| Aku bekerja sebagai pembantu disebuah rumah tangga. Keluarga itu terdiri Om Doni suka bawa cewek abg ke kamarnya. Memang kamarnya terpisah dari bangunan utama dimana pasangan manula itu tinggal. Dia keluar masuk tidak lewat pintu utama tapi lewat pintu samping disebelah garasi. Garasinya cukup besar sehingga muat 2 Ketika membersihkan kamarnya, aku membuat posisi kordennya sedemikian rupa sehingga aku bisa ngintip kedalam kamar. Dia tidak mengetahui bahwa aku bisa ngintip kedalam kamarnya, dan dari tempat aku ngintip, aktivitas yang dilakukan di ranjang bisa aku lihat dengan jelas. Suatu malem, aku lihat dia bawa abg lagi ke kamarnya. Setelah mereka masuk kamar, segera aku ngintip mereka berdua. Dia sedang menelanjangi ceweknya, lalu ditelentangkan di ranjangnya. Toketnya besar, pentilnya juga besar, berdiri tegak. Jembutnya lebat. Gak lama kemudian dia bergabung dengan ceweknya diranjang, bertelanjang bulat. Aku terkejut melihat kon tolnya yang besar dan panjang, sudah ngaceng dengan kerasnya. Dibandingkan dengan kon tol suamiku di kampung, suamiku punya gak ada apa2nya. Aku memang sudah menikah, seperti kebiasaan orang kampung, anak cewek masih belasan tahun sudah dinikahkan. Suamiku tetep tinggal didesa mengerjakan sawah milik bapakku. Dengan alasan mencari tambahan, aku bekerja sebagai pembantu di kota. Aku pulang kampung gak menentu, tergantung uang yang aku kumpulkan sudah cukup banyak atau belum. Karena tinggal misah makanya aku belum hamil, aku juga belum mau hamil karena aku merasa masih abg juga. Melanjutkan intipanku, dia sudah menancapkan kon tol gedenya di no Aku mulai pasang aksi untuk memikat dia. Suatu malem minggu, dia tidak kemana2. Aku mengenakan baju terusan dari bahan kaus yang ngepas di badan. Agak mini sehingga pahaku terlihat dengan jelas. Bagian dadanya agak terbuka, aku tidak mengenakan bra sehingga toketku yang montok bergerak2 kalo aku berjalan. Kalo aku membungkuk, toketku seakan mau loncat keluar dari belahan bajuku di dada. Aku make CD yang mini, karena memang semua CDku yang tidak banyak itu mini modelnya, malah ada yang minim sekali. "Om, kok ngajak ceweknya", tanyaku sambil menyiapkan makan malem. Untuk yang punya rumah, meja makannya terpisah di ruang utama. Mereka sedang dan pergi menginap dirumah salah satu anaknya. "Enggak", jawabnya sambil menyuap makanan yang kuhidangkan. Sengaja aku membungkukkan badanku ketika meletakkan lauknya di meja makan. Dia melirik ke arah toketku yang montok. "Emangnya om gak pengen", pancingku lagi. "Pengen apa", tanyanya. "Kan biasanya sama ceweknya, asik2an", godaku lagi. "Kamu suka nguping ya", katanya sambil tersenyum. "Gak usah nguping juga kedengaran kok om, ceweknya keenakan", jawabku lagi. Dia diam saja dan meneruskan makannya. Aku menambah air minumnya, ketika menambah air posisiku agak membungkuk. Kulihat matanya segera menerobos belahan dadaku dan 'menjilat' toketku. "Kamu montok ya Nes", katanya, kelihatannya usahaku untuk memancing perhatiannya mulai ada follow upnya. "Besar gitu, sering diremes ya Nes", katanya lagi. "Siapa yang ngeremes om, paling Ines remes sendiri", jawabku terus terang. "Kok diremes sendiri", tanyanya. "Abis gak ada yang ngeremesin sih", kataku sambil tersenyum menggoda. "Aku remesin mau enggak", katanya lagi to the point. "Ntar ceweknya marah", kataku. "Aku gak punya cewek kok", jawabnya. "Yang suka om bawa itu siapa", tanyaku. "Cuma temen, dia pengen aku juga pengen, jadilah", jawabnya. "Temennya banyak ya om, ceweknya ganti2 terus", kataku lagi. "Bosen dong kalo sama yang itu2 terus, kan perlu variasi", jawabnya lagi. "Mau gak aku remes". "Kok om mau ngeremes Ines sih, kan Ines cuma pembantu", kataku. "Biar kamu pembantu tapi kamu gak kalah cantik dan sexi sama abg, lagian kamu masih abg juga kan", jawabnya. Aku Dia berdiri dibelakangku, memelukku dan tangannya langsung meremes toketku. "Nes, toket kamu kenceng ya, besar lagi", katanya sambil terus meremes toketku. Napsuku sudah berkobar, aku berhenti memncuci peralatan makan dan bersandar didadanya menikmati remasan tangannya di toketku. Tangan satunya segera mengelus pahaku, sedikit demi sedikit tangannya naik dan terasa bajuku tertarik sampai atas. Kemudian tangannya ke selangkangan dan jarinya menggesek-gesek bagian sensitif ku dari atas CD. "Nes, sudah basah sekali", katanya. "Kamu sudah napsu ya". Mendengar itu aku tambah terangsang dan aku semakin merenggangkan kaki. Kemudian aku merasakan jarinya menyelinap ke balik cd dan terus masuk ke no nok ku. "Jembut kamu lebat ya Nes, panter napsu kamu besar", katanya. Gerakan jarinya enak sekali, dia pintar memainkan jarinya, apalagi setelah dia menambah jarinya untuk masuk ke no nok ku. aku sendiri sudah tidak ingat lagi apakah waktu itu aku sempat mengeluarkan suara atau tidak. tangan yang satu tetep meremas-remas toket ku. Beberapa saat aku biarkan dia begitu karena aku juga merasa enak sekali. Kemudian aku membalikkan diri dan berhadap-hadapan dengan dia. Tangannya seperti tergesa-gesa merauk baju di kedua pundak ku dan ditarik ke bawah hingga terbuka dada ku. Kemudian dia menjilat dan mengisap-isap pentil ku. aku benar benar terangsang dan sudah tidak bisa mengatur diri lagi. aku juga mulai gemes dan menggenggam kon tolnya dari atas celananya, terasa sudah menegang dan terasa ukurannya besar sekali. Begitu penasaran hingga aku menarik kepalanya yang sedang berada di dada ku dan aku cium bertubi-tubi. Dia aku dorong sedikit-sedikit ke belakang sampai menubruk kursi di belakang nya. Kemudian aku paksa duduk dia. Resleting celananya aku buka dan segera bersama dengan cdnya aku turunkan. Dia hanya diam melihat apa yang aku lakukan. kon tolnya besar dan panjang dan tidak sabar lagi aku untuk menciumnya, menjilat sekitar ujungnya. Baru sebentar saja sudah terasa cairannya keluar sedikit dari ujungnya. Selanjutnya mulai kuemut. Terasa kon tolnya penuh di mulut. Tapi baru sebentar dia sudah minta segera dilepas karena gak mau keluar di mulutku. Setelah aku lepas kon tolnya dari mulut, aku segera naik keatasnya yang sedang duduk di kursi itu. aku juga sudah tidak sabar lagi, kapan cd dilepas juga aku tidak ingat lagi. kon tolnya aku genggam dan sedikit-sedikit aku masukkan ke no nokku, terasa kon tol yang besar masuk. Dia sedikit menarik nafas ketika kon tolnya masuk. "Om, enak banget deh kon tolnya…", kataku. "Kamu dah napsu banget ya Nes", jawabnya. Ketika aku mulai gerak, dia berkali-kali mendesah dan memanggil-manggil namaku. aku juga tidak bisa menahan perasaan yang enak itu dan berkali kali menyebut-nyebut namanya. Akhirnya dia tidak tahan juga berdiam diri, segera dia memeluk aku dan membenamkan mukanya ke dadaku. aku hanya dapat mengelus-elus rambutnya yang ikal itu. Berkali-kali kon tolnya aku jepit dan setiap di jepit, aku juga merasakan enak di dalam no nokku. Tapi dia tidak bisa lama-lama, dia bilang sudah tidak tahan lagi, tapi aku tidak ingin selesai sekarang, aku sedang benar-benar menikmati kon tol besarnya. Dia takut pejunya keluar di dalam aku, tapi aku sudah bilang biar keluar di dalam. Belum sempat aku puas dia akhirnya ngecret juga terasa berkali-kali pejunya keluar dari kon tolnya. aku diam sampai dia tenang. "Nes, nikmat banget deh no nokmu. Lebih nikmat dari semua abg yang pernah aku en tot. no nokmu kerasa banget empotannya. Kamu udah pengalaman ngempot ya Nes", katanya terengah. "Enggak kok om, cuma diajari suami di kampung aja", jawabku. "O kamu dah kawin toh, panter napsunya besar banget, dah lama gak ngerasain kon tol masuk no nok kamu ya". katanya sambil tersenyum. Aku bangkit dari pangkuannya. Terasa pejunya mengalir keluar dari no nokku. Dia segera menarik aku kekamarnya. "Terusin di kamarku ya Nes", katanya. Terasa dia mulai menciumi rambut ku dari belakang dan terasa bibirnya menyentuh kuduk dan berkali kali mengecupnya, aku menjadi terangsang ketika itu dan terus dia menciumi punggung ku. Terus dia memegang kedua lengan ku dan membalikkan badan ku sehingga berhadapan. Dia memandang muka ku dari dekat dan salah satu tangannya memegang dan meremas remas toket aku. Kemudian dia mencium aku dengan nafsunya dan aku pun menerimanya dengan saling menghisap lidah. aku begitu terangsang hingga terasa no nokku semakin basah. kemudian aku duduk di tempat tidurnya dan terus merebahkan diri. kedua kaki aku dia pegang dan perlahan-lahan dia buka hingga selangkangan aku terlihat lebar-lebar, kemudian kaki kutekuk. Sambil menciumi paha ku, sedikit demi sedikit kepalanya terus naik ke atas. Ciumannya begitu membuat aku terangsang dan aku sudah sedikit mendesah, apalagi ketika bibirnya sudah dekat benar dengan selangkangan. Kemudian dia berkata "Nes, sudah basah sekali…keluar banyak sekali. Kamu dah napsu lagi ya". Mendengar itu aku jadi bertambah terangsang, "Om…jilat…dong…", desahku. Mukanya segera dibenamkannya di selangkangan ku, dan tidak tahan lagi, kepalanya aku pegang dengan agak kuat dan aku tekan ke mulut no nokku. Terasa dia mulai menjilat dan menciumi sekitar i tilku, dan terasa sekali lidahnya bergerak kesana kemari, benar-benar nikmat, beberapa kali i tilku dikulumnya. Tapi dia tidak sampai memasukkan lidahnya ke dalam no nokku. Ini nikmat sekali, tidak seperti kon tol, lidahnya terasa seperti benda hidup yg bergerak berak di dalam no nokku, dia begitu pintar memainkan lidahnya. Dia naik ke tempat tidur. kemudian aku minta merubah posisi agar aku dapat mendekat ke kon tolnya. segera aku pegang kon tolnya sambil mengelus-elus pangkal kon tolnya. Kepala kon tol beberapa kali aku kecup dan di jilat, terutama ujungnya yang ada belahan tempat cairannya keluar itu. Dengan ujung lidah sedikit ditekan, belahan ujung kon tolnya aku jilat, terasa asin…sedikit-sedikit terlihat cairan yg agak lengket itu keluar dari ujung kon tolnya. Terdengar suaranya menahan karena napsu. Kemudian kepala kon tolnya aku kulum dan aku mainkan dengan lidah berkali kali didalam mulut, ujungnya aku hisap seperti menyedot minuman, kon tolnya berdenyut dan keluar sedikit cairan dari ujungnya. Sementara itu dia terus menjilati no nokku dengan posisi 69. aku tetap terlentang dan dia berada di atas. Tapi terus dia memberi kesempatan ke aku dengan merubah posisi menjadi terbalik, aku berada di atas dia. aku jadi lebih bebas mengemut kon tolnya yg berukuran besar itu, terus aku masukkan kemulut sampai se maksimal mungkin. air liur sengaja aku keluarkan banyak agar terasa licin dan mudah mengeluarkan dan memasukkan kon tolnya kemulut. Karena sudah ngecret, dia bisa bertahan lebih lama selama kuemut. Jilatannyaa di seputar i til juga enak sekali terasa, beberapa kali terasa jarinya juga masuk ke no nok, entah berapa jari, tapi yg jelas bukan satu jari. Karena begitu asyiknya, tidak terasa udara kamar semakin panas karena jendela tidak dibuka. aku merasa keringat dari sekitar leher mengalir ke bawah melewati belahan toketku. Setelah agak lama dalam posisi 69 kemudian dia mulai bergerak merubah posisi. Dia mundur ke bawah dan badannya keluar melewati selangkangan kaki. Terus dia berlutut di tempat tidur dan tetap minta aku untuk nungging, dia mulai mendekati mulut no nok dari arah belakang. pelan-pelan kon tol yg besar itu masuk ke dalam no nokku, terasa agak susah masuknya, padahal aku sudah sangat basah dan licin. Ketika dia mulai bergerak memainkan kon tolnya keluar masuk kedalam no nok, dia berkata "Nes….enak sekali ….kecang banget rasanya no nok kamu ngeremes kon tolku….", berkali kali aku jepit kon tolnya dan setiap di jepit, tangannya menggenggam pinggul ku lebih kencang lagi, sampai akhirnya dia menyudahi sendiri posisi ini. Terus dia merubah posisi, duduk berhadap-hadapan dan aku seperti di pangkunya. Terasa kon tolnya lebih masuk kedalam aku dan terasa ujungnya menyentuh bagian yg paling dalam. Dia dan aku dengan irama teratur menggerak-gerakkan pinggul masing masing sehingga terasa benar benar nikmat sekali. aku mendesah2 keenakan dengan keras. Badan ku dan om Doni sudah basah dengan keringat. Kemudian dia mendorong aku sehingga aku terlentang di tempat tidur yang sudah mulai acak-acakan itu. Posisi sudah berubah menjadi posisi normal dan dia terus semakin Seminggu ini dia menepati janjinya, gak bawa abg ke kamarnya. Malam minggu berikutnya, om Doni mengulangi lagi memberi aku kenikmatan. Tentunya aku tidak menolak ajakannya. Di kamarnya, dia mendekatkan wajahnya perlahan, napas hangatnya menerpa wajahku. Aku memejamkan matanya dan perlahan bibirnya mendarat lembut di bibirku. Aku tak menolak kecupan tersebut, kembali bibirnya mendarat di permukaan bibirku. Dikecupnya lagi perlahan, dan mulai melumati bibirku. Aku terpejam membalas lumatannya. Kecupan dan lumatan nya bergerak menjauhi bibirku menjalar sepanjang rahangku, bergeser turun menjelajahi leherku. Mengecup dan menjilati dengan lidahnya yang kasap terus keatas menuju wilayah belakang telinga dan mengulum cuping telingaku dengan lembut. Aku memegang erat pergelangan tangannya, "Om…." desah ku. Kedua tanganku meraih keatas dan merangkul bahu dan lehernya. Ciuman dan lumatan bibirnya makin bergelora. "Hmhhhh", desahku perlahan. Dia meraih tubuhku dan merebahkannya di tempat tidurnya. Kembali lidahnya menjalar dari bibir ranum bergerak menyusuri rahang terus mengecup leher dengan bergairah. Terus keatas ke balik cuping telinga, menjilati dan melumati nya. "Om…." ,rintihku perlahan. Tangan nya tak tinggal diam mulai menjalar meraba -elus permukaan toketku yang masih di balut pakaian itu. Terus turun ke bawah menemukan tepian kaos dan menyelusup kedalam. Meraba- mengelus permukaan kulit ku dengan jemarinya. "Mmmhhhh……oohhhh" ,kembali aku mengerang. pakaianku mulai tersingkap dan dengan cekatan pula jarinya melepas kait braku dan melepas pakaianku lewat kepala. Dia mengecup pangkal leherku, terus kebawah, menjilati permukaan kedua toket montokku bergantian. Hingga…"Ahhhh…..om….",erangku seraya menggeliatkan tubuhku saat kedua bibirnya mencucupi pentilku. Bergantian pentil yang kiri dan kanan sehingga membuatnya mengkilap karena basah. Kulumannya pada pentilku yang telah mengeras itu terasa sangat nikmat. Kedua tanganku mengerumasi rambutnya dan terkadang menyelusup ke balik kaosnya. Sembari mencucupi kedua pentilku tangannya bergerak turun mengelus kedua pahaku yang ditumbuhi bulu halus. Dia bangkit dan melepas kaosnya dan celananya. Kita kini dalam keadaan hampir telanjang hanya ditutupi CD. "Om…..ahhhh……..", erangku tatkala mulutnya mencucupi no nokku yang masih terbalut CD tipis itu. Kedua tangannya tak tinggal diam mengelus dan merabai kedua toketku. Jarinya juga turun dan mengelus permukaan paha, menyelinap ke balik karet cdku dan mengurut perlahan. "Oghhhh." ,aku tersentak saat jemarinya menyelusup ke dalam no nokku yang telah lembab itu. Mataku membeliak dan menggelinjang dengan napasnya seperti tersedak. Seluruh permukaan bagian dalam no nokku telah basah dan berdenyut-denyut. Gerakan jarinya mengelitik seluruh pemukaan peka didalamnya. Dia kembali menarik jarinya yang telah basah dan mencucupi jarinya sendiri membersihkan cairan yang menempel pada jarinya. Tangannya kembali bergerak meraih karet CDku, menariknya hingga terlepas. Begitu juga CDnya juga telah terlepas. Dia meraih kedua kaki ku, mengecupi betisku dengan lembut, menjilati dengan lidahnya yang kasap, turun terus ke bawah menjilati paha bagian dalam kedua kaki ktu bergantian. "Om……..", kembali aku mendesahi saat bibirnya mendarat pada bukit no nokku yang diliputi jembut yang lebat. "Nikmati aja" , ujarnya. Lidahnya menjilati permukaan no nokku dan mendesak masuk lebih dalam. "Aahhhhh ...ohhhhhhh" ,erangku lagi. Menemukan i tilku disana langsung dijilat dengan hisapan bertubi-tubi. Pinggulku bergerak-gerak gelisah mengimbangi serbuan lidahnya. Kedua tanganku menggerumasi rambut nya dan menekankan kepalanya. "Om………..uhhhhhhhh" ,aku melenguh kembali. Seluruh permukaan bagian dalam no nokku itu telah basah dengan aroma khas yang makin membangkitkan napsunya. Jilatan dan hisapan yang dilakukannya membuat aku menggerinjal hebat, menggeliat-geliat di bawah tekanan kedua tangannya pada pinggulku. Gelombang demi gelombang nikmat makin bergelora menyeret dirikua hingga tak tertahankan lagi. "Om .ooohhhhhh" ,jeritku saat aku nyampe. Tubuhku melenting, kedua tanganku mencengkeram bahunya dengan kuat. Beberapa menit situasi itu berlangsung. Dia membiarkan aku menikmatinya. Dia merangkak naik perlahan, merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Bergoyang ke kanan dan kekiri menyibakkan kedua paha ku yang secara naluriah membuka memberikan ruang pada pinggulnya untuk merapat. Aku membuka mataku, napasku masih memburu dengan keringat pada kening dan toketku. "Om, nikmat banget deh, padahal belum dien tot", kataku lirih. "Nikmati saja Nes…" ujarnya. Sambil tersenyum aku menarik kepalanya kearahku, kulumat dengan ganas bibirnya. Dia kembali bergerak menggosok kon tolnya menelusuri permukaan no nokku. Maju - mundur. "Ohhh……om…………ya disana…" ,Kembali aku melenguh karena gerakannya. Kedua tanganku yang tadi memeluk lehernya turun ke bawah dan mencengkeram pinggulnya. Kutekan inggulnya kebawah lebih kuat dan kedua kakiku mengunci di belakang pinggangnya .Dia terus bergerak maju mundur menggesekkan kon tolnya ke no nokku. Naluriah aku bergerak seirama gerakannya. Sesekali kepala kon tolnya menusuk… "Ohh….." desis ku karenanya. Dia mengangkat tubuhnya hingga duduk berselonjor. Menarik pinggulku menumpu paha kedua kakinya. Kedua kakiku menekuk di sisi tubuhnya dalam posisi masih berbaring. no nokku semakin terkuak. Seraya menggenggam pinggulku, dengan tangan kirinya dia mengarahkan kon tolnya tepat pada no nokku. Dengan memegang batang kon tolnya dia mendorong kedepan….. "Om..", desahku lirih. Dia mendorong kembali, tak terlalu dalam, hanya kepalanya yang menyeruak no nokku. Aku memegang lengannya menahankan dorongan yang terlalu jauh. Dia bergerak… Dengan jarinya yang menggenggam kon tolnya untuk membatasi, hanya ujungnya saja yang masuk, dia menggerakkan kon tolnya keluar masuk no nokku. "Ooooohhhh……..,ohhhh….!!" , desahku keras. Pinggulku ikut menggerinjal mengimbangi gerakan kepala kon tolnya. Dia mengelus lututku dengan perlahan. "Oooohhh……om…", aku merintih berulang kali. Aku enggerakkan pinggulku, bergoyang dan berputar- putar. Gerakan itu menyebabkan no nokku yang telah basah itu serasa di aduk – aduk oleh kepala kon tolnya. "Om...",panggilku lirih. "Hmm...", dia cuma menggumam, "Kenapa?". "Rasanya makin nikmat om", erangku lagi. "om..", jeritku kecil seraya memutar pinggulku perlahan. Tubuhku bergetar, pahaku mengejang. Perlahan kon tolnya tenggelam mili demi mili di telan no nokku. aku mencoba duduk, memeluk ketat lehernya, menggigit kecil pundaknya dan mendesakkan tubuhku turun, hingga seluruh kon tolnya terbenam utuh. "Aah", jeritku. Langsung aku merebah ambruk menyeret tubuhnya. kedua kakiku langsung kursilangkan di belakang mengunci pantatnya. Dengan napas tersengal – sengal kami berbaring melekat erat. Dia mengangkat wajahnya menatap wajahku yang berpeluh. Aku mengecup keningnya, "om, tuntaskan dong", pintaku lirih. no nokku terasa mencengkeram erat kon tolnya. Dia bergerak naik hingga kon tolnya terlepas kembali dari cekalan no nokku. "Mmmhhh…uhf", dia mendesis. Kedua tangannya bergerak turun menemukan kedua pahaku, ditariknya kedua kakiku keatas melewati lengannya, mengunci kedua lututku dengan lengan dan sikunya. Sehingga pinggulku mengangkat menguakkan no nokku. Om, .lagi…lagi………terusskan sekarang……!",pintaku parau. "Bener ini…? ", tanyanya kurang yakin. "Sekaraaanng……..om, ssekaraaang, Ines ga…tahann..ayoo..!" ,rengekku lagi seraya menekan pantatnya kearah tubuhku lebih erat. "Ayo….om", rintihku tatkala dia menempelkan kepala kon tolnya ke permukaan no nokku dan bersiap mendorong……. Ujung kon tolnya yang tegak dari tadi mendesak masuk. Aku mencoba membantu mempermudah dengan menggerakkan pinggulku. Dia dengan sabar menunggu, menekan pelan, sangat pelan. "Ohh……….om…….", aku kembali mengerang. Dia menghentikan tekanan. Diiringi jeritanku dan tancapan kukuku ke punggungnya, kepala kon tolnya kembali membelah no nokku. Kedua bola mataku membeliak. tubuhku menggigil dan cengkeraman kedua tanganku semakin kuat pada pantatnya. "Ahhhhhh………………!!!" ,rintihku. Tubuhku mengejang, kepalaku mendongak tatkala dia bergerak mendorong perlahan. Matakuu membeliak menikmati mili demi mili masuknya kon tolnya ke no nokku. Dia kembali mendorong pinggulnya dengan perlahan membenamkan seluruh kon tol besarnya ke dalam no nokku. Dia mulai bergerak perlahan naik turun, merasakan jepitan dan denyutan no nokku mengurut dan memijat kon tolnya. "Om...", erangku semakin keras tak beraturan lagi. Tubuhku yang telah berkeringat di sana sini mengelinjang-gelinjang dengan hebat ditingkahi gerakan naik turun tubuhnya diatasku. Kaki kananku terlepas dari siku Dino dan mengunci ke belakang pinggangnya. Terkadang dia berhenti sejenak, tetapi dengan mengedan mendenyut-denyutkan kon tolnya di dalam no nokku menimbulkan variasi tekanan yang berbeda - beda pada permukaan no nokku. Peluh telah bercucuran membasahi tubuh kami. "Ohhh,…….ahhhhhh,………….",jerit ku setiap denyut-denyut kon tolnya dalam tubuhku menyentuh pusat birahiku. "Lagiii…..teruss……..ahh…..". Dia terus bergerak naik turun diatas tubuhku, aku merasakan nikmat yang luar biasa setiap kali kon tolnya menghunjam. Tubuhku mulai menggigil dan dia tahu aku hampir nyampe. Diapun memacu gerakan memompanya, kon tolnya menghunjam keluar no nokku semakin cepat. "Ya om…………ohhh..Ines 'ga tahan…lagiii…", jeritku parau "Ahhhhhhhh……………………….Om………..Ines nyampe om…ohh" ,jeritku. Aku melengkungkan punggungku, kedua pahaku mengejang serta menjepit dengan kencang, seluruhan badanku berkelojotan dan nafasku tersengal-sengal. Aku merasa lemas seakan-akan seluruh tulangku copot. Aku kelojotan di bawah dengan kedua tanganku memeluk ketat dan kakiku terkangkang lebar dengan kon tolnya masih terjepit didalam no nokku. no nokku berdenyut – denyut dengan cepat, berkontraksi mengurut kon tolnya. Mataku membeliak, tubuhku melenting dan kucengkeram pantatnya, menekannya dengan kuat kearah tubuhku. Dia bergerak makin cepat walaupun makin sulit, karena kuncian tanganku. Makin cepat menghunjam dan akhirnya tak tertahankan lagi dengan suatu sentakan menekan keras kon tolnya menyentuh dasar no nokku, "Oughhh……….." ,seraya menggeram dia ngecret, beberapa kali menyemburkan peju kentalnya dalam no nokku. Berkali-kali semburan itu terulang hingga daya semburnya melemah dan mereda, lalu tubuhnya ambruk diatas tubuhku. Setelah mereda dia menggeliat menjatuhkan tubuhnya ke sisiku. Berdua kami terdiam sesaat. Aku bergerak mengecup ringan pipinya. "Makasih om…………, gile beneerrr….." pujiku. "Apanya yang terimakasih" ujarnya sambil merapihkan rambut yang jatuh di wajahku. "Terus terang om, nikmatnya lebih dari ketika kita ngen tot minggu yang lalu. Wuihhh….bukan main rasanya",imbuhku lagi. "Kapan-kapan lagi ya om?."pintaku memohon. Dia tak menjawab dan hanya menjatuhkan kecupan pada kedua mataku. |
Ngentot dengan Om dikos-kosan
Sama Tukang Ojek
| Pacarku Dina Selingkuh. Aku sudah pacaran dengan Dina sejak kelas 2 SMU sampai sekarang kuliah semester 4 di sebuah perguruan tinggi swasta di Aku tidak ingin hubunganku dengan Dina yang sudah kujalin selama 3 tahun lebih ini putus begitu saja. Aku butuh Dina sebagai penyemangat hidupku, dan aku merasa Dina juga membutuhkan kasih sayangku karena dia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang pengusaha furniture. Bisnis furniture ibunya sangat maju karena sudah sampai diekspor ke luar negeri. Konsekuensinya, sang ibu harus sering meninggalkan Dina sendiri di rumah untuk mengontrol pabrik furniturenya di Jepara. Orangtuanya bercerai sejak Dina masih SD sehingga Dina sangat membutuhkan Pada suatu weekend, seperti biasa aku meneleponnya untuk mengajak jalan-jalan. "Sayang, nanti malem kamu mau nggak nyobain restoran baru di Kemang?" "Duh Dina mau banget mas, tapi tante Dina dari Semarang baru dateng nih. Dina musti nemenin dia, nggak enak soalnya mama kan lagi di Jepara" "Oh ya udah gak papa deh kalo gitu…" "Yaaa sayang, jangan marah ya, kamu mau ngapain dong sendirian?" "Gak papa sayang, aku di rumah aja kalo gitu nonton DVD" "Maap ya sayang, Dina janji deh nanti ketemu di kampus Dina kasih sejuta cium buat yayang Dina yang paling sabar sedunia" "Hehehehe janji yaa… Awas loh kalo ketemu aku tagih" "Hihihi iya sayang, ya udah aku nemenin tanteku lagi ya" "Oke sayang, kiss dulu mmmwah… love you" "Mmmmwah… love you too sayang" Telepon kututup dengan pelan. Tanganku meraih remote DVD dan menekan play. 15 menit aksi Bruce Wilis dalam Di tengah jalan, aku melewati toko kue langgananku. Aku teringat Dina dan kue kegemarannya, kue mangkok. Aku mendapat ide untuk membelikannya beberapa kue dan mengantarkannya sebagai surprise, hitung-hitung cari muka juga di depan tantenya hehehe… Setelah membeli selusin kue mangkok, akupun meluncur menuju rumah Dina. Mobilku sengaja kuparkir agak jauh supaya Dina tidak bisa mendengarnya, karena dia sudah hafal dengan suara mesin mobil kesayanganku. Sampai depan rumahnya, ada sebuah motor terparkir. Aku agak heran karena pagarnya tidak terkunci, padahal biasanya kalau ibunya sedang pergi keluar kota, Dina selalu menguncinya karena memang dia tinggal sendirian di rumah. Demi menjaga surprise, aku diam-diam masuk. Pintu depan rumahnya kutemukan terkunci. Aku tidak ingin mengetuk supaya tetap surprise. Aku berjalan ke samping rumahnya menuju jendela kamarnya. Semakin dekat aku mendengar suara-suara dari dalam kamarnya. Persis di depan jendela kamarnya, kusibakkan sedikit gordennya untuk mengintip. Apa yang kulihat kemudian membuat darahku menggelegak. Dina sedang di atas tempat tidurnya dalam keadaan telanjang bulat, dengan posisi menungging dan seorang lelaki jelas-jelas sedang menyetubuhinya dari belakang. Betapa terkejutnya aku, pacarku sedang disetubuhi orang dengan gaya doggy style. Jelas kulihat ekspresi muka Dina yang seperti menahan rasa puas dan sakit bersamaan. Tubuh seksi pacarku maju mundur terdorong oleh hentakan pinggang lelaki yang sedang menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Dina. Pinggul Dina dicengkeram erat oleh kedua tangan lelaki itu. Terlihat kontras sekali warna pantat putih Dina yang mulus beradu dengan pinggul lelaki yang berkulit coklat gelap itu. Aku mencoba pindah melihat dari sisi jendela satunya lagi. Sekarang dapat kulihat penis lelaki itu ternyata besar dan panjang sekali, sekitar 23 cm panjangnya, 4x lebih besar dari penisku. Vagina Dina yang mungil ternyata mampu menampung penis sebesar itu. Penis raksasa itu keluar masuk vagina pacarku dengan lancarnya, itu berarti Dina sudah sangat terangsang sampai becek vaginanya. "Ouh ouh ouh enak banget bang… terus entot Dina bang", ceracau Dina sambil terengah-engah penuh kenikmatan "Oooh si eneng memeknya rapet banget… abang kayak ngentot sama perawan", lelaki itu dengan kurang ajarnya mengomentari memek pacarku. "Ahh ahh ahhh… kontol abang sih gede banget… Aahhhh enak baaang" Dina menjawab dengan melenguh keenakan. Cerita Panas - Belum pernah kudengar Dina menggunakan kata-kata kasar seperti itu. Tak kusadari, penisku sudah mengeras tertahan celana jeansku. Aku terangsang melihat pacarku disetubuhi orang, aku terangsang melihat vagina pacarku dihantam oleh penis yang besar milik lelaki asing itu. "Owh bang terus bang, Dina mo keluar lagi bang…terus entot memek Dina bang… ooh ooh….oooooooooooooooooh" Tubuh Dina mengejang tanda telah mencapai orgasme. Lelaki itu melepaskan cengkeramannya. Tubuh Dina terkulai lemas di kasur. Sekarang terlihat jelas penis raksasa itu tegang hitam mengkilat berselaput cairan vagina pacarku. "Duh abang kuat banget sih, Dina udah empat kali keluar tapi peler abang masih ngaceng aja" Dina meraih penis besar lelaki itu dengan ekspresi muka penuh kepuasan. "Yah maklum neng, bini abang lagi hamil tua, abang udah 3 bulan lebih kagak ngewe. Mangkenye sekalinya ketemu memek, si otong semangat juang empat lima dah" ucap lelaki itu dengan seringai kepuasan karena mampu membuat cewek secantik dan seseksi Dina melayang ke langit kenikmatan. "Uh Dina ngiri deh sama bininya abang, bisa ngerasain ngentot sehebat ini tiap hari" ucap Dina sembari mulai mengocok penis besar itu. "Hehehe.." Lelaki itu terkekeh, "Bini abang mah kalo udah mulai cerewet, ntu brarti memeknya udah gatel minta ditancep neng. Hampir tiap malem dah die minta dientot mulu, kadang sampe pagi, mangkanye abang selalu ngojeknya siang". Bangsat! Ternyata lelaki ini tukang ojek langganan Dina. Aku ingat Dina selalu bercerita kalau dia punya tukang ojek langganan yang selalu mengantarnya ketika aku sedang tidak bisa menjemputnya. Aku semakin terangsang memikirkan seorang tukang ojek berwajah kampungan berkulit coklat gelap yang sedang menyetubuhi pacarku Dina yang putih, cantik dan seksi "Neng, ayo dong mulai lagi… si otong udah ga sabar nih pengen ngebor" Tukang ojek itu rupanya tidak sabar ingin menyetubuhi lagi pacarku yang cantik. "Uuhh si abang… tapi Dina di bawah ya bang, kaki Dina lemes nih" Ucap Dina dengan senyum nakal menggodanya itu. "Ah tenang aja neng, si eneng tinggal ngangkang, trus rasain dah enaknya dientot kanjut abang" Tukang ojek itu berujar sambil bergerak ke atas tubuh molek Dina. "Mmmmmhhhh ayo bang masukin… entot lagi memek Dina bang…" Dina melebarkan kedua kakinya, membuat vaginanya yang sudah merah dan basah tepat berada di depan penis besar sang tukang ojek. "Nih, neng rasain lagi titit abang yah" Tukang ojek itu kembali menancapkan penis besarnya ke vagina Dina. "Aaaaaauuuhhhhh….." Dina merintih antara sakit dan nikmat. "MMMmhhhhhh…. Auh… tancep memek Dina bang….aahhh" Bless… bless…. Clop clop clop… terdengar jelas penis besar itu dengan lancarnya menembus vagina Dina yang sudah sangat basah. Mulut si tukang ojek dengan rakusnya menghisap-hisap payudara Dina. Dina semakin melenguh tidak karuan. "Oooh…ahhhh….. isep toket Dina bang…. Entot memek Dina…..oooh… ahhhh" Dina semakin meracau dan merintih. Selama 5 menit kemudian kulihat ranjang Dina ikut bergetar karena hunjaman pinggang si tukang ojek. Mata Dina tertutup dengan ekspresi menggigit bibir. Aku semakin terangsang hebat melihat pacarku sedang terbaring pasrah disetubuhi tukang ojek kampungan itu. Tak tahan lagi kubuka retsleting celana jinsku dan kukeluarkan penisku. Aku bermasturbasi sambil menyaksikan pacarku yang cantik disetubuhi seorang tukang ojek berpenis besar. Tanpa kusadari, aku mulai menikmati pemandangan vagina pacarku yang sedang dibor penis berukuran besar tersebut. Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk mencapai ejakulasi. Akupun menumpahkan spermaku ke dinding luar kamar pacarku sendiri. Sungguh aneh, pacarku sedang disetubuhi orang lain sedangkan aku hanya bisa bermasturbasi sambil menonton mereka memadu birahi. "Oooh neng… abang mau keluar nih neng…" Rupanya tukang ojek itu sudah hampir mencapai klimaksnya. "Oooh terus bang…Dina juga mau keluar lagi bang….oohhhh ahhhh…auhhhh…"Dina memeluk erat punggung tukang ojek itu seperti tidak rela melepasnya. "Ooohhh… bentar neng abang cabut ya…. Aaahhhh…. Abang keluarin di luar biar eneng nggak hamil…" "Jangan bang…ohhhh…aahhhh… jangan dicabut…aaahhh…. Terus entot Dina bang….keluarin di dalem aja sama-sama ya bang…ahhhh…oooh" Dina memeluk erat punggung tukang ojek itu, tidak rela berhenti disetubuhinya. "Oooooooooh Dina keluar lagi baaaaaang….ahhhh" "Ooohhh…iya neng…auuhhhh….abang keluar nih neng…. AAAAAAaahhhhhh" Tubuh tukang ojek itu menegang dengan penis besarnya yang masih tertancap di vagina pacarku, menumpahkan spermanya langsung ke rahim Dina. Selama 10 detik kulihat si tukang ojek orgasme mengucurkan benihnya ke vagina pacar kesayanganku. Pelan-pelan tukang ojek itu memutar badannya. PLOP! Suara penis besar yang tercabut itu jelas terdengar. Cairan putih kental mengalir pelan keluar dari vagina pacarku. Rupanya banyak sekali sperma yang dikeluarkannya sampai luber. Dua manusia itu terbaring lemas setelah mencapai puncak birahi. |
Main bertiga
Cerita ini aku alami waktu berlibur di kota S bersama istriku. Saat itu aku ketemu mantanku waktu kerja di kota itu. Namanya Maya, sebut saja demikian. Aku dan istriku waktu itu menginap di hotel 'S', kami berdua sudah hampir 3 hari menginap untuk sedikit refresing dari kota J. Selama ini aku mendengar Maya hidup sendiri, dia sudah putus sama yang katanya calon suami waktu dulu dikenalkan denganku, dan dia katanya sekarang adalah biseks (moga-moga bukan begitu yang aku dengar).
Hari keempat setelah usai makan malam, aku dan istriku mulai iseng seperti biasa suami istri saling cium, saling hisap walaupun dengan pakaian setengah telanjang, namun gairah kami berdua tidak ada habis-habisnya (maklum tiap hari pikiran ini dipenuhi pekerjaan kantor, jadi wajar kalau tiap hari waktu liburan kami senantiasa berhubungan). Kata teman-temanku aku punya libido seks yang tinggi, makanya istriku kadang-kadang tidak kuat meladeni diriku di ranjang. Tengah asyik-asyiknya kami penetrasi pintu kamar hotelku diketuk, aku langsung beranjak tanpa mempedulikan istriku yang sudah ngos-ngosan tidak karuan. Betapa terkejutnya aku waktu kubuka pintu, sesosok badan yag anggun berdiri di depanku dengan celana jeans ketat dan kaos putih ketat terawang. Aku hampir terpesona "Maya.." kataku setengah gugup. "Ayo masuk," pintaku, tanpa sadar aku sudah setengah telanjang (walau hanya memakai celana pendek waktu itu).
Dia mengikutiku masuk ruangan hotel, istriku pun tengah rebahan dan hanya ditutup oleh selimut hotel.
"Ini Maya, Mah kenalin," mereka pun saling berjabat tangan.
"Oh, kalian sedang asyik yah, maaf kalo aku mengganggu?" kata Maya kemudian.
Kami pun agak kikuk, namun Maya dengan santai pun berkata,
"Lanjutin aja, cueklah kalian kan sudah suami istri, ayo lanjutin aja!"
Aku dan istriku heran melihat hal itu, namun dengan sedikit kikuk tanpa aku pikirkan siapa dia, aku mulai lagi penetrasi dengan istriku (walaupun agak canggung). Kulumat bibir istriku, turun ke bawah di antara dua payudara nan indah yang kumiliki selama ini (ukurannya sih 34B) kujilat-kugigit puting susu istriku, dengan terpejam istriku mendesah, "Aaahh.. aahh.." dia pun tidak memperdulikan sekelilingnya juga termasuk Maya. Mulutku mulai turun ke arah di lubang kemaluan istriku dengan tangan kanan dan kiri meremas-remas kedua payudaranya. Kujilati lubang kemaluan istriku, dia pun mulai bergoyang-goyang. "Mas.. itilnya.. aahh enak.. Mas.. terus.." Aku sempat melirik Maya, dia pun melihat adegan kami berdua seakan-akan ingin ikut menikmatinya.
"Mas, ayo mulai.. aku.. udah nggak.. kuat.. nih.." lalu penisku yang sudah mulai tegak berdiri mulai masuk ke lubang vagina istriku, "Bleess.. sleepp.." begitu berulang-ulang, tiba-tiba tanpa aku sadari Maya sudah melepas semua penutup tubuhnya, dia beranjak dari tempat duduk dan mendekati istriku, dilumatnya bibir mungil istriku. Edan! pikirku, namun ini memang pengalaman baru bagi kami berdua dan lebih ada variasinya. Istriku pun ternyata membalas ciuman Maya dengan bergairah, tangan Maya pun asyik memainkan puting susu istriku. Hampir satu jam aku naik-turun di tubuh istriku, dan tubuh istriku mulai mengejang "Mas.. aku.. ke.. lu.. aagghh.." Tubuh istriku tergeletak lemas di ranjang, Maya tahu kalau aku belum sampai puncak, ditariknya diriku agar duduk di tepi ranjang, dengan penis yang masih tegak dan basah oleh sperma istriku. Maya mulai menjilati penisku dengan bergairah, "Enak Mas cairan istrimu ini," katanya. Istriku yang melihat hal itu hanya senyum-senyum penuh arti, Maya masih dengan bergairah mengulum-ulum penisku yang panjang dan besar itu, "May, aku pengen.." Dia tahu apa yang kuminta, tanpa bertanya pada istriku Maya naik di antara kedua kaki, rupanya lubang kemaluannya sudah basah melihat adeganku dan istriku tadi.
Lalu "Bleess.." penisku sudah masuk ke vagina Maya. Istriku melihat itu hanya terdiam, namun kemudian dia bangkit dan mendorongku sehingga aku di posisi terlentang di ranjang. Ia mulai naik ke tubuhku dengan posisi lubang vaginanya tepat di atas kepalaku. "Jilati Mas.." pintanya manja. Aku mulai menjilati lubang kemaluan istriku dan klitorisnya yang indah itu, istriku dengan posisi itu ternyata lebih bisa menikmati dengan Maya, mereka saling berciuman dan posisi Maya pun naik-turun di atas penisku. Istriku dengan bergairah melumat kedua puting payudara indah milik Maya, setelah setengah jam tubuh Maya mengejang, "Mas.. aku.. mau.. ke.. aahh.." cairan panas menerpa penisku, begitu pula aku sudah ingin mencapai puncak dan tak tahan lagi spermaku tumpah di dalam lubang vagina Maya. Maya kemudian beringsut dari tempat tidur, dia berjalan ke arah tas yang ia bawa tadi, lalu mengeluarkan sebuah benda coklat panjang dengan tali melingkar, itukah yang dinakan "dildo", aku dan istriku baru tahu waktu itu.
Maya mulai mengenakan dildonya, persis seperti laki-laki, dia berjalan ke arah istriku yang sejak tadi rebahan di sampingku. Maya mulai beraksi, dia menciumi istriku dengan bergairah, melumat puting susu istriku yang tegak, turun ke vaginanya, dijilatinya dengan puas, klitorisnya dimainkan dengan ujung lidahnya, istriku tak tahan dia mendesah-desah kenikmatan. "May.. terus.." Maya kemudian melepas vagina istriku yang tadi dijilat dan digigitnya, dia naik di atas tubuh istriku, lalu tangannya membimbing dildo yang dia pakai tepat di atas lubang vagina istriku, dengan sekali tekan masuklah dildo itu, "Aauugghh.." teriak istriku. "Enak Mas.. lebih enak dari punyamu.." katanya, aku hanya tersenyum. Maya seakan bergairah sekali dalam permainan itu, seakan-akan dia seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi wanita, istriku pun menikmatinya. Aku sudah tidak tahan melihat adegan itu, tanpa minta ijin dulu dengan posisi membelakangi Maya aku melihat warna merah indah vagina milik Maya terpampang di depanku. Dengan sekali genjot penisku sudah masuk ke lubang itu, "Bleess.." Mata Maya sampai terpejam-pejam menikmati itu.
Setelah beberapa lama tubuh istriku tampak mengejang dan, "Ahh.. May.. sayang.." Dia lemas untuk kedua kalinya. Maya tiba-tiba menahanku, sehingga aku terdiam, dia bangkit berdiri dari posisi di atas istriku, dia mendorongku ke tempat tidur, dia melepas dildonya dan naik ke tubuhku, dia mulai lagi dengan posisi seperti awal tadi, wow nikmat sekali. Istriku bangkit dari ranjang, dia iseng mengenakan dildo yang dikenakan Maya tadi, lalu berjalan membelakangi Maya, istriku melihat dengan indah pantat Maya yang putih mulus dan halus itu. Dibelainya dengan lembut, dia mendorong tubuh Maya sehingga terjerambab, dengan posisi itu kami dapat saling berciuman dengan bergairah. Istriku lalu mengambil posisi, dengan perlahan-lahan dia memasukkan dildonya di dubur Maya (dia ingin anal seks rupanya dengan Maya), dengan gerakan lembut dildo itu masuk ke dubur Maya, Maya pun berteriak, "Aagghh sa.. kit.." istriku pun berhenti sebentar, lalu dengan gerakan maju-mundur secara pelan dildo itu akhirnya lancar masuk ke dubur Maya. Mata Maya pun sampai terpejam-pejam, "Mas.. aku.. udah.. nggakk.. ku.. at.. la.." kembali cairan panas menyerang penisku.
Istriku sudah berhenti memainkan dildonya takut Maya menderita sakit. Tubuh Maya terbaring di ranjang sebelahku, istriku yang nafsunya masih menggebu langsung menyerangku, dia dengan posisi seperti Maya tadi mulai naik-turun dan tanganku pun tak ketinggalan memilin kedua puting susunya. Setelah hampir satu jam kami bergumul, akhirnya klimaks kami berdua sama-sama mengeluarkan cairan di dalam satu lubang. Istriku kemudian beringsut, dia ingin mengulum penisku yang masih tegak berdiri dan basah oleh cairan kami berdua, Maya pun tak ketinggalan ikut mengulum-ngulum penisku. Betapa nikmatnya malam ini, pikirku.
Akhirnya kami bertiga tertidur karena kecapaian dengan senyum penuh arti semoga permainan ini dapat kami teruskan dengan didasari rasa sayang bukan karena nafsu semata di antara kami bertiga. Semoga!

»» Baca selengkapnya.....
Hari keempat setelah usai makan malam, aku dan istriku mulai iseng seperti biasa suami istri saling cium, saling hisap walaupun dengan pakaian setengah telanjang, namun gairah kami berdua tidak ada habis-habisnya (maklum tiap hari pikiran ini dipenuhi pekerjaan kantor, jadi wajar kalau tiap hari waktu liburan kami senantiasa berhubungan). Kata teman-temanku aku punya libido seks yang tinggi, makanya istriku kadang-kadang tidak kuat meladeni diriku di ranjang. Tengah asyik-asyiknya kami penetrasi pintu kamar hotelku diketuk, aku langsung beranjak tanpa mempedulikan istriku yang sudah ngos-ngosan tidak karuan. Betapa terkejutnya aku waktu kubuka pintu, sesosok badan yag anggun berdiri di depanku dengan celana jeans ketat dan kaos putih ketat terawang. Aku hampir terpesona "Maya.." kataku setengah gugup. "Ayo masuk," pintaku, tanpa sadar aku sudah setengah telanjang (walau hanya memakai celana pendek waktu itu).
Dia mengikutiku masuk ruangan hotel, istriku pun tengah rebahan dan hanya ditutup oleh selimut hotel.
"Ini Maya, Mah kenalin," mereka pun saling berjabat tangan.
"Oh, kalian sedang asyik yah, maaf kalo aku mengganggu?" kata Maya kemudian.
Kami pun agak kikuk, namun Maya dengan santai pun berkata,
"Lanjutin aja, cueklah kalian kan sudah suami istri, ayo lanjutin aja!"
Aku dan istriku heran melihat hal itu, namun dengan sedikit kikuk tanpa aku pikirkan siapa dia, aku mulai lagi penetrasi dengan istriku (walaupun agak canggung). Kulumat bibir istriku, turun ke bawah di antara dua payudara nan indah yang kumiliki selama ini (ukurannya sih 34B) kujilat-kugigit puting susu istriku, dengan terpejam istriku mendesah, "Aaahh.. aahh.." dia pun tidak memperdulikan sekelilingnya juga termasuk Maya. Mulutku mulai turun ke arah di lubang kemaluan istriku dengan tangan kanan dan kiri meremas-remas kedua payudaranya. Kujilati lubang kemaluan istriku, dia pun mulai bergoyang-goyang. "Mas.. itilnya.. aahh enak.. Mas.. terus.." Aku sempat melirik Maya, dia pun melihat adegan kami berdua seakan-akan ingin ikut menikmatinya.
"Mas, ayo mulai.. aku.. udah nggak.. kuat.. nih.." lalu penisku yang sudah mulai tegak berdiri mulai masuk ke lubang vagina istriku, "Bleess.. sleepp.." begitu berulang-ulang, tiba-tiba tanpa aku sadari Maya sudah melepas semua penutup tubuhnya, dia beranjak dari tempat duduk dan mendekati istriku, dilumatnya bibir mungil istriku. Edan! pikirku, namun ini memang pengalaman baru bagi kami berdua dan lebih ada variasinya. Istriku pun ternyata membalas ciuman Maya dengan bergairah, tangan Maya pun asyik memainkan puting susu istriku. Hampir satu jam aku naik-turun di tubuh istriku, dan tubuh istriku mulai mengejang "Mas.. aku.. ke.. lu.. aagghh.." Tubuh istriku tergeletak lemas di ranjang, Maya tahu kalau aku belum sampai puncak, ditariknya diriku agar duduk di tepi ranjang, dengan penis yang masih tegak dan basah oleh sperma istriku. Maya mulai menjilati penisku dengan bergairah, "Enak Mas cairan istrimu ini," katanya. Istriku yang melihat hal itu hanya senyum-senyum penuh arti, Maya masih dengan bergairah mengulum-ulum penisku yang panjang dan besar itu, "May, aku pengen.." Dia tahu apa yang kuminta, tanpa bertanya pada istriku Maya naik di antara kedua kaki, rupanya lubang kemaluannya sudah basah melihat adeganku dan istriku tadi.
Lalu "Bleess.." penisku sudah masuk ke vagina Maya. Istriku melihat itu hanya terdiam, namun kemudian dia bangkit dan mendorongku sehingga aku di posisi terlentang di ranjang. Ia mulai naik ke tubuhku dengan posisi lubang vaginanya tepat di atas kepalaku. "Jilati Mas.." pintanya manja. Aku mulai menjilati lubang kemaluan istriku dan klitorisnya yang indah itu, istriku dengan posisi itu ternyata lebih bisa menikmati dengan Maya, mereka saling berciuman dan posisi Maya pun naik-turun di atas penisku. Istriku dengan bergairah melumat kedua puting payudara indah milik Maya, setelah setengah jam tubuh Maya mengejang, "Mas.. aku.. mau.. ke.. aahh.." cairan panas menerpa penisku, begitu pula aku sudah ingin mencapai puncak dan tak tahan lagi spermaku tumpah di dalam lubang vagina Maya. Maya kemudian beringsut dari tempat tidur, dia berjalan ke arah tas yang ia bawa tadi, lalu mengeluarkan sebuah benda coklat panjang dengan tali melingkar, itukah yang dinakan "dildo", aku dan istriku baru tahu waktu itu.
Maya mulai mengenakan dildonya, persis seperti laki-laki, dia berjalan ke arah istriku yang sejak tadi rebahan di sampingku. Maya mulai beraksi, dia menciumi istriku dengan bergairah, melumat puting susu istriku yang tegak, turun ke vaginanya, dijilatinya dengan puas, klitorisnya dimainkan dengan ujung lidahnya, istriku tak tahan dia mendesah-desah kenikmatan. "May.. terus.." Maya kemudian melepas vagina istriku yang tadi dijilat dan digigitnya, dia naik di atas tubuh istriku, lalu tangannya membimbing dildo yang dia pakai tepat di atas lubang vagina istriku, dengan sekali tekan masuklah dildo itu, "Aauugghh.." teriak istriku. "Enak Mas.. lebih enak dari punyamu.." katanya, aku hanya tersenyum. Maya seakan bergairah sekali dalam permainan itu, seakan-akan dia seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi wanita, istriku pun menikmatinya. Aku sudah tidak tahan melihat adegan itu, tanpa minta ijin dulu dengan posisi membelakangi Maya aku melihat warna merah indah vagina milik Maya terpampang di depanku. Dengan sekali genjot penisku sudah masuk ke lubang itu, "Bleess.." Mata Maya sampai terpejam-pejam menikmati itu.
Setelah beberapa lama tubuh istriku tampak mengejang dan, "Ahh.. May.. sayang.." Dia lemas untuk kedua kalinya. Maya tiba-tiba menahanku, sehingga aku terdiam, dia bangkit berdiri dari posisi di atas istriku, dia mendorongku ke tempat tidur, dia melepas dildonya dan naik ke tubuhku, dia mulai lagi dengan posisi seperti awal tadi, wow nikmat sekali. Istriku bangkit dari ranjang, dia iseng mengenakan dildo yang dikenakan Maya tadi, lalu berjalan membelakangi Maya, istriku melihat dengan indah pantat Maya yang putih mulus dan halus itu. Dibelainya dengan lembut, dia mendorong tubuh Maya sehingga terjerambab, dengan posisi itu kami dapat saling berciuman dengan bergairah. Istriku lalu mengambil posisi, dengan perlahan-lahan dia memasukkan dildonya di dubur Maya (dia ingin anal seks rupanya dengan Maya), dengan gerakan lembut dildo itu masuk ke dubur Maya, Maya pun berteriak, "Aagghh sa.. kit.." istriku pun berhenti sebentar, lalu dengan gerakan maju-mundur secara pelan dildo itu akhirnya lancar masuk ke dubur Maya. Mata Maya pun sampai terpejam-pejam, "Mas.. aku.. udah.. nggakk.. ku.. at.. la.." kembali cairan panas menyerang penisku.
Istriku sudah berhenti memainkan dildonya takut Maya menderita sakit. Tubuh Maya terbaring di ranjang sebelahku, istriku yang nafsunya masih menggebu langsung menyerangku, dia dengan posisi seperti Maya tadi mulai naik-turun dan tanganku pun tak ketinggalan memilin kedua puting susunya. Setelah hampir satu jam kami bergumul, akhirnya klimaks kami berdua sama-sama mengeluarkan cairan di dalam satu lubang. Istriku kemudian beringsut, dia ingin mengulum penisku yang masih tegak berdiri dan basah oleh cairan kami berdua, Maya pun tak ketinggalan ikut mengulum-ngulum penisku. Betapa nikmatnya malam ini, pikirku.
Akhirnya kami bertiga tertidur karena kecapaian dengan senyum penuh arti semoga permainan ini dapat kami teruskan dengan didasari rasa sayang bukan karena nafsu semata di antara kami bertiga. Semoga!
Orgasmeku yang Hebat
| Baiklah, sekarang kita kembali ke kejadian hari itu yang rencananya mau mengadakan orgy party setelah sekian lama otak kami dijejali bahan-bahan kuliah dan urusan sehari-hari. Waktu itu Verna protes karena aku tidak memperbolehkannya mengajak teman-teman cowok yang biasa diajak, begitu juga Indah yang ikut mendukung Verna karena pacarnya juga tidak boleh diajak. "Emangnya lu ngundang siapa aja sih Ci, masa si Chevy aja ga boleh ikutan?" kata Indah. "Iya nih, emangnya kita mau pesta lesbian apa, wah gua kan cewek normal nih" timpal Verna. "Udahlah, lu orang tenang aja, cowok-cowoknya nanti nyusul, pokoknya yang kali ini surprise deh! dijamin kalian puas sampe ga bisa bangun lagi deh". Aku ingin sedikit membuat kejutan agar acara kali ini lain dari yang lain, karena itulah aku merahasiakan siapa pejantannya yang tidak lain adalah penjaga vilaku dan vila tetanggaku, Pak Joko dan Taryo. Kemarinnya aku memang sudah mengabari Pak Joko lewat telepon bahwa aku besok akan ke sana dengan teman-temanku yang pernah kujanjikan pada mereka dulu. Pak Joko tentu antusias sekali dengan acara kali ini, kami telah mengatur skenario acaranya agar seru. Beberapa jam kemudian kami sampai di villaku, Pak Joko seperti biasa membukakan pintu garasi, bola matanya melihat jelalatan pada kami terutama Verna yang hari itu pakaiannya seksi berupa sebuah tank top merah berdada rendah dengan rok mini. Dia kusuruh keluar dulu sampai aku memberi syarat padanya, dia menunggunya di villa tetangga yang tidak lain vila yang dijaga si Taryo. Setelah membereskan barang bawaan, kami menyantap makan siang, lalu ngobrol-ngobrol dan istirahat. Indah yang daritadi kelihatan letih terlelap lebih dulu. Kami bangun sore hari sekitar jam 4 sore. "Eh.. sambil nunggu cowok-cowoknya mendingan kita berenang dulu yuk" ajakku pada mereka. Aku melepaskan semua bajuku tanpa tersisa dan berjalan ke arah kolam dengan santainya. "Wei.. gila lo Ci, masa mau berenang ga pake apa-apa gitu, kalo keliatan orang gimana?" tegur Indah. "Iya Ci, lagian kan kalo si tua Joko itu dateng gimana tuh" sambung Verna. "Yah kalian, katanya mo party, masa berenang bugil aja ga berani, tenang aja Pak Joko udah gua suruh jangan ke sini sampai kita pulang nanti" bujukku sambil menarik tangan Verna. Di tepi kolam mereka masih agak ragu melepas pakaiannya, alasannya takut kepergok tetangga, setelah kutantang Verna baru mulai berani melepas satu demi satu yang melekat di tubuhnya, aku membantu Indah yang masih agak malu mempreteli pakaiannya. Akhirnya kami bertiga nyebur ke kolam tanpa memakai apapun. Perlahan-lahan rasa risih mereka pun mulai berkurang, kami tertawa-tawa, main siram-siraman air, dan balapan renang kesana kemari dengan bebasnya. Mungkin seperti inilah kira-kira gambaran tempat pemandian di istana haremnya para raja. Sesudah agak lama bermain di air aku naik ke atas dan mengelap tubuhku yang basah, lalu membalut tubuhku dengan kimono. "Ci, sekalian ambilin kita minum yah" pinta Verna. Akupun berjalan ke dalam dan meminum segelas air. "Ok, it's the showtime" gumamku dalam hati, inilah saat yang tepat untuk menjalankan skenario ini. Aku segera menelepon vila sebelah menyuruh Pak Joko dan Taryo segera kesini karena pesta akan segera dimulai. "Iya neng, kita segera ke sana" sahut Taryo sambil menutup gagang telepon. Hanya dalam hitungan menit mereka sudah nampak di pekarangan depan vilaku. Aku yang sudah menunggu membukakan pintu untuk mereka. "Wah udah ga sabaran nih, daritadi cuma ngintipin neng sama temen-temen neng dari loteng" kata Pak Joko. "Pokoknya yang rambutnya dikuncir itu buat saya dulu yah neng" ujar Taryo merujuk pada Indah. "Iya tenang, sabar, Pokoknya semua kebagian, ok" kataku "yang penting sekarang surprise buat mereka dulu". Setelah beberapa saat berbicara kasak-kusuk, akhirnya operasipun siap dilaksanakan. Pertama-tama dimulai dari Verna. Aku berjalan ke arah kolam membawakan mereka dua gelas air, disana Indah sedang tiduran di kursi santai tanpa busana, sementara Verna masih berendam di air. "Ver, lu bisa ke kamar gua sebentar ga, gua mo minta tolong dikit nih" pintaku padanya. "Lu lap badan dulu gih, gua tunggu di sana". Aku masuk ke dalam terlebih dahulu dan duduk di pingir ranjang menunggunya. Di balik pintu itu Pak Joko dan Taryo yang sudah kusuruh bugil telah siap memangsa temanku itu, kemaluan mereka sudah mengeras dan berdiri tegak seperti pedang yang terhunus. Tak lama kemudian Verna memasuki kamarku sambil mengelap rambutnya yang masih basah. "Kenapa Ci, ada perlu apa emang?" tanyanya. "Ngga, cuma mau ngasih surprise dikit kok" jawabku dengan menyeringai dan memberi aba-aba pada mereka. Sebelum Verna sempat membalikkan badan, sepasang lengan hitam sudah memeluknya dari belakang dan tangan yang satunya dengan sigap membekap mulutnya agar tidak berteriak. Verna yang terkejut tentu saja meronta-ronta, namun pemberontakan itu justru makin membakar nafsu kedua orang itu. Pak Joko dengan gemas meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya. Si Taryo berhasil menangkap kedua pergelangan kakinya yang menendang-nendang. Dibentangkannya kedua tungkai itu, lalu dia berjongkok dengan wajah tepat di hadapan kemaluan Verna. "Wah jembutnya lebat juga yah, kaya si neng" komentar Taryo sambil menyentuhkan lidahnya ke liang vagina Verna, diperlakukan seperti itu Verna cuma bisa merem melek dan mengeluarkan desahan tertahan karena bekapan Pak Joko begitu kokoh. "Hei, jangan rakus dong Tar, dia kan buat Pak Joko, tuh jatahlu masih nunggu di luar sana" kataku padanya. Mengingat kembali sasarannya semula, Taryo menurunkan kembali kaki Verna dan bergegas menuju ke kolam. "Jangan terlalu kasar yah ke dia, bisa-bisa pingsan gara-gara lu" godaku. Setelah Taryo keluar tinggallah kami bertiga di kamarku. Pak Joko langsung menghempaskan dirinya bersama Verna ke ranjang spring bed-ku. Tak berapa lama terdengarlah jeritan Indah dari kolam, aku melihat dari jendela kamarku apa yang terjadi antara mereka. Indah terpelanting dari kursi santai dan berusaha melepaskan diri dari Taryo. Dia berhasil berdiri dan mendapat kesempatan menghindar, tapi kalah cepat dari Taryo, tukang kebun itu berhasil mendekapnya dari belakang lalu mengangkat badannya. "Jangan.. tolong!" jeritnya sambil meronta-ronta dalam gendongan Taryo. Taryo dengan santai membawa Indah ke tepi kolam, lalu dilemparnya ke air, setelah itu dia ikutan nyebur. Dia air Indah terus berontak saat Taryo menggerayangi tubuhnya dalam himpitannya. Sekuat apapun Indah tentu saja bukan tandingan Taryo yang sudah kesurupan itu. Perlawanan Indah mengendur setelah Taryo mendesaknya di sudut kolam, riak di kolam juga mulai berkurang. Tidak terlalu jelas detilnya Taryo menggerayangi tubuh Indah, tapi aku dapat melihat Taryo memeluk erat Indah sambil melumat bibirnya. Kutinggalkan mereka menikmati saat-saat nikmatnya untuk kembali lagi pada situasi di kamarku. Aku lalu menghampiri Pak Joko dan Verna untuk bergabung dalam kenikmatan ini. Sama seperti Indah, Verna juga menjerit-jerit, namun jeritannya juga pelan-pelan berubah menjadi erangan nikmat akibat rangsangan-rangsangan yang dilakukan Pak Joko. Waktu aku menghampiri mereka Pak Joko sedang menjilati paha mulus Verna sambil kedua tangannya masing-masing bergerilya pada payudara dan kemaluan Verna. "Aduh Ci.. tega-teganya lu nyerahin kita ke orang-orang kaya gini.. ahh!" kata Verna ditengah desahannya. "Tenang Ver, ini baru namanya surprise, sekali kali coba produk kampung dong" kataku seraya melumat bibirnya. Aku berpagutan dengan Verna beberapa menit lamanya. Jilatan Pak Joko mulai merambat naik hingga dia melumat dan meremas payudara Verna secara bergantian, sementara tangannya masih saja mengobok-obok vaginanya. Desahan Verna tertahan karena sedang berciuman denganku, tubuhnya menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tiada tara. "Hhhmmhh.. tetek Neng Verna ini gede juga ya, lebih gede dari punya Neng" kata Pak Joko disela aktivitasnya. Memang sih diantara kami bereempat, payudara Verna termasuk yang paling montok. Menurut pengakuannya, cowok-cowok yang pernah ML dengannya paling tergila-gila mengeyot benda itu atau mengocok penis mereka diantara himpitannya. Pak Joko pun tidak terkecuali, dia dengan gemas mengemut susunya, seluruh susu kanan Verna ditelan olehnya. Puas menetek pada Verna, Pak Joko bersiap memasuki vagina Verna dengan penisnya. Kulihat dalam posisinya diantara kedua belah paha Verna dia memegang penisnya untuk diarahkan ke liang itu. "Ouch.. sakit Ver, duh kasar banget sih babu lu" Verna meringis dan mencengkram lenganku waktu penis super Pak Joko mendorong-dorongkan penisnya dengan bernafsu. "Tahan Ver, ntar juga lu keenakan kok, pokoknya enjoy aja" kataku sambil meremasi kedua payudaranya yang sudah basah dan merah akibat disedot Pak Joko. Pak Joko menyodokkan penisnya dengan keras sehingga Verna pun tidak bisa menahan jeritannya, Verna kelihatan mau menangis nampak dari matanya yang sedikit berair.Pak Joko mulai menggarap Verna dengan genjotannya. Aku merasakan tangan Verna menyelinap ke bawah kimonoku menuju selangkangan, eennghh..aku mendesah merasakan jari-jari Verna menggerayangi kemaluanku. Aku lalu naik ke wajah Verna berhadapan dengan Pak Joko yang sedang menggenjotnya. Verna langsung menjilati kemaluanku dan Pak Joko menarik tali pinggang kimonoku sehingga tubuhku tersingkap. Dengan terus menyodoki Verna, dia meraih payudaraku yang kiri, mula-mula dibelainya dengan lembut tapi lama-lama tangannya semakin keras mencengkramnya sampai aku meringis menahan sakit. Dia juga menyorongkan kepalanya berusaha mencaplok payudara yang satunya. Aku yang mengerti apa maunya segera mencondongkan badanku ke depan sehingga dadaku pun makin membusung indah. Ternyata dia tidak langsung mencaplok payudaraku, tetapi hanya menjulurkan lidahnya untuk menjilati putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Aku merasakan sensasi yang luar biasa, geli bercampur nikmat. Sapuan-sapuan lidah Verna pada vaginaku membuat daerah itu semakin becek, bukan cuma itu saja Verna juga mengorek-ngoreknya dengan jarinya. Aku mendesah tak karuan merasakan jilatan dan sedotan pada klistoris dan putingku. Ciuman Pak Joko merambat naik dari dadaku hingga hinggap di bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu. Tidak kuhiraukan nafasnya yang bau rokok, lidah kami beradu dengan liar sampai ludah kami bercampur baur. "Aahh.. oohh.. gua dah mau.. Pak!" erang Verna bersamaan dengan tubuhnya yang mengejang dan membusur ke atas. Melihat reaksi Verna, Pak Joko semakin memperdahsyat sodokannya dan semakin ganas meremas dadanya. Aku sendiri tidak merasa akan segera menyusul Verna, dibawah sana seperti mau meledak rasanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan aku dan Verna mencapai klimaks, tubuh kami mengejang hebat dan cairan kewanitaanku tumpah ke wajah Verna. Erangan kami memenuhi kamar ini membuat Pak Joko semakin liar. Setelah aku ambruk ke samping, Pak Joko menindih Verna dan mulai menciuminya, dijilatinya cairan cintaku yang blepotan di sekitar mulut Verna, tangannya tak henti-hentinya menggerayangi payudara montok itu, seolah-oleh tak ingin lepas darinya. "Hhmmpphh.. sluurrpp.. cup.. cup.." demikian bunyinya saat mereka bercipokan, lidah mereka saling membelit dan bermain di rongga mulut masing-masing. Pak Joko cukup pengertian akan kondisi Verna yang mulai kepayahan, jadi setelah puas berciuman dia membiarkannya memulihkan tenaga dulu. Dan kini disambarnya tubuhku, padahal gairahku baru naik setengahnya setelah orgasme barusan. Tubuhku yang dalam posisi tengkurap diangkatnya pada bagian pinggul sehingga menungging. Dia membuka lebar bibir vaginaku dan menyentuhkan kepala penisnya disitu. Benda itu pelan-pelan mendesak masuk ke vaginaku. Aku mendesah sambil meremas-remas sprei menghayati proses pencoblosan itu. Permainan Pak Joko sungguh membuatku terhanyut, dia memulainya dengan genjotan-genjotan pelan, tapi lama-kelamaan sodokannya terasa makin keras dan kasar sampai tubuhku berguncang dengan hebatnya. Aku meraih tangannya untuk meremasi payudaraku yang berayun-ayun. Tiba-tiba suara desahan Verna terdengar lagi menjari sahut menyahut dengan desahanku. Gila, penjaga vilaku ini mengerjai kami berdua dalam waktu bersamaan, bedanya aku dikocok dengan penis sedangkan Verna dikocok dengan jari-jarinya. Verna membuka pahanya lebih lebar lagi agar jari-jari Pak Joko bermain lebih leluasa. "Aduhh.. aahh.. gila Ver.. enak banget!" ceracauku sambil merem-melek. "Oohh.. terus Pak.. kocok terus" Verna terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya. "Yak.. dikit lagi.. aahh.. Pak.. udah mau" aku mempercepat iramaku karena merasa sudah hampir klimaks. "Neng Citra.. Neng Verna.. bapak juga.. mau keluar.. eerrhh" geramnya dengan mempercepat gerakkannya. Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahimku. Sebuah rintihan panjang menandai orgasmeku, tubuhku berkelejotan seperti kesetrum. Kemudian dia lepaskan penisnya dari vaginaku dan berdiri di ranjang. Disuruhnya Verna berlutut dan mengoral penisnya yang berlumuran cairan cintaku. Verna berlutut mengemut penis basah itu sambil tangan kanannya mengocok vaginanya sendiri yang tanggung belum tuntas. Aku bangkit perlahan dan ikut bergabung dengan Verna menikmati penis Pak Joko. Verna mengemut batangnya, aku mengemut buah zakarnya, kami saling berbagi menikmati "sosis" itu. Di tengah kulumannya mendadak Verna merintih tertahan, tubuhnya seperti menggigil, dan kulihat ke bawah ternyata dari vaginanya mengucur cairan bening hasil masturbasinya sendiri. Disusul beberapa detik kemudian, Pak Joko mencabut penisnya dari mulutku lalu mengerang panjang. Cairan kental berbau khas memancar dengan derasnya membasahi wajah kami. Kami berebutan menelan cairan itu, penis itu kupompa dalam genggamanku agar semuanya keluar, nampak pemiliknya mendesah-desah dan kelabakan "Sabar, sabar dong neng, bisa putus kontol bapak kalo rebutan gini" katanya terbata-bata. Setelah tidak ada yang keluar lagi Verna menjilati sisanya di wajahku, demikian pula sebaliknya. Mereka berdua akhirnya ambruk kecapaian, wajah Pak Joko jatuh tepat di dada Verna. Saat mereka ambruk, sebaliknya gairahku mulai timbul lagi. Maka kutinggalkan mereka untuk melihat keadaan Indah dan Taryo. Aku tiba di kolam melihat Taryo sedang menggarap tubuh mungil Indah. Di daerah dangkal Indah dalam posisi berpegangan pada tangga kolam, Taryo dari bawahnya juga dalam posisi berdiri sedang asyik menggenjot penisnya pada vagina Indah. Kedua payudara Indah bergoyang naik turun seirama goyang tubuhnya. Pasti adegan ini membuat para cowok di kampusku sirik pada Taryo yang buruk rupa tapi bisa ngentot dengan gadis seimut itu. "Belum selesai juga lu orang, udah berapa ronde nih?" sapaku. "Edan Ci.. gua sampe klimaks tiga kali.. aahh!" desah Indah tak karuan. "Neng.. temennya enak banget, udah cantik, memeknya seret lagi" komentar Taryo sambil terus menggenjot. Indah tak kuasa menahan rintihannya setiap Taryo menusukkan penisnya, tubuhnya bergetar hebat akibat tarikan dan dorongan penis penjaga vila itu pada kemaluannya. Kepala Taryo menyelinap lewat ketiak sebelah kirinya lalu mulutnya mencaplok buah dadanya. Pinggul Indah naik turun berkali kali mengikuti gerakan Taryo. Jeritannya makin menjadi-jadi hingga akhirnya satu lenguhan panjang membuatnya terlarut dalam orgasme, beberapa saat tubuhnya menegang sebelum akhirnya terkulai lemas di tangga kolam. Setelah menaklukkan Indah, Taryo memanggilku yang mengelus-ngelus kemaluanku sendiri menonton adegan mereka. "Sini neng, mendingan dipuasin pake kontol saya aja daripada ngocok sendiri" . Akupun turun ke air yang merendam sebatas lutut kami, disambutnya aku dengan pelukannya, tangannya mengelusi punggungku terus turun hingga meremas bongkahan pantatku. Sementara tanganku juga turun meraih kemaluannya. "Gila nih kontol, masih keras juga..udah keluar berapa kali tadi?" tanyaku waktu menggenggam batangnya yang masih "lapar" itu. "Baru sekali tadi.. abis saya masih nungguin neng sih" godanya saambil nyengir. Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung. Dia mulai menciumiku dari telinga, lidah itu menelusuri belakang telingaku juga bermain-main di lubangnya. Dengusan nafas dan lidahnya membuatku merasa geli dan menggeliat-geliat. Mulutnya berpindah melumat bibirku dengan ganas, lidahnya menyapu langit-langit mulutku, kurespon dengan mengulum lidahnya. Tanganku meraba-raba kebawah mencari kemaluannya karena birahiku telah demikian tingginya, tak sabar lagi untuk dientot. Ketika kuraih benda itu kutuntun memasuki kemaluanku, tangan kanan Taryo ikut menuntun senjatanya menembaki sasaran. Saat kepala penisnya menyentuh bibir kemaluanku, dia menekannya ke dalam, mulutku menggumam tertahan karena sedang berciuman dengannya. Ciuman kami baru terlepas disertai jeritan kecil ketika Taryo mengehentakkan pinggulnya hingga penisnya tertanam semua dalam vaginaku. Pinggulnya bergerak cepat diantara kedua pahaku sementara mulutnya mencupangi pundak dan leher jenjangku. Aku hanya bisa menengadahkan kepala menatap langit dan mendesah sejadi-jadinya. Kalau dibandingkan dengan Pak Joko, memang sodokan Taryo lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Joko yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu. Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku. Kufokuskan pandanganku dan astaga.. ternyata si Verna, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai payudaranya menempel pada kaca jendela, mulutnya tampak mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis. Adegan itu ditambah serangan Taryo yang makin gencar membuatku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga dadaku tertekan di dadanya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air. Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini. Taryo memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar. Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan. Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Taryo yang jatuh bersandar di pinggir kolam. Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua payudaraku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku. Kugerakkan mataku, di jendela Verna dan Pak Joko sudah tak nampak lagi, di sisi lain Indah yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya. Kami beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kami tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan. Kami mengadakan permainan gila, ceritanya kami bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Verna, filenya akan disimpan dalam komputer Verna untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kami, mengingat kasus bokep Itenas. Kami duduk melingkar di ranjang, Pak Joko dan Taryo kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu hanya dengan memakai kolor, sambil sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai. Suasana tegang menyelimuti kami bertiga, setelah akhirnya Indah melempar kartunya yang buruk sambil menepuk jidatnya, dia kalah. Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Indah. Indah sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya. Taryo menyusupkan tangannya ke kimono Indah meraih payudaranya yang tak memakai apa-apa di baliknya. Pak Joko menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Indah dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu. Perlakuan ini membuat rontaan Indah terhenti, kini dia malah mengelus-elus penis Taryo yang menegang sambil memejamkan mata menikmati vaginanya dijilati Pak Joko dan dadanya diremas Mulkas. Aku melihat lidah Pak Joko menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Indah, lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya. Indah tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan penis Taryo ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim. Event menarik itu tidak dilewatkan Verna dengan kamera-HP nya. Indah terengah-engah melayani penis super Taryo, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya. Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Verna sebagai juru kameranya. Pak Joko yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu pada bibir kemaluan Indah, sebagai pemanasan sebelum memasukinya. Kemulusan tubuh Indah terpampang begitu Taryo menarik lepas tali pinggang pada kimononya, sesosok tubuh yang putih mulus serta terawat baik diantara dua tubuh hitam dan kasar, sungguh perpaduan yang kontras tapi menggairahkan. Pak Joko mempergencar rangsangannya dengan menciumi batang kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya. Indah yang sudah kesurupan "setan seks" itu jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu "Ahh.. awww.. Pak enak banget.. masukin aja sekarang!" rintihnya manja sambil meraih penis Pak Joko yang masih bergesekan dengan bibir vaginanya. Pak Joko pun mendorong penis itu membelah kedua belahan kemaluan Indah diiringi desahan nikmat yang memenuhi kamar ini sampai aku dibuat merinding mendengarnya. Aku mengeluarkan payudara kiriku dari balik kimono dan meremasnya dengan tanganku, tangan yang satu lagi turun menggesek-gesekkan jariku ke kemaluanku, Verna yang juga sudah horny sesekali mengelus kemaluannya sendiri. Indah nampak sangat liar, kemaluannya digenjot dari depan, dan Taryo yang menopang tubuhnya dari belakang meremasi kedua payudaranya serta memencet-mencet putingnya. Rambutnya yang sudah terurai itu disibakkan Taryo, lalu melumat leher dan pundaknya dengan jilatan dan gigitan ringan. Hal ini menyebabkan Indah tambah menggelinjang dan mempercepat kocokannya pada penis Taryo. Serangan Pak Joko pada vagina Indah semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat. "Aaakhh..aahh!" jerit Indah dengan melengkungkan tubuhnya ke atas. Indah telah mencapai orgasme hampir bersamaan dengan Pak Joko yang menyemprotkan spermanya di dalam rahimnya. Adegan ini juga direkam oleh Verna, difokuskan terutama pada wajah Indah yang sedang orgasme. Tanpa memberi istirahat, Taryo menaikkan Indah ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Kembali vagina Indah dikocok oleh penis Taryo. Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan Taryo. Taryo yang merasa keenakan hanya bisa mengerang sambil meremas pantat Indah menikmati pijatan kemaluannya. Pak Joko mengistirahatkan penisnya sambil menyusu dari kedua payudara Indah secara bergantian. Aku semakin dalam mencucukkan jariku ke dalam vaginaku saking terangsangnya, sampai-sampai cairanku mulai meleleh membasahi selangkangan dan jari-jariku. Bosan dengan gaya berpangkuan, Taryo berbaring telentang dan membiarkan Indah bergoyang di atas penisnya. Kemudian dia menyuruh Verna naik ke atas wajahnya agar bisa menikmati kemaluannya. Verna yang daritadi sudah terangsang itu segera melakukan apa yang disuruh tanpa ragu-ragu. Seluruh wajah Taryo tertutup oleh daster transparan Verna, namun aku masih dapat melihat dia dengan rakusnya melahap kemaluannya sambil menyusupkan tangannya dari bawah daster menuju payudaranya. Pak Joko yang anunya sudah mulai bangkit lagi menerkamku, kami berguling-guling sambil berciuman penuh nafsu. Dengan tetap berciuman Pak Joko memasukkan penisnya ke vaginaku, cairan yang melumuri selangkanganku melancarkan penetrasinya. Dengan kecepatan tinggi penisnya keluar masuk dalam vaginaku hingga aku histeris setiap benda itu menghujam keras ke dalam. Aku cuma bisa pasrah di bawah tindihannya membiarkan tangannya menggerayangi payudaraku, mulutnya pun terus menjilati leherku. Aku masih memakai kimonoku, hanya saja sudah tersingkap kesana kemari. Aku melihat Taryo masih berasyik-masyuk dengan kedua temanku, hanya kali ini Verna sudah bertukar posisi dengan Indah. Sekarang mereka saling berhadapan, Verna bergoyang naik turun diatas penis Taryo sambil berciuman dengan Indah yang mekangkangi wajah Taryo. Indah membuka kakinya lebar-lebar sehingga cairannya semakin mengalir, cairan itu diseruput dengan rakus oleh si Taryo sampai terdengar suara sluurrpp.. sshhrrpp..Ketika aku sedang menikmati orgasmeku yang hebat, dia tekan sepenuhnya penis itu ke dalam dan ini membawa efek yang luar biasa padaku dalam menghayati setiap detik klimaks tersebut, tubuhku menggelinjang dan berteriak tak tentu arah sampai akhirnya melemas kembali. Pesta gila-gilaan ini berakhir sekitar jam 11 malam. Aku sudah setengah sadar ketika Pak Joko menumpahkan maninya di wajahku, tulang-tulangku serasa berantakan. Indah sudah terkapar lebih dulu dengan tubuh bersimbah peluh dan ceceran sperma di dadanya, dari pangkal pahanya yang terbuka nampak cairan kewanitaan bercampur sperma yang mengalir bak mata air. Sebelum tak sadarkan diri aku masih sempat melihat Taryo menyodomi Verna yang masih dalam gaun transparan yang sudah berantakan, tubuh keduanya sudah mandi keringat. Karena letih dan ngantuk aku pun segera tertidur tanpa kupedulikan jeritan histeris Verna maupun tubuhku yang sudah lengket oleh sperma. Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku hanya mendapati Indah yang masih terlelap di sebelah kiriku. Kuguncang tubuh Indah untuk membangunkannya. "Gimana Dah.. puas semalem?" tanyaku . "Gila gua dientotin sampe kelenger, barbar banget tuh dua orang, eh.. omong-omong pada kemana yang lain si Verna juga ga ada?" "Ga tau juga tuh gua juga baru bangun kok, duh lengket banget mandi dulu yuk.. udah lengket gini" ajakku karena merasa tidak nyaman dengan sperma kering terutama di wajahku, rasanya seperti ada sarang laba-laba menempel di sana. Baru saja keluar dari kamar, sayup-sayup sudah terdengar suara desahan, kuikuti asal suara itu yang ternyata dari kamar mandi. Kami berdua segera menuju ke kamar mandi yang pintunya setengah terbuka itu, kami tengok ke dalam dan melihat Verna dan kedua penjaga villa itu. Darahku berdesir melihat pemandangan erotis di depan kami, dimana Verna sedang dikerjai oleh mereka di lantai kamar mandi. Taryo sedang enak-enaknya mengocok senjatanya diantara kedua gunung bulat itu, sedangkan Pak Joko berlutut diantara paha jenjang itu sedang menyetubuhinya, air dan sabun membuat tubuh mereka basah berkilauan. Kedatangan kami sepertinya tidak terlalu membuat mereka terkejut, mereka malah menyapa kami sambil terus "bekerja". Aku dengan tidak terlepas dari live show itu berjalan ke arah shower dan membuka kimonoku diikuti Indah dari belakang. Air hangat mengucur membasuh dan menyegarkan tubuh kami, kuambil sabun cair dan menggosokkannya ke sekujur tubuh Indah. Demikian juga Indah dia melakukan hal yang sama padaku, kami saling menyabuni satu sama lain. Kami saling mengelus bagian tubuh masing-masing, suatu ketika ketika tanganku sampai ke bawah, iseng-iseng kubelai bibir kemaluannya sekaligus mempermainkan klistorisnya. "Uuhh.. Ci!" dia menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku sehingga buah dada kami saling berhimpit. Tangan Indah yang lembut juga mengelusi punggungku lalu mulai turun ke bawah meremas bongkahan pantatku. Darahku pun mengalir makin cepat ditambah lagi adegan panas Verna dengan kedua pria itu membuatku makin naik. Indah mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku yang terbuka karena sedang mendesah, selama beberapa menit bibir kami berpagutan. Kemudian aku memutar badanku membelakangi Indah supaya bisa lebih nyaman menonton Verna. Aku melihat wajah horny Verna yang cantik, dia meringis dan mengerang menikmati tusukan Pak Joko pada vaginanya, sementara Taryo hampir mencapai orgasmenya, dia semakin cepat menggesek-gesekkan penisnya diantara gunung kembar itu, tangannya pun semakin keras mencengkram daging kenyal itu sehingga pemiliknya merintih kesakitan. Akhirnya menyemprotlah spermanya membasahi dada, leher dan mulut Verna. Mataku tidak berkedip menyaksikan semua itu sambil menikmati belaian Indah pada daerah sensitifku. Dengan tangan kanannya dia memainkan payudaraku, putingnya dipencet dan dipilin hingga makin menegang, tangan kirinya meraba-raba selangkanganku. Perbuatan Indah yang mengobok-obok vaginaku dengan jarinya itu hampir membuatku orgasme, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu. Aku masih menikmati jari-jari Indah bermain di vaginaku ketika Taryo yang baru menyelesaikan hajatnya dengan Verna berjalan ke arahku, penisnya agak menyusut karena baru orgasme. Jantungku berdetak lebih kencang menunggu apa yang akan terjadi. Tangannya mendarat di payudara kiriku dan meremasnya dengan lembut sambil sesekali memelintirnya. Lalu dia membungkuk dan mengarahkan kepalanya ke payudara kananku yang langsung dikenyotnya. Aku memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan menggoda. Lalu aku merasakan kaki kananku diangkat dan sesuatu mendesak masuk ke vaginaku. Sejenak kubuka mataku untuk melihat, dan ternyata yang bertengger di vaginaku bukan lagi tangan Indah tapi penis Taryo yang sudah bangkit lagi. Kembali aku disetubuhi dalam posisi berdiri sambil digerayangi Indah dari belakang. Tubuhku seolah terbang tinggi, wajahku menengadah dengan mata merem-melek merasakan nikmat yang tak terkira. Hampir satu jam lamanya kami melakukan orgy di kamar mandi. Akhirnya setelah mandi bersih-bersih kami bertiga mencari udara segar dengan berjalan-jalan di kompleks sekalian makan siang di sebuah restoran di daerah itu. Setelah makan kami kembali ke vila dan mengepak barang untuk kembali ke Jakarta. Indah dan Verna keluar dari kamar terlebih dulu meninggalkanku yang masih membereskan bawaanku yang lebih banyak. Cukup lama juga aku dikamar gara-gara sibuk mencari alat charge HP-ku yang ternyata kutaruh di lemari meja rias. Waktu aku menuju ke garasi terdengar suara desahan dan ya ampun.. ternyata mereka sedang bermain "short time" sambil menungguku. Indah yang celana panjang dan dalamnya sudah dipeloroti sedang menungging dengan bersandar pada moncong mobil, Pak Joko menyodokinya dari belakang sambil memegangi payudaranya yang tidak terbuka. Sementara di pintu mobil, Verna berdiri bersandar dengan baju dan rok tersingkap, paha kirinya bertumpu pada bahu Taryo yang berjongkok di bawahnya. Celana dalamnya tidak dibuka, Taryo menjilati kemaluannya hanya dengan menggeser pinggiran celana dalamnya, tangannya turut bekerja meremasi payudara dan pantatnya. "Weleh.. weleh.. masih sempat-sempatnya lu orang, asal jangan kelamaan aja, ntar kejebak macet kita" kataku sambil geleng-geleng kepala. "Tenang neng ga usah buru-buru, masih pagi kok, ini cuma sebentar aja kok" tanggap Pak Joko dengan terengah-engah. Akhirnya setelah 15 menitan Pak Joko melepas penisnya dan memanggilku untuk bergabung dengan Indah menjilatinya. Aku tadinya menolak karena tak ingin make upku luntur, tapi karena didesak terus akhirnya aku berjongkok di sebelah Indah. "Tapi kalo keluar lu yang isep ya Dah, ntar muka gua luntur" kataku padanya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala sambil mengulum benda itu. Sesuai perjanjian tidak lama kemudian Pak Joko menggeram dan cepat-cepat kuberikan penis itu pada Indah yang segera memasukkan ke mulutnya. Pria itu mendesah panjang sambil menekan penisnya ke mulut Indah, Indah sendiri sedang menyedot sperma dari batang itu, sepertinya yang keluar tidak banyak lagi soalnya Indah tidak terlalu lama mengisapnya. "Yuk cabut, udah ga haus lagi kan Dah?" ujar Verna yang sudah merapikan kembali pakaiannya. Kami naik ke mobil dan kembali ke kota kami dengan kenangan tak terlupakan. Dalam perjalanan kami saling berbagi cerita dan kesan-kesan dari pengalaman kemarin dan membicarakan rencana untuk mengerjai si Ratna yang hari ini absen. |
Langgan:
Catatan (Atom)
