Gara-gara Salah Sambung

Sebelum aku memulai opisode ini, pekenankan saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca situs 17Tahun ini, yang telah menyempatkan diri untuk menulis email kepada saya. Terima kasih juga aku tujukan kepada pembaca, yang sudah memberikan kritikan, saran, masukan atau bahkan yang hanya sekedar share dalam masalah sex.

Dengan segala kerendahan hati, segala kekurangan dan keterbatasan yang ada dalam penulisan artikel saya yang berjudul "Kisah Bersama Ibu Muda dan Mantan Anak Ibu Kost, Liarnya Wanita Setengah Baya 1-2, Ica Anak Seorang Pejabat", aku tetap berharap mendapat masukan tentang bagaemana cara penulisan artikel yang benar.

Juga tidak lupa aku sampaikan permohonan maaf, jika pada artikel aku tersebut dan artikel-artikel selanjutnya, terdapat kesamaan nama dan tempat. Dengan tidak mengurangi rasa hormatku kepada para pembaca yang namanya sama, nama tersebut sengaja aku pilih acak (disamarkan) sebagai bentuk tanggung jawab morilku kepada mereka yang pernah kencan dengan aku. Sehingga kerahasiaan identitas mereka tetap terjaga, karena itu juga merupakan komitmen kami sebelum melakukan hal-hal yang terlalu jauh. Karena apa yang aku tuangkan dalam artikel tersebut adalah 'pengalaman nyataku'

Serta mohon maaf kepada para pembaca yang tidak bisa aku balas emailnya, karena memang kita mempunyai perbedaan visi dalam menerjemahkan gaya hidup free sex. Berikut ini adalah kisah nyataku saat making love dengan seorang gadis mahasiswi, yang kuliah di salah satu kota dingin di Jawa Timur.

Kisahku ini berawal saat aku salah sambung, ketika menghubungi teman chattingku yang lain. Dan dari sinilah kenikmatan itu aku alami. Kejadian itu terjadi sekitar bulan Januari 2004 yang lalu, saat itu aku bermaksud menghubungi salah satu teman chattingku.

"Hallo, gimana khabar kamu Citra?" tanya dengan percaya diri.

"Hallo, ini siapa ya?" suara dari celullerku.

"Aduh, mentang-mentang baru kerja jadi sombong gitu," godaku.

"Ini Dandy, yang tempo hari ngebahas masalah sex itu lho," jelasku.

"Maaf, kalo boleh tahu ini siapa ya?" tanyanya kembali.

"Apa benar ini dengan Citra?" tanyaku ganti.

"Maaf, sepertinya Mas, salah sambung," jelas gadis itu.

"Lho memangnya ini siapa?" tanyaku penasaran.

"Aku Tika," kata gadis itu.

"Ups! maaf banget Mbak Tika.. Aku kira ini nomor temanku," kataku malu.

"Emang nomornya berapa 081xx," jawabku pasti.

"Tuh kan salah belakangnya," kata gadis itu sambil tersenyum.

"Tapi tidak apa-apa kok Mas, kita bisa kan berteman?" tanyanya.

"Nama Mas siapa?" tanya sekali lagi.

"Bbbisa.. Bisa.. " jawabku gugup dan malu.

"Namaku Dandy," jawabku singkat.

Obrolan tersebut terjadi sampai 10 menit lamanya, dari suaranya yang sexy aku menjamin pasti deh orangnya cakep juga.

"Oke deh Mas, Tika mau kuliah dulu nih," paparnya.

"Oke deh Tika, terima kasih atas waktunya," kataku singkat.

"Oya, Mas Dandy Surabayanya daerah mana?" tanya Tika.

"Aku di Surabaya kota, kamu pernah main ke sini?" balas tanyaku.

"Iya nih Mas, kebetulan Sabtu besok aku ke Surabaya" jelasnya.

"Oh ya, sama siapa kamu ke Surabaya?" tanyaku balik.

"Sendirian Mas, kenapa mau nemenin?" Tika balik bertanya.

"Siapa takut," jawabku lugas.

"Tapi aku belum tahu jalannya Mas," kata Tika.

"Apa aku jemput di Terminal bus?" aku menawarkan diri.

"Tidak usah Mas, aku bawa mobil sendiri kok," jelas Tika.
Setelah kami bercakap-cakap, akhirnya Tika memnutuskan untuk ketemuan di kantorku. Karena yang Tika tahu hanya daerah kantorku dan berikutnya Tika langsung memutuskan hubungan cellulernya.

Hari Sabtu, kebetulan aku ada rencana mau kerjakan berkas-berkas yang masih belum terselesaikan. Ketika starletku melaju kencang di jalan tol, cellulerku dengan kencangnya berdering, memainkan lagu dangdut.

"Hallo, Mas Dandy.. kamu ada dimana?" suara yang 4 hari lalu aku kenal.

"Hey Tika, aku sudah mau keluar pintu gerbang tol," jelasku.

"Oke deh Mas, sampai ketemu nanti.. Bye" kata Tika singkat.

Tanpa terasa aku sudah sampai dihalaman kantorku.

"Selamat pagi Pak Dandy," sapa satpamku.

"Selamat pagi Mas," balasku menyapa.

"Aku mita tolong ambilkan kunci ruanganku Mas," perintahku.

"Baik Pak," kata Pak satpam sambil bergegas mengambil kunci dalam pos.

Sebelum aku meninggalkan pos satpam, tidak lupa aku pesan jika ada wanita mencari aku, langsung saja diantar ke ruanganku. 5 menit kemudian, aku sudah berada di depan mejaku. Setelah menyalakan AC, aku segera bergegas mengaktifkan komputer dan menata kembali berkas-berkas yang masih berserakan diatas meja.

Tidak lama kemudian, suara pintu ruangan aku diketuk seseorang,

"Tok.. Tok.. Tok" bunyi papan pintuku.

"Masuk..," aku berteriak agak pelan.

"Maaf Pak Dandy, tamu bapak sudah datang," kata Pak satpam.

Muncullah seorang gadis yang sexy, menggunakan rok mini warna soft dikombinasikan dengan blus putih belahan rendah, menambah anggun penampilannya. Kulitnya yang putih, ditumbuhi bulu-bulu yang halus menambah darah kelaki-lakianku spontan meletup.

"Maaf Pak saya mau balik ke pos jaga," suara satpam memecahkan lamunanku.

"Iya iiyaa Pak, terima kasih," kataku gugup.

"Mas Dandy ya?" tanya gadis cantik itu.

"Iya.. Iya.. Kamu Tikan kan?" balasku bertanya.

Kami berdua bersalaman sambil mempersilahkan Tika duduk di depan meja kerjaku, setan burik yang dari tadi sudah mulai menggedor keimanan aku tentang hal-hal yang ngeres, semakin mendesak pikiranku.

"Gimana perjalannanya Tika?" tanyaku membuka obrolan.

"Sepi tuh Mas, jadinya agak cepet datangnya," jelas Tika.

"Besar sekali tempat kerja Mas Dandy," puji Tika.

"Ah biasa aja kok Tika, kamu sendiri bekerja dimana," tanyaku balik.

"Cuman perusahaan swasta bergerak dibidang konsultan Mas," jelas Tika.

Obrolan selanjutnya membawa kami berdua seperti orang yang sudah kenal lama, tidak ada batas dan jarak. Sesekali kami berdua tertawa dengan cerita yang kami ungkapkan. Dari obrolan tersebut, baru aku ketahui status Tika yang baru cerai beberapa bulan lalu karena dijodohkan orang tuanya.
Pantas saja tubuhnya masih kencang karena hanya dipakai 2 bulan saja oleh mantan suaminya. Sampai akhirnya, waktu menunjukkan pukul 10.25 wib.

"Mas, Tika boleh tanya sesuatu?" tanya Tika.

"Waktu Mas Dandy call kemaren, kok bisanya salah pencet nomor sih?" tanyanya.

"Ya nggak tahu, emang aku pikir pencetnya sudah benar tuh" kataku membeli diri.

"Oya, kok Mas bilang.. yang tempo hari ngebahas masalah sex itu lho.. Memangnya Citra tuh siapa Mas?" tanyanya menyelidik.

"Citra adalah teman chattingku, walaupun aku kami belum pernah ketemu tapi aku seperti sudah seperti sahabat lama" jelasku.

"Kok sampai ngebahas masalah sex, memang ada apa Mas?" tanya Tika.

"OOo.. Itu, dia tuh ingin tahu banyak style yang ada saat ngesex. Makanya aku sering kirim gambar-gambar porno sama dia" jelasku panjang.

"Boleh lihat nggak Mas?" pinta Tika. Sambil bertanya seperti itu, Tika tidak menunggu jawabanku. Dia langsung bangkit dari duduknya dan berdiri membungkuk disamping kananku menghadap layar monitorku.

Aroma parfum yang mahal, membuat birahiku naik turun. Ditambah dinginnya AC membuat aku semakin gemes melihat tubuh Tika yang sexy. Ingin rasanya aku langsung mendekapnya dan bercinta dengannya.

Tanganku yang lincah memainkan mouse, untuk membuka file-file yang berbau pornografi. Nafas Tika terasa di telingaku keluar tidak beraturan dan sesekali kakinya yang tinggi dirapatkan seperti menahan sesuatu. Air liurku terasa menetes, melihat bongkahan daging dibalik setelan blusnya yang pendek. Tika seakan memancing mataku untuk terus melihat dadanya yang putih.

Disaat sedang asyik menikmati gambar-gambar porno tersebut, tiba tiba Tika sudah berada di belakangku. Payudaranya terasa kencang ketika tangannya yang sedikit berbulu, menarik kepalaku sampai mendongkak kebelakang. Jari jemarinya yang lentik memainkan punting susuku, serr.. nafsu birahiku seperti meledak keluar. Dadaku berdegub kencang.

Ketika kepalaku mendongkak ke belakang, bibirku langsung di sumbat oleh bibirnya yang mungkil. Lidahnya menari-nari di bibirku dan sesekali menantang lidahku untuk beradu dengan lidahnya. 15 menit keadaan itu bertahan, sampai akhirnya Tika menarik kursi yang aku duduki. Sehingga posisiku yang pertamanya merapat dengan bibir meja, sekarang kurang lebih 50 cm bergeser menjauhi bibir meja.

Dengan sigap Tika sudah berada dipangkuanku.

"Mas, aku ingin seperti yang digambar itu" kata Tika sambil mendesah.

"Berikan kenikmatan yang sudah 2 bulan hilang dalam hidupku" rengeknya.

"Tikk.. " belum selesai aku menjawab, bibirnya yang liar mulai mengoyak bibirku yang masih tertegun dengan apa yang sedang terjadi.

Jari Tika yang lentik mulai memereteli satu persatu kancing blusnya, sambil bibirnya memegut bibirku tiada hentinya. Adik kecilku berontak, ingin lepas dari dinding CD yang membatasinya. Goyangan pantat Tika diatas pangkuanku, membuat semakin tegang penisku.

Aku terhanyut dengan keadaan tersebut dan lupa jika itu aku lakukan dikantor, ditempat kerjaku!
Tanganku bergerak bagaikan seperti dikontrol, menggerayangi punggung Tika. Dan sesekali memainkan jariku dengan nakal, sehingga menimbulkan reaksi yangluar biasa pada tubuh Tika. Wajahku dibenamkan ke permukaan dadanya dan tangannya meremas, menjambak rambutku yang sedikit gondrong.

"Sss.. Mas.. Ooohh.. " desah Tika.

"Mas.. Beri aku kenikmatan.. " rintihnya.

Aku sudah tidak sabar ingin melihat bongkahan daging dibalik BHnya yang ukuran 32. Karena jari jemariku sudah hapal betul untuk mengetahui letak pengait BH, maka dengan mudah aku bisa melepas nya.

Alamak. Sepasang bongkahan daging menantang di depan mataku dengan kedua puntingnya yang berwarna merah kehitam-hitaman. Tanpa dikomando, bibirku yang sedikit sensual mulai menyentuh permukaan payudaranya.

"Uggh.. Mas.. Teruss.. Uughh" tubuh Tika menggeliat saat lidahku mulai bekerja menjilati payudaranya"

Geliatan tubuh Tika diatas pangkuanku membuat aku semakin berani mengoyak dadanya, puntingnya yang mengeras tidak lupa aku isap dalam-dalam. Sesekali aku gigit puntingnys yang mengencang, liarnya lidahku memainkan kedua puntingnya membuat birahi Tika semakin menggebu. Lidahku dengan liar menjilati, mengulum, menghisap, puntingnya dengan lembut sehingga membuat gerakan Tika dipangkuanku semakin liar.

Disaat aku rasa libidonya mulai menanjak, aku mengangkat tubuh Tika utnuk duduk di bibir meja kerjaku. Keadaan Tika yang setengah bugil membuat aku sangat bernafsu sekali menyetubuhinya.
Setelah Tika duduk di tepi meja, kakinya yang jenjang dibuka dan dijejakkan pada pegangan kursiku. Terlihat jelas CD transparan yang sudah mulai basah oleh cairan yang menetes dari lubang vaginanya. Aroma wangi, muncul dari arah lubang kewanitaan Tika. Posisiku yang duduk di kursi seperti semula, memudahkan aku untuk mulai menyerang bagian selagkanan Tika.

Hanya sedikit membungkukkan tubuhku, bibirku sudah tepat berada di depan selangkangan Tika. Lidahku yang panjang mulai menjilati permukan CD Tika yang sudah ditembus oleh cairan kenikmatnya.

"Aoow.. Mass.. Ggellii" desah Tika.

Kedua tanganku memegang erat pinggul Tika, sehingga wajahku bisa benar-benar optimal di selangkangannya. Jilatan lidahku di permukaan CD Tika dirasakan menghentak-hentak birahinya. Ini terbukti dengan gerakan tubuhnya yang sedikit kayang, ketika jilatan aku semakin menjadi.

Disaat posisi kayang inilah, kesempatan tidak aku sia-siakan untuk melepas CD dengan motif rendra yang digunakan oleh Tika. Untuk memdudahk operasiku, aku hanya menyingkap rok mini yang dikenakan Tika. Sedangkan CDnya tidak aku lepas seluruhnya, karena hanya aku buka dari sisi kanannya saja sedangakn yang sisi kiri aku biarkan menyangkut di betisnya yang mulus.

Belahan yang nampak jelas diselangkangan Tika dan ditumbuhi rambut-rambut yang terawat, membuat birahi spontan merasuk ke seluruh tubuhku. Lidahku yang dari tadi sudah ingin menikmati lubang itu langsung mendarat dipermukaan vagina Tika.

"Ohh.. Mas.. Teruss.. Jangan.. Lepass.. " Tika menggelinjang hebat.

"Srrupp.. Srupp.. " mulutku menghisap seluruh cairan yang sudah mulai menyiram bibir vaginanya.

"Mmm.. " bibirku melumat vagina Tika dengan liar.

Sesekali tubuhnya kembali kayang, dengan kedua tangannya digunakan menopang tubuhnya diatas meja. Dan sesekali kembali duduk di bibir meja dengan getaran-getaran penuh birahi. Gerakan tubuhnya naik turun, kekanan kekiri bergerak tidak beraturan mengiringi setiapa jilatan, hisapan dan kocokkan lidahku di vagina Tika.

"Mass.. Amppun.. Bibir kamu.. Aagh nikkmaat" desahan Tika berkali-kali.

Sampai akhirnya, aku melihat jelas clitoris Tika sebiji kacang mulai nongol di sudut atas vaginanya. Dengan lembut, sentuhan lidahku langsung membuat tubuhnya bergetar hebat sambil kembali ke posisi kayang.

"Mass.. Adduh.. Aaku.. nggak.. Tahann.. Uuuhh" rintihnya.

"Gila.. Kamu Mas.. Ooo teruss.." berkali kali Tika merintih.

Clitoris Tika yang semakin memerah karena hisapan bibirku, semakin nampak membesar sebiji kacang sehingga memudahkan aku untuk menghisapnya dalam-dalam. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali tubuh Tika menggelinjang dengan posisi kayang.

Detik-detik orgasme akan diraih ole Tika dan aku tahu persis indikasi itu, dan ketika posisi kayangnya tinggi. Aku langsung menahan pantatnya dengan bertumpu siku tanganku diatas meja.

"Mas.. Tikaa.. nggak tahan.. Akuu.. Gaa.." rintih Tika.

"Mass.. Aaampunn" seiring rintihan panjang tersbut, tubuh Tika mengejang dalam posisi kayang. Cairan bening keluar dari sudut vaginanya.

"Crutt.. Crut.. Crutt" cairan itu tidak aku lewatkan setetespun untukmasuk dalam mulutku. Lidah berputar-putar di datas bibir vaginanya dimana cairan bening Tika muntah untuk pertama kalinya. Dengan lahapnya aku menelan semua cairan yang dimuntahkan ole Tika.

Walaupun aku tahu Tika sudah orgasme untuk yang pertama, lidahku yang bandel tetap saja memainkan clitorisnya. Terkadang lidahku bergerak keluar masuk mengoyak lubang vagina Tika, dinding-dinding vagian Tika yang mengencak setelah orgasme pertama terasa asin dan manis.

Kali ini tubuh Tika terkulai lemas diatas meja kerjaku, kakinya masih terbuka lebar dan kepalanya terjuntai di bibir meja. Sehingga rambutnya yang sebahu terjuntai ke bawah, aku mencoba bangkit dari dudukku. Kali ini tanganku menahan lutut Tika (Tika mengatur posisinya seperti orang melahirkan), sehingga belahan di selangkangan Tika terbuka menganga. Kesempatan ini langsung aku gunakan untuk mengocok lubang vagina Tika dengan leluasa. Kedua tangan Tika mencengkeram bbir meja tatkala. Lidahku yang panjang untuk kesekian kalinya mengoyak dinding-dinding vaginanya.

"Adduhh.. Mass.. Kamu pandai sekali.." rintih Tika.

"Sss.. Geli banget Mass.." desahnya kembali.

Aku mengambil soft dink Cola yang sempat aku buka, setelah aku minum sedikit aku lelehkan dikit demi sedikit ke bibir vagina Tika sehingga tubuh Tika kembali menggelinjang tidak beraturan.

"Ooogghh.. Mass.. Aaaoo" rintihan Tika kali ini, hanya bisa diikuti gerakan kepalanya yang sedang menjuntai kebawah. Bak seorang yang tripping, kepalanya mengikuti irama jilatan lidahku.
10 menit lidahku memborbardir clitoris dan vagina Tika sampai akhirnya aku melihat gelagat Tika untuk mendapatkan orgasmenya yang kedua.

"Mass.. Mas.. Tika.. Mau.. Keluaarr lagi.." rintihnya.

"Mass.. Ooohh.. Aku nggak taahhaann Mas.." rintih Tika sambil memindahkan tangannya, yang tadinya mencengkeram erat bibir meja. Kali ini menggapai-gapai kepalaku utnuk membantu membenamkan lidahku dalam-dalam ke lubang kewanitaannya.

"Maass.. Aampunn.. Aaakkhh" dibarengi tubuh Tika yang mengejang bebrapa saat. Cairan bening kembali meleleh berkali-kali dari lubang vaginanya. Dan dengan rakusnya lidah dan mulutku membersihkan seluruh cairan yang keluar untuk kedua kalinya.

Tubuh Tika tetap terlentang menikmati orgasme yang 2 kali didapatkannya, kepalanya terjuntai.

"Sebentar Tika, aku kunci dulu pintunya."

Aku bangkit dari tempatku dan menuju ke pintu ruanganku. Posisi Tika masih tetap seperti semula terlentang diatas meja, blusnya putih masih terlingkar dipinggulnya karena beberapa kancing bajunya belum terlepas. Begitu juga dengan rok mininya masih melingkar kusut dipinggulnya.

Ketika aku balik kedepan mejaku, tiba-tiba tangan Tika menggapai pinggulku, dan dengan sigap, Tika bisa mengeluarkan adik kecilku yang mulai tadi sudah terbelenggu oleh ketatnya CDku.

"Waow.. Besar sekali Mas punya kamu.." puji Tika.

Dengan posisi kepala yang menjuntai di bibir meja, mulut Tika langsung melahap batang penisku yang berukuran 19 cm kurang sedikit dab bentuknya akan melengkung. Dengan posisi berdiri mataku menyaksikan, mulut Tika yang menghisap, mengulum dan menjilati batang kemaluanku.

"Oh.. Tika.."

Aku menggerakkan kepala melihat langit-langit ruangan merasakan sentuhan lidah Tika yang menari-nari di batang kemaluanku. Kedua tangan Tika, meremas pantatku (yang kata teman-teman kencanku tergolong sexy). Tangan Tika menggerakkan pinggulku bergark maju mundur, keluar masuk mulutnya yang tipis.

"Aduh Tika sayang.. Terus sayang.." desahku.

Tika benar-benar lihai memainkan lidahnya, sampai-sampai aku dibuatnya merem melek. Untuk mengimbangi permainan Tika yang semankin menjadi. Kedua jariku memilin punting Tika yang sudah mulai mengencang lagi. Sesekali aku membungkukkan badanku, untuk sekedar menghisap punting Tika.

"Uuuff.. Tikkaa.." aku mendesah saat batang kemaluanku bagaikan ditelan oleh mulut Tika.

Tanganku yang jahil, mulai meraba perut Tika. Dan aku berusah menggapai kelentit Tika yang terbuka lebar. Jari telunjukku bergerak menggesek-gesekan di permukan clitorisnya. Aku lihat tubuh Tika bergetar dengan sentuhan jati telunjukku, dan ketika posisinya meguntungkan aku langsun meraih kedua paha Tika sehingga posisi kita menjadi 69. Posisi ini tidak seperti 69 biasanya, karena aku berdiri setangah membungkuk sedangkan Tika kepalanya menjuntai di bibir meja.

"Sss.. Mas.. Kamu jaahaat.." rintih Tika sesekali melepaskan mulutnya dari batang penisku. Dan sesekali jarinya yang lentik mengocok batang kemaluanku.

"Mas.. Aduhh.. Aku nggak kuaat nihh.. Mass" rintih Tika.

Hisapan mulutku aku perkuat dengan kencang, sampai seakan-akan semua cairan yang meleleh di dinding vagina Tika masuk semua kemulutku.

"Mass.." Tika merintih panjang ketika cairan di vaginanya muncrat untuk kesekian kali.

Adik kecilku yang begitu tegang merengek untuk menikmati lubang surgawi Tika. Akhirnya aku segera merubah posisi, ke bawah selangkangan Tika. Tika yang masih lemas akibat orgasme ketiga tadi, langsung aku balikkan menghadap ke bibir meja. Posisi badannya yang setengah nungging dan tengkurap diatas meja kerjaku, membuat birahiku langsung melonjak. Tanpa memberi kesempatan Tika bernafas, batang penisku aku arahkan ke lubang vagina Tika melalui belakang

"Bless.."

"Maass.. Gilaa.. Besar sekali.. Ooohh," Tika terengah-engah menerima batang kemaluanku yang memang berukuran diatas rata-rata.

Gerakan maju mundur di belakang tubuh Tika secara berirama aku gerakan, terkadang telapak tangan Tika menahan perutku. Agar supaya penisku tidak masuk semua.

"Akhh.. Mas.. Amppunn.. Nikmat sekali rasanya.." rintihnya.

"Terus Mas.. Jangan berhenti.. Aku suka sekaallii" rintih Tika untuk kesekian kalinya. Sesekali tangannya mencengkeram bibir meja dengan kencang, saat batang kemaluanku menghujam dalam lubang Tika. Aku merubah sedikit posisi, aku angkat satu kaki Tika untuk naik diatas meja. Sehingga selangkangannya bersudut 90 derajat, sehingga penisku benar-benar terbenam sampai mentok.

"Ughh.. Eeennaakk Mass.." desah Tika saat penisku terasa mentok menyentuh batas langit-langit vagina nya.

"Crek.. Crek.. Crek.." suara batang penisku menghujam keluar masuk di lubang kemaluan Tika.

Cengkraman tangan Tika di bibir meja, memperjelas pendapatku bahwa gadis wanita ini benar-benar menikmati hebatnya batang penisku.

Aku berusaha mempermainkan birahi Tika dengan cara memperlambat tempo pergerakan pinggulku. Aku melepas penis dan mulai membalikkan tubuh Tika tepat berhadapan dengan tubuhku. Kali ini posisi Tika duduk di tepi bibir meja kerja dan aku sendiri berdiri menghadapnya, dengan penuh perasaan aku masukkan penisku kembali ke lubang surgawi miliknya.

"Sss.." desah Tika ketika aku mulai menggerakkan penisku keluar masuk.

Tangan Tika menopang tubuhnya, sedangkan kakinya melingkar di pinggulku.

"Hheekk.. Teruss.. Mas.." rintih Tika.

Beberapa saat kemudian aku lihat Tika semakin memacu birahinya untuk mendapatkan orgasme berikutnya. Sesekali aku memutar-mutar penisku sehingga dinding vagina Tika terasa sekali menggesek batang kemaluanku.

"Sss.. Nikmat sekali.. Mmm.." desahan Tika sekarang dibarengi dengan merubah posisi tangannya. Yang pertama menopang tubuhnya supaya tidak terlentang di atas meja, sekarang kedua tangann melingkar di punggungku.

Mulutnya yang haus berusaha menjilat dan menghisap puntingku, setiap genjotan batangku semakin bertubi-tubi. Semakin liar saja bibirnya yang mungil meraih puntingku. Posisi ini benar-benar membuat rangsangan yang luar biasa, persendian tubuhku seperti mulai meluncur terfokus ke batang kemaluanku yang diguyur kenikmatan yang luar biasa.

"Uggh.. Mass.. Aampunn.. Tikkaa.. nggak taahaan.." tintih Tika sambil menggapai-gapai puntingku yang semakin mengencang.

"Tahaann.. Sayang.. Kitaa.. Keluar saama-samaa.." rintihku yang tidak kalah hebatnya untuk meraih klimak yang didambakan setiap orang saat bercinta.

Gerakan kedua tubuh kami semakin tidak berirama, bagaikan kuda liar kami memacu birahi. Sampai-sampai meja kerja bergoyang dan sedikit berbunyi.

"Ohh.. Mass.. Keluarin.. Di dalam.. Ohh.." pinta Tika.

Yang aku tahu jika seorang wanita mengijinkan sperma kita untuk keluar didalam vaginanya, artinya dia sudah memprotek dirinya supaya tidak hamil. Birahiku berlomba dengan birahi Tika untuk mengejar puncak kenikmatan.

"Mass.. Aaakuu.. Kee.. luuaarr" Tika merintih panjang sambil menghisap puntingku dalam-dalam.

"Tahan.. Saayaanngg.. Aku jugaa.. Mauu.." rintihkan tak kalah hebatnya.

"Akkhh.." aku merintih panjang mendapatkan kenikmatan tersebut.

Seluruh kekuatanku saat itu, semua terfokus pada batang kemaluanku. Dan kenikmatan itu semakin menjadi ketika Tika sedikit menggoyang pinggulnya. Aduh alamak, rasanya aku terbang keawan.

Aku tidak bisa lagi menghitung, berapa kali semburan spermaku di lubang vagina. Sengaja aku tidak melepas batang kemaluanku dari lubang vagina Tika, aku rasakan denyutnya masih terasa memeras sisa-sisa kenikmatan yang ada.

"Mas, kamu memang hebat" Tika memuji permainan sex ku.

"Kamu tidak hanya jago di teori tetapi juga prakteknya."

Aku mengecup keningnya yang penuh dengan peluh, sekejap kemudian kepala Tika bersandar di dadaku yang bidang. Adik kecilku yang tadinya tegang, sekarang mulai mengkerut dan keluar dari lubang Tika dengan sendirinya.

Sejenak kami bergegas memperbaiki baju kami berdua, blus Tika yang sedikit kusut akibat hebatnya permainan tersebut. Rok mininya dirapikan seperti semula dan celana dalamnya dikenakan lagi. Komputer, meja, dan dinding kantorku, menjadi saksi bisu permainan sex kami berdua.

Setelah merapikan rambut dan Tika memoles wajahnya dengan perlengkapan make upnya, kami bergegas keluar ruangan. Sengaja, aku tidak membawa mobilku karena memang aku akan mengantar Tika ke tempat yang dituju.

Sepanjang permainan Tika tidak henti-hentinya memuji permainan sex yang baru aku tunjukkan. Dan kami berdua, bagaikan seorang sahabat yang sudah mengenal. Sehingga tidak ada jarak lagi untuk saling bercanda, saling tertawa.

Kenangan yang indah di tempat kerjaku, seakan hanya kami berdua yang bisa merasakan keindahan permainan tersebut. Kami berdua telah mereguk kenikmatan bersama.
»» Baca selengkapnya.....

Wanita-wanita yang Haus Sex

Nama saya Erwin (23 tahun), WNI keturunan yang tinggal di Bandung dan kuliah ekonomi manajemen di Universitas Maranatha. Kuliahku agak tersendat karena keranjingan membantu orang tuaku menjalankan usaha percetakan keluarga kami, jadi SKS-nya kuambil sedikit-sedikit biar tidak semerawut. Dalam materi aku sama sekali tidak ada masalah, begitupun halnya dalam pergaulan, statusku membuat orang-orang mudah dekat denganku, terutama wanita, sudah beberapa kali aku gonta-ganti pacar dan hampir semua pernah ML denganku. Orang tuaku sudah mempercayai perusahaan ini sepenuhnya padaku sehingga mereka bisa menikmati hari tuanya dengan santai dengan bepergian ke luar negeri atau mengunjungi sanak saudara lainnya. Aku mempunyai seorang cici yang sudah menikah dan ikut suaminya, jadi sekarang aku tinggal sendirian di rumah yang megah ini mengurus bisnis sekaligus kuliah.

Kejadian gila ini terjadi pada bulan Agustus 2006 yang lalu. Waktu itu aku baru putus dengan pacarku, dalam kesepian itu kalau sudah tidak ada kerjaan aku menghibur diriku dengan nonton bokep, clubbing (tapi tidak sering karena besoknya harus bangun pagi-pagi, malu dong bos kesiangan), ataupun main internet berjam-jam. Suatu hari aku membaca cerita-cerita ah-uh.tk, disitu aku menemukan hiburan yang menggairahkan, aku sangat terkesan dengan cerita-cerita karya penulis wanita seperti Lily Panther, Citra Andani, Dania, Deknas, dll dimana wanita-wanita itu terlibat dalam seks liar, ternyata wanita jaman sekarang tidak kalah berani dari pria. Lalu aku sampai pada cerita berjudul "Kejutan Untuk Teman-temanku" yang memberiku inspirasi mengadakan acara gila ini.
Terbayang-bayang dalam pikiranku dimana cewek putih cantik, sexy, dan imut dikerjai
oleh cowok-cowok kasar, tua, hitam, dan jelek yang statusnya lebih rendah darinya, sungguh suatu kekontrasan seks yang menggairahkan.

Aku kemudian mulai memikirkan rencana untuk mewujudkan fantasi liarku,
rencanaku mencari cewek-cewek dari kalangan teman-temanku untuk diadu dengan buruh-buruh bawahanku. Yang pertama harus kulakukan adalah mencari ceweknya dulu, karena cukup sulit dan perlu lobi-lobi yang jitu, kalau untuk prianya itu sih nanti saja, kemungkinan menolaknya pasti kecil, cuma satu banding sepuluh. Besoknya aku kuliah siang dan membicarakan hal ini dengan seorang teman wanita yang pernah ML denganku, hasilnya nol, ditolak mentah-mentah. Aku jadi malu dan hampir mengurungkan niatku, tapi bintangku mulai bersinar di waktu malam ketika ngedugem, di sana
aku bertemu Santi (22) dan Sandra (22) yang juga sefakultas denganku, mereka akrab denganku maka aku tanpa tendeng aling-aling mengutarakan maksudku pada mereka. Mulanya mereka merasa risih dengan ideku, tapi setelah susah payah kurayu-rayu, akhirnya Santi bangkit juga gairahnya membayangkan hal itu, sedangkan Sandra, meskipun masih ragu-ragu, akhirnya mengiyakan juga karena kudesak terus (duh…kaya salesman aja nih !).
Setelah puas ngedugem, aku mengantar Santi pulang (Sandra naik mobil sendiri), sambil menyetir Santi sempat mengoralku sampai keluar dan dihisapnya habis.

Berikutnya aku mencari seorang lagi untuk lebih meriah, kutelepon beberapa teman yang pernah kencan denganku dan mereka-mereka yang bispak (bisa pakai). Dari tiga orang yang kuhubungi akhirnya ada juga yang setuju yaitu Ivana (23), mahasiswi Sastra Inggris yang pernah pacaran singkat denganku, kebetulan waktu itu dia baru putus dengan pacarnya.
Phew…akhirnya jerih payahku dengan menebalkan muka tidak sia-sia. Kini tinggal
mencari cowoknya, aku keliling pabrikku untuk menyeleksi kandidat yang pas, lima orang saja kurasa cukup, kalau terlalu banyak takutnya berabe, bisa ada kasak-kusuk ga enak. Sebentar saja aku sudah mendapatkan lima kandidat itu, pilihanku jatuh pada : Pak Andang, seorang buruh tua berumur lima puluhan yang telah bekerja sejak usaha kami masih kecil-kecilan, kurasa pantas dia menerima hadiah ini mengingat pengabdiannya, meskipun berusia senja dan sudah mulai beruban, tubuhnya masih tetap fit karena terbiasa kerja keras; Pak Usep, usianya sebaya dengan Pak Andang, sudah menduda, jadi kupikir inilah saatnya sekali-sekali memberi upah biologis padanya; Mang Nurdin, berusia empat puluhan, badannya kekar dan berisi, inilah yang menjadi pertimbanganku memilih dia; Mang Obar, tiga puluhan, tampangnya mirip tikus dengan kumis tipis, kurus tinggi seperti pohon kelapa; Endang, paling muda dari kelimanya, baru dua puluh tiga tahun, bekerja disini baru setahun lebih, tapi rajin dan kerjanya
bagus, patut mendapat hadiah ini.

Seusai jam kerja aku memanggil mereka untuk bertemu secara pribadi di kantorku. Awalnya mereka bingung kok dipanggil mendadak seperti ada salah saja. Namun setelah aku menjelaskan maksudku selama beberapa menit, mereka hampir terlompat, antara kaget dan senang, seperti tidak percaya apa yang baru kutawarkan.
"Hah, serius nih tuan ?" Pak Andang dan Mang Obar bertanya hampir bersamaan
"Iya, siapa yang main-main, pokoknya kalian tinggal datang dan nge-jos,
apa-apanya saya yang atur, dan satu hal lagi jangan sampai ada yang tau lagi selain kita, atau tidak sama sekali" jawabku meyakinkan.
Seperti yang kuduga, tak satupun dari mereka ragu atau menolak, tidak sesulit mengajak para ceweknya. Ya, sifat dasar pria lah, siapa sih yang bisa melewatkan kesempatan emas gini lalu begitu saja, apalagi kalau soal perempuan, bahkan Raja Daud yang bijak itu saja tidak bisa menghindar dari godaan seksual, ya kan !

Sebenarnya menurut rencana harusnya besok bisa mulai, tapi karena Santi meng-SMS bilang bahwa ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, terpaksa acara ditunda besok lusa. Duh, aku jadi agak bete, tidak sabar menunggu hari esok, satu jam jadi terasa setahun karena sudah kebelet. Malamnya aku sampai masturbasi saking bergairahnya, tapi sisi positif dari tertundanya acara ini aku bisa mempersiapkan segalanya lebih baik. Ketiga pembantu wanitaku kubebastugaskan hari itu, yang kebetulan sehari
sebelum hari kemerdekaan RI, kusuruh saja mereka berkunjung ke sanak saudaranya atau kemana kek, pokoknya tidak mengganggu acara gilaku. Kupompa kasur udaraku yang empuk (beli dari Dr. TV, hehe..promosi nih ceritanya?) dan kuletakkan di ruang tamu sebagai arena pertarungan nanti.

Akhirnya sampai juga hari-H itu, sekitar pukul dua siang aku sudah membereskan segala dokumen yang harus kutangani, sisanya, pekerjaan kecil lainnya kuserahkan pada staffku. Saat itu sudah ada SMS masuk dari Ivana yang mengatakan bahwa dia sudah datang dan sedang menunggu di depan kediamanku.
"Pagi-pagi amat dia datang, baru juga jam segini" pikirku. Aku pun segera menuju ke rumahku yang terletak di samping pabrik, dibatasi dua buah gerbang kayu. Aku memasuki pekarangan rumahku, disana Ivana sedang jongkok mengelus-elus si Buster, kelinci peliharaanku.
"Hoi, Na, cepat amat kesininya, kan gua bilang jam limaan sesudah bubar kerja" sapaku
"Tanggung, kalo pulang, nanti harus bolak-balik jauh lagi" jawabnya
"Naik apa kesini ?"
"Tadi nebeng si Stephanie kan dia di Lingkar Selatan sana"
Hari itu Ivana terlihat cantik sekali, kaos ketatnya tanpa lengan dan celana panjang sedengkulnya semua serba putih, rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Walaupun pernah putus denganku akibat ketidakcocokan sifat, namun kami masih berteman baik, bahkan terkadang kita melakukan hubungan badan. Secara fisik, dia termasuk perfect, buah dadanya sedang saja, standar cewek Asia, tubuhnya langsing bak biola, dia juga jago dancing dan piano.

Kuajak dia masuk ke rumah, disana kami menonton DVD Troy sambil
ngobrol dan makan snack menunggu waktu bubaran pabrik. Ketika film lagi seru-serunya, tiba-tiba intercom berbunyi, ada urusan di pabrik yang memintaku datang.
"Gimana sih nih orang-orang, masih butuh gua juga !" omelku dalam hati
"Lu nonton sendiri dulu, gua ada perlu dulu nih, sori yah"
Huh, ternyata cuma ada dokumen yang perlu kutandatangan, cuma itu saja,
itulah kenapa aku tidak mengatur acaranya jam segini, ya banyak gangguan seperti ini loh. Aku memeriksa sejenak kegiatan di pabrik, setelah yakin tidak ada apa-apa lagi aku pun kembali ke samping. Waktu keluar dari sana, kulihat Vios hitamnya Santi sudah ada di halaman pabrik. Aku menengok arlojiku, wah…sudah mau jam setengah lima, ga kerasa ya, cepat amat, berarti sebentar lagi pesta gila-gilaan ala Kaisar Caligula akan segera dimulai hehehe…aku jadi ngeres.

"Lho, si Santi mana, tadi ada mobilnya di depan ?" tanyaku pada Ivana karena tidak melihat Santi di rumah
"Tuh, lagi ke WC, masih lama ga nih acaranya Win, gua udah deg-degan nih ?" tanyanya
"Bentar lagi kok, jam lima baru bubar, rileks aja Na, ga usah tegang gitu, ntar juga enjoy" kataku
"Yo, San darimana aja, you are so hot today !" sapaku begitu keluar dari kamar mandi
Waktu itu Santi memakai tank-top merah yang talinya diikat ke leher dan membiarkan setengah punggungnya terbuka. Bawahnya memakai rok yang mini dari bahan jeans ungu memamerkan pahanya yang putih mulus. Aku terpana beberapa detik menatap tubuh mulus Santi yang tinggi semampai (170cm), wajahnya cantik ala oriental namun ekspesinya agak dingin, sehingga sering terkesan jutek bagi yang belum kenal dekat dengannya, tapi kalau akrab dia enak diajak bicara, blak-blakan dan pendengar yang baik,
setahuku dia ini orangnya pilih-pilih dalam memilih patner sex, tapi mau saja menerima tantanganku ini, entah dia yang kepingin atau diplomasiku yang hebat.
"Dari rumahlah, masa dari kampus pake baju glamor gini, eh tinggal si Sandra ya yang belum ada ?" jawabnya
"Iya belum tuh, ga ada berita lagi, tadi gua telepon HPnya ga dinyalain"

"Lu pake ginian bikin gua kepanasan nih San" kataku sambil memandangi dirinya, dibalik celanaku, adikku juga mulai bangun.
Tak dapat menahan diri lagi, langsung kupeluk tubuh Santi, tanganku menggerayangi pahanya sambil menyingkap roknya, lalu telapak tanganku bergerak ke belakang meremas pantatnya yang montok.
"Nngghh…buru-buru amat sih, ntar aja ah !" katanya antara menolak dan menerima
"Sori San…dikit aja, lu bikin gua nafsu sih" sahutku seraya memagut lehernya
Rambutnya yang pendek model Utada Hikaru memudahkan aku menjilati lehernya yang jenjang hingga ke tenguknya. Dari sana bibirku menjelajah secara erotis ke dagu, pipi, hingga mencaplok bibirnya yang tipis. Dengan kedua tangan meremas pantatnya, aku menciuminya dengan panas, nafas kami yang memburu terasa pada wajah masing-masing. Perhatian Ivana pada layar TV jadi tersita ke arah mantan pacarnya yang berciuman dengan penuh gairah dengan temannya. Dia menatapi kami tanpa berkedip dan terlihat gelisah, tangannya secara sembunyi-sembunyi meremas payudara sendiri. Aku yakin cintanya padaku masih tersisa sedikit walaupun cuma lima persen, dan hal itu tentu menimbulkan sensasi cemburu yang membuatnya horny.

Santi pun mulai merespon dengan meremas selangkanganku yang sudah menonjol. Lagi enak-enak ber-French kiss, tiba-tiba bel musikku berbunyi, kami melepaskan diri. Hhmm…siapa ya, Sandra atau para bawahanku ? Pintu kubuka, ternyata para buruhku, lima-limanya pula, aku memberitahukan bahwa cewek-ceweknya sudah datang tapi dari tiga baru dua yang datang, kuminta agar mereka bisa berbagi jatah dengan adil.
"Ini beneran kan tuan ? kita ga usah keluar uang kan ?" si Endang seakan masih tak percaya, aku cuma mengangguk meyakinkannya
"Udahlah ga usah banyak bacot, enjoy aja euy !" Pak Usep menepuk punggung pemuda itu
Kubawa mereka ke ruang tengah dan kupertemukan dengan para cewek. Ivana terlihat nervous, dia tetap duduk di sofa dan memberi senyum dipaksa ketika kuperkenalkan buruh-buruhku satu persatu. Sedangkan Santi, meskipun agak gugup, namun lebih luwes, dia berdiri menyambut kedatangan mereka bahkan menyalami mereka waktu keperkenalkan. Ketika Mang Obar dengan nakal mencolek pantatnya pun, dia membalasnya dengan senyum menggoda.

Setelah saling kenal dan basa-basi sejenak kupersilakan mereka memilih sesuai selera mereka, dengan ini pesta resmi kubuka. Pak Usep dan Endang sepertinya lebih memilih Ivana, merekapun menghampirinya dan duduk disofa mengapit kanan dan kirinya. Sedangkan sisanya yang memilih Santi mulai berdiri mengerubunginya. Aku sendiri duduk di sebuah sudut yang strategis untuk menyaksikan the hottest live show ini.
Nah, pembaca, dari sini aku sempat bingung bagaimana menguraikan kedua adegan ini secara lengkap dan detail, karena tidak seru kan kalau aku hanya menguraikannya sekilas-sekilas. Akhirnya setelah kupikir-pikir aku memutuskan menceritakannya per adegan plus berdasarkan penuturan mereka, supaya lebih fokus dan pembaca pun turut menghayati kenikmatan yang kurasakan waktu itu, semoga metode berceritaku ini memuaskan pembaca sekalian, aku akan memulainya dengan adegan Santi. (beberapa dialog disini, terutama yang diucapkan para buruhku adalah dalam Bahasa Sunda, sebenarnya aku lebih sreg menuliskan seperti aslinya, namun mengingat pembaca ah-uh.tk bukan cuma dari Jawa Barat, juga peraturan dari admin yang mengharuskan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka aku harus taat sama aturan mainnya)

Santi dikerubungi ketiga orang itu Santi nampak tegang, namun dia menutup-nutupi ketegangan itu dengan senyumannya dan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, terkadang mereka mengajukannya pertanyaan nakal yang membuat wajahnya memerah tersipu-sipu. Pak Andang mulai berani mengelusi punggung Santi yang terbuka.
"Eeemm…geli Pak !" desahnya menggoda.
"Masa digituin aja geli sih Neng, gimana kalo diginiin ?" Mang Obar meremas payudaranya.
Tangan-tangan kasar itu mulai menggerayanginya. Mang Nurdin juga mulai merayapi lekuk tubuh Santi sambil menyingkap rok mininya, paha mulus itu dia raba-raba, tangannya makin merayap ke atas hingga menyentuh selangkangan Santi yang masih tertutup celana dalam biru langit.

"Bapak buka bajunya ya Neng"
Tanpa menunggu jawaban Santi, Pak Andang membuka tali leher yang menyangga pakaiannya. Santi tidak memakai bra karena tank top itu mempunyai cup dada didalamnya sehingga begitu melorot payudara montok dengan puting kemerahan itu langsung terekspos. Pak Andang dan Mang Obar mencaplok masing-masing kiri dan kanannya. Mang Nurdin kini berjongkok sedang mengagumi keindahan paha Santi yang jenjang dan mulus itu, tangannya tak henti-hentinya mengelusi paha itu.
"Neng, pahanya mulus amat…putih lagi" puji Mang Nurdin sambil menjilatnya.
Yang tak kalah menarik tentu bagian pangkalnya dan kini tangan Mang Nurdin telah sampai kesitu membelai kemaluannya dari luar, jari-jarinya lalu menyusup lewat tepi celana dalamnya. Mang Obar mengenyot payudara kanannya. Santi menengadah dengan mata terpejam, mulutnya mengap-mengap mengeluarkan desahan. Dia telah mabuk birahi, tubuhnya menggelinjang saat Mang Nurdin menggosok vaginanya dengan jari-jarinya sampai terlihat bercak cairan vaginanya di tengah celana dalamnya.

"Pak Andang, disana aja atuh, cape dong berdiri melulu ?" kataku menunjuk kasur pompa yang terletak tak jauh dari situ.
Mereka pun menggiring dan merebahkan tubuh Santi di kasur empuk itu,
lalu pakaiannya dilucuti satu persatu hingga tak tersisa apapun lagi di tubuhnya. Tampaklah tubuh mulus Santi yang berpayudara kencang, berperut rata, dan kemaluannya yang masih rapat ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan tercukur rapi. Setelah menelanjanginya, mereka juga membuka baju masing-masing. Tiga batang kemaluan mengarah padanya bak meriam yang siap menembak, Santi sampai terpana menatap ketiga senjata yang akan segera 'membantainya' itu. Ketiganya kembali mengerubungi Santi yang terlihat nervous dengan menutupi kemaluan dan payudaranya dengan tangan.
"Hehehe…si neng malu-malu gini bikin saya tambah nafsu aja ah !" kata
Mang Nurdin mengangkat tangan kiri Santi yang menutup payudaranya.
"Wah ternyata bodynya amoy bagus banget ya!" kata Mang Obar yang tangannya mulai menjelajahi tubuh mulus itu.

Pak Andang menciumi payudara kanannya sambil tangannya meraba-raba kemaluannya. Dijilatinya seluruh gunung itu sampai basah lalu dengan ujung lidahnya dia main-mainkan putingnya. Jantungku berdebar-debar dan mataku melotot menyaksikan adegan itu, ditambah lagi adegan pada sofa di hadapanku dimana tubuh telanjang Ivana sedang dijilati dan digerayangi.
Aku membuka celana pendekku dan mengeluarkan penisku lewat pinggir celana dalam lalu mulai memijatnya, ini jauh lebih spektakuler dari film bokep dengan artis tercantik sekalipun. Mang Nurdin mencium dan menjilat leher jenjang Santi sambil mengusap-usap payudara satunya, lalu ciumannya bergerak ke atas menggelikitik kupingnya menyebabkan Santi menggeliat dan mendesah nikmat. Dari telinga mulut Mang Nurdin memagut bibir Santi, mulut lebar dengan bibir tebal itu seolah mau menelan bibir Santi yang mungil lagi tipis. Sekonyong-konyong terdengar kecipak ludah dari lidah mereka yang beradu. Santi nampak sudah tidak merasa risih lagi, yang dirasakannya sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu akan pengalaman barunya ini, terlihat dari matanya yang terpejam menghayati permainan ini. Sikapnya yang semula pasif mulai berubah dengan meraih penis Mang Nurdin dalam genggamannya.

Mang Obar sedang berlutut diantara kedua paha Santi, tapi dia belum juga mencoblosnya. Agaknya dia masih belum puas bermain-main dengan tubuh mulus itu. Sekarang dia sedang membelai-belai tubuh bagian bawahnya, terutama pantat dan kemaluannya. Dia mengangkat paha kiri itu, lalu menciumi mulai dekat pangkalnya, terus turun ke betis, pergelangan, dan akhirnya dia emut jari kaki yang lentik itu. Lagi enak-enak nonton live-show sambil ngocok, tiba-tiba ada SMS masuk, kuraih HP-ku, oh…si Sandra, hampir lupa aku sama anak ini saking asyiknya, pesannya berbunyi demikian :

"Win, pstanya jd g? psti lg asyk y? sori nih tlat, td diajak tmn jln2 sih, kl stgh7 gw ksana msh bsa g?"

Brengsek bikin orang nunggu aja, mana datangnya telat banget lagi, tapi aha…terbesit sebuah cara untuk menghukumnya, hihihi…aku nyeringai sambil mereply SMS-nya
"Gile tlat amt sih, y dah u dtg aja, mngkin msh kburu, kl g kta skalian
mkn mlm aja, ok"

Wow, kini Santi sedang menjilati secara bergantian penis Pak Andang dan Mang Nurdin yang berlutut di sebelah kiri dan kanan kepalanya. Sementara itu Mang Obar menjilat serta menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam vagina Santi, rangsangan itu membuatnya sering mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepala Mang Obar. Kini Santi membuka mulut dan mendekatkan kepalanya pada penis Pak Andang, setelah masuk ke mulutnya, dia mulai
mengulum benda itu dengan nikmatnya sambil tangan kanannya mengocok pelan penis Mang Nurdin. Tak lama kemudian Mang Obar menghentikan jilatannya dan merentangkan paha Santi lebih lebar, dia bersiap memasukkan penisnya.
Santi juga menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis yang makin mendekati bibir vaginanya dengan deg-degan.
"Pelan-pelan yah Mang, saya takut sakit abis kontol Mang gede gitu !" ucap Santi memperingatkan
"Tenang aja Neng, Mamang ga bakal kasar kok !" hiburnya sambil mengarahkan senjatanya ke liang senggamanya.

Nampaknya Mang Obar kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vagina Santi karena ukurannya itu, maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong.
"Aakkhh…nggghhh…sakit !" rintih Santi menahan rasa nyeri, padahal penis itu belum juga masuk seluruhnya
"Masa pelan gitu sakit sih Neng ?" kata Pak Andang yang memegangi tangannya sambil membelai payudaranya
"Mungkin si Neng aja yang memeknya kekecilan kali !" sahut Mang Nurdin cengengesan.
"Aaaaahhh…" jeritnya saat Mang Obar menghentakkan pinggulnya ke depan hingga penisnya terbenam seluruhnya ke dalam liang itu.
Selanjutnya, tanpa ampun dia menggenjotnya dengan buas tanpa menghiraukan perbandingan ukurannya dengan vagina Santi. Sementara di kiri dan kanannya kedua orang itu tak pernah berhenti menggerayangi tubuhnya. Mang Nurdin dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kanannya yang disedot dan dikulum dengan rakus. Pak Andang menelusuri tubuh itu dengan lidahnya, bagian-bagian sensitif tubuh Santi tidak luput dari jilatannya. Santi mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya, tubuhnya menggelinjang hebat.

Sebentar saja Santi sudah mencapai klimaks, badannya menegang dan menekuk ke atas, desahannya makin hebat. Namun Mang Obar masih belum keluar, dia menaikkan kedua betis Santi ke bahunya dan memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak. Akhirnya dia menggeram dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Santi, cairan itu nampak menetes dari daerah itu bercampur dengan cairan kewanitaannya. Santi hanya sempat beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran Pak Andang mencicipi
vaginanya. Mula-mula dia meminta Santi membasahi penisnya dulu, setelah dikulum sebentar, dia menindih Santi sambil memasukkan penisnya, pinggulnya mulai bergerak naik-turun diatas tubuhnya, Santi yang gairahnya mulai pulih juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Pak Andang melumat bibir mungil Santi yang mengap-mengap itu meredam desahannya. Waktu itu aku sudah keluar sekali, kuambil tissue mengelap tanganku yang basah. Mang Obar mengambil aqua gelas yang kusiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa sebelahku.
"Gimana Mang, sip ga ?"
"Enak banget Bos, Mamang ga pernah mimpi bisa dapet kesempatan ini,
sering-sering bikin yang kaya gini ya!" komentarnya dengan antusias
"Tenang Mang, jangan boros tenaga dulu, ntar masih ada satu lagi loh !"
nasehatku, kemudian aku menjelaskan apa yang harus dilakukan pada Sandra kalau dia datang nanti.

Pak Andang tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Santi kini diatasnya. Dia lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya diatas penis yang mengacung bagai pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya sehingga penis itu mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya. Mang Nurdin berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke mulutnya. Santi mulai menjilatinya dimulai dari
kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu, buah zakarnya yang
besar dia emut beberapa saat.
"Uuuhh…ayo Neng, enak gitu…mmm !" desah Mang Nurdin
Semakin hanyut dalam lautan birahi, Santi tidak malu-malu lagi mengemut
penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang-goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya, dengan gemas Pak Andang menjulurkan kedua tangannya mencaplok gunung kembar itu serta meremasnya.

Saat itu Endang baru saja selesai dengan Ivana, setelah menyemprot perut Ivana dengan spermanya dia minum dulu dan langsung menuju Santi, sementara itu Mang Obar mulai mencicipi Ivana. Endang duduk di sebelah kanannya dan meminta ijin Pak Andang yang sedang menguasai kedua payudaranya untuk memberinya jatah satu saja. Sepertinya dia menggigit putingnya karena badan Santi mengejang dan mendesah tertahan di tengah
aktivitasnya mengoral Mang Nurdin, dia mengenyot dan kadang menarik-narik puting itu dengan mulutnya.
"Ooohh…isep Neng…iseepp !!" tiba-tiba Mang Nurdin mendesah panjang dan makin menekan kepala Santi ke selangkangannya.
Spermanya menyembur di dalam mulut Santi, mungkin karena badannya berguncang-guncang hisapan Santi tidak sempurna, cairan itu meleleh sebagian di pinggir mulutnya. Mang Nurdin beranjak pergi meninggalkan Santi setelah di cleaning service, diambilnya segelas aqua dari meja untuk diminum.

Tiba-tiba goyangan Santi makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang, kepalanya menengadah sambil mendesah panjang, kedua tangannya memegang erat lengan Pak Andang. Dia telah mencapai klimaks, tapi Pak Andang belum, dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas menusuk Santi.
Tubuh Santi melemas kembali dan ambruk ke depan menindihnya. Saat itu Endang sudah pindah ke belakangnya, dia meremas pantat yang sekal itu sambil mengorek duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang, tangannya menuntun penisnya memasuki liang dubur itu diiringi rintihan pemiliknya.
Tubuh Santi kini dihimpit kedua buruh itu seperti sandwich, kedua penis itu menghujam-hujam kedua lubangnya dengan ganas.
"Ooohh….oooh…aakkhh !" gairah Santi mulai bangkit lagi, vaginanya berdenyut-denyut memijat penis Pak Andang yang sudah di ambang klimaks.Pak Andang lalu melenguh panjang menyemburkan maninya di dalam vagina Santi akhirnya dia terbaring lemas di kolong tubuh Santi dengan nafas terengah-engah.

Setelah ditinggalkan Pak Andang, Santi cuma melayani Endang saja, namun pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga dia menjerit-jerit.
Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung di remas dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai keduanya klimaks, sperma Endang tertumpah di pantatnya sebelum keduanya ambruk tumpang tindih. Keadaan Santi sudah babak-belur, tubuhnya bersimbah peluh, bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus, sperma bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Aku jadi kasihan melihatnya, maka aku menghampirinya dengan membawa air dan tissue. Kuangkat tubuhnya dan kusandarkan pada lenganku, dengan tissue kuseka keringat di dahinya, minuman yang kuberikan langsung diteguknya habis.
"Udah ya San, kalau dah ga kuat jangan dipaksain lagi, ntar pingsan lu!" saranku
Namun dia cuma tersenyum sambil menggeleng, ga apa-apa katanya cuma perlu istirahat sedikit, dia juga bilang rasanya seperti diperkosa massal saja barusan itu. Waktu itu Pak Usep menghampiri kami bermaksud menikmati Santi, tapi kusuruh dia bersabar karena kondisinya belum fit.

Karena tubuh Santi yang sudah lengket-lengket itu, aku menyuruhnya mandi agar lebih segar. Setelah agak pulih, kubantu dia berdiri dan memapahnya ke kamar mandi, kunyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum keluar kami berpelukan, kucium dia sambil mengorek vaginanya dengan dua jari, cairan sperma meluber keluar begitu kukeluarkan tanganku, sehingga aku harus cuci tangan.
"Dah mandi dulu yang bersih, supaya nanti siap action !" kataku
Dia cekikikan sambil menyeprotkan shower ke arah kakiku, aku melompat kecil dan keluar sambil tertawa-tawa. Begitu aku keluar, waw…gile, Ivana mantan pacarku itu sedang dikerjai kelima orang itu, dia sudah tidak di sofa lagi, melainkan sudah di lantai beralas karpet, the hottest gangbang i've ever seen ! Untuk lebih lengkapnya lebih baik kita ikuti kisah Ivana dari awal.

Ivana, Endang dan Pak Usep duduk mengapit Ivana masing-masing di kanan dan kirinya. Ivana terlihat tegang sekali beberapa kali dia memanggil-manggil namaku.
"Kenapa Na, kok sekarang tegang gitu katanya mau ngebalas pacarlu itu!" kataku
"Oh, jadi Neng udah punya pacar yah !" kata Pak Usep
"Ngga, baru putus kok" jawabnya malu-malu
"Putusnya kenapa Neng ?" tanya Endang
Ivana cuma menggeleng tanpa menjawabnya.
"Udah ah lu, kalau ga mau dijawab jangan maksa !" kata Pak Usep pada rekannya
"Eh, Neng sama pacar yang dulu pernah ngentotan ga ?" tanya Endang cengengesan
Rona merah jelas sekali pada wajah Ivana yang putih mulus, dia hanya mengangguk pelan sebagai jawabnya sambil tersenyum malu-malu.

"Kalo gitu pernah diginiin dong Neng hehehe !" Pak Usep tertawa-tawa meremas buah dada Ivana.
"Diginiin juga pernah !" Endang meraih selangkangannya dan meremasnya dari luar.
Ivana menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. Pak Usep makin gemas memijati payudaranya, si Endang sengaja meniupkan udara ke kupingnya untuk memambangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil tangannya membantu Pak Usep meremas payudara yang satunya. Ivana hanya diam menikmatinya dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap kaosnya, Ivana sepertinya menurut saja, dia mengangkat lengannya membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana
panjang selututnya.
"Ini dibuka aja ya Neng" pinta Endang
Ivana mengangguk, maka Endang pun dengan cekatan membuka bra-nya
sehingga dia telanjang dada. Endang langsung melumat yang kanan dengan rakus.
"Pentilnya bagus ya Neng, kecil, merah lagi" komentar Pak Usep sambil
memilin-milin putingnya

Pak Usep menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang Ivana membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya dengan mengecup lehernya membuat tanda kemerahan disitu, rambut Ivana yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu.
Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kirinya dan pelosok tubuh lainnya. Mendadak Pak Usep menghentikan kegiatannya dan memanggil Endang yang lagi asyik nyusu dengan mencolek kepalanya.
"Eh, Dang, kita taruhan yu, yang menang boleh ngentot si Neng duluan !" tantangnya
"Taruhan apaan Pak, saya mah ayu aja"
"Coba tebak, si Neng ini jembutan ga ?" tanyanya dengan nyengir lebar
Muka Ivana jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini, aku juga jadi terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarku ini dikerjai orang lain.
"Hmmm…ada ga Neng ?" tanya Endang sambil menatapi selangkangan Ivana
"Eee…nanya lagi, orang disuruh tebak !" omel Pak Usep menyentil kepalanya Ivana senyum mesem dan menjawab tidak tahu menjawab si Endang.

"Ada aja deh !" tebak si Endang
"Yuk kita tes, bener ga !" kata Pak Usep dengan menyusupkan tangannya ke balik celana Ivana
"Eemmhhh…" desis Ivana saat merasakan tangan Pak Usep merabai kemaluannya
"Weleh…sialan, bener juga lu Dang !" gerutunya karena ternyata kemaluan Ivana memangnya berbulu, lebat lagi.
Endang tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan tubuh Ivana. Merekapun kembali menggerayangi tubuhnya. Tangan Pak Usep tetap didalam celananya mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi. Endang mulai membuka sabuk yang dikenakan Ivana dan menurunkan resletingnya, sebelumnya dia menyuruh Pak Usep menyingkirkan tangannya dulu.
Cairan vagina membasahi jari-jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Endang turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk menarik lepas celana Ivana. Tampak kemaluan Ivana dengan bulu-bulu yang tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Jadilah Ivana telanjang bulat terduduk separuh berbaring di sofa.

Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka. Si Endang masih berjongkok di antara kedua paha Ivana, tentu dia bisa melihat jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi demikian.
"Duh, cantik banget sih Neng ini, bikin saya ga tahan aja !" kata Pak Usep sambil mendekap tubuhnya.
Bibirnya mencium pipi Ivana, lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu, belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya. Wajah Endang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. Tubuh Ivana bergetar ketika jemari Endang mulai menyentuh bibir kemaluannya, pasti dia bisa merasakan nafas Endang menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Endang membuka kedua
bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana yang sedang dilumat Pak Usep, keringatnya mulai bercucuran.
"Wah…asyik, saya baru pernah liat memeknya amoy, dalemnya merah muda, seger euy !" komentar Endang mengamati vagina itu.

"Pak Usep, mau liat ga nih, bagus banget loh !" sahut Endang padanya
"Hmmm…iya bagus ya, kamu aja dulu Dang, saya mau netek dulu !" kata
Pak Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya, waktu dia keluarkan cairan lendirnya menempel dijari itu.
Pak Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik menuju putingnya, dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin-milin putingnya yang lain.
"Hhhnngghh…Mang, oohh !" Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala Pak Usep.
Ivana makin menggelinjang saat wajah Endang makin mendekati selangkangannya dan
"Aaaahh…!" desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua pahanya mengapit kepala Endang.
Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya, klitorisnya tak luput dari lidah itu, sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan saling bersahut-sahutan dengan desahan Santi yang saat itu baru ditusuk Mang Obar.

"Oi, kalian berdua kok belum buka baju sih, kasih liat dong kontolnya ke Neng Ivana pasti dah ga sabar dia !" kataku pada Endang dan Pak Usep.
Pak Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil, dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu memamerkannya pada Ivana
"Nih, Neng kontol Mamang gede ya, sama pacar Neng punya gede mana ?" tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu
"Gede yah Mang…keras" jawab Ivana yang tangannya sudah mulai mengocoknya
Ivana yang tadinya malu-malu hilang rasa malunya saking terangsangnya, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar, yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu.
Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Endang masih seperti kelaparan, belum berhenti menjilati vaginanya sementara Ivana sudah mengapir dan menggesek-gesekkan pahanya pada kepala Endang menahan birahinya yang meninggi.

"Cepetan dong, kan kamu harusnya nusuk duluan, kalo ngga mau saya tusuk juga nih !" kata Pak Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana.
"Iya sabar atuh Pak, ini udah mau nih" kata Endang yang mulai menanggalkan pakaiannya
"Yuk Neng, basahin dulu nih…isep !" dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil memegangi kuncirnya.
Ivana agak ragu memasukkan penis Endang, mungkin agak jijik kali belum pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Endang terus mendesaknya, apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk. Sebentar kemudian Endang mengeluarkan penisnya, diangkatnya kaki Ivana ke sofa sehingga dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Usep.
Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.

"Aaakkhh…!" demikian keluar dari mulutnya hingga penis Endang mentok ke dalam vaginanya.
Endang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama makin cepat. Endang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai, kedia tangannya memegangi betis Ivana.
"Ah-ah-ah….uuhh…!!" desah Ivana dengan mata terpejam
"Enak ya Neng ?" kata Pak Usep dekat telinganya
Sejak Endang menggenjot Ivana, Pak Usep terus saja menyangga tubuhnya
sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan
jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas
kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena
daritadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis Pak Usep,
dia mengocok-ngocok penis itu karena hornynya. Kedua kakinya menjepit
pinggang Endang, seolah minta disodok lebih dalam lagi.

Tanpa mencabut penisnya, Endang memiringkan tubuh Ivana sehingga
posisinya berbaring menyamping, satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow…seru
sekali melihat paha Endang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan
penisnya keluar masuk dari samping. Pak Usep menempelkan penisnya ke wajah
dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat
risih memasukkan benda itu dalam mulutnya, hanya berani mengocoknya dengan
tangan, sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Endang di
mulutnya tadi, belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak
terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu, dan dia juga
tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri, makannya
dia tidak pernah mau ngeseks dengan orang-orang kaya gitu, cukup kali
ini saja, pertama dan terakhir demikian tegasnya.
"Jilatin dong Neng, jangan cuma main tangan aja !" pinta Pak Usep tidak
sabar merasakan mulutnya
"Ngga Mang…jijik…ga mau..ahh !" gelengnya dengan sedikit mendesah.
"Lho, gimana sih si Neng ini, tadi kan dia dikasih, masa saya ngga ?"

"Ayo dong Neng, sebentar aja kok !" Pak Usep terus mendesak dengan
menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan
tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana, karena
mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Usep
menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya dimulut, Pak Usep memaju-mundurkan
kepalanya dengan menjambak kuncirnya.
"Emmhh..eehmm…Mang…saya…mmm !" Ivana berusaha protes tapi malah
tersendat-sendat karena terus dijejali penis.
"Mmmm…gitu dong Neng baru namanya anak manis, udah lama Mamang ga
diginiin uuh !" Pak Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana.
Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu, pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU, tapi sekarang berbeda, aku malah terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku makin cepat mengocok penisku, apalagi waktu itu Santi juga sedang main kuda-kudaan diatas penis Pak Andang sambil mengoral penis Mang Nurdin dengan bernafsu.

Akhirnya Ivana orgasme duluan, badannya berkelejotan dan mulutnya terdengar erangan tertahan. Pak Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu penisnya membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh.
Badannya menegang beberapa saat lamanya, Pak Usep menambah rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Endang pun menyusul sekitar tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Sambil orgasme dia memegang erat-erat lengan kokoh Pak Usep yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu. Si Endang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia langsung beralih ke Santi seperti yang telah kuceritakan di atas, posisinya segera digantikan Mang Obar yang baru recovery setelah istirahat. Pak Usep memberikan
minum pada Ivana mengambilkan tissue mengelap keringatnya.
"Euleuh…si Endang teh gimana, buang peju sembarangan aja !" gerutu
Mang Obar yang baru tiba melihat ceceran sperma di perut Ivana.
Pak Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih, Ivana juga ikut tertawa kecil.
"Udah, gampang Mang, dibersihin aja kan beres !" hiburku padanya

Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap Pak
Usep, mulutnya berpindah-pindah antara payudara kiri dan kanan.
"Ooohh…oohhh !!" desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan
ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Obar.
Tangan satunya di bawah sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal,
diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat
tangannya merayap ke kemaluan, tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan
jari Mang Obar yang mengusap-usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di
belakangnya, Pak Usep sangat getol mencupangi leher, tenguk dan bahunya.
"Hehehe…liat nih udah basah gini !" sahut Mang Obar mengeluarkan
jarinya dari vagina Ivana "Emm…enak pisan !" dijilatinya cairan yang
blepotan di jari itu
Kemudian Pak Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuannya
dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vaginanya dan membuka
bibirnya

"Masukin Neng, pelan-pelan !" suruhnya
Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya,
lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam
vaginanya. Namun kerena besar penis itu baru masuk kepalanya saja, itu
sudah membuat Ivana merintih-rintih dan meringis menahan nyeri.
"Duh…sakit nih Mang, udah ya !" rintihnya
"Wah, kagok dong Neng kalo gini mah, ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok !" kata Pak Usep
"Nanti juga enak kok Neng, sakitnya bentar aja !" timpal Mang Obar
Beberapa kali Pak Usep menekan tubuh Ivana juga menghentakkan pinggulnya, akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya, mata Ivana sampai berair menahan sakit. Pak Usep mulai menggoyangkan tubuhnya
"Arrgghh…uuhhh…sempit amat…enak !" gumam Pak Usep di tengah kenikmatan penisnya dipijat vagina Ivana.
Sementara Mang Obar meraih kepala Ivana, wajahnya mendekat dan
hup…mulut mereka bertemu, lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Ivana,
dia hanya pasrah saja menerimanya, dengan mata terpejam dia coba menikmatinya lidahnya, entah secara sadar atau tidak turut beradu dengan lidah lawannya.

Limabelas menit lamanya batang Pak Usep yang perkasa menembus vagina
Ivana, runtuhlah pertahanan Ivana, sekali lagi badannya mengejang dan
mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis Pak Usep dan sofa di
bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). Ivana memeluk
erat-erat kepala Mang Obar yang sedang mengenyot payudaranya.
Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Ivana, rupanya
Pak Usep juga telah orgasme. Desahan mereka mulai reda, keduanya
melemas kembali. Nampak olehku ketika Pak Usep melepas penisnya, dari vagina
Ivana menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cintanya. Waktu
beristirahat baginya cuma sebentar karena Mang Obar langsung menyambar
tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan.
Segera saja tubuhnya memacu naik-turun diatasnya. Ivana menggelinjang
setiap kali dia menghentakkan tubuhnya. Saat itu Mang Nurdin dan Pak
Andang mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu.
Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu diatas tubuh mantan pacarku
itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.

Setelah itu aku kehilangan sedikit adegan karena sedang mengantar Santi
ke kamar mandi, maka adegan yang hilang ini kuceritakan berdasarkan
penuturan Mang Nurdin yang kuanggap paling akurat. Dari sofa, Mang Obar
menurunkan Ivana ke karpet, dia berlutut di antara paha Ivana dan terus
menyodoknya. Mang Nurdin membungkuk agar bisa mengemut payudara yang
menggiurkan itu. Pak Andang berlutut di samping kepalanya dan menjejalkan
penisnya ke mulutnya, sambil diemut dia memegangi payudara Ivana.
Endang dan Pak Usep yang nganggur kembali mendatanginya, merekapun ikut bergabung mengerjai Ivana. Tangan-tangan hitam kasar menggerayangi tubuh mulus itu, ada yang mengelus pahanya, ada yang meremas payudaranya, ada yang memelintir putingnya, beberapa diantaranya sedang dikocok penisnya oleh Ivana. Ikat rambutnya sudah terbuka sehingga rambutnya tergerai sebahu lebih. Pemandangan itulah yang kulihat ketika keluar dari kamar mandi.

Lebih dari lima menit dia menjadi objek seks kelima buruhku. Mulanya aku sangat menikmati tontonan ini, terlebih ketika sperma mereka muncrat di tubuhnya, ada yang nyemprot di dada, perut, dan mukanya. Namun aku mulai merasa kasihan ketika mereka memaksanya membersihkan penis-penis mereka dengan mulutnya, beberapa bahkan menjejalkan paksa ke dalam mulutnya, aku terpaksa turun tangan menyudahinya ketika kulihat air matanya mulai menetes. Aku tahu semasa pacaran denganku dulu dia memang tidak terlalu suka oral seks dan menelan sperma, jijik katanya, apalagi sekarang dengan yang hitam-hitam gitu, tentu saja aku tidak tega melihatnya dipaksa-paksa sampai menangis.
"Udah-udah Mang, cukup…jangan diterusin lagi, nangis nih dia !" kataku membubarkan mereka
Kemudian aku sandarkan dia di kaki sofa dan memberinya minum, kulap sperma yang membasahi mukanya. Dia memelukku dan menangis sesegukan, aku balas memeluknya dan menenangkannya, tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang masih lengket-lengket.
"Duh…maaf banget Neng, abis tadi kita kirain Neng nikmatin, ga taunya nangis beneran !" kata Mang Obar
"Iya, kalo tau Neng ga suka ngemut kontol, kita juga ga maksa, tadi Neng reaksinya malu-malu sih, jadi kita juga tambah nafsu" tambah Pak Usep

"Sori, sori, Na gua lupa bilang tadi, abis mandi lu pulang aja yah !" hiburku mengelus-elus rambutnya
"Ngga, ga papa kok Win, gua enjoy, cuma tadi gua kaget aja dipaksa-paksa gitu, gua kan ga suka oral" katanya setelah lebih tenang sambil membersihkan air mata.
Legalah kami mendengar dia berkata begitu, kami kira dia bakal trauma atau shock. Aku lalu menyuruhnya mandi dan membantunya bangkit, dia pun berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Aku dan para buruhku duduk-duduk di ruang tamu merenggangkan otot, kupersilakan mereka menyantap snack dan minuman sambil menunggu Sandra. Aku ngobrol-ngobrol tentang pendapat mereka sekalian memberi pengarahan apa yang harus dilakukan untuk menghukum Sandra yang terlambat nanti. Sandra memang bukan type yang
malu-malu seperti Ivana, tapi aku tetap harus memperingatkan mereka agar tidak bertindak kelewatan, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan gara-gara mewujudkan fantasi gilaku.
"Win, Ivana diapain aja sampe nangis gitu ?" terdengar suara Santi bertanya dari belakang, dia berjalan ke arahku dengan handuk kuning terlilit di tubuhnya, rambutnya masih agak basah
"Ga kok, cuma belum biasa dikeroyok aja, jadi sedikit…ya gitulah !" jawabku sambil meraih pinggangnya mengajak duduk di sebelahku.

Mang Nurdin mengajak Santi duduk disebelahnya saja, tapi Santi menolaknya
"Nggak ah Pak, mending simpen tenaga aja buat si Sandra !" tolaknya
Ketika kami ngobrol-ngobrol ada yang misscall ke HP-ku, si Sandra, semenit kemudian disusul bunyi bel, nah pasti ini dia, pikirku.
Aku menyuruh buruh-buruhku sembunyi di dapur dengan membawa pakaian masing-masing, aku berencana membuat surprise sekaligus hukuman baginya.
Kupakai celana pendekku untuk menyambutnya (iya dong, kalau ternyata bukan Sandra, masa aku menyambutnya memakai celana dalam).
"Hai, sori yah telat" katanya begitu pintu terbuka "gua jadi ga usah main sama buruh-buruhlu yah"
"Udah malam gini, kita baru aja bubar, masuk !" ajakku
"Ngapain aja seharian tadi ?"
"Nge-bowling di BSM, pada minta nambah game melulu sih, kan ga enak
kalo gua pulang dulu, sori banget"
Sandra orangnya cantik, rambut panjang kemerahan direbound, tinggi kurang lebih 160cm, dadanya tegak membusung 34B, lebih montok daripada Ivana dan Santi, tampangnya sedikit mirip Vivian Chow, artis HK tahun 90an itu loh, dengan modal itu dia pantas bekerja paruh waktu sebagai SPG.
Hari itu dia memakai baju putih lengan panjang dengan dada rendah dan rok selutut dari bahan jeans.

Sandra
"Hi, baru lembur nih !" sapanya pada Santi
Kubiarkan mereka berbasa-basi sebentar sampai aku menarik rambutnya dari belakang sehingga dia merintih kaget
"Udah arisannya nanti lagi, kaya ga tau lu punya salah aja !"
"Aww…aduh, ngapain sih sakit tau !" rintihnya
Mohon pembaca jangan salah paham mengira aku ini psikopat atau apa, dalam bermain sex dengannya aku memang sering memakai cara kasar, karena dia juga menikmati dikasari, cuma sebatas main jambak dan tampar sih, tidak sampai masokisme dengan pecut, lilin, dan sejenisnya. Karena dia suka variasi seks kasar inilah aku mengajukan tantangan padanya.Aku mendekapnya dan menciumi bibir dan lehernya habis-habisan sampai nafasnya mulai memburu. Dia pun mulai meraba selangkanganku. Setelah memberi syarat dengan gerakan tangan ke arah dapur, mendadak aku melepas ciumanku dan menepis tangannya dari selangkanganku

"Heh, dasar gatel, datang-datang udah pengen kontol, kalo lu mau kontol gua kasih lu lima sekaligus !" makiku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur di lantai
Dia menjerit kecil dan begitu menengok ke belakang disana sudah berdiri para buruhku yang bugil yang senjatanya sudah di reload, mengacung tegak siap untuk pertempuran selanjutnya. Sebelum sempat bangun dia sudah diterkam kelima orang itu.
"Heeaaa…sikat !" seru mereka sambil menyerbunya
"Win…sialan lu, gila !!" jeritnya
"Huehehehe…tenang San, gua masih nyisain buat lu kok, kan lu suka dikasarin, coba deh biar tau rasanya diperkosa, dijamin sensasional abis !" aku menyeringai padanya
Sandra meronta-ronta, tapi dia tidak bisa menghindar karena kedua kaki dan tangannya dipegangi mereka, malah itu hanya menambah nafsu mereka.
Mereka tertawa-tawa sambil mengeluarkan komentar jorok bagaikan gerombolan serigala melolong-lolong sebelum menyantap mangsanya.

Keributan disini memancing Ivana melongokkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi, kupanggil dia, tapi dia bilang nanti, mandinya belum selesai. Pak Usep meremasi payudaranya yang masih terbungkus pakaian
"Waw…teteknya gede nih, asyik !" komentarnya
Mang Obar dan Pak Andang yang memegangi kakinya juga tak mau kalah, mereka menyingkap roknya sehingga terlihatlah celana dalamnya yang warna hitam dan pahanya yang putih mulus, tangan-tangan mereka segera mengelus-elus pahanya dan terus naik ke pangkal pahanya, bukan cuma itu, jari-jari itu juga mulai menyelinap lewat pinggir celana dalam itu menggerayangi kemaluannya. Mang Nurdin menyusupkan tangannya lewat bawah kaosnya sehingga dada kirinya menggelembung dan ada yang bergerak-gerak. Si Endang meraih tangan Sandra dan menggenggamkannya pada penisnya.
"Kocok Neng, kocokin yang saya !" suruhnya
"Erwin…mhhpphh…Win…gua…mmm !" desahnya di tengah cecaran bibir Pak Usep yang akhirnya melumat bibirnya.

Aku menyaksikan adegan ini dari jarak satu meteran sambil duduk merangkul Santi.
"Win, dasar kelainan seks lu, tega amat lu ngeliat kita digituin tiko!" katanya sambil mencubit pahaku
"Tapi lu suka kan, gua liat tadi lu hot gitu goyangnya, ngaku lo !" sambil memencet payudaranya.
"Buka ah handuknya ngehalangin aja !" kutarik lepas handuk yang melilit badannya
"Lu juga dong buka, biar adil !" balasnya sambil melepasi pakaianku
"Sepongin San, sambil nonton si Sandra dismack down nih !" suruhku
Dengan posisi duduk di sebelahku, dia merunduk menservis penisku, jilatan dan kulumannya menyemarakkan acara yang sedang kusaksikan, seperti popcorn yang menemani nonton di bioskop. Sambil menikmati liveshow dan sepongan, tanganku memijati payudaranya dan menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya.

Rontaan Sandra semakin lemah, dia sudah pasrah bahkan hanyut menikmati ulah mereka. Aku berasumsi dia sudah tenggelam dalam hasrat seksualnya, hasrat terliar dalam dirinya, dia menikmati pagutan bibir Mang Nurdin tanpa ada paksaan, mengocok penis Endang dengan sukarela, juga ketika Pak Usep menempelkan penisnya ke mulutnya, tanpa diminta dia sudah menjilat dan mencium penis itu.
"Telanjangin euy, biar kita bisa ngeliat bodinya !" kata salah seorang dari mereka
"Iya bugilin, bugilin, ewe…ewe !!" timpal yang lain
Mereka bersorak-sorak dan mulai melucuti baju Sandra, pakaiannya beterbangan kesana-kemari hingga akhirnya tak satupun tersisa di tubuhnya yang indah selain arloji, cincin, dan gelang kakinya. Kelimanya memandangi tubuh telanjang Sandra tanpa berkedip.
"Anjrit, kulitnya mulus banget, cantik lagi !" komentar seseorang
"Wih, teteknya…jadi ga tahan pengen netek eemmm…!" sahut Mang Nurdin yang langsung melahap payudara kanannya

"Sebelah sini juga bagus" sahut Pak Andang membuka lebar kedua belah pahanya.
Bersama Mang Obar dia memandangi daerah kemaluan Sandra yang berbulu lebat dengan tengahnya yang memerah. Keduanya menjilati vaginanya yang mulai becek. Tubuhnya menggelinjang hebat merasakan dua lidah menggelikitik vaginanya. Endang menciumi leher, bahu dan sekitar ketiak, sambil jarinya memilin-milin putingnya. Pak Usep menjilati bagian pinggir tubuhnya sambil tangannya menelusuri punggung dan pantatnya. Sandra hanya bisa menggeliat-geliat dikerubuti lima buruh kasar, mulutnya mengeluarkan suara desahan. Saat itu Ivana baru selesai mandi, dia menjatuhkan
pantatnya di sebelahku, seperti Santi tadi dia juga memakai handuk melilit badannya, rambutnya masih agak basah.
"Buka ah ! ngapain sih malu-malu gitu !" kataku menarik lepas handuknya
Bekas cupangan memerah masih nampak pada kulit payudara dan lehernya yang putih, kurangkul tubuhnya yang mulus itu di sisi kiriku. Santi tidak terlalu menghiraukan kedatangan Ivana, dia terus saja menjilat penisku dengan gerakan perlahan sambil memijat lembut buah pelirnya

"Kasian ih, masa lu tega si Sandra dikeroyok gitu !" kata Ivana
"Santai aja Na, Sandra kan ga kaya lu, dia sih enjoy aja dikasarin gitu, dah biasa" jawabku santai
"Ooo…ga kaya gua yah !" sehabis berkata dia langsung menyambar putingku dan menggigitnya
"Adawww…!!" jeritku refleks menepis kepalanya.
"Jahat ih, keras gitu masa gigitnya, putus nanti" kataku mengelus-elus putingku yang
nyut-nyutan digigitnya.
Dia malah tertawa melihatku begitu, si Santi juga ikutan ketawa.
"Lho, kan ke Sandra lu bilang suka main kasar, baru digituin aja dah kaya disembelih hihihi !" Santi mengejekku
"Ini sih bukan kasar, tapi sadisme gila" gerutuku.
"Dah ah, lu terusin aja sana, jangan ngeledek ah !" kutekan kepalanya ke bawah
"Sini lo !" kusambar tubuh Ivana yang masih cekikikan ke pelukanku
Dengan bernafsu kupaguti lehernya dan payudaranya kuremas-remas sehingga dia mendesah-desah kenikmatan.

Bukan cuma menjilat, Mang Obar juga memasukkan jarinya ke liang vagina Sandra, diputar-putar seperti mengaduknya sementara lidahnya terus menjilati bibir vaginanya. Setelah puas menjilat, Mang Obar menyuruh Pak Andang menyingkir, dia angkat sedikit pinggul Sandra dan menekankan penisnya pada belahan kemaluan itu, dia melenguh ketika kepala penisnya sudah mulai masuk, lalu ditekan lagi dan lagi. Sandra menahan nafas dan menggigit bibir merasakan benda sebesar itu menyeruak ke vaginanya.
"Aaakkhh !" erangan panjang keluar dari mulut Sandra saat penis Mang Obar masuk seluruhnya dengan satu hentakan kuat.
Penis itu keluar-masuk dengan cepatnya, suara desahan Sandra seirama dengan ayunan pinggul Mang Obar. Desahan itu sesekali teredam bila ada yang mencium atau memasukkan penis ke mulutnya.
"Hehehe…liat tuh teteknya goyang-goyang, lucu ya !" sahut Pak Usep memperhatikan payudara yang ikut tergoncang karena tubuhnya terhentak-hentak
"Mulutnya enak, hangat, terus Neng, mainin lidahnya !" kata Endang yang lagi keenakan penisnya diemut Sandra.
"Uuuhh…uuhh…iyahh !" jerit klimaks Mang Obar, penisnya dihujamkan dalam-dalam dan menyemprotkan spermanya di dalam sana.

Posisi Mang Obar segera digantikan oleh Pak Andang, dia melakukannya dalam posisi sama dengan rekannya tadi sambil tangannya menggerayangi pahanya dengan liar. Sementara Endang mengerang lebih panjang, wajahnya mendongak ke atas dan meringis. Rupanya dia telah orgasme dan spermanya ditumpahkan ke mulut Sandra, dia menyedotnya, namun sebagian meleleh keluar bibirnya, dikeluarkannya sebentar untuk dikocok dan diperas, maka sperma itu pun nyiprat ke wajahnya. Kemudian dijilatnya lagi penis Endang yang mulai menyusut membersihkannya dari sisa-sisa sperma. Tugas Sandra menjadi sedikit lebih ringan setelah dua orang yang telah dibuatnya orgasme menyingkir, keduanya kini terduduk di pinggirnya, memulihkan tenaga sambil sesekali megang-megang tubuhnya. Tubuh Sandra menggelinjang merasakan sensasi yang selama ini belum dia rasakan, tangannya yang menggenggam penis Pak Usep nampak semakin gencar mengocoknya sehingga pemiliknya melenguh keenakan.
"Aahhh…emm…gitu Neng, enak…oohhh !" sambil tangannya meremasi payudaranya.
Mang Nurdin yang tadi menyusu sekarang mulai menciumi perut Sandra yang rata, tangan kirinya memainkan putingnya, tangan kanannya mengelus pantatnya.

Saat itu aku sedang menikmati penisku dipijati oleh cengkraman vagina Ivana yang duduk di pangkuanku dengan posisi membelakangi. Aku membiarkannya mengendarai penisku sementara aku menikmati Sandra digangbang, menonton sambil melakukan, suatu kenikmatan seks yang sejati. Kudekatkan wajahku ke lehernya dan kuhirup aroma tubuhnya, hhmm..wangi, habis mandi sih, di lehernya masih membekas cupangan mereka, tapi aku tak peduli, kulit lehernya yang mulus kuemut dan kugigiti pelan membuatnya semakin mendesah kesetanan. Tangan kiriku mendekap Santi sambil memutar-mutar
putingnya, tapi kemudian Santi bangkit dan berdiri di hadapan kami, dia dekatkan kemaluannya pada Ivana, tanpa disuruh Ivana menjilatinya.
Santi mendesah menikmatinya, dipeganginya kepala Ivana, seolah meminta dia
tidak melepaskannya. Aneh si Ivana ini, kalau diminta mengoral punya cowok susah, harus dibujuk-bujuk baru terpaksa diiyakan, tapi ini ke sesama jenisnya tanpa disuruh kok mau, mungkin sih akibat terlalu horny, tapi peduli amat ah, yang penting enjoy aja (emang iklan LA Light ?).
Kuminta Santi menepi sedikit karena sempat menghalangi pandanganku terhadap Sandra. Ruang tamuku jadi dipenuhi oleh desah birahi yang sahut menyahut.

Sandra kembali orgasme oleh genjotan Mang Obar, badannya lemas bercucuran keringat, namun mereka terus menggumulinya. Gerakan Mang Obar semakin cepat dan menggumam-gumam tak jelas, tapi sebelum spermanya keluar, dia mencabut penisnya dan langsung menaiki dadanya.
"Misi, minggir dulu dong, tanggung nih, pengen ngentot pake teteknya sebelum ngecret !"
Segera dia jepitkan penisnya diantara dua gunung kembar itu lalu digesek-gesekkannya penisnya disana dengan lancar karena sudah licin oleh cairan cinta. Tak sampai tiga menit spermanya sudah muncrat, cipratannya berceceran di dada, leher, wajah dan sebagian rambut Sandra. Setelahnya dia menyuruh Sandra menjilati penisnya hingga bersih mengkilat. Dua orang lagi yang masih menggumulinya, Mang Nurdin dan Pak Usep, mengangkat tubuhnya dan membaringkannya ke kasur udara tempat Santi digarap. Mang Nurdin membalikkan tubuh Sandra hingga telungkup, pantatnya diangkat hingga menungging, dengan posisi ini dia memasukkan penisnya ke vagina Sandra dari belakang. Disodokkannya benda itu berkali-kali dengan keras, sehingga Sandra mengerang makin histeris.

Pak Usep tidak meneruskan aktivitasnya dengan Sandra, dia meninggalkannya berduaan dengan Mang Nurdin. Sementara dia sendiri menghampiri kami dan kedua tangan gemuknya melingkari perut Santi dari belakang, agaknya dia masih penasaran karena belum sempat menikmati Santi. Telapak tangannya bergerak ke atas membelai payudara Santi, sedangkan yang satunya ke bawah membelai kemaluannya, mulutnya mencupangi bahunya. Santi memejamkan mata menghayati setiap elusan tangan kasar itu pada bagian-bagian sensitifnya, desahan pelan keluar dari mulutnya. Tangannya lalu menarik wajah Santi ke belakang, begitu dia menoleh bibirnya langsung dipagut.
Keduanya terlibat percumbuan yang panas, sedotan-sedotan kuat dan permainan lidah terlibat di dalamnya. Dengan terus berciuman tangan kanannya beraksi di kemaluan Santi, jari-jari itu menggosok-gosok belahan kemaluannya, kadang juga masuk dan berputar-putar di dalamnya. Permainan jari Pak Usep yang lihai membuat tubuh Santi bergetar dan vaginanya melelehkan cairan. Sedangkan tangan kirinya meraba-raba bagian tubuh lainnya, lengan, dada, perut, paha, pantat, dll. Setelah mencumbunya selama beberapa menit, lidah Pak Usep kini menjilati lehernya dan menggelikitik telinganya.

Di pihakku, Ivana menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih kencang,
diantara desahannya terdengar kata-kata tak jelas, tanganku juga diraih dan
diremaskan ke payudaranya, gelagat ini menunjukkan dia sudah di ambang
orgasme.
"Aaahh…Win, dikit lagi nih…enak !" erangnya sambil meremas tanganku.
Akupun merasa mau keluar juga saat itu, maka kupacu juga pinggulku sampai sofanya ikut goyang, penisku menusuk makin keras dan dalam padanya.
Penisku serasa diperas oleh jepitan vaginanya, himpitannya makin lama makin kencang saja. Akhirnya cairan nikmat itu keluar dibarengi desahan yang panjang, aku pun mendapat orgasmeku lima detik setelahnya. Sperma bercampur lendirnya meleleh keluar dari sela-sela vaginanya membasahi selangkangan kami dan sofa di bawahnya. Kami saling berpelukan tersandar lemas di sofa, kubelai-belai lembut rambut dan wajahnya selama cooling down.
"Goyangan lu tambah asyik nih say, bersihin dong pake mulut, boleh ya ?" pujiku sekaligus memintanya melakukan cleaning service.
"Nggak mau, lu sendiri aja !" jawabnya sambil manyun
"Ayo dong say, lu kan baik, please dikit aja, yah…!" mohonku lagi memencet putingnya

"Ok, tapi cuma bersihin aja yah, ga lebih" katanya sambil turun dari pangkuanku
Dia berjongkok diantara kedua kakiku, dipegangnya penisku, kemudian mulai menjilati sisa-sisa cairan pada penisku hingga bersih. Di kasur sana, Mang Nurdin menyetubuhi Sandra dengan ganasnya dengan doggie style.
Mata Sandra merem-melek dan mendesah tak karuan akibat sodokan-sodokan yang diberikan Mang Nurdin. Mang Obar menghampiri mereka lalu duduk mekangkang di depan Sandra. Tangannya menjenggut rambut Sandra dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya, tentu saja benda sebesar dan berdiameter selebar itu tidak muat di mulut Sandra yang mungil. Susah payah Sandra berusaha menyesuaikan diri, pelan-pelan kepalanya mulai naik-turun mengisap benda itu. Desahan tertahan masih terdengar dari mulutnya, pada dinding pipinya kadang terlihat tonjolan dari penis Mang Obar yang bergerak maju-mundur. Mang Obar mengelus punggung dan dadanya sambil menikmati penisnya dikulum Sandra. Mang Nurdin hampir klimaks, genjotannya semakin cepat, tak lama kemudian dia mendesah panjang dengan mencengkram erat bongkahan pantatnya, spermanya menyemprot di dalam vaginanya, ketika dia cabut penisnya, nampak cairan kental itu masih menjuntai seperti benang laba-laba, sebagian meleleh di sekitar pangkal paha Sandra.

Melihat vagina Sandra nganggur, Mang Obar menyuruhnya menghentikan
kulumannya dan naik ke pangkuannya. Sandra yang klimaksnya tertunda karena
Mang Nurdin sudah keluar duluan segera menaiki penis Mang Obar. Sebelum
mulai, pria kurus itu meminta tissue basah pada Endang untuk mengelap
ceceran sperma di sekujur tubuh Sandra. Sandra menaik-turunkan
pinggulnya dengan gencar di atas penis Mang Obar, payudaranya pun ikut
terayun-ayun seiring gerak badan. Pemandangan itu membuat Mang Obar tidak tahan
untuk tidak melumatnya, mulutnya menangkap payudara yang kanan dan
mengenyot-ngeyotnya, sementara tangannya bergerilya menyusuri lekuk-lekuk
tubuh yang indah itu. Keringat sudah bercucuran membasahi tubuh Sandra
yang sudah bekerja keras melayani lima pria sekaligus, rambutnya sudah
acak-acakan, namun itulah yang menambah pesonanya. Desahan nikmat Sandra
memacu Mang Obar untuk terus melahap dada, leher, dan ketiaknya.

Setelah puas melakukan foreplay bersama Santi, Pak Usep menyuruhnya
nungging, masih dalam posisi berdiri, Santi mencondongkan badan ke depan
dengan tangan bertumpu pada kepala sofa. Santi yang sudah horny berat
itu pun tanpa sungkan-sungkan mengulurkan tangan ke belakang membuka
bibir vaginanya, gatel minta ditusuk. Mang Obar mengerti bahasa tubuh
Santi, dia pun segera melesakkan penisnya masuk ke lubang itu.
"Aarrghh…enak Mang, terus…terus !" jerit Santi
Adegan ini berlangsung tepat di sebelahku sehingga aku dapat mengamati
ekpresi wajah Santi yang sedang menikmati sodokan penis Mang Obar, dia
merintih-rintih dan sesekali menggigit bibir bawah. dari belakangnya
Mang Obar menggerayangi tubuhnya sambil terus menggenjotinya, payudaranya
tampak berayun-ayun menggodaku iseng meremas salah satunya. Beberapa
kali tubuh Santi tersentak-sentak kalau Mang Obar memberikan sodokan
keras padanya. Aku suka sekali melihat wajahnya yang seksi saat itu.

Ivana yang tadi membersihkan penisku kini sudah diajak Pak Andang
memulai babak berikutnya. Dia berdiri memeluk Ivana dengan kedua tangan
kasarnya, mendekapkan tubuh Ivana ke tubuhnya hingga dada mereka saling
melekat
"Neng Ivana, mmm.." dengan bernafsu dia memagut bibirnya dan melumatnya
Ivana juga balas menciumnya hingga lidah mereka saling melilit, mengeluarkan suara lenguhan, sepertinya dia mau membalas membuatku terbakar api cemburu seperti ketika aku mencumbu Santi di depannya waktu baru datang tadi. Tangan Pak Andang meremas payudaranya dan tangan satunya mengelus punggung hingga pinggulnya. Kemudian dia mengangkat satu kaki Ivana dan menempelkan penisnya di bibir vagina Ivana. Secara refleks Ivana melingkarkan tangan ke leher Pak Andang menahan badannya. Pelan-pelan Pak Andang mendorong pantatnya ke depan hingga penisnya menyeruak ke dalam vagina Ivana. Mereka mendesah hampir bersamaan saat penis itu menerobos dan menggesek dinding vagina Ivana.

Lima menit setelah mereka berpacu dalam posisi berdiri, Pak Andang menghentikan genjotannya sejenak, lalu dia angkat kaki Ivana yang satunya.
Sambil menggendong Ivana, dia meneruskan lagi kocokannya, dengan begini tusukan-tusukan yang diterima Ivana semakin terasa hujamannya, kedua payudaranya tampak seksi tergoncang-goncang. Kata Dr. sex Boyke gaya ini disebut monyet memanjat pohon kelapa , hebat juga Pak Andang ini sampai tahu variasi seks yang satu ini. O iya, masukan buat pembaca nih, kalau mau coba gaya yang satu ini kudu liat-liat kondisi loh, kalau cowoknya kurus kecil sedangkan badan ceweknya lebih besar atau bahkan gendut sebaiknya jangan deh, bisa-bisa bukannya nikmat yang didapat malah patah tulang, hehehe…Aku kagum oleh stamina Pak Andang ini, di usianya yang senja dia masih sanggup melakukan gaya ini cukup lama, aku sendiri tidak yakin bisa selama itu, sampai Ivana dibuat orgasme dalam gendongannya. Badannya mengejang dan kepalanya menengadah ke belakang serta mendesah panjang, dari selangkangannya cairan hasil persenggamaannya menetes-netes ke lantai. Tubuhnya yang lunglai mungkin sudah jatuh kalalu tangan Pak Andang yang kokoh tidak memeganginya.

Pada saat yang sama, Mang Obar baru menuntaskan hajatnya terhadap Sandra. Keduanya klimaks bersamaan, dia mencabut penisnya lalu isinya ditumpahkan ke wajah Sandra, tidak sebanyak sebelumnya memang tapi lumayan membasahi wajahnya. Endang yang sudah siap bertarung lagi mendatanginya, dipeluknya Sandra dan dicium-cium bagian-bagian tubuh sensitifnya sambil memberinya waktu untuk mendinginkan vaginanya yang kepanasan. Mang Nurdin menghampiri Santi yang sedang dikerjai Pak Usep.
"Yuk Pak, siap action lagi nih ? gabung aja !" kataku mempersilakannya bergabung dengan mereka.
"Iya dong, bos, saya kan belum sempat nyoblos si Neng ini tadi, hehehe…!" katanya berkalakar
Dia menyusup dan duduk di antara Santi dan sofa, tangan Santi dipindahkan ke bahunya yang lebar. Mulutnya menangkap salah satu payudara Santi yang berayun-ayun, dengan nikmatnya dia menyedot-nyedot benda itu sambil meraba-raba tubuhnya. Di sisi lain, Ivana sedang sibuk melayani Pak Andang dan Mang Obar, tubuhnya terbaring di sofa dijilati dan digerayangi mereka.

Aku duduk sambil mengocok penisku menyaksikan pertempuran tiga mahasiswi melawan lima buruh kasar itu. Sungguh pemandangan yang membangkitkan nafsu, pembaca bisa bayangkan tiga orang cewek muda keturunan Chinese, cantik, putih, sexy, dan high class sedang digumuli buruh-buruh kasar, hitam, beda ras dan beda status sosial sungguh pemandangan yang sensual bagiku. Kami melupakan sejenak harga diri, martabat, dan perbedaan lainnya demi kesenangan seksual. My fantasy has come true, demikian kataku dalam hati. Tidak puas hanya dengan menonton sementara yang lain melakukan, aku pun mendekati Sandra yang sedang bergaya woman on top diatas Endang. Kupeluk dia dari belakang dan kupegang kedua payudaranya yang bergoyang-goyang.
"Gimana San rasanya digangbang sama mereka San ?" tanyaku dekat kupingnya
"Sadis…mhh…but it's pretty cool…aah !" jawabnya terengah-engah
"Win lu-lu…masukin lewat…uuhh…belakang…yah !"

Mereka berhenti sebentar agar aku bisa memasukkan penisku ke pantat Sandra, kudorong tubuhnya ke depan hingga agak menelungkup. Aku meringis ketika memasukkan penisku ke duburnya karena sempit sehingga rasanya sedikit ngilu, hal yang sama pun dirasakan oleh Sandra, namun setelah masuk rasanya jadi enak banget. Sandra mendesah-desah merasakan dua penis yang memompa dua lubangnya. Desahannya bertambah seru karena si Endang menjilati payudaranya yang menggantung itu dijilati Endang dari bawah, sedangkan rambutnya kujambak seperti mengendarai kuda. Tanganku yang satu tidak tinggal diam, kadang meremas payudaranya, kadang mengelus punggung dan pantatnya, serta sesekali kutampar pantatnya hingga dia menjerit.
"Harder…harder please, Mang juga dong nyodoknya kencengin !"
Detik-detik terakhir menjelang orgasme, gerakan Sandra semakin liar saja, sodokanku pun kupercepat sesuai yang dimintanya. Akhirnya ditengah sodokan kami yang belum menunjukkan tanda-tanda berhenti dia orgasme yang ke sekian kalinya. Kami terus menggenjotnya tanpa mempedulikannya yang sudah kecapean. Pada akhirnya aku dan Endang menyiram tubuhnya dengan sperma kami, Endang menyiram dada dan perutnya, sedangkan aku menyiram mukanya sampai rambutnya juga kena.

Kulihat sekelilingku yang lain juga sudah hampir selesai. Mang Nurdin bersadar di sofa sambil menengadahkan kepala, di pahanya Santi yang tergolek lemas menyandarkan kepala dengan mata setengah terpejam, tak jauh disebelah mereka Pak Usep juga terduduk lemas memangku betis Santi di pahanya, sambil mengatur nafas, dia mengelusi betisnya yang mulus. Pak Andang tidak terlihat karena sedang ke toilet. Pertempuran terakhir pun selesai tak lama kemudian, Mang Obar menumpahkan spermanya ke punggung Ivana setelah ber-doggie style di sofa. Yang tampangnya paling semerawut ya si Sandra, dia sudah dikeroyok dan digilir lima orang ditambah aku lagi, tubuhnya sudah berlumuran keringat, sperma, dan ludah, belum lagi pantatnya ada bekas tamparanku tadi. Kasihan juga sih melihatnya, tapi dia sepertinya menikmati kok, dia menggosok-gosokkan sperma itu pada beberapa bagian tubuhnya, juga menjilati yang menempel di jari-jarinya.
Ya, pesta telah berakhir, jam tanpa terasa telah menunjukkan jam delapan kurang sepuluh. Aku memberi uang rokok pada kelima buruhku sebelum mereka berpamitan pulang.

Ivana dan Santi terpaksa harus mandi lagi karena badannya berkeringat dan lengket-lengket lagi. Agar tidak mengantri kamar mandi, aku memakai kamar mandi di kamar papa-mamaku yang ada bath tub marmernya, itulah kamar mandi terbesar di rumahku. Asyik deh rasanya, berendam di bath tub bersama ketiga cewek cantik ini, disana kami saling gosok badan, ciuman, pegang-pegangan, di-Thai massage lagi sama si Santi, wah serasa jadi kaisar aja deh. Habis makan malam Ivana pulang menumpang mobil Santi karena sudah ditelepon dari rumahnya. Sandra juga tadinya mau pulang, tapi kuminta dia nginap saja disini supaya bisa menemaniku yang sehari-hari kesepian ini, mumpung dia anak kost dan besoknya libur hari kemerdekaan. Akhirnya dia setuju juga setelah kumohon-mohon. Malam itu kami tidur telanjang di bawah selimut yang lembut, tapi tidak ML, cuma pegang-pegangan dan ciuman saja, cape kan tadi sore sudah lembur gitu, setelah ngobrol-ngobrol dikit langsung tertidur. Keesokan harinya libur, aku banyak menghabiskan waktu bersamanya, bangun pagi-pagi kami sudah melakukannya di kamar mandi, sepanjang hari itu kami telanjang bulat di rumah dan sebagian besar terisi dengan permainan seks di segenap pelosok rumah, mulai dari kamar, dapur, taman belakang hingga meja makan. Sejak mengadakan liveshow itu aku sebenarnya ingin mengadakan kembali acara seperti itu tapi sebaiknya jangan sering-sering deh takutnya kalau banyak yang tahu tidak baik juga buatku dan teman-teman cewekku itu.
»» Baca selengkapnya.....

Menikmati 3 kali Orgasme

Seperti yang saya jelaskan pada cerita yang lalu dengan judul "Multi Orgasme Melalui Cybersex" bahwa saya adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, usia 32 tahun, tinggi saya 170 cm berat 60 kg, postur yang ideal dan seimbang katanya, nggak gendut, nggak kurus, cukuplah, agak putih bersih dan sehat, serta perkenalan saya dengan Indah yang begitu cantik, memukau dan seksi.

Terima kasih buat kepada teman-teman atas emailnya, serta dengan maksud sekaligus menjawab dan merespose email teman-teman yang begitu banyak dan mengharapkan diteruskannya cerita saya ini, terutama bagaimana permainan sex kami, sehingga Indah dapat merasakan multi orgasme.

Maka untuk menyambung cerita lanjutannya, terpaksa saya mengutip ulang sedikit cerita saya sebelumnya seperti dalam judul diatas, dengan penambahan cerita yang lebih terfokus.

Setelah Indah duduk dan istirahat kamipun membuka percakapan, Indah begitu ramah dan pintar mengolah kata-kata sehingga suasana dan obrolan menjadi sempurna, dan akrap, inilah yang menjadi bagian terpenting bagi kami dalam mengolah permainan sex yang sempurna untuk menciptakan multi orgasme, karena percakapan dan pengenalan satu sama lain dapat memberikan dorongan terciptanya sex yang baik.

Kekecewaan dia dengan suaminya yang kurang bisa memberikan kehangatan sangat dipengaruhi persoalan kurangnya komunikasi, tidak adanya keterbukaan, dan kelelahan suami dapat saja menyebabkan tidak harmonisnya hubungan sex yang seimbang, karena di lain pihak istri menjadi haus akan sentuhan dan kehangatan laki-laki, siapapun dia orangnya, yang penting bisa memberikan kehangatan.

Percakapan terus berlanjut, yang akhirnya aku arahkan pada situasi untuk menciptakan suasana yang tenang, dan romantis, ku nyalakan radio dengan lagu-lagu yang lembut, yang bisa memberikan suasana damai, dan menyejukkan hati, dengan maksud untuk menghilangkan beban pikiran yang mungkin berada pada kami berdua.

Akhirnya rangsangan-rangsanganpun aku mulai dan Indah terlihat mendongak menahan birahi yang sudah semakin tinggi, terlihat bibirnya merekah basah, aku nggak tahan dan spontan kucium dan kulumat bibirnya, ternyata dibalas dengan buas oleh Indah, bibir kami menyatu dan lidah kami saling mengulum, tangan kami bergerilnya mencari titik-titik rangsang, ciumanpun berlangsung cukup lama, kemudian tanganku berusaha untuk membuka pakaian yang dikenakannya, bibirku beralih ke telinga Indah, dia pun berteriak.
"aahh.. say geli.., geli say"
Tapi itu tidak kuhiraukan terus aku hisap-hisap lembut telinganya, kemudian bergeser ke belakang telinganya yang ternyata merupakan salah satu titik kelemahan Indah, dia begitu terangsang.

"Heemm say.. oaauu, geli, enak truss akkhh.., oouu.. geli say aaooww"
Dia trus merintih geli, enak katanya, bajunya terbuka langsung kulempar ketepi.
"Wooww kamu benar-benar cantik, Say"
Putih mulus dengan payudara yang menantang yang tertutup BH hitam, kuraba kaitan BH-nya, kulepas dan wow putih mulus dengan dua bukit payudaranya yang menantang, ku sentuh putingnya yang sudah mengeras dan memerah.
"aahh.. aakhh"
Dia begitu semakin terangsang akibat telinga dan putingnya ku mainkan badannya liar mengelinjang keenakan.
"oouuhh say, teruss, enaak say".
Indah terus mengeluh dan keenakan membuatku semakin terangsang untuk menikmati tubuhnya, kupindahkan bibir turun kebawah, ku jilati lehernya yang putih mulus, ku kecup berulang-ulang hingga dia kegelian, turun terus kebawah kudapati putingnya, lalu kuhisap lembut, keras dan lembut lagi.
"aahh.. ouuhh teruss say.. enak sayy".
Tampak putingnya sudah semakin memerah, kujilati dan ku hisap bergantian puting kanan lalu kekiri, seperti bayi yang kehausan, dia semakin menggelinjang liar tubuhnya, dan berteriak-teriak, tanganku juga turut aktif, ku raba perutnya halus ketekan sedikit demi sedikit antara pusar dan memeknya, keras teraba dan tumbuh bulu-bulu halus disekitar itu.

Kubuka celananya dan kuploroti, tangan Indah turut membatu hingga aku tidak mengalami kesulitan untuk menelanjanginya.
Lagi-lagi pemandangan yang sempurna, kulihat gundukan kecil menantang disela-selah selangkangannya, ditutupi CD warna hitam, ku raba, ku jamah dan ku usap selangkangannya, pahanya halus mulus, dia semakin liar dan segera kubuka CD hitamnya kuraba dan ternyata sudah basah, dia begitu terangsang dan sangat menikmatinya, lama kumainkan itilnya, dengan jariku dia berteriak keras, "Akkhh.. sayy enakk sayy" suaranya bergetar diiringi liarnya liuk-liuk tubuhnya, jariku liar keluar masuk kedalam memeknya kutekan lembut.
"Aoo.. enak.. ahh sayy, teruuss, aakkh", dia nggak tahan.

Lama kumainkan jariku didalam dan menekan halus itilnya, dia trus mengeliat liar tubuhnya, kulepas bibirku dalam putingnya langsung ku papah dia menuju kasur dan merebahkan indah duduk di tepi kasur, sambil berjongkok ku hisap itilnya, lidahku bermain di rongga memeknya dia melengguh panjang
"Akkhh.. say.. enak, say aku mau pipis nih akhh"
"Keluarkan", jawabku karena kutau itu adalah orgasme yang akan terjadi.
"Akkhh.. keluar sayy.. akk, enakk, ngilu.. akh.. ngelayang saayy aku ngelayang.. akkhh"
Tidak habis-habisnya dia berteriak, badannya bergetar, kubiarkan dia mengekpresikanya, lidahku trus bermain halus menghisap lembut itilnya, akhirnya dia lemas dan berbaring merebahkan badannya di kasur, tubuhnya masih mengejang, namun lidahku masih truss bergerilya didalam memeknya, menghisap lembut itilnya, membantu dia mengekpresikan gairahnya, agar lepas dan melayang.

Tiba-tiba Indah bangkit langsung memeluk dan menciumku.
"Thanks honey", kamu pintar sekali.
"Yup say, gimana enak?"
"Woow fantastik sekali, melayang, terbang nih rasanya, aku kalah 1:0 nih sama kamu".
Sambil bicara Indah langsung meraih selangkanganku dan menangkap senjata andalanku, dia memohon.
"Beri saya ini Hon?".
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membuka celana panjang dan CD saya, langsung senjata andalanku keluar dengan berdiri tegak, menantang. Indah langsung terbelalak matanya melihat benda dihadapannya, dia pegang erat seolah tidak rela burung itu terbang meninggalkannya.
"Fantastik honey, bener kamu bilang, panjang betul, hampir menyentuh puser kamu nih"
"He he he", aku pun tertawa.
"18 cm Hon.., centi demi centi hingga ujung memek kamu akan tersentuh senjataku ini".
Tanpa menunggu waktu lagi dia langsung mengelus meremas halus, dan mengocoknya senjataku.
"Ackkh.. enak honey.., trus say.. akkh", aku melenguh keenakan.
Sambil tanganku bermain di payudaranya, kuremas halus dan kusentuh putingnya lembut. Indah pun terbangkit lagi gairahnya, kemudian diarahkan senjataku ke mulutnya, hanya bisa masuk setengah dari senjataku dimulutnya, dihisap lembut, maju mundur berirama, senjataku masuk dalam mulutnya.

"Enak honey akkhh"
Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara, ternyata Indah terlalu pintar dalam memainkan senjata ku.
"Akkhh enak.. geli say.. trus say", aku memohon.
Lama dia memainkan senjataku, akhirnya dia terangsang berat, akibat suara-suara yang keluar dari mulutku, dan sentuhan-sentuhan tanganku pada titik-titik rangsangannya, di payudara, telinga, lehernya, dan remasan-remasan rambut yang ku sentuh halus.

Kemudian dia bangkit dan melepaskan senjataku dalam mulutnya, diapun merengek dan meminta untuk segera memasukkan senjataku ke dalam memeknya yang sudah gatal ingin segera diteMbak, akupun mengiyakan dan langsung naik menuju tempat tidur dengan posisi duduk dengan kaki kulipat, Indah mengikuti langkahku dan berdiri di atas tempat tidur kemudian melebarkan kakinya didepanku, memeknya persis di hadapan mukaku, dia ingin membungkuk turun, langsung ku cegah, tanganku meraih pahanya, kesentuh halus memeknya dengan bulu-bulu halus menantang.

"Akkhh.. Hon, gatal nih cepet donk masukkan"
Aku tak menghiraukan permohonannya langsung kuarahkan mulutku ke memeknya, kuhisap lagi lembut itilnya dia bergetar dan
"Ahhkk gatall.. akkh trus.. Hon, enaakk"
Bicaranya bergetar, pantatnya bergoyang bagai Inul menari, tangannya menjaMbak rambutku, bertubi-tubi.
"Hemm.. hemm", terdengar lagi suara dalam mulut indah, dia kegelian dan merintih, lama lidahku bermain di memeknya, hisap, gigit, jilat lidahku bermain.
Pada satu ketika Indah berteriak, "Please honey.. nowww..!, masukin sekarang sayy" dia terus berteriak meminta untuk segera dicoblos, namun aku trus saja mengigit lembut, menjilat, dan menghisap itilnya.
"Kamu jahat Ed..!" teriaknya lagi, sambil diikuti dengan melelehnya air dari dalam memeknya, ternyata Indah mengalami lagi orgasme yang kedua.
Pada saat orgasme, kaki Indah lemas, lunglai, kemudian sambil menjaMbak rambutku badannya turun, dengan selangkangan yang terbuka dan memeknya yang menganga langsung ku sambut memeknya dengan senjataku.
"aaooww" teriak halus indah, karena senjataku langsung masuk ke dalam memeknya.
Dalam situasi orgasme, kemudian ku bantu dia dengan memasukkan senjataku perlahan-lahan, centi demi centi senjataku masuk kedalam memeknya yang sudah basah kuyup, dan kurasakan hangat tersentuh dalam senjataku yang panjang ini, Indah pun berteriak-teriak keenakan.
"Hemm.. ackk.. enak Hon.., akkh". Dia terus berteriak seperti itu, nikmat rasanya.
5 centi, 10 centi dan akhirnya masuk seluruhnya senjataku ditelan memeknya.
Dan indaHPun berteriak, "Ahh Honey masuk semua nih, akk enak.. enak, enak", seperti anak kecil yang terlalu gembira mendapatkan permen kesukaanya.
Sambil bergetar, badannya turun naik berirama menikmati senjataku.
"Achh.. achh" mulut Indah nggak bisa diam dia terus berteriak keenakan.
"Achh.. enak, enak, aku baru ngerasain ini Hon, enaakk.., enak bener kontol kamu, enak.. aduh tembus nih, enakk"
Aku pun mengikuti ekspresinya, kubantu dia dengan bisikan suara-suara yang mengairahkan.
"Hemm.. trus honey.. rasakan kenikmatan ini, lakukan kemauanmu, truss.., terserah kamu".
Akhirnya pantatnya naik turun lebih cepat dengan bantuan tanganku menopang dipahanya, tak lama kemudian, dia berteriak lebih keras, sambil badannya bergetar hebat, tanda dia telah mencapai klimaks lagi, tubuhku dipeluk erat, genjotannya mulai bergerak perlahan.
"Ackkhh.. Ed keluar lagi.., akkhh.. enak".
Ternyata sentuhan yang diterima memeknya dari senjataku membuat dia begitu menikmatinya centi demi centi sangat dia rasakan.
Sejenak terpikir olehku aku begitu heran kenapa aku belum juga keluar ejakulasi, ternyata inilah yang membuat aku bisa bertahan, rasa ingin memuaskan pasangan membuatku begitu perkasa di hadapannya.

Akhirnya kami istirahat sebentar untuk memulihkan stamina Indah, aku khawatir dia terlalu lelah setelah menikmati 3 kali orgasme.
»» Baca selengkapnya.....