irvan memasuki liang Pepekku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.

“Oooooohhhhh….,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Irvan mulai memajumundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.

“Tuh kan, kontolmu enaaaak …!!!,” kataku setengah menjerit.

Irvan tidak menjawab, melainkan terus memajumundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang kontolnya yang super besar itu seperti hendak membongkar liang Pepekku sampai ke dasar.

“Ooooohhhh…., tolooooonggg.., gustiiii…!!!” Irvan malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis. “Aaaahhhh, kontolmuuu…, ooooohh, aaaarrrghhh…, kontollmuuu…, ooohhhh…!!!”

Irvan terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang kontol yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Irvan sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kontolnya pada Pepekku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.

“Aku mau keluar! Aku mau keluaaar!!” aku menjerit-jerit. “Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ngentot sama kamu!” Irvan menyodok-nyodok semakin kencang. “Sodok terus, Sayaaang!!!” “Yah, ooohhh, yaaahhh, uuuuggghhh!!!” “Teruuuuussss….., aaarrggghh…., sssshhhh…., ohhh…, sodok terus kontolmuuuu…!” “Oh, ah, uuugghhh…” “Enaaak…., kontol kamu enak, kontol kamu sedap, yahhh, teruuuusssss…, entot aku terus, Sayaaang…, sodok terusssss…., entooootttt…., yaaaahhhhhh…..!!!” “Oooorrrgghhh…., yaaahhhh…., uuuugggghhhh… sssshhhh…, aaarrggghhh…”

Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat Irvan, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa Pepekku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Irvan mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

Kuturuti permintaan Irvan. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Irvan mengikuti gerakanku, batang kontolnya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam Pepekku.

Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memajumundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.

Aku menikmati gerakan maju-mundur kontol Irvan dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, Pepekku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Irvan segera menunduk, dikecupnya pipiku.

“Kamu hebat banget,” kataku terus terang. “Kukira tadi kamu udah hampir keluar!” “Emangnya kamu suka kalo aku cepet keluar?”

Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Irvan mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

Irvan melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kontolnya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam Pepekku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

“Oooorrrgghhhh….., aaahhhhh….., ennaaak….., kontolmu enak bangeeeettt…!!”

Ivan tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Irvan pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Irvan. Cowok itu mulai mengerang-erang pertanda dia pun segera akan orgasme.

Tiba-tiba Irvan menyuruhku berbalik. Dicabutnya kontolnya dari Pepekku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Irvan langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Irvan memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang kontolnya yang keras menghunjam mulut Pepekku yang menganga.

“Aaaaarrgghhh…!!!” aku menjerit. “Aku hampir keluar!” Irvan bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Irvan. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang…, teruuuusss…!” desahku. “Ooohhh, enak sekali…., aku keenakan…, enak ngentot sama kamu!” “Aku juga, aku juga, pepekku keenakaaaan….!” “Aku udah hampir keluar, Sayaaang…., pepek kamu enak bangeeeet….” “Aku juga mau keluar lagi, tahan dulu! Terussss…., yaaah, aku juga mau keluaaarrr!” “Ah, oh, uughhh, aku gak tahan, aku gak tahan, aku mau keluaaar….!” “Yaaaahhh teruuuussss, sodok terussss!!! Aku enak, aku enak, Sayaaang…, aku mau keluar, aku mau keluar, pepekku keenakan, aku keenakan ngentot sama kamu…., yaaahhhh…, teruuusss…, aaarrgghhh…., ssshhhhhh…, uuugghhh…, aaaaaarrrghhh!!!!”

Tubuhku mengejang sesaat sementara otot Pepekku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Irvan menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang Pepekku.

“Ooooooohhhhh….!!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam Pepekku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.

Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. Irvan memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sibuk mengatur nafas.

“Enak banget,” bisik Irvan beberapa saat kemudian. “Hmmmmm….” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Irvan bergerak-gerak di dalam Pepekku. “pepek kamu enak banget, bisa nyedot-nyedot gitu…” “Apalagi kontol kamu…, gede, keras, dalemmm…” “Kamu ngantuk gak? Kita nginep di sini aja yuk…!” “Kalo tidur sih mendingan di rumah masing-masing aja!” “Justru itu, aku mau kita ngentot sampe pagi…!”

Berkata begitu, Irvan bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Irvan menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

Irvan lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Irvan karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Irvan mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

“Aku bisa gak puas-puas ngentot sama kamu…. Kamu juga suka kan?”

Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Irvan sebagai jawaban. Alhasil, malam itu kami bersetubuh tiga kali, dengan entah berapa kali mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga. Hampir tidak tidur sama sekali, sekitar pukul 6 Irvan mengantarku pulang, lalu ke kantor. Di kantor rasanya aku kuyu sekali. Teman-teman banyak yang mengira aku sakit, padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh sepanjang malam dengan dua sahabat yang perkasa.


»» Baca selengkapnya.....

Dezy Yang Kesepian

Pengalaman nyata ini terjadi kurang lebih beberapa tahun yang lalu. Panggil saja aku Dezy. Saat itu usiaku 22 tahun dan sudah mempunyai 1 anak yang masih

balita. Untuk mengisi waktu aku bekerja sebagai salah satu manager pada perusahaan yang berkantor di kawasan Kebayoran Baru. Banyak orang mengatakan diriku

cantik. Dengan tinggi badan 157 cm, berat badan 48 kg aku masih kelihatan seperti gadis remaja.


Sejak masih remaja nafsu seksku memang tinggi. Keperawananku telah direnggut oleh seorang pria mantan pacar pertamaku, saat aku berusia 17 tahun. Semasa

pacaran dengan suamiku yang sekarang. kami berdua telah sering melakukan hubungan seks. Untungnya hubungan seks yang cukup kami berdua lakukan sebelum

menikah itu tidak sampai membuahkan hasil. Aku bersyukur walau suamiku mendapatkan diriku yang sudah tidak perawan lagi, ia tetap bertanggung jawab

menikahiku.

Kecintaan suami terhadap kedua orang tuanya, menyebabkan kami sekeluarga tinggal di rumah mertua. Di rumah mertua juga masih tinggal empat orang adik ipar,

dimana dua diantaranya adalah adik ipar laki-laki yang sudah dewasa. Pekerjaan yang digeluti suami, menyebabkan suamiku sering melakukan tugas dinas ke luar

kota.

Suatu hari, sekitar bulan Mei, suamiku mendapat tugas ke daerah untuk jangka waktu dua bulan. Beberapa hari sebelum keberangkatannya, tanpa diduga ia

bertanya kepadaku, "Mam, seandainya Papa pergi untuk waktu yang cukup lama, apakah Mama tahan nggak ngeseks?" Aku terkejut mendengar pertanyaan suamiku itu,

"Nggak lah Pap.." Namun suamiku tetap mendesakku, dan selanjutnya berkata, "Papa nggak keberatan kok jika Mama mau selingkuh dengan pria lain, asalkan Mama

mau dan pria itu sehat, Papa mengenalnya dan Mama jujur." Aku menjawab, "Mana mungkin lah Pap, siapa sih yang mau sama aku."

Kemudian suamiku menawarkan beberapa nama antara lain bosku, teman-teman prianya dan terakhir salah satu adik kandungnya (sebut saja namanya Ary, usianya

lebih muda satu tahun dariku). Walaupun aku mencoba mengelak untuk menjawabnya, ternyata suamiku tetap merayuku untuk berselingkuh dengan pria lain. Pada

akhirnya ia menawarkan aku untuk berselingkuh dengan Ary. Terus terang, Ary memang adik iparku yang paling ganteng bahkan lebih ganteng dari suamiku. Selain

itu, Ary sering membantuku dan dekat dengan kedua anakku. Perasaanku agak berdebar mendengar tawaran ini dan saat itu pikiranku tergoda dan mengkhayal jika

hal ini benar-benar terjadi.

Kemudian aku mencoba mencari tahu alasan suami menawarkan adiknya, Ary, sebagai pasangan selingkuhku. Tanpa kuduga dan bak halilintar di tengah hari bolong,

suamiku bercerita bahwa sebelumnya tanpa sepengetahuanku ia pernah berselingkuh dengan adik kandungku yang berusia 19 tahun saat adikku tinggal bersama kami

di kota M. Pengakuan suamiku itu menimbulkan kemarahanku. Kuberondong suamiku dengan beberapa pertanyaan, kenapa tega berbuat itu dan apa alasannya. Dengan

memohon maaf dan memohon pengertianku, suamiku memberikan alasan bahwa hal itu dilakukan selain karena lupa diri, juga sebenarnya untuk menebus kekecewaannya

karena tidak mendapatkan perawanku pada malam pengantin. Aku mencoba menanggapi alasannya, "Kenapa Papa dulu mau menikahiku.." Suamiku hanya menjawab bahwa

ia benar-benar mencintaiku. Mendengar alasan tersebut, aku terdiam dan dapat menerima kenyataan itu, walau yang agak kusesalkan kenapa ia lakukan dengan adik

kandungku. Selanjutnya suamiku berkata, "Itulah Mam mengapa Papa menawarkan Ary sebagai teman selingkuh Mama, tak lain sebagai penebus kesalahan Papa dan

juga agar skor menjadi 1-1," sambil ia memeluk dan menciumiku dengan penuh kasih sayang.

Aku mencoba merenung, dan dalam benakku muncul niat untuk melakukannya. Pertama, jelas aku menuruti harapan suami. Kedua, kenapa kesempatan itu harus kusia-

siakan, karena selain ada ijin dari suami, juga akan ada pria lain yang mengisi kesepianku, lebih-lebih dapat memenuhi kebutuhan seksku yang selalu

menggebu-gebu dan sangat tinggi. Sempat kubayangkan wajah Ary yang selama ini kuketahui masih perjaka. Ketampanannya yang ditunjang oleh fisiknya yang tegap

dan gagah. Kubayangkan tentunya akan sangat membahagiakan diriku. Bermodalkan khayalan ini kuberanikan berkata kepada suamiku, "Boleh aja Pap, asal Ary

mau.." Mendengar perkataanku tersebut, suamiku langsung memelukku dan akhirnya kami berdua melanjutkan permainan seks yang sangat memuaskan.

Sehari setelah suamiku berangkat ke luar kota, aku mulai berpikir mencari strategi bagaimana mendekati Ary. Selain memancing perhatian Ary di rumah,

kutemukan jalan keluar yaitu minta tolong dijemput pulang dari kantor. Waktu kerja di kantorku dibagi dalam dua shift, yaitu shift pagi (08:00 - 14:30) dan

shift siang (14:30 - 21:00). Rute pengantaran selalu berganti-ganti, karenanya jika aku mendapat giliran terakhir, pasti sampai rumah agak terlambat. Hal ini

aku keluhkan kepada kedua mertuaku. Mendengar keluhanku ini, kedua mertuaku menyarankan agar setiap kali pulang dari dinas siang, tidak perlu ikut mobil

antaran, nanti Ary yang akan disuruh menjemputku. Hatiku begitu gembira mendengar saran ini, karena inilah yang kutunggu-tunggu untuk lebih dekat pada Ary.

Sampai kedua kali Ary datang menjemputku dengan motornya, sikapnya padaku masih biasa-biasa saja, walau dalam perjalanan pulang di atas motor, kupeluk erat-

erat pinggangnya dan sekali-kali sengaja kusentuh kontolnya.

Suatu hari, pembantu rumah tanggaku terserang penyakit. Karena aku dinas siang, mertuaku menyuruhku membawanya ke rumah sakit bersama Ary. Sambil menunggu

giliran pembantuku dipanggil dokter, aku dan Ary mengobrol. Dalam obrolan itu, Ary menanyakan beberapa hal antara lain berapa lama suamiku dinas di luar

kota, dan apa aku tidak kesepian ditinggal cukup lama. Pertanyaan terakhir ini cukup mengejutkan diriku, dan bertanya sendiri dalam hati apa maksudnya. Tanpa

sungkan aku memberanikan diri menjawab untuk memancing reaksinya. "Yakh sudah tentu kesepian donk Ri, apalagi kalau lama tidak disiram-siram." sambil aku

tersenyum genit. Entah benar-benar lugu atau berpura-pura, Ary menanggapinya, "Apanya yang disiram-siram.." Kujawab saja, "Masa sih nggak ngerti, ibarat

pohon kalau lama nggak disiram bisa layu kan.." Ary hanya terdiam dan tidak banyak komentar, namun aku yakin bahwa Ary tentunya mengerti apa yang

kuisyaratkan kepadanya.

Selesai urusan pembantuku, kami semua kembali ke rumah. Seperti biasa jam 14:00 aku sudah dijemput kendaraan kantor. Sekitar jam 16:00 aku menerima telepon

dari Ary. Selain mengatakan akan menjemputku pulang, ia juga menyinggung kembali kata-kataku tentang 'siram menyiram'. Kukatakan padanya, "Coba aja

terjemahkan sendiri.." Sambil tertawa di telepon, Ary berkata, "Iya deh nanti Ary yang siram.."

Tepat jam 21:00, Ary sudah datang menjemputku dengan motornya. Dalam perjalanan, kutempelkan tubuhku erat-erat dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya.

Aku mencoba memancing reaksi Ary dengan menyentuhkan jari-jari tanganku ke kontolnya. Kurasakan kontolnya menjadi keras. Saat berada di depan Taman Ria

Remaja Senayan, Ary membelokan motornya masuk. Aku sedikit kaget, dan mencoba bertanya, "Ri, kok berhenti di sini sih..?" Ary menjawab, "Nggak apa-apa kan,

sekali-kali mampir cuci pemandangan, sekalian ngobrol lagi soal siram-siraman." Aku mengangguk dan menjawab, "Iya boleh juga Ri.."

Setelah parkir motor, tanpa sungkan, Ary menggandeng pinggangku sambil berjalan, dan aku tak merasa risih mendapat perlakuan ini. Setelah berhenti sebentar

membeli dua cup coca cola dan popcorn, sambil bergandengan aku dibawa Ary ke tempat yang agak gelap dan sepi. Dalam perjalanan, kulihat beberapa pasangan

yang sedang asyik masyuk bercinta, yang mebuat nafsu seksku naik.

Setelah mendapat tempat yang strategis, tidak ada orang di kiri kanan, kami berdua duduk bersebelahan dengan rapat. Kemudian Ary membuka pembicaraan dengan

kembali mengulangi pertanyaannya. "Berapa lama suamimu tugas di luar kota.?"
Kujawab, "Yah.. katanya sih dua bulanan, memang kenapa Ri? "Apa Dezy nggak akan kesepian begitu cukup lama ditinggal suamimu?" kata Ary. "Yah tentunya normal

dong kesepian, apalagi nggak disiram-siram." kuulangi jawaban yang sama sambil kupandang wajah Ary dengan ekspresi menggoda. Tiba-tiba Ary meletakkan

tangannya di pundakku dan dengan beraninya menarik wajahku. Kemudian ia mencium pipi dan melumat bibirku dengan penuh nafsu. Diriku seperti terbang, kulayani

lumatan bibirnya dengan penuh nafsu pula. Sambil berciuman, dengan lirih Ary bertanya, "Oh Dezy sangat cantik, boleh nggak Ary mengisi kesepian Dezy?"

Sebagai jawaban kubisikkan di telinganya, "Oh.. Ri, boleh saja, Dezy memang kesepian dan butuh orang yang dapat memuaskan.."

Sambil berciuman, tangan Ary membuka kancing bajuku dan memasukkan tangannya di balik kutangku sambil meremas-remas buah dadaku dan memilin-milin puting

susuku. Tubuhku menggelinjang menahan rangsangan tangannya. Kemudian tangannya terus turun ke bawah, dari balik rokku dan celana dalamku yang sudah basah, ia

memasukkan jari-jari tangannya mempermainkan klitorisku. Nafsuku semakin naik, dengan lirih aku mengerang, "Oh.. oh Ri, aduh Ary pinter sekali.. oh.. puaskan

Dezy Ri.. Oh.." Dengan semangat Ary mempermainkan memekku sambil kadang-kadang ia melumat bibirku. Tubuhku terasa terbang menikmati permainan jari-jari

tangannya di memekku. Kurasakan satu dan akhirnya dua jari Ary masuk ke dalam lubang memekku. "Oh.. Ri.. aduh.. enaknya Ri.. oh terus Ri.." aku mengerang

menahan kenikmatan. Mendengar eranganku, kedua jari tangan Ary makin mengocok lubang memekku dengan gerakan yang sangat merangsang. Dan akhirnya, beberapa

menit kemudian karena tak tahan, aku mencapai orgasme. "Oh Ri, aagh.. Dezy keluar Ri.." Kujilati seluruh permukaan wajah Ary dan kulumat bibirnya dengan

nafsuku yang masih tinggi. Ary masih tetap memainkan kedua jarinya di dalam memekku. Begitu hebatnya permainan kedua jari tangan Ary yang menyentuh daerah-

daerah sensitif di dalam lubang memekku, membuatku orgasme sampai tiga kali.

Kelihatannya Ary begitu bernafsu dan saat itu ia mengajakku bersetubuh. "Dezy.. boleh nggak Ary masukkan Kontol Ary ke dalam memek Dezy?" Walau aku

sebenarnya juga menginginkannya, namun aku khawatir dan sadar akan bahaya kalau ketahuan satpam Taman Ria. Kujawab saja, "Jangan di sini Ri, bahaya kalau

ketahuan satpam, nanti di rumah saja ya Yang.."
"Benar nih jangan bohong ya.. dan bagaimana caranya?" tanya Ary.
Kujawab saja, "Nanti kamar nggak dikunci, masuk aja Ri, yang penting jangan ketahuan orang rumah."

Akhirnya Ary setuju dengan tawaranku itu. Mengingat waktu sudah menunjukkan jam 22:10 kami berdua sepakat pulang. Sebelum meninggalkan tempat, sambil berdiri

kami berdua berpelukan erat, saling melumat bibir dan lidah. Sambil bergandengan mesra, tanpa khawatir kalau ada orang yang kenal melihatnya, kami berdua

berjalan menuju parkir motor. Dalam perjalanan pulang, kupeluk erat tubuh Ary, sambil jari-jari tangan kananku membelai dan meremas-remas Kontolnya dari

balik celananya.

Sesampainya di rumah, selesai mandi kukenakan daster tidurku tanpa celana dalam, dan kusemprotkan parfum di tubuhku, siap menanti pria yang akan mengisi

kebutuhan seksku. Kulihat kedua anakku sudah tidur pulas. Kemudian kira-kira jam 23:30 kumatikan lampu kamar dan kurebahkan tubuhku di tempat tidur terpisah

dari tempat tidur anak-anakku. Sambil tidur-tidur ayam, kunantikan Ary masuk ke kamarku. Sekitar jam 01:00, kulihat pintu kamar yang sengaja tidak kukunci

secara perlahan dibuka orang. Kulihat Ary dengan sarung masuk. Setelah ia menutup kembali pintu kamar dan menguncinya, ia menuju tempat tidurku dan langsung

menindih tubuhku dan menciumi wajah serta bibirku. Sambil menciumiku, tangannya menggerayangi memekku. Ary berkata, "Wah sudah siap nih ya.. nggak pakai

celana dalam.." Tak berapa lama Ary mengangkat dasterku dan mempermainkan klitorisku dan sesekali memasukkan jarinya ke lubang memekku, membuatku melayang

dan memekku cepat banjir. Ternyata Ary juga sudah siap dengan tidak memakai celana dalam. Digesek-gesekannya Kontolnya yang sudah mengeras di pahaku sambil

jari-jari tangannya mempermainkan memekku. Kubalas gerakan Ary dengan meremas-remas dan mengocok Kontolnya. Nafsuku semakin naik, begitu juga Ary karena

nafasnya terdengar semakin memburu. Sambil tersengal-sengal, ia melenguh, "Oh.. oh.. Dezy.. Ary sudah nafsu.. Dezy haus kan.. Ary masukkan ya.." Aku pun

sudah tidak tahan, "Oh Ri.. masukkan cepat Kontolnya.. Dezy sudah nggak tahan.. Ohh Ri.."

Kemudian, "Slep.." kurasakan Kontol Ary yang lebih besar dan panjang dibandingkan Kontol suamiku itu masuk dengan mudah masuk ke dalam lubang memekku yang

sudah benar-benar basah itu. Kurasakan Kontolnya sampai menyentuh dinding memekku yang terdalam. "Oh.. Ri.. aduh enaknya Ri.. oh gede Ri.." aku merintih,

sambil kupeluk erat tubuh Ary. Kudengar pula rintihan Ary sambil menurun-naikkan Kontolnya di dalam memekku. "Oh.. oh.. agh.. Dezy, enak sekali memek Dezy..

oh.. aagh.." Dari cara permainannya, aku merasakan Ary belum berpengalaman dalam hal seks dan kelihatannya baru pertama kali ia berbuat begini. Mungkin

karena begitu nafsunya kami berdua kurang lebih 10 menit menikmati hujaman Kontol Ary, aku sudah mau mencapai orgasme. "Oh.. agh.. aduh Ri.. cepatkan

tusukannya Ri.. Dezy mau keluar.. oh...aagh.." Kurasakan Ary pun sudah mau orgasme. "Oh.. agh.. Mbak, Ary juga mau keluar.. oh.. aaaghh.." Tak lama kemudian,

berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan semburan sperma yang keluar dari kontol Ary yang masih perjaka, keras dan berkali-kali memenuhi lubang

memekku. Kami berdua berpelukan erat merasakan kenikmatan yang tiada taranya ini. Kubisikkan di telinga Ary, "Terima kasih Ri, Mbak puas sekali.." Ary pun

berbisik, "Aduh Dezy, baru pertama kali ini Ary rasakan enaknya memek.. Dezy puas kan.." tambahnya.

Kemudian, Ary mencabut Kontolnya dari dalam lubang memekku. Aku berusaha menahannya karena aku ingin nambah lagi. Ary berbisik, "Besok-besok aja lagi,

sekarang Ary harus keluar.. takut ada orang yang bangun.." Setelah mengecup kening dan pipiku, Ary permisi keluar. Kubisikkan di telinganya, "Hati-hati ya

Ri.. jangan sampai ketahuan orang lain.." Walaupun belum begitu puas, tapi hatiku bahagia bahwa Ary akan mengisi kesepian dan memenuhi kebutuhan seksku

selama suami di luar kota. Dalam hati aku pun mengucapkan terima kasih kepada suamiku atas ijinnya dan pilihannya yang tepat.

Setelah kejadian pertama ini, hubungan seksku dengan adik suamiku ini terus berlanjut. Sayangnya hal ini kami berdua lakukan di rumah, karena saat itu memang

tidak pernah terpikir untuk main di luar misalnya di Motel. Saking puasnya menikmati permainan seks dari Ary, aku lupa akan jadwal kalender KB yang selama

ini kugunakan. Sedangkan setiap kali Ary menyetubuhiku, spermanya selalu ditumpahkan di dalam memekku. Aku sendiri memang tidak menginginkan sperma Ary

ditumpahkan di luar, karena justru merasakan semburan dan kehangatan sperma Ary di dalam memekku, merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa. Akibatnya

setelah beberapa kali melakukan hubungan, aku sempat terlambat 6 hari datang bulan (mens). Hal ini kuceritakan kepada Ary, saat kami mengobrol berdua di

paviliun. Khawatir benar-benar hamil, kuminta Ary mengantarku ke dokter untuk memeriksakannya. Pada mulanya Ary tidak setuju, dan ingin mempertahankan

kehamilanku. Aku tidak setuju dan tetap ingin menggugurkannya.

Keesokan paginya dengan diantar Ary, aku memeriksakan diri ke suatu rumah sakit bagian kandungan. Ternyata hasil pemeriksaan tidak bisa keluar hari itu juga,

dan harus menunggu tiga hari. Sampai dua hari setelah pemeriksaan dokter, ternyata mens-ku masih belum datang. Aku tidak sabar dan khawatir jika ternyata aku

benar-benar hamil. Hal ini kuutarakan kepada Ary dan kuminta ia membantu membelikan satu botol bir hitam untukku. Keesokan harinya, Ary menyerahkan bir hitam

itu kepadaku, dan malamnya kuminum. Tiga hari setelah minum bir hitam tersebut, mens-ku datang.

Setelah mens-ku selesai sekitar 7 hari, aku dan Ary melanjutkan lagi hubungan seks seperti biasanya. Praktis selama dua bulan ada 18 kali aku dan Ary

berhasil melakukan hubungan seks yang memuaskan dengan aman tanpa ketahuan keluarga di rumah. Keinginan untuk melakukannya setiap hari sulit terlaksana,

mengingat situasi rumah yang tidak memungkinkan. Dari sekian kali hubungan seksku dengan Ary, seingatku ada tiga kali yang benar-benar sangat memuaskan

diriku. Selain kejadian yang pertama kali, hubungan seksku dengan Ary yang sangat memuaskan adalah sewaktu kami berdua melakukan di suatu siang hari dan saat

malam takbiran. Kejadian di siang hari itu, yaitu saat aku selesai mandi dan bersiap-siap berhias diri mau pergi ke kantor. Saat itu kedua mertuaku dan

adik-adik iparku yang lain sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya Ary, yang kebetulan sudah pulang dari kantornya, karena hari Jumat. Kedua anakku asyik

bermain dengan pengasuhnya.

Tanpa sepengetahuanku, saat aku memakai make-up, tiba-tiba Ary masuk kamarku yang tidak terkunci. Setelah menutup pintu kembali dan menguncinya, dari

belakang ia memelukku, melepaskan handuk yang membungkus tubuhku, sehingga aku dalam posisi telanjang bulat. Diciumnya pundak belakangku, sambil tangannya

memainkan kedua payudaraku, dan turun mempermainkan memekku. Akibatnya, aku tak tahan dan memekku cepat basah. Segera kubalikkan tubuhku dan kupeluk serta

kulumat bibir Ary dengan penuh nafsu. Kemudian kubuka reitsleting celananya dan kutanggalkan celana panjang dan celana dalamnya. Kemudian aku jongkok di

hadapannya, sambil meremas, menjilati, dan mengulum Kontolnya dalam mulutku.

Setelah kurasakan Kontolnya semakin keras, kudorong tubuh Ary duduk di tepi tempat tidur. Kemudian aku berdiri membelakanginya, dan setengah jongkok kupegang

dan kuarahkan Kontolnya masuk ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Kuturun-naikkan dan kuputar pinggulku untuk merasakan nikmatnya Kontol Ary

yang telah masuk seluruhnya dalam lubang memekku. Sambil bergoyang itu, aku merintih dan berdesah, "Oooh.. aaaghh.." Ary tak mau ketinggalan, ia membantu

menurun-naikkan pinggulku dan kadang-kadang meremas-remas kedua buah dadaku. Kurang lebih tiga menit dengan posisi ini, terasa aku sudah mau orgasme.

Kupercepat gerakan turun naik dan goyangan pinggulku, dan saat itu Ary merintih, "Oh.. oh.. Dezy, Ary mau keluar.. oh.."

Akhirnya berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan Kontol Ary menyemprotkan spermanya dengan keras memenuhi lubang memekku. Tubuhku terasa terbang

merasakan semprotan yang hangat dan nikmat itu. Kemudian kukeluarkan Kontol Ary dari lubang memekku. Kulihat masih cukup keras. Dengan penuh nafsu kujilati,

kuhisap Kontol Ary yang masih basah diselimuti campuran sperma kami berdua.

Tak berapa lama kemudian Kontol Ary kembali keras. Kemudian kuminta Ary menyetubuhiku dari belakang. Dengan menopangkan kedua tanganku di atas meja hias dan

posisi menungging, kusuruh Ary memasukkan Kontolnya ke dalam lubang memekku dari belakang. Betapa nikmatnya kurasakan Kontol Ary menghunjam masuk ke dalam

lubang memekku, kemudian sambil meremas-remas kedua buah dadaku, Ary mempercepat tusukan Kontolnya. Dari cermin yang berada di hadapanku, kulihat gerakan dan

ekspresi wajah Ary yang sedang mempermainkan Kontolnya di dalam lubang memekku. Situasi ini menambah naiknya birahiku. Kurang lebih tiga menit merasakan

tusukan-tusukan Kontolnya, aku tak tahan ingin orgasme lagi. Aku merintih, "Aduh.. oh.. agh.. Ri, tembus Ri.. aagh.. Dezy mau keluar lagi, cepatkan Ri.. oh..

aaghhh.." Ternyata Ary pun mau keluar. Ia pun merintih, "Oh.. augh.. Dezy, Ary juga mau keluar.. aduh.. Dezy.. bareng ya.. oh.." Beberapa saat kemudian,

secara bersamaan aku dan Ary mencapai orgasme. Kurasakan kembali semprotan sperma Ary yang hangat dan nikmat lubang memekku.

Setelah itu, kami berdua berpelukan dengan mesra. Aku berkata, "Nakal ya.." Ary mencium pipi dan keningku kemudian pamit keluar. Kemudian aku pun keluar ke

kamar mandi untuk membasuh memekku. Jam 14:00, jemputan mobil dari kantorku datang. Malamnya sesuai janji via telepon, kembali Ary masuk ke kamarku dan

menyetubuhiku secara terburu-buru, karena khawatir ada yang memergoki. Walau dalam keadaan terburu-buru, persetubuhanku dengan Ary yang dilakukan setiap dini

hari itu, cukup memuaskan, karena paling tidak setiap bersetubuh itu aku bisa orgasme minimal satu kali dan merasakan semprotan sperma Ary di dalam memekku.

Selanjutnya, persetubuhanku dengan Ary yang benar-benar memuaskan dan menyebabkan aku lemas tak berdaya adalah saat malam takbiran. Pada malam itu, aku

menginap di rumah orang tuaku. Sesuai janji via telepon Ary datang menjengukku. Kami berdua duduk mengobrol merayakan takbiran di rumah. Kedua orang tuaku

menyuruhku menawarkan bir kepada Ary. Selesai acara TV, ayahku pergi keluar rumah dan ibuku masuk tidur. Kini di ruang tamu, tinggal aku dan Ary duduk berdua

ngobrol sambil menikmati bir sepuas-puasnya. Karena pengaruh bir, kurasakan nafsu seksku mulai naik. Kemudian aku pamit sebentar, melihat kedua anakku

sekalian mengecek Ibuku. Aku mengganti bajuku dengan daster dan kutanggalkan celana dalamku. Setelah kuketahui ibuku sudah pulas tidur dan keadaan aman, aku

kembali ke ruang tamu, duduk di sebelah Ary. Tak lama kemudian Ary sudah memelukku, menciumiku sambil bertanya apa ibuku sudah tidur. Mengetahui ibuku sudah

tidur, Ary mulai menggerayangi memekku dengan jari-jari tangannya sambil melumat bibirku. Aku menggelinjang dan merintih, "Oh.. Ri.. enak sekali.. Ri.. oh

terus Ri.." Aku tak mau kalah dan kuremas-remas Kontolnya dari luar celana yang membuat Kontolnya semakin keras. Kemudian kusuruh Ary berdiri, kubuka

reitsleting celana panjangnya dan sekaligus celana dalamnya. Kulihat dan rasakan Kontol Ary lebih keras dan besar dari biasanya.

"Aduh.. wow.. kok lebih keras dan besar Ri Kontolnya?" Ary berterus terang bahwa sorenya ia minum jamu kuat laki-laki sebagai persiapan untuk memuaskan

diriku. Kuhisap, kujilati dan kukulum Kontolnya dengan penuh nafsu. Karena tak tahan lagi, kudorong tubuh Ary duduk di sofa. Aku duduk di atas pangkuannya.

Kemudian kupegang dan arahkan Kontolnya ke dalam memekku. "Wow.. aduh Ri.. gede banget dan enak Ri, Kontolnya.. aduh.. oohh.." aku mengerang. Sambil kulumat

bibirnya, kunaik-turunkan pinggulku agar dapat merasakan gerakan, tusukan dan denyutan Kontol Ary. Sekitar dua menit kugoyang, akhirnya aku mencapai orgasme

karena tak tahan merasakan Kontol Ary yang lebih keras dan besar dari biasanya. Kemudian kami berdua merubah posisi dengan doggy style. Kurang lebih tiga

menit, lagi-lagi aku tidak tahan dan orgasme untuk yang kedua kalinya. Setelah beristirahat sebentar, kami berdua merubah posisi dengan berdiri. Kontol Ary

masih keras dan ia belum keluar sama sekali. Lagi-lagi, mungkin karena pengaruh bir dan nafsu yang menggebu, aku mencapai orgasme yang ketiga kalinya.

Dengan masih mempertahankan kontolnya yang keras dan panjang di dalam memekku, Ary menggendongku masuk ke kamar tidurku. Direbahkan tubuhku di kasur di atas

lantai yang sudah kusiapkan. Masih kurasakan nikmatnyan dan orgasmeku yang keempat kalinya saat Ary menyetubuhiku dengan posisi di atas. Setelah itu aku tak

ingat lagi dan menyerah pasrah menerima tusukan-tusukan kontol Ary.

Mungkin lebih dari 10 kali aku mencapai orgasme, dan aku tak tahu berapa kali Ary keluar. Saat terbangun kira-kira jam 5 pagi, terasa kepuasan yang amat

sangat pada diriku walau kakiku rasanya gontai dan lemas. Kurasakan juga kehangatan sperma Ary yang masih ada di dalam memekku. Tak disangka selingkuhku di

malam takbiran dengan Ary adik suamiku adalah yang terakhir, karena beberapa hari kemudian, suamiku sudah kembali ke rumah.

Sekembalinya suami di rumah, malam harinya suami mengajakku bersetubuh. Sambil bersetubuh, suami bertanya apakah jadi selingkuh dengan Ary. Karena memang

sudah diijinkannya, aku berterus terang mengaku. Pada mulanya suamiku agak marah, mungkin tersinggung, tapi akhirnya ia memaafkanku. Sejak saat itu

hubunganku dengan Ary praktis terputus. Namun, Ary masih mencoba mendekatiku dan berusaha mengajakku untuk berhubungan lagi. Hal itu ia lakukan beberapa kali

via telepon saat suamiku ke kantor. Walau sebenarnya aku sendiri masih menginginkannya, namun ajakan Ary tersebut terpaksa kutolak. Selain suasana rumah

memang tidak memungkinkan, aku juga khawatir jika suamiku akan marah karena ia belum mengijinkan lagi.

Peristiwa perselingkuhanku dengan adik ipar atas saran dan ijin suami menjadi pengalaman yang manis sampai saat ini. Lebih dari itu, jika suami mengungkit-

ungkit lagi masalah ini dan minta aku menceritakannya kembali, bukannya marah yang kudapat darinya, malah sebaliknya kasih sayang yang makin besar.

Setiap kali akan meniduriku, untuk merangsang dirinya, suamiku selalu meminta aku untuk menceritakan kembali pengalaman selingkuhku dengan adiknya itu. Ia

kerap bertanya posisi apa saja yang aku dan Ary lakukan saat berhubungan seks, berapa kali aku klimaks, bagaimana rasanya memekku menerima semburan sperma

Ary dlsb. Untuk membahagiakannya, kuceritakan semuanya secara jujur. Setiap kali mendengar ceritaku itu, nafsu seks suamiku semakin meningkat dan ia meminta

aku mempraktekannya kembali dengan menganggap dirinya sebagai Ary. Terus terang, gairah seksku pun semakin meningkat saat harus membayangkan dan mempraktekan

kembali cara-cara hubungan seksku dengan Ary.




»» Baca selengkapnya.....