SALING BERBAGI ANTARA TEMAN


Hmm, kisah ini terjadi di tahun 1999. Usia saya boleh dibilang masih cukup muda untuk mengenal yang namanya sex. Tetapi apa mau dikata, karena sex itu enak maka saya menjadi ketagihan. Anyway, kembali ke cerita saya.

Saya mempunyai seorang temen cewek, sebut saja namanya Vina. Dari postur tubuhnya boleh dijamin semua laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur untuk mencicipinya. Vina mempunyai tinggi kurang lebih 165 cm, 47 kg dan menggunakan bra ukuran 34B (hal itu saya ketahui ketika saya ML sama dia), dan kulitnya kuning langsat. Dengan wajah layaknya cewek kampus, dan tidak terlihat sama sekali kalau dia juga seorang pecinta sex bebas, sama seperti saya.

Beruntung saya memiliki wajah dan badan yang cukup lumayan, sehingga saya tidak mengalami kesulitan dalam mencari teman untuk melepas birahi, apalagi ditambah dengan ukuran saya yang boleh dibilang lebih dari rata-rata. Wajar saja kalau teman cewek saya rajin mengontak saya disaat mereka butuh dan begitupun juga sebaliknya.

Suatu hari, Vina menelpon saya. Dia cerita bahwa dia punya teman kost baru, dan cakep pula. Dia juga bilang kalau temannya itu mirip artis ternama di ibukota, yang namanya sudah terkenal. Dia janji mau mengenalkan saya ke dia. Maka kemudian saya dan Vina membuat suatu janji pertemuan di hari Sabtu.

Pada hari yang telah di janjikan, saya telah membuka sebuah kamar di daerah Juanda, dan seperti yang telah direncanakan, Vina datang membawa seorang temannya yang bernama Santi.

"Tok.. tok.. tok..!" 3 kali saya dengar ketokan pintu, maka secara otomatis saya membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, terlihatlah Vina yang sedang tersenyum kepada saya, dan di belakangnya tampak temannya yang akan dikenalkan ke saya. Dan benar saja, temannya itu menang benar mirip sekali dengan artis ibukota yang Vina ceritakan.

"San, kenalin donk.. ini loh temen gue yang gue mau kenalin ke elu." begitu ucap Vina sambil masuk ke kamar.
"Oh iya, gue Santi.. dan elu sapa..?" sapanya ramah.
Saya sempat terdiam sewaktu Santi menjulurkan tangannya, karena saya tidak habis pikir kalau cewek ini begitu cantiknya, dan saya harus dapat mencicipinya hari ini juga.

"Hmm, nama gue A.." begitu saya sadar, langsung saya merespon dengan julurkan tangan.Hmm, kulitnya halus juga, pikir saya. Kalau dari yang saya lihat, Santi ini sedikit lebih pendek dari Vina, tetapi dia mempunyai buah dada yang lebih besar daripada Vina. Kira-kira tingginya 160 cm, 45 kg, dan saya rasa ukuran dadanya 34C, soalnya dadanya besar sekali.

"Eh, loe berdua jangan diem gitu donk, kasih gue minum kek..!" tiba-tiba suara Vina memecahkan kesunyian yang ada.
"Oh iya, sori Vinn, tuh loe ambil aja deh di kulkas..!" jawab saya sekenanya.
"Gini..," kata Vina. "Temen gue Santi ini seorang janda anak satu, tapi loe pikir deh, umurnya baru 23 dan body-nya masih segini, ngga kecewa donk loe gue bawain yang kaya gini." lanjut Vina lagi.
"Ah elu bisaan aja Vin," sahut Santi dengan tersipu, sehingga tampaklah wajahnya yang sedikit memerah.
Aduh.., ini membuat saya jadi horny saja.

Tiba-tiba saja Santi menarik Vina ke kamar mandi.
"Ikut gue bentar deh Vin..!" kata Santi.
Lalu Vina dengan terburu buru juga ikut dan sambil bicara kepada saya, "Dah loe tiduran aja dulu di ranjang, temen gue mau bilang sesuatu kali nih ke gue."

Tidak lama mereka keluar dari kamar mandi.
"Eh sori yach tadi sempet bikin loe kaget." kata Santi.
"Eh, ngga apa-apa kok." jawab saya masih bingung.
"Emangnya kenapa sih tadi..?" saya masih bingung.
"Udah deh loe ngga usah tau, urusan perempuan kok barusan, yang penting sekarang loe santai aja di ranjang loe dan ikutin permainan gue." timpalnya lagi.

"Wah-wah-wah, permainan apa lagi nih..?" pikir saya dalam hati.
Tapi saya sudah senang sekali, apalagi saya melihat Vina tersenyum nakal ke arah saya. Duh, saya jadi tambah horny saja deh.
"Sebelum gue kasih loe ijin, jangan sekali kali loe sentuh gue, ok..?" kata Santi.
"Ok-ok deh..," jawab saya meskipun saya masih agak bingung dengan arah permainannya.

Tiba-tiba saja Santi langsung mendekati ke ranjang dan segera menciumi saya di bibir. Yach sudah otomatis saya akan merespon juga donk. Lidah kami saling 'bergerilya', sedangkan saya hanya boleh telentang saja di ranjang. Kemudian ciuman Santi turun ke leher saya, hm.. enaknya pikirku. Dijilatinnya leher saya, terus dia juga menjilati kuping saya.
Tanpa sadar saya mendesah, "Ahh, enak, San, terusin dong..!"

"Sekarang gue bukain baju loe, tapi inget..! Tangan loe tetep diam aja yach, jangan sentuh gue sebelum gue kasih ijin..!" sahutnya lagi.
"Aduh sengsara banget nih..! Masa mau ML tapi tangan gue ngga boleh megang-megang sih..!" pikir saya dalam hati.

Dengan cepet Santi membuka baju saya dan langsung dilempar. Dengan sigapnya Santi langsung bergerilya di dada saya, bagaikan seseorang yang lama tidak mendapatkan tubuh laki-laki. Digigitnya kedua puting saya.
"Ahh, enak gigitan loe," saya mendesah pelan.
Samar-samar saya melihat Vina duduk di samping saya sambil memperhatikan wajah saya dan dia tersenyum.

Tanpa sadar tangan saya mencoba mencari buah dada Santi untuk saya remas-remas. Eh tanpa saya duga, tiba-tiba saja tangan saya ditepis oleh Santi dan Vina.
"Gue kan udah bilang, kalo belum gue kasih ijin jangan sentuh gue..!" kata Santi.
"Iya, loe tuh gimana sih..?" kata Vina, "Ikutin donk permainannya Santi..!" lanjut Vina.
"Yach habis gimana donk..? Namanya juga reflek..!" timpal saya sambil mendesah dan agak kecewa.

"Pokoknya loe sabar deh..!" kata Santi sambil membuka celana saya.
"Hmm.., CD model low cut dengan warna hitam nih..!" ujar Santi sambil bergumam sendiri.
"Loe tau aja kesukaan gue..!" kata Santi, "Dan loe seksi banget dengan CD warna gini, bikin gue horny juga tau..!" kalimat Santi yang terakhir sebelum dia mulai ber-'karaoke'.
"Oohh, enak, sedot lagi donk yang kuat San..!" kata saya sambil mendesah.

Kurang lebih 5 menit Santi telah ber-'karaoke' terhadap penis saya. Kemudian Santi dengan sigapnya melepas seluruh baju, celana dan pakaian dalamnya.
"Nah, sekarang loe baru boleh sentuh gue..!" kata Santi.
Maka karena dari tadi saya sudah menahan mau nyentuh dia tapi tidak boleh, maka kesempatan ini tidak saya sia-sia kan. Langsung saja saya rebahkan Santi di ranjang dan gantian saya ciumi bibirnya, dan Santi juga membalasya dengan tidak kalah ganasnya. Kemudian saya turuni ciuman saya ke daerah lehernya. Hmm, lehernya yang bersih itu saya ciumi dan saya jilati. Samar-samar saya mendengar Santi mulai mendesah.

Kali ini saya turun ke buah dadanya, saya menjilati dulu pinggirnya secara bergantian, dari kanan ke kiri. Tetapi saya tidak menyentuh sedikit pun putingnya Santi.
Dan Santi kemudian bicara, "Ayo donk isepin puting gue, please..!"
"Wah ini saatnya balas dendam nih..!" pikir saya dalam hati.
"Hah..? Loe minta diisepin puting loe, sabar yach sebelum gue mood, gue ngga bakal isep puting loe..!" jawab saya sambil tersenyum.
Saya lihat Vina juga ikut tersenyum melihat temannya terkapar pasrah.

Tidak lama setelah saya memainkan buah dadanya, saya turun ke vaginanya. Tampaklah bulu-bulu vagina Santi yang begitu halus dan dicukur rapih. Dengan sigap saya langsung menghisap vagina santi.
"Ohh.., ohh.., enakk..! Terusin donk Sayang..!" sahut Santi sambil mendesah.
Kalimat itu membuat saya tambah semangat, maka saya tambah liar untuk menghisap vaginanya.

"Sayang, aku mau keluar," lirih santi.
Dan tiba-tiba saja cairan vagina Santi keluar diiringin teriakan dari Santi yang kemudian saya telan semua cairan vagina Santi.
"Duh Say, kamu kok hebat sih maenin memekku..?" tanya Santi.
Yang saya lakukan hanya tersenyum saja.
"Please donk, masukin punya kamu sekarang..!" pinta Santi dengan memelas.
"Nanti dulu, puting kamu belum gue hisap..!" jawab saya.
Maka dengan cepat langsung puting yang berwarna coklat muda itu saya hisap dengan kencanganya secara bergantian, kiri dan kanan.

"Ahh, enakk Sayang, terusin..! Tambah kenceng donk..!" teriak Santi.
Hmm, mendengar suara cewek lagi terangsang begitu membuat saya tambah horny lagi, apalagi si 'adik' sudah dari tadi menunggu giliran 'masuk'. Maka langsung saja saya memasukkan penis saya ke vaginanya.
"Shit..! Sempit banget nih memek..!" pikir saya dalam hati.
Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya masuk juga barang saya ke vaginanya.
"Gila bener San, barang loe enak dan sempit banget sih..?" jawab saya dengan napas yang mulai tidak teratur.
Dan kalimat saya dibalas dengan senyum oleh Santi yang sedang merem melek.

Begitu masuk, langsung saya goyangkan. Yang ada hanya suara Santi yang terus mendesah dan teriak.
"Ahh terus Sayang, tambah cepet donk..!"
Dan sekilas di samping saya tampak Vina sedang meremas-remas buah dadanya sendiri.

"Sabar Vin, akan tiba giliran loe, sekarang gue beresin dulu temen loe ini..!" jawab saya sambil sambil menggoyangkan Santi.
Vina hanya dapat menganggukan kepala, soalnya dia tahu ini bagian dalam permainan yang mereka buat, jadi Vina juga tidak boleh ikut sedikit pun dalam permainan saya dan Santi.

Tidak lama kemudian Santi minta gantian posisi, kali ini dia mau di atas.
"Gue cepet keluar kalo di atas..!" katanya santai.
Kami pun berganti posisi. Berhubung Santi tadi sudah keluar, maka kali ini ketika kami 'main' vagina Santi sudah becek.
"Ahh.., enakk.., barang lo berasa banget sih..!" jawab Santi sambil merem melek.

5 menit kemudian Santi teriak, "Ahh.., gue keluar lagi..!" dan dia langsung jatuh ke pelukan saya.
Tetapi saya kan belum keluar, wah tidak begini caranya nih. Ya sudah akhirnya saya gantian dengan gaya dogy.
Kali ini kembali Santi menjerit, "Terusiin Sayang..!"
Tidak lama kemudian saya merasa kalau saya sudah mau keluar.
"San, mau keluarin dimana..?" tanya saya.
"Di muka gue aja." jawabnya cepat.

Kemudian, "Croott.., crott..!" sperma saya saya keluarkan di wajah Santi.
Kemudian Santi dengan cepat membersihkan penis saya, bahkan saya saja sampai ngilu dengan hisapannya. Tidak lama saya pun jatuh lemas di sampingnya. Dan saya tetep melihat Vina tetap meremas dadanya dan dia pun melihat saya dengan tatapan ingin mendapat perlakuaan yang sama seperti temannya.

"Vin, ke kamar mandi dulu yuk, gue mau bersih-bersih nih..!" jawab saya sambil mengajak Vina.
Kemudian Vina dengan cepat menarik saya ke kamar mandi. Di kamar mandi kami saling membersihkan satu sama lain.
"Vin, gue istirahat dulu yach, gue cape banget soalnya," timpal saya dengan suara lemas tapi penuh dengan kebahagiaan.
"Ok deh, tapi jangan lama-lama yach, gue udah ngga tahan nih..!" jawab Vina sambil membersihkan penis saya.

Tidak lama kemudian Santi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, saya dan Vina kemudian keluar dari kamar mandi. Begitu sampai di ranjang, tiba-tiba saja Vina mencium saya dengan ganasnya. Secara otomatis pula saya membalasnya. Kemudian ciuman Vina mulai turun ke leher saya dan dada saya. Saya hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Dada saya diremas-remas oleh Vina dan sapuan lidahnya mulai turun ke daerah bawah.

"Hmm.., barang loe bakal gue paksa berdiri lagi nih..!" kata Vina dengan suara menggoda.
Kemudian tanpa diperintah Vina segera mencium dan mengulum penis saya dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan.
"Ahh.. ahh.. ahh.., enak Vin..!" timpal saya.
Sekilas saya melihat Santi baru keluar dari kamar mandi dan sedang memakai bajunya.
"Loe ngga mau ikutan lagi San..?" tanya saya.
"Ngga ah, gue lemes banget, gantian loe urus temen gue aja deh, gue mau istirahat dulu," jawabnya santai.

Kemudian saya tidak mau kalah, segera saya raih buah dada Vina dan segera saya hisap. Saya mulai dari putingnya yang kanan, kemudian beralih ke yang kiri, saya remas-remas juga dadanya.
"Ahh, yang kenceng Sayang..!" jawab Vina lirih.
Kurang lebih 5 menit saya memainkan dadanya, kemudian saya turun ke vaginanya. Tampaklah vagina Vina ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapih itu sudah tampak basah.

"Hmm.., udah basah loe Vin, dah ngga tahan yach..?" kata saya sambil tersenyum.
Vina hanya menangguk saja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian saya mendekatkan mulut saya ke depan vagina Vina, dan langsung saya hisap dan saya jilat vaginanya.
"Ohh.., ohh.., teruss..! Enak..!" itulah suara yang terdengar dari mulut Vina.

Setelah 10 menit saya memainkan vaginanya, saya ingin melakukan gerakan lebih jauh. Dan dengan segera saya memasukkan penis saya ke dalam vagina Vina.
"Hmm, pelan-pelan yach..!" jawab Vina.
Saya hanya tersenyum dan segera mencium Vina, dan dia pun membalasnya dengan penuh semangat.

Bless, seluruh penis saya kini berada di dalam vagina Vina. Dan tanpa dikomando lagi saya segera bergerak diikuti goyangan pinggul Vina. Tanpa sadar Vina memeluk saya begitu eratnya dan saya memperhatikan wajah Vina yang sedang merem melek seakan-akan tidak ingin berhenti memperoleh kenikmatan.

5 menit kemudian Vina ingin berganti posisi.
"Eh, gantian dogy yuk..!" pinta Vina.
Ya sudah, saya turuti saja kemauan Vina.
"Bless, bless.., bless..!" sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba, karena vagina Vina sudah basah dan menurut saya Vina tidak lama lagi akan keluar.

Dan benar saja dugaan saya, tiba-tiba saja Vina teriak, "Ah.., ahh.., ahh.., gue keluar..!"
Kemudian Vina langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis saya masih tertancap dalam vagina Vina. Maka saya segera menggerakkan penis saya supaya saya juga dapat keluar. Tidak lama saya terasa bahwa saya ingin keluar.
"Keluarin di mana Vin..?" tanya saya.
"Di dalam ajalah, biar loe enak..!" jawabnya dengan suara yang terbata-bata.

Lalu, "Crott, crott..!" penis saya segera mengeluarkan semburan spermanya.
"Ahh..!" saya bersuara dengan keras, "Enak banget..!" lanjut saya.
Kemudian saya langsung rebah di sebelah kanan Vina, sementara Santi sedang tersenyum memperhatikan kami berdua.
"Wah-wah-wah, cape loe yach berdua..?" kata Santi.
Saya yang sudah lemas hanya dapat tersenyum dan tiduran di samping Vina.

Setelah istirahat beberapa menit, kemudian saya dan Vina ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu kami bertiga pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kenangan indah bersama. Nah, nantikan cerita saya di periode berikutnya, mohon para pembaca memberi saran dan komentar terhadap cerita saya.
»» Baca selengkapnya.....

BIRAHIKU MEMUNCAK


Orangnya buta huruf. Tapi kalau ngomong ngentot, dia adalah playboy. Playboy kampunglah. Tetapi aku percaya. Tubuh macam dia punya biasanya memang memiliki nafsu gede. Lihat saja. Punggungnya nampak sedikit bongkok. Tangan-tangan dan kakinya penuh bulu. Warna kulitnya yang coklat kehitaman mengkilat kena keringat keringnya.

Ciri-ciri macam itu biasanya kontolnya juga gede. Aku selalu merinding menahan gejolak birahiku kalau dekat dia. Tak bisa kulepaskan dari tonjolan bagian depan celananya, menggunung. Pantes saja, ibu-ibu gatel hingga babu-babu genit sangat asyik kalau ngomongin bagaimana sepulang dari pasar tadi ngebonceng ojeknya Jayus. Mereka cerita soal baunya yang merangsang, soal senggolan dengan tangannya yang penuh bulu. Kadang-kadang mereka sengaja menempelkan susunya saat mbonceng ojek sepeda si Jayus. Sebaliknya si Jayus, dia juga termasuk banyak omong. Dia ceritakan kalau si Nem, babu Koh Abong demen banget nyiumin kontolnya. Dia enyotin kontolnya hingga pejuhnya muncrat ke mulutnya. Dia telan tuh pejuh, nggak ada sisanya.

Bahkan dia juga cerita kalau Enci'nya (bininya) Koh Abong suka mencuri-curi pandang, dan menaik-naikkan alisnya kapan pandangannya berbenturan dengan mata Jayus. Dia lagi cari kesempetan atau alasan bagaimana bisa ketemu empat mata tanpa dilihat lakinya.

Lain lagi Dety, orang Menado yang lakinya kerja di kapal yang hanya 6 bulan sekali lakinya pulang dari laut, itupun tidak lebih dari 1 minggu. Dety berbisik sama Atun temen gosipannya, 'Uhh Tuunn, gue mau klenger deh rasanya', suatu pagi dia buka omongan, 'Kenape emangnya?', tanya Atun balik dengan logat Betawinya yang kental. 'Gua baru ngrasain deh. Tuh kontol Jayus yang sedepa (mau cerita betapa panjangnya) bener-bener bikin semaput'. Kemudian dia ceritakan bagaimana tanpa sengaja suatu siang si Jayus kencing di kebon samping rumahnya. Sebagai perempuan yang kesepian karena jarang dapat sentuhan lakinya, dia iseng ngintip dari balik pohon angsana dekat dapurnya. Dia lihat saat Jayus merogoh celananya dan menarik kontolnya keluar. Dety bilang napasnya langsung nyesek. Dia plintirin pentilnya sembari ngintip Jayus kencing. Dia mengkhayal, '.. coba aku yang dia kencingin.. hhuuhh..'. Dan beberapa menit sesudah Jayus meninggalkan tempat, dengan gaya yang tidak memancing perhatian orang dia nyamperin tuh tempat kencingnya Jayus. Bagian terakhir ini dan selanjutnya nggak dia ceritakan sama si Atun.

Dia amati batang pohon mangga yang dikencinginnya. Basah. Air liur Dety menetes keluar, jakunnya naik turun. Darahnya tersirap. Dan tanpa bisa menahan diri, tahu-tahu tangan kanannya sudah nyamperin tuh yang basah di batang pohon. Diusapnya basah kencing si Jayus di pohon itu. Matanya nglirik kanan-kiri-depan nggak ada orang lain, dia endus tuh basah di tangannya itu. Wuu.. pesing banget. Kemudian lidahnya menjulur menjilati basah kencing Jayus itu. Eddaann..

Semua cerita-cerita itu terung terang membuat aku dipenuhi setumpuk obsesi. Kapaann memekku diterobosi kontolnya?! Dan dari kepalaku mengalir berbagai gagasan untuk menjebak Jayus. Dan kalau sudah begini, mataku menerawang. Aku pengin jilatin batangnya, bijih pelernya sampai dia teriak-teriak keenakkan. Aku akan ciumin pentilnya. Kemudian ketiaknya. Aku akan jilatin semua lubang-lubang bagian tubuhnya. Wwwuu.. nafsu libidoku.. kenapa liar begini ssiihh..?!

Suatu sore, karena ada beberapa bumbu dapur yang habis, aku pergi ke warung langgananku di pasar. Aku pikir jalan sih nggak begitu jauh saat tiba-tiba Jayus dari arah belakangku naik sepeda ojeknya nawarin, 'Kemana bu? Saya anter?'. Terus terang aku langsung terkesiap dan .. gagap..,'Eehh kang Jayus (begitulah aku biasa memanggil orang lain akang atau kang sebagai tanda hormatku) ..eehh, ..bb ..boleehh, ..mau ke warung langganan nihh'. seperti kebo yang dicocok hidungnya, aku nyamperin jok belakang sepedanya, naruh pantat di boncengan sepeda si Jayus.

Seketika aku diserang obsesiku. Sementara Jayus nggenjot sepeda, agar tidak jatuh tanganku berpegangan pada sadel yang tentu saja menyentuh bokongnya. Ada setrum yang langsung menyerang jantungku. Deg, deg, deg. Aku dekatkan wajahku ke punggungnya hingga aku cium bau keringatnya. 'Narik dari jam berapa mas?', aku buka omongan, 'Yaah nggak tentu bu. Hari ini saya mulai keluar jam 10.00 pagi. Soalnya pagi-pagi tadi tetangga minta bantu pasang kran air. PAM-nya nggak mau keluar'. Wwaaoo.., tiba-tiba ada ide yang melintas!

'Apa yang nggak mau keluar ..?', nada bicaraku agak aku bengkokkan. 'Kenapa nggak mau keluar ..?', untuk lebih memperjelas nada bicaraku yang pertama. Jawabannya nggak begitu aku dengar karena ramainya jalanan.

'Ooo.., kirain apaan yangg.. nggakk keluarr..'. Dan tanpa aku sadari sepenuhnya, tanganku menjadi agresif, menepuki paha Jayus. 'Kirain barang Mas Jayus yang ini nggak mau keluar', mulutkupun tak lagi bisa kukendalikan dengan sedikit aku iringi sedikit ha ha hi hi.

'Aahh, ibuu, ntarr dilihat orang lhoo', sepertinya dia menegor aku. Kepalang basah, 'Habiiss.., orang-orang pada ngomongin ini ssiihh..', aku sambung omongan sambil tanganku lebih berani lagi, menepuki bagian bawah perutnya yang naik turun karena kaki-kakinya menggenjot sepeda. Dalam hatiku, kapan lagi kesempatan macam ini datang.

'Siapa yang ngomoong buu..??', dia balik tanya tapi nggak lagi ada tegoran dari mulutnya. Dan tanganku yang sudah berada di bagian depan celananya ini nggak lagi aku tarik. Bahkan aku kemudian mengelusi dan juga memijat-mijat tonjolan celananya itu. Aku tahu persis nggak akan dilihat orang, karena posisi itu adalah biasa bagi setiap orang yang mbonceng sepeda agar tidak terlempar dari boncengannya.

'Ibu berani banget nih, n'tar dilihat orang terus nyampai-in ke bapak lho buu'. Aku tidak menanggapi kecuali tanganku yang makin getol meremas-remas dan memijat. Dan aku rasakan dalam celana itu semakin membesar. Kontol Jayus ngaceng. Aku geragapan, gemetar, deg-degan campur aduk menjadi satu. 'Mas Jayuuss..', suaraku sesak lirihh. 'Bbuu.., aku ngaceng buu..'. Ooohh, obsesiku kesampaian.., dan aku jawab dengan remasan yang lebih keras.

Terus terang, aku belum pernah melakukan macam ini. Menjadi perempuan dengan penuh nafsu birahi menyerang lelaki. Bahkan sebagai istri yang selama ini cinta dan dicintai oleh suaminya. Dan nggak perlu diragukan, bahwa suamiku juga mampu memberi kepuasan seks setiap aku bersebadan dengannya.

Tetapi juga nggak diragukan pula bahwa aku ini termasuk perempuan yang selalu kehausan. Tidak jarang aku melakukan masturbasi sesaat sesudah bersebadan dengan suamiku. Biasanya suamiku langsung tertidur begitu habis bergaul. Pada saat seperti itu birahiku mengajak aku menerawang. Aku bayangkan banyak lelaki. Kadang-kadang terbayang segerombolan kuli pelabuhan dengan badan dan ototnya yang kekar-kekar. Telanjang dada dengan celana pendek menunjukkan kilap keringatnya pada bukit-bukit dadanya. Mereka ini seakan-akan sedang menunggu giliran untuk aku isepin dan kulum kontol-kontolnya. Wwoo, khayalan macam itu mempercepat nafsuku bangkit.

'Kang Jayus, aku pengin ditidurin akang lho', aku bener-bener menjadi pengemis. Pengemis birahi.
'Jangan bu, ibu khan banyak dikenalin orang di sini', jawabnya, yang justru membuat aku makin terbakar. 'Kita cari tempat, nanti aku yang bayarin', kejarku. 'Dimana bu, aku nggak pernah tahu'. Iyyaa, tentu saja Jayus nggak pernah mikir untuk nyewa kamar hotel. Klas ekonominya tukang ojek sepeda khan kumuh banget.

Saat nyampai di warung tujuan aku turun dari sepedanya, 'Kang Jayus tungguin saya yah', biar nanti aku kasih tahu kemana mencari tempat yang aman dan nyaman untuk acara bersama ini.

'Nih tempatnya yang kang Jayus tanyain tadi, barusan aku pinjem pensil enciknya (pemilik warung) dan aku tulis tuh alamat hotel yang pernah aku nginap bersama suami saat nemenin saudara yang datang dari Surabaya.

'Maapin bu, saya nggak bisa baca', ahh.. aku baru ingat kalau dia buta huruf.., konyol banget nih. 'OK kang, gini aja, besok akang tunggu saja aku di halte bis depan sekolah SD Mawar, tahu? Jam 10 pagi, OK?', dia ngangguk bengong. Walaupun nggak bisa baca rupanya dia tahu apa artinya 'OK'.

'Tt.. tapi bu.., n'tar ada yang ngliatin, n'tar diaduin ke suami ibu, n'tar..', rupanya dia belum juga mengambil keputusan. Keputusan nekad. Ampuunn.. Aku jadinya nggak sabar. 'Udahlah kang, ayyoo, sambil jalan..', sementara hari udah mulai gelap, lampu jalanan sudah menyala. Pada jam begini orang-orang sibuk, kebanyakan mereka yang baru pulang kerja.

Kembali aku duduk di boncengan sepedanya. Dan kembali aku langsung merangkul pinggangnya hingga tanganku mencapai bagian depan celananya. Rupanya kontol Jayus udah ngaceng. Tangankupun langsung meremasi gundukkan di celananya itu. 'Bbuu, enaakk..', dia mendesah berbisik. 'Makanya aayyoo kang.., aku juga pengin ini banget..', jawabku sambbil memijat gundukkan itu.

Beberapa saat kami saling terdiam, saling menikmati apa yang sedang berlangsung.
'Buu, bagaimana kalau ketempat lain aja yang gampang bu??', wwoo.. aku berbingar. Rupanya sambil jalan ini Jayus mikirin tempat. 'Dimana?', tanyaku penuh nafsu, 'Di rumah kontrakan temen saya, kebetulan lagi kosong, yang punya rumah lagi mudik, lagian kebonnya lebar, nggak akan ada yang ngliatin, apa lagi gelap begini'.

'Jadi kang Jayus maunya sekarang ini?', aku agak terperangah, nggak begitu siap, n'tar suamiku nyariin lagi. 'Habis kapan lagi bu? Sekarang atau besok-besok sama saja, lagian besok-besok mungkin di rumah itu udah ramai, pemiliknya udah pulang lagi'. Kalau menyangkut nafsu birahi riupanya Jayus ini nggak begitu bodoh. Cukup lama sebelum akhirnya aku menjawab, 'Ayyolahh..', sepeda ojek langsung berbalik, beberapa kali berbelok-belok masuk gang-gang kumuh. Nampaknya orang-orang ramai sepanjang jalan nggak mau ngurusin urusan orang lain. Mereka nampak tidak acuh saat kami melewatinya.

Kemudian sepeda ini nyeberangin lapangan yang luas dibawah tiang tegangan tinggi sebelum masuk rumah kontrakkan yang diceritakan Jayus tadi. Di depan tanaman pagar yang rapat ada pintu halaman dari anyaman ambu, kami berhenti. Dari dalam ada orang yang bergegas keluar, 'Min, ini mpok gua, baru dateng dari Cirebon, numpang istirahat sebentar sebelum nerusin ke Bekasi, rumah mertuanya. N'tar aku nggak pulang mau ngantar ke Bekasi ya?!', aahh.., lihai banget nih Jayus, ngibulnya bener-bener penuh fantasi.. Aku salaman sama 'Min' tadi. Saat bersalaman, salah satu jarinya dia selipkan ke telapak tanganku kemudian mengutiknya. Kurang ajar, batinku, rupanya dia tahu kalau si Jayus sekedar ngibul. Rupanya cara macam ini sudah saling mereka kenali. Rupanya kibulan tadi justru untuk aku. Untuk menyakinkan aku bahwa tempat ini aman untukku.

'Ayo bu, istrirahat dulu, mandi-mandi dulu, n'tar aku ikut ke Bekasi, biar nggak nyasar-nyasar', uuhh..tukang kibulku.. yang.. sebentar lagi akan aku jilati kontolnya.. Dan memang aku sudah jadi perempuan yang nekad, pokoknya harus bisa merasakan ngentot sama Jayus. Dan sekarang ini kesempatanya. Masa bodo dengan segala kibulan Jayus, masa bodo dengan tangan usil si 'Min' tadi.

Nggak tahunya aku dibawa ke loteng. Dengan tangga yang nyaris tegak aku mengikuti Jayus memasuki ruangan yang sempit berlantai papan dengan nampak bolong sana-sini. Dalam ruangan tanpa plafon hingga gentingnya yang rendah itu hampir menyentuh kepala, kulihat tikar tergelar. Dan nampak bantal tipis kusam di ujung sana. Kuletakkan barang bawaanku.

Tanpa menunggu ba bi Bu lagi Jayus langsung menerkam aku. Tangannya langsung memerasi bokongku kemudian susu-susuku. Akupun langsung mendesah.. Birahiku bergolak.. Darahku memacu..

Aku menjadi sangat kehausan.. Tanganku langsung membuka kancing celana Jayus kemudian memerosotkannya. Dalam dekapan dan setengah gelagapan yang disebabkan kuluman bibir Jayus, aku merabai selangkangannya. Kontol yang benar-benar gede dan panjang ini kini dalam genggaman tanganku. Aku keras dan liatnya, denyut-denyutnya. Kontol yang hanya terbungkus celana dalam tipis hingga hangatnya aku rasakan dari setiap elusan tangan kananku. Kami saling melumat. 'Bbuu, aku nafsu bangett bbuu..', aku dengar bisikan desah Jayus di telingaku. Hhheehh..

Kemudian tangan Jayus menekan pundakku supaya aku rebah ke tikar yang tersedia. Terus kami bergumul, dia menaiki tubuhku tanpa melepaskan pagutannya. Dan tanganku merangkul erat tubuhnya. Kemudian dia balik hingga tubuhku ganti yang menindih tubuhnya. Aku terus melumatinya. Lidahnya yang menjulur kusedoti. Ludahku di-isep-isep-nya.

'Bbbuu, aayyoo ..aku udah nggak tahan nihh..'. Sama. Nafsu liarku juga sudah nggak terbendung. Aku prosotkan sendiri celana dalamku tanpa mencopot roknya. Sementara itu ciuman Jayus telah meruyak ke buah dadaku. Wwwuu.. Aku menggelinjang dengan amat sangat. Bulu-bulu bewok dan kumis yang tercukur rasanya seperti amplas yang menggosoki kulit halus dadaku.

Dalam waktu yang singkat berikutnya kami telah sama-sama telanjang bulat. Jayus menindih tubuhku. Dan aku telah siap menerima penetrasi kontolnya ke vaginaku. Aku telah membuka lebar-lebar selangkanganku menyilahkan kontol gede Jayus itu memulai serangan.

Saat ujung kemaluannya menyentuh bibir vaginaku, wwuuhh ..rasanya selangit. Aku langsung mengegoskan pantatku menjemput kontol itu agar langsung menembusi kemaluanku. Sungguh aku menunggu tusukkan batang panas itu agar kegatalan vaginaku terobati.

Agak kasar tapi membuatku sangat nikmat, Jayus mendorong dengan keras kontolnya menerobos lubang kemaluanku yang sempit sekaligus dalam keadaan mencengkeram karena birahiku yang memuncak. Cairan-cairan pelumas yang keluar dari kemaluanku tidak banyak membantu. Rasa pedih perih menyeruak saraf-saraf di dinding vaginaku. Tetapi itu hanya sesaat..

Begitu Jayus mulai menaik turunkan pantatnya untuk mendorong dan menarik kontolnya di luang kemaluanku, rasa pedih perih itu langsung berubah menjadi kenikmatan tak bertara. Aku menjerit kecil.. tetapi desahan bibirku tak bisa kubendung. Aku meracau kenikmatan, 'Enak banget kontolmu kang Jayuss.. aacchh.. nikmatnyaa.. kontolmu Jayuss.. oohh.. teruusszzhh.. teruuzzhh.., uuhh gede bangett yaahh.. kangg.. kangg enakk..'

Genjotan Jayus semakin kenceng. Bukit bokongnya kulihat naik turun demikian cepat seperti mesin pompa air di kampung. Dan saraf-saraf vaginaku yang semakin mengencang menimbulkan kenikmatan tak terhingga bagiku dan pasti juga bagi si Jayus. Dia menceloteh, 'Uuuhh buu, sempit banget nonokmuu ..buu.., sempit bangeett.. bbuu enaakk bangett..'. Dan lebih edan lagi, lantai papan loteng itupun nggak kalah berisiknya. Aku bayangkan pasti si 'Min' dibawah sono kelimpungan nggak keruan. Mungkin saja dia langsung ngelocok kontolnya sendiri (onani).

Terus terang aku sangat tersanjung oleh celotehannya itu. Dan itu semangatku melonjak. Pantatku bergoyang keras mengimbangi tusukkan mautnya kontol Jayus. Dan lantai papan ini .. berisiknyaa.. minta ampun!

Percepatan frekwensi genjotan kontol dan goyangan pantatku dengan cepat menggiring orgasmeku hingga ke ambang tumpah, 'Kang .. kang.. kang..kang.. aku mau keluarrcchh.. keluarrcchh.. aacchh..', aku histeris. Ternyata demikian pula kang Jayus. Genjotan terakhir yang cepatnya tak terperikan rupanya mendorong berliter-liter air maninya tumpah membanjiri kemaluanku. Keringat kami tak lagi terbendung, ngocor.

Kemudian semuanya jadi lengang. Yang terdengar bunyi nafas ngos-ngosan dari kami. Dari jauh kudengar suara kodok, mungkin dari genangan air comberan di kebon.

Aku tersedar. Dirumah pasti suamiku gelisah. 'Kang Jayus, aku mesti cepet pulang nih ..', Dia hanya melenguh '..hheehh..'. Kulihat kontolnya ternyata masih tegak kaku keluar dari rimbunan hitam jembutnya menjulang ke langit. Apa mungkin dia belum puas?? Aku khawatir kemalaman nih. 'Ayyoo kang, pulang dulu.., kapan-kapan kita main lagi yaahh ..'.

Jayus bukannya bangun. Dia berbalik miring sambil tangannya memeluk tubuhku mulutnya dia tempelkan ke pipiki dan berbisik, 'Buu, aku masih kepingin..', 'Nggak ah.., aku kan takut kemalaman, nanti suamiku nyariin lagi'. 'Jangan khawatir bu.. Sebentar saja.. Aku pengin ibu mau ngisepin kontolku. Kalau diisepin cepat koq keluarnya dan aku cepat puas. Lihat aja nih, dianya nggak mau lemes-lemes. Dia nunggu bibir ibu nihh..'. Jayus menunjukkan kontolnya yang gede panjang dalam keadaan ngaceng itu. 'Ayyoo dong buu.., kasian khan .., bbuu..?!'. Dia mengakhiri omongannya sambil bangkit, menggeser tubuhnya, berdiri kemudian ngangkangin dadaku lantas jongkok. Posisi kontolnya tepat di wajahku. Bahkan tepat di depan bibirku. 'Aayyoo buu, isepin duluu.., ayyoo buu, ciumin, jilat-jilat..'. Aku jadi nggak berkutik. Aku pikir, biarlah, OK-lah, supaya cepat beres dan cepat pulang.

Kuraih kontol itu, kugenggam dan kubawa kemulutku. Aku jilatin kepalanya yang basah oleh spermanya sendiri tadi. Aku rasain lubang kencingnya dengan ujung lidahku. 'Aammpuunn.. Enakkbangett..', Jayus langsung teriak kegatalan.

Sambil tanganku mempermainkan bijih pelernya, kontol itu aku enyotin dan jilatin. Rupanya Jayus ingin aku cepat mengulumnya. Dan dia kembali mulai memompa. Kali ini bukan memekku tetapi mulutku yang dia pompa. Pelan-pelan tetapi teratur. Dan aku.., uuhh.. merasakan kontol gede dalam rongga mulutku.., rasa asin, amis, pesing dan asem berbaur yang keluar dari selangkangan, jembutnya, bijih pelernya.., nafsuku kembali hadir.

Dan pompa Jayus mencepat. Aku mesti menahan dengan tanganku agar kontol itu tidak menyodok tenggorokanku yang akan membuatku tersedak. Tidak lama ..

Tiba-tiba Jayus menarik kontolnya dan tangan kanannya langsung mengocoknya dengan cepat persis didepan muluku. 'Ayoo bu, minum pejuhku.. Buu, ayo makan nih kontolkuu.. Ayoo buu..minumm..buu.. Bbbuu..', kocokkan itu makin cepat. Dan reflekku adalah membuka mulut dan menjulurkan lidahku. Aku memang pengin banget, memang menjadi obsesiku, aku pengin minum sperma si Jayus. Dan sekarang ..

Entah berapa banyak sperma Jayus yang tumpah kali ini. Kurasakan langsung ke mulutku ada sekitar banyak kali muncratan. Dan aku berusaha nggak ada setetespun yang tercecer. Uuuhh.., aku baru merasakan. Gurihnya sperma Jayus mengingatkan aku pada rasa telor ayam kampung yang putih dan kuningnya telah diaduk menjadi satu. Ada gurih, ada asin, ada tawarnya.. dan lendir-lendir itu ..nikmatnyaa..

Saat pulang kuselipkan dalam genggaman si 'Min' lembaran Rp. 50 ribu. Mungkin semacam ongkos bungkam. Dia dengan senang menerimanya. Tak ada lagi jari ngutik-utik telapak tanganku.

Jayus menurunkan aku di belokkan arah rumahku. Aku beri Jayus lembaran Rp. 100 ribu, tetapi dia menolak, 'Jangan bu, kita khan sama-sama menikmati.., dan terserah ibu.., kalau ibu mau, kapan saja saya mau juga .. Tetapi saya nggak akan pernah mencari-cari ibu, pemali, n'tar jadi gangguan, nggak enak sama bapaknya khan?!'. Wah.., dia bisa menjaga dirinya dan sekaligus menjaga orang lain. Aku senang.

Sesampai di rumah ternyata suamiku tidak gelisah menunggu istrinya. Kebetulan ada tamunya, tetangga sebelah teman main catur. Aku cepat tanggap, 'Udah dibikinin kopi belum pak?!' ..yang terdengar kemudian .. Skak!
»» Baca selengkapnya.....

Pengalaman Pertama Bermasturbasi


Sebelum aku mengisahkan tentang pengalaman pertamaku bermain sex dengan pasangan, ada baiknya aku ceritakan dulu pengalaman pertamaku bermain sex solo atau bermasturbasi, karena jauh hari sebelum aku melakukan hubungan sex, aku sudah sering melakukan masturbasi.

Aku sejak kecil memang sudah tidak suka dan tidak pernah mau memakai BH. Kebiasaan ini berlanjut hingga kini. Hal ini tentu membuat kedua orang tuaku jadi kelabakan. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, aku hanya memakai kaos singlet di dalam hem seragam sekolahku. Mungkin kebiasaan memakai singlet sejak kecil inilah yang membuatku hingga saat ini lebih leluasa memakai T Shirt yang lebih mirip singlet itu.
Demikian pula saat aku duduk di bangku SMU, aku juga hanya memakai kaos singlet di dalam hem seragam sekolahku. Memang agak mending sih, ketimbang aku hanya langsung memakai hem saja tanpa BH di dalamnya, jadi fungsi kaos singletku adalah sebagai pengganti BH.

Soal CD memang sejak usiaku masih anak-anak, aku lebih suka yang model sexy, namun saat SD aku tidak bisa berkutik karena Mamaku yang selalu membelikan semua kebutuhanku. Baru sejak SMP aku sudah bisa memilih model CD kesukaanku sendiri, karena saat itu aku sudah dipercaya untuk membeli kebutuhanku sendiri, walau uangnya tetap kudapat dari kedua orang tuaku.

Pada awalnya saat aku masih SMP, model CD yang kubeli masih biasa-biasa saja, karena untuk CD yang mini seperti model berenda atau G String rata-rata harganya masih sangat mahal untuk anak seusiaku, apa lagi aku dari kalangan keluarga yang hidupnya hanya pas-pasan.

Baru saat SMU aku bisa membeli dan memakai CD yang kuidam-idamkan dari sejak masih kecil, karena saat itu uang sakuku juga sudah mulai agak banyak, jadi aku bisa menabung dulu untuk membeli penutup alat vital yang kuidam-idamkan itu. Dan saat SMU-lah aku mulai terbiasa dengan memakai rok mini sebagai seragam sekolah.

Pokoknya sejak aku SMU-lah aku merasakan merdeka, bisa memiliki dan memakai CD berenda atau G String yang kuidam-idamkan. Bayangkan saja modelnya, keduanya hampir sama mininya, hanya yang satu berenda dan yang lainnya G String terbuat dari seutas tali nylon. Saat kukenakan melingkari pinggangku, yang model G String sedikit ada perbedaan, ada ikatannya di samping kanan dan kiri pinggangku.

Semua modelnya seperti bikini yang amat sangat mini, hanya ada secarik kain berbentuk segi tiga di bagian depan, fungsinya hanya mampu menutupi bagian depan liang vaginaku. Sedangkan CD berenda yang kumiliki bagian depannya berbentuk hati kecil dengan renda di pinggirannya.

Waktu SMP masih belum seberapa, namun baru saat aku SMU banyak teman sekolahku, baik teman sekelas atau dari kelas lain termasuk para guruku, sering menelan ludah saat aku lewat di hadapan mereka. Karena saat SMP rok bawahanku masih biasa-biasa seperti layaknya murid wanita yang lain, namun saat SMU aku sudah berani memakai rok mini saat sekolah.

Awalnya pihak sekolah memang melarang, namun lama kelamaan pihak sekolah mungkin bosan juga, atau mungkin juga kepala sekolahku merasa ada baiknya bisa ikut menikmati memandang pahaku yang mulus (Haa.. Haa.. Haa..!). Bukan GR lho, aku sejak kecil memang sudah cantik dan selalu menjadi bintang sekolah, bukan hanya bintang di kelas saja. Banyak cowok teman sekolahku yang menaksirku tapi mereka harus mundur dengan patah hati karena aku memang tidak mau terikat sejak dulu. Aku paling tidak suka dengan cowok yang egois, yang jika merasa sudah dekat denganku lalu yang lain tidak boleh lagi mendekatiku. Aku ingin dapat berteman tanpa ada ikatan apa lagi paksaan.

Pertama kali aku mengenal permainan sex adalah saat aku masih SMU, bukan sex sungguhan sampai ML. Maksudku, kami hanya sampai petting hingga oral sex saja, istilahku saat itu SSKTR (Sex Sex Kecil Tanpa Resiko). Bagaimana kisahnya, nanti akan kuceritakan pada kisahku yang akan datang, untuk kali ini aku akan menceritakan pengalaman masturbasiku yang pertama.

Aku pertama kali melakukan masturbasi saat masih duduk di bangku SMP. Aku sudah lupa waktunya, namun aku masih ingat saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMP. Sebenarnya ada teman sekelasku yang kutaksir saat itu, namanya Joko. Anaknya pandai. Dia menjadi temanku saat kelas dua, karena saat masih kelas satu dia bersekolah di Solo, dan baru pada kelas dua orang tuanya pindah tugas ke Surabaya hingga Joko pun harus ikut pindah sekolah.

Banyak teman-teman cewekku yang juga menaruh perhatian pada Joko namun Joko anaknya cuek saja. Tidak seperti teman-teman cowokku yang saat itu yang sudah mulai puber dan banyak tingkahnya, Joko anaknya tenang, lebih pendiam dan sedikit berwibawa. Mungkin ini juga yang membuat teman-teman cewek lainnya jadi penasaran padanya.

Saat-saat aku di rumah, aku sering membayangkan bagaimana kalau seandainya Joko mencium bibirku, meremas payudaraku yang sudah tumbuh membesar itu. Bahkan aku juga membayangkan bagaimana kalau seandainya jari-jari tangan Joko membelai selangkanganku, menyentuh vaginaku yang bagian luarnya sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku hanya bisa berandai-andai saja, namun aku juga tidak mengerti apakah itu yang dinamakan cinta atau hanya nafsu. Namun itulah yang kurasakan saat itu.

Saat mandi aku mulai sering meraba-raba payudara, selangkangan dan daerah erogenku yang lainnya. Namun aku belum pernah melakukan sesuatu sampai satu saat aku mengalami orgasme, bahkan saat itu aku pun belum tahu apa itu orgasme dan sebagainya. Aku semakin hari semakin asyik merabai tubuhku sendiri hingga aku mulai tahu dimana saja letak bagian tubuhku yang paling nikmat kalau disentuh.

Aku paling senang memainkan klitorisku dengan ujung jari sambil meremas-remas payudaraku. Liang vaginaku selalu becek kalau aku melakukan hal seperti itu. Ada cairan bening merembes keluar dari dalam liang vaginaku keluar membasahi sekitar selangkanganku.

Aku semakin berani menggesek-gesekkan jari ke belahan bibir vaginaku, sambil membayangkan kalau semua ini dilakukan oleh Joko. Kalau di kamar mandi aku selalu mengoleskan sabun cair dulu di seputar bagian luar vaginaku. Lain lagi kalau kulakukan di atas tempat tidur, sering kugunakan hand body lotion dulu, kulumuri di seputaran selangkanganku baru aku melakukan aktifitas.

Licinnya sabun cair atau body lotion tersbut menjadi lebih licin lagi saat bercampur dengan cairan bening yang mengalir keluar dari dalam liang vaginaku saat aku sudah mengalami nafsu yang sangat tinggi. Kumainkan klitorisku dengan ujung jari, kugesek-gesekkan sambil tanganku yang satu lagi tetap meremas-remas payudaraku dan memilin-milin puting susuku.

Aku merasakan sesuatu yang terasa akan meledak keluar dari dalam tubuhku, desakannya semakin lama semakin kuat hingga membuatku menggeliat tidak karuan. Bibirku terus mendesah menceracau bagaikan anak kecil yang tiba-tiba terserang demam yang tinggi, sampai akhirnya aku mengalami rasa ingin pipis, namun yang terjadi adalah adanya kedutan-kedutan di vaginaku.

Badanku menggigil hebat sekali, kurasakan ada sesuatu yang tumpah keluar dari dalam rahimku memenuhi seluruh bagian dalam liang vaginaku, membasahi dinding-dinding dalam vaginaku. Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan orgasme? Yang jelas setelah itu aku mengalami kelegaan yang amat sangat luar biasa. Bebanku menjadi hilang, badanku menjadi ringan, pokoknya sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Belakangan baru kutahu bahwa itulah yang dinamakan orgasme, karena hal-hal itu makin sering kualami, paling tidak tiga kali dalam seminggu aku mengalami hal seperti itu, karena hampir tiga kali dalam seminggunya aku selalu melakukan masturbasi.

Terus terang saat masih SMP aku belum berani membiarkan teman cowokku menyentuhku walau sebanarnya dalam hati ingin sekali, namun aku masih takut akan aturan dan norma-norma pada saat itu. Apa lagi saat itu aku masih perawan dan pada anak seusiaku sudah ditanamkan betapa pentingnya arti sebuah keperawanan bagi anak gadis.

Ini pun mempengaruhi juga caraku melakukan masturbasi. Aku tidak berani memasukkan ujung jariku ke dalam liang vaginaku, karena aku takut keperawananku akan terenggut oleh jari-jariku sendiri. Padahal pada saat-saat tertentu saat bermasturbasi, ingin sekali rasanya aku memasukkan jariku ke dalam liang vaginaku yang terasa sangat gatal ingin digaruk saja rasanya. Biasanya hal ini terjadi pada saat aku hampir mengalami orgasme. Dorongan seperti itu datangnya kuat sekali. Tapi untungnya semua mampu kuatasi, aku bisa mencapai puncak kepuasan hanya dengan memainkan klitorisku dengan ujung jariku. Sementara jari tangan kiriku memainkan klitoris, jari tangan kananku menggosok-gosok belahan bibir vaginaku. Atau saat jari sebelah tanganku memainkan klitoris, tanganku yang lain meremas-remas payudaraku sambil sesekali memilin-milin puting susuku. Libidoku sejak SMP memang sudah sangat tinggi, aku paling tidak tahan kalau tidak melakukan masturbasi tiga kali dalam seminggu, rasanya selalu ingin uring-uringan saja.

Demikianlah sedikit pengalamanku pertama kalinya melakukan masturbasi.
»» Baca selengkapnya.....

PERTAMA KALI ML


Namaku Bunga, sekarang umurku sudah 26 tahun, sulung dari tiga bersaudara yang smuanya wanita . Tinggi badanku 170 cm, cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita. Bentuk tubuhku langsing dan sexy, wajahku juga terbilang cukup cantik hingga sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar gw sudah menjadi primadona di sekolahku. Sekarang Statusku masih single. Tapi bukan berarti gw masih seorang gadis lho, karena gw memang sudah tidak perawan lagi. Keperawananku sudah kupersembahkan pada teman kuliahku yang kisahnya akan kupersembahkan pada tulisanku kali ini, namun terlebih dahulu akan gw paparkan sedikit tentang diriku sebagai prolog.

Biasanya para kaum wanita kalau berkuliah kebanyakan suka memakai celana panjang, namun gw lebih suka tetap memakai rok saja untuk bawahannya kalau sedang ke kampus. Rokku mini sekali dengan bawahan yang lebar, bentuknya seperti yang biasa dipakai oleh para cheerleader (pemandu sorak). Yang membedakan hanya dalamannya saja, biasanya para cheerleader masih menggunakan celana pendek di dalamnya walau agak mini untuk membungkus celana dalam yang mereka pakai. Bedanya dengan diriku, gw tidak pernah memakai penutup lain untuk menutupi bagian tubuhku yang paling vital kecuali celana dalam.

celana dalam yang kupakai sangat mini dan sexy, bentuknya G String dua jenis, yang satu model berenda dan yang satu lagi model tali tang terbuat dari nylon. Sexy sekali karena hanya ada seutas yang melingkari pinggangku, bedanya hanya yang tali nylon dengan ikatan di kiri kanan pinggangku, selebihnya sama saja ada bagian yang hanya selebar ukuran satu jari turun dari belakang pinggang mengitari selangkangan melalui belahan pantatku. Hanya ada secarik kain yang lebarnya tidak lebih dari ukuran dua jari di bagian depan yang fungsinya hanya mampu menutupi lubang Memek ku. Yang berenda berbentuk hati kecil ada renda di pinggirannya, sedang yang model bertali, bentuk penutup bagian depannya berbentuk segitiga kecil, tipis dari bahan sutera.

Sebagai atasannya gw lebih sering memakai hem lengan pendek agak longgar. Kupilih ini karena gw memang tidak pernah memakai BH di dalamnya. Seperti kisahku terdahulu, gw memang sejak kecil tidak suka dan tidak pernah memakai BH hingga tak heranlah sampai detik ini gw juga tidak mengetahui berapa besar ukuran Susuku.

Payudar gw tidak terlalu besar. Ukurannya sedang-sedang saja tetapi bentuknya cantik dan padat. Warna puting susuku dan sekitarnya merah muda sedikit kecoklatan, sungguh menggairahkan sekali. Untuk yang satu ini gw sering mendapat pujian dari kaum lelaki yang sudah pernah melihat atau meremas susuku.

Terus terang dosenku yang cowok sering kali harus menelan ludah apa bila melihat penampilanku. Apa lagi saat melihatku duduk dengan berpangku kaki hingga bagian atas pahaku tersingkat sedikit ke atas. Pahaku yang mulus itu juga ditumbuhi bulu-bulu halus yang menurut istilah beberapa orang temanku, itu namanya bulu-bulu monyet.

gw kuliah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, mengambil jurusan kedokteran hewan dan saat ini gw sudah menjadi seorang dokter hewan yang magang di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Kali ini gw ingin menuliskan kisahku tentang pengalaman pertamaku bercinta sungguhan (making Love) yang kulakukan saat masih duduk di bangku kuliah.

gw berkenalan dengan seorang mahasiswa yang juga mengambil jurusan yang sama denganku, namanya Wahyu asal Surabaya juga, namun akhirnya Wahyu tidak meneruskan kuliahnya karena patah hati denganku. Sekarang entah Wahyu ada dimana gw sendiri juga tidak pernah tahu.

Hubunganku dengan Wahyu akrab sekali, sehingga pertama kali gw melakukan hubungan sex yang sebenarnya juga dengannya. Kupersembahkan kegadisanku pada Wahyu yang betul-betul sangat mencintaiku. Namun gw masih tidak ingin melanjutkan hubungan itu dengan serius karena apa yang kulakukan bersama Wahyu bagiku hanyalah suatu pelampiasan atas kebutuhan biologisku saja.

Hal ini rupanya membuat Wahyu patah hati dan akhirnya drop out dari kampus, dan entah kini kemana dia gw juga tidak pernah mendengar kabar beritanya lagi sejak kami berpisah dulu. Kalau kebetulan Wahyu yang kumaksud sedang membaca kisahku ini, gw mohon maaf padamu, karena gw memang belum bisa jatuh cinta dengan siapapun hingga saat ini.

Hubunganku dengan Wahyu sebenarnya biasa saja seperti remaja lain saat berpacaran. Kami sering berciuman baik di mobil, di kampus maupun di rumah, pokoknya di mana saja kalau ada kesempatan untuk melakukannya. Kami juga sering saling meraba bagian-bagian sensitif kami. Lebih sering Wahyu mengajakku ke rumahnya yang keadaannya memang selalu sepi itu, karena Wahyu adalah anak tunggal yang kedua orang tuanya selalu sibuk di luar, jadi sekali lagi praktis rumah Wahyu yang tidak terlalu besar di kawasan Ngagel itu selalu dalam keadaan sepi.

Hal ini sangat menguntungkan bagi kami berdua. Di rumahnya itulah gw pertama kalinya merasakan nikmatnya making Love. Kami bercumbu, berciuman di atas tempat tidur di kamar Wahyu. Mulut Wahyu menciumi bibirku yang mungil dan tipis, lumatannya membuatku sangat bergairah sekali.

Sambil melumat bibirku, jari tangan Wahyu melepaskan kancing bajuku satu persatu hingga terlepas semua dan langsung ditanggalkannya hem yang kukenakan hingga bagian atas tubuhku terbuka polos tanpa sehelai benang pun. Wahyu langsung memegang dan meremas-remas susu ku hingga gw jadi sangat terangsang oleh perlakuannya.

Kulepas dengan menarik ke atas kaos yang dipakai Wahyu dan dia pun membantu untuk melepaskannya. Selanjutnya kubuka kancing celana jeans yang ia pakai, kuturunkan gespernya dan Wahyu pun membantu untuk melepaskan sendiri celana yang masaih ia kenakan berikut celana dalam-nya sehingga Wahyu terlebih dahulu telanjang bulat di hadapanku.

Lalu kuraba seluruh bagian tubuhnya, kuraih batang kemaluannya yang sudah mengeras dan berdiri tegak bagaikan tugu pahlawan. gw merasa sedikit aneh karena tanganku tidak menyentuh bulu kemaluan Wahyu. Rupanya Wahyu rajin mencukur habis bulu kemaluannya sehingga bagian kemaluannya tampak bersih dan polos. Hanya ada sedikit bulu di bagian tertentu saja. Ada bagian yang terasa sedikit kasar karena bulu-bulu kemaluannya mulai tumbuh, sehingga ujung-ujungnya yang tajam terasa sedikit kasar bila tersentuh, namun ini justru membuat rangsangan tersendiri bagiku. Penis Wahyu lumayan besar dan panjang, diameternya sekitar 6 cm dengan panjangnya sekitar 17 cm.

Mulut Wahyu menjelajahi wajahku hingga seluruh bagian leher dan telingaku. Lidahnya dijulurkan menjilati seluruh bagian leherku. Sesekali Wahyu memberikan kecupan di leherku dan lidahnya menjalar ke bagian belakang telingaku. Lubang telingaku pun tak luput dari sapuan lidahnya. Tangannya membuka pengait rok miniku dan kini kubantu memerosotkannya dengan bantuan kedua kakiku. Tangan Wahyu langsung meraba bagian luar celana dalam yang kupakai. Ikatan tali nylon G Stringku di samping pinggang ditariknya sehingga terlepas sudah penutup akhir di tubuhku dan celana dalam-ku dilempar jauh ke lantai.

Kini kami sudah sama-sama bugil, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami lagi. Lalu kami saling bergumul, bibir kami kembali saling lumat dan tangan kami pun saling meraba bagian sensitif lawan masing-masing. Nafsu birahiku naik ke ubun-ubun rasanya. Memek ku yang sudah basah sejak tadi jadi menjadi semakin basah saja.

Cairan bening yang mengalir keluar dari dalam liang Memek seakan tak terbendung lagi, semakin lama alirannya semakin deras saja. Entah sudah berapa banyak cairan kenikmatanku keluar membanjir hingga sekitar selangkanganku. Kemudian kuraih batang kemaluan Wahyu sambil kukocok-kocokkan dengan sedikit kasar karena menahan gejolak rangsangan yang kualami.

Mulut Wahyu mencium bagian susu gw. Kedua susu ku dicium dan dijilatinya secara bergantian. Lidahnya menyapu rata puting susuku. Ujung putingku dijilat dan dihisapnya sehingga menimbulkan rasa geli bercampur nikmat. Tangan Wahyu mulai menelusuri selangkanganku, seluruh bagian luar kemaluanku pun tidak luput dari belaian tangannya.

Jari-jarinya digaruk-garukkan di belahan bibir memek ku, hingga gw sedikit mendesah tertahan. Ujung jari tangan Wahyu mulai memainkan klitorisku. Ujung klitorisku sedikit ditekan dengan ujung jarinya kemudian digesek-gesekkan secara teratur hingga gw mengaduh tapi bukan karena kesakitan.

Aa.. Aacch! pekikku nyaring sambil menggeliat tidak karuan.

Rupanya gw telah mencapai orgasme hingga lendirku menyembur memenuhi bagian dalam liang senggamaku. Dapat kurasakan memek mengedut sambil melepas lendir. Wahyu semakin bergairah mencium dan menjilati bagian depan tubuhku. Jilatannya mengarah turun ke bawah menyapu setiap jengkal kulit tubuhku. Perut hingga lubang pusarku disapu dengan lidahnya. Dia semakin ke bawah ke arah paha, kembali naik ke atas menjilati bagian dalam paha, semakin naik lagi hingga pangkal paha, kemudian bibirnya menciumi bibir memek ku. Dengan tanpa sedikit pun merasa jijik Wahyu menjilati dan menelan cairan lendir bening dari memekku.

Bibirnya mengulum bibir memek ku dan lidahnya dijulurkan di antara belahan bibir memek ku. Dapat kurasakan ujung lidahnya menyeruak masuk ke dalam liang memek ku sambil sesekali menyentuh dinding luar memek ku yang kembali membasah lagi. Lidah Wahyu menyapu ujung klitoris lalu mulutnya dibenamkan ke memek ku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku kembali tidak mampu membendung gelombang orgasmeku yang mengulung-gulung liar dari dalam tubuhku. Kujambak rambut Wahyu yang kepalanya masih membenam di selangkanganku. Kutarik kepalanya agar lebih terbenam lagi di selangkanganku, kujepit kepalanya sambil kurasakan semburan lendir kembali membasahi liang memek ku.

Wahyu kembali menjilat dan menelan habis cairan yang keluar dari dalam liang memek ku sebelum dia merambat naik kembali melumat bibirku sambil memegang dan mengarahkan batang kemaluannya di depan liang memek ku. Digesek-gesekkan sebentar kepala kemaluannya di belahan bibir memek ku, baru kemudian didorongnya sedikit hingga kepala kemaluannya mulai memasuki liang memek ku.

uhhhhhh..! Sakit..! Pelan dong! jeritku menahan sakit yang bercampur nikmat.

Wahyu memberiku waktu untuk menarik napas sejenak, kemudian kembali dia mendorongkan batang kemaluannya agar masuk sedikit lebih dalam lagi.

ohhhhhh.. Uuhh! Aduuh..! jeritku kembali menahan rasa perih di dalam liang memek ku.

Wahyu bukannya menarik keluar batang kemaluannya dari dalam liang memek ku, tetapi dia malah menekan lebih dalam lagi, dan tekanannya se makin kuat dan akhirnya..

Crottttttt.. Uu.. Uucch! Sleep..! Aa.. Aacch! Sleep..! Oo.. Oohhh! suara desahanku seakan bersahutan dengan suara pompaan batang kemaluan Wahyu.

Rasa sakit yang kualami juga sudah semakin menghilang bersamaan dengan deru pompaan batang kemaluan Wahyu yang memompa liang memek ku yang semakin lama semakin kencang. Aku rasanya benar-benar hampir pingsan, tidak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana. Aku tidak mampu melukiskan kenikmatan yang kualami saat itu dengan kata-kata.

Yang kuingat adalah akhirnya kami mengalami orgasme yang waktunya hampir bersamaan. Dan sejak saat itu kami jadi rutin melakukan hubungan seperti itu lagi. Aku benar-benar suka dan menikmatinya, hampir secara rutin tiga kali seminggu kami melakukan making Love, dimana saja, kapan saja seperti minum minuman ringan saja.
»» Baca selengkapnya.....